
"Paman, kita saat ini pikirkan saja rencana untuk kabur dari mereka dan membawa sedikit saja darah mereka," bisik Alex.
Aron mengangguk paham. Mereka bersiap untuk menyerang hingga Alex menurunkan titahnya.
"Serang!"
Mereka berdua menyerang bersamaan. Alex mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan mereka. Tangan mereka terasa begitu berat. Dia ditindas hingga bertekuk lutut di tanah.
Mengapa lengan pria ini begitu berat? Aku sudah tidak mampu menahannya,~Batin Alex.
Alex menggertakkan giginya. Dia berusaha mencari celah untuk mengeluarkan pisaunya, lalu menyayat tangan pria yang terus saja menekannya.
Srakkk...
Sedikit sayatan berhasil dia lakukan, walau itu berhasil membuatnya tersungkur di tanah. Kini darah itu mengalir ke arahnya, dia menengadah dan meletakkannya pada suatu tempat yang tidak disadari oleh mereka.
"Kamu berani melukaiku?! Cari mati!" Pekik pria itu.
Alex tidak menggubrisnya. Dia menghindar dari tangannya yang begitu berat, mengeluarkan pedang kesayangannya. Dia berlari ke arah punggung pria itu dan hendak menusuknya tepat pada jantungnya dari belakang. Alex terbang setinggi yang ia bisa. Dia mengangkat pedangnya yang mungkin memiliki berat hampir setengah dari berat tubuhnya dengan kedua lengan.
"Kau manusia lucknut... Matilah!" Seru Alex seraya berusaha menancapkan pedang di punggung pria itu. Pria itu menyadarinya dan sesegera mungkin menepis Alex dan membuatnya tersungkur ke tanah untuk ke sekian kalinya. Muka tampan Alex kini penuh dengan luka. Namun, dia tidak menyerah. Sedangkan Aron, Aron melawan seseorang yang paling lemah diantara mereka. Sisanya, para pasukan Alex yang tersisa dan memaksa untuk membantu ketua mereka yang menyerangnya.
...*...*...
Beberapa saat kemudian...
Alex dan yang lainnya sudah sangat kuwalahan. Nafas memburu, badan yang bahkan rasanya seperti dapat hancur kapan saja mereka rasakan saat ini. Alex berusaha berdiri dengan sisa-sisa tenaganya. Dia menancapkan pedangnya ke tanah seraya mengatur nafasnya.
"Hahaha. Kalian begitu lemah! Kalian selesaikan mereka dengan segera dan mengejar wanita itu. Jangan berlama-lama dengan para semut ini. Itu hanya akan membuang waktu kalian," ucap pria berbadan kekar itu.
"Baik bos!"
Pertarungan sengit pun telah di mulai. Kini mereka pun mengeluarkan tenaga mereka sedikit lebih banyak. Mereka berusaha untuk membunuh musuh mereka. Entah ini adalah keputusan yang salah atau tepat,namun Alex benar-benar sudah tak sanggup untuk melawan. Pria dalam sistem itu tiba-tiba keluar di saat gentingnya.
"Ketua, apakah anda yakin tidak menggunakan bantuan?" Tanya pria itu.
"Ti..." belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bila pria-pria aneh itu berhasil menusuk di dada Aron dengan pedang mereka.
"Paman!" Teriak Alex.
Alex yang sedari tadi kolot, tidak ingin mengenakan barang yang ada di dalam sistem miliknya pun kini merubah pikirannya.
"Baiklah, aku setuju menggunakan sesuatu dalam sistem. Jadikanlah aku kuat dan gesit untuk membunuh mereka!" Alex mengepalkan tangannya penuh dendam.
"Permintaan dikonfirmasi! Dua tahun nyawa ketua diambil!"
Alex tidak takut mati dan seharusnya memang begitu, namun dia takut kehilangan seseorang yang penting dalam hidupnya lagi. Setelah beberapa saat, sebuah kekuatan terasa mengalir dalam tubuhnya. Dia menjadi bertambah kuat untuk sesaat. Setidaknya dalam waktu satu menit kedepan. Memang terlalu singkat, namun itu sudah cukup bagi Alex untuk melukai mereka.
"Kalian semua, Matilah!"
Alex mulai berlari secepat kilat. Beberapa orang itu pun bersiap dengan pedang mereka.
Srakkk... Srakkk... Srakkk...
Dalam satu tarikan nafas, Alex berhasil melumpuhkan dua hingga empat orang di depannya. Namun, mereka tidak mati begitu saja.
Apa? Mereka tidak mati? Aku bahkan sengaja memperdalam sayatanku kali ini.
Alex tertegun saat melihat mereka bahkan tidak terluka begitu parah saat mendapatkan sayatan dengan kecepatan tingkat tinggi milik Alex. Jika itu orang biasa, kemungkinan bagian tubuh mereka sudah berpisah, terpenggal oleh pedang tajam miliknya. Segerombolan pria itu memang benar-benar tidak biasa.
Heh, naif! Kau pikir kau bisa melawan mereka? Tidak! Tapi, harus ku akui kekuatan bocah ingusan itu sungguh mengerikan. Mungkin jika yang diserang adalah aku, aku sudah mati sejak lama,~Batin pria yang sedari tadi hanya mengawasi dari pojokan.
Kini fokus Alex berubah ke pria itu. Dia berpikir semua akan berakhir jika pria yang bersembunyi itu mati mengenaskan. Alex merubah arah geraknya.
"Sial! Pria itu mengetahui keberadaanku. Tidak, aku tidak bisa membiarkannya," gumam pria itu.
Suara pria itu berhasil mengubah arah pandang mereka. Kini, mereka beralih menghadap ke arah Alex berada. Alex dengan langkah tergesa-gesa, memburu pria itu.
Srakkkk...
Tanpa kata, Alex berhasil membunuh pria itu dengan satu sabetan. Saking emosinya, Alex bahkan tanpa sengaja memisahkan kepala pria itu dari tubuhnya. Begitu mudah. Kepalanya bahkan menggelinding selayaknya bola biasa yang tak berharga. Tangannya sedikit gemetar, apalagi kakinya. Dia bukan ketakutan, namun takut dihantui rasa bersalah.
"To-tolong..."
Suara Aron mampu menyadarkan Alex dari lamunannya. Alex sesegera mungkin melarikan diri dari tempat bak neraka tersebut.
"Kau! Jangan kabur! Sudah membunuh komandan, kalian pantas mati!" Pekik mereka.
Alex memerintah pasukannya untuk mundur. "Semuanya, mundur! Kita kembali ke rumah dulu. Paman Aron terluka."
Para pasukan berhasil di tarik mundur. Alex menggendong tubuh Aron pada punggungnya.
"Paman, bertahanlah," ucap Alex.
...*...*...
Alex, Aron dan yang lainnya tiba di tempat yang telah ditunjukkan oleh Nero. Semua orang dalam ruangan tersebut nampak membaik dengan cepat.
"Nero, tolong saya!" Seru Alex setelah tiba disana.
"Baik ketua."
Nero sesegera mungkin menghampiri Alex disana. Dia membantu Alex meletakkan Aron di sebuah ranjang kosong yang telah disediakan.
"Ketua, ada apa dengan Aron?" Tanya Nero.
"Dia terluka oleh pedang mereka. Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Aku akan menyediakan anggaran untuk membangun markas secepatnya. Sepertinya, kita tidak bisa terus disini. Nanti, semuanya kembali ke markas dalam. Aku sendiri yang akan melatih kalian," ucap Alex.
"Siap ketua!"
Beberapa saat kemudian...
Kondisi semua orang terlihat lebih kondusif saat ini. Aron pun berhasil ditangani dengan sempurna. Alex lega melihatnya, walau Aron masih terbaring lemah antara hidup dan mati disana. Alex berkeliling sejenak Sambil menghirup udara segar.
"Nero, apakah semua baik-baik saja?" Tanya Alex.
"Izin menjawab ketua, semua sudah mulai membaik saat ini."
"Baiklah. Apakah ruang latihan telah disiapkan?" Tanya Alex.
"Sudah ketua."
"Humm good. Jika kita bahkan tidak dapat mengalahkan kumpulan orang-orang tadi, takutnya kita bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk membunuh Paman Steve. Aku yakin, dia memiliki seribu satu cara untuk melawan," ucap Alex.
"Yang dikatakan ketua benar. Saya berada dalam lingkaran dunia hitam sudah begitu lama. Orang-orang itu, seharusnya mereka meminum ramuan spesial yang sempat kami temukan di daerah utara eropa," ucap Nero.
Alex menghentikan langkahnya. Dia yang awalnya memunggungi Nero pun berbalik menghadapnya. "Apa katamu? Ramuan spesial daerah utara eropa?"
"Ya. Saya tidak yakin akan itu. Tapi, setelah melihat ciri-cirinya, saya semakin yakin."
"Coba katakan apa saja ciri-ciri yang kamu ketahui."
Nero menjelaskan semua yang ia ketahui kepada Alex. Cairan yang entah apa itu namanya telah dikembangkan begitu jauh, merubah seseorang selayaknya anjing yang selalu mengikuti ucapan tuannya. Hal aneh yang tak pernah ia ketahui, bahkan mungkin Ayah pun tidak mengetahuinya membuatnya begitu takjub akan dunia. Semua sudah berada di luar kendalinya.
"Menurut kabar, ada sekitar sepuluh gangster yang telah menerapkan hal tersebut ke beberapa orang mereka dan itu termasuk juga yang kita temui hari ini," ucap Nero menjelaskan.
"Baiklah, aku mengerti apa yang harus aku lakukan."
Aku harus mencari cara untuk dapat mempelajari ramuan ini dan menemukan celah. Yang aku takutkan adalah seseorang yang ada dibalik Paman Steve menggunakannya pula,~Batin Alex.