
Saat Verrel dan Jessica dibawa pergi, beruntung seorang wanita berambut pirang dengan pakaian tanpa lengan melihat mereka dibawa pergi begitu saja. Orang yang dulunya pernah ikut membully Alex itu, akhirnya menelepon Alex disaat-saat genting. Sekali dua kali dia mencoba untuk menghubungi pria itu,namun sayangnya nomor Alex tidak aktif dalam waktu yang cukup lama. Mungkin sudah sekitar semingguan.
Wanita bernama Nathania itu berlari ke mobilnya untuk pergi ke rumah Alex, karena dia tahu keluarga Alex pasti memiliki cara untuk menghubunginya. Tidak begitu susah untuk menemukan kediaman Lachowicz yang begitu megah dan terkenal di Negara P. Nia sampai hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
Seorang satpam menghampiri dirinya.
Tok tok tok...
Satpam di rumah Alex mencoba untuk menghampiri dirinya. Nia menurunkan kaca mobilnya dan langsung bertanya, "Pak, apakah ibunya Alex ada di dalam?"
"Ada non. Nona siapa ya?" Tanya pak satpam.
"Saya adalah teman satu kelas Alex di kampus. Bolehkah saya bertemu dengan ibunya? Ini sangat genting," ucap Nia.
"Baik non, silahkan masuk." Satpam tersebut membukakan gerbang untuk Nathania agar dia bisa memasukkan mobilnya ke dalam halaman kelurga Lachowicz.
Nia memarkirkan mobilnya pada halaman yang cukup luas di rumah Alex. Dia sesegera mungkin turun untuk melaporkan keadaan yang dia lihat hari ini. Sebuah rumah yang begitu menjulang keatas dengan ruang utama yang biasa dijadikan aula utama dia lalui begitu saja.
"Nona, silahkan anda tunggu disini," ucap Satpam.
Satpam tersebut lari secepatnya memanggil Athena di kamarnya.
"Nyonya, ada yang mencari anda," ucap satpam tersebut.
"Siapa?" Tanya Athena.
"Katanya teman dari tuan muda. Ada sesuatu yang penting yang harus disampaikan."
Athena pun langsung keluar dari kamarnya dan menemui Nathania yang telah menunggu lumayan lama.
Di Aula utama kediaman Lachowicz...
Nathania mulai meletakkan tangannya pada mulutnya, ia pun menggerak-gerakkan kedua kakinya seakan sedang ketakutan akan sesuatu. Keringatnya pun mulai bercucuran. Dia pun nampak mulai cemas.
Duhh, kemana sih ini ibunya Alex? Bagaimana jika Jessica dan satu lagi temannya itu terancam dalam bahaya? Mana Alex sudah tidak ke kampus selama ini. Katanya sih izin,tapi tidak ada seorang pun yang tahu kemana dia pergi. Hanya rektor dan para dekan saja yang tahu,~Batin Nia.
"Halo," Sapa Athena saat pertama kali melihat Nathania disana.
Nathania dengan spontan berdiri dan memberi salam dengan sopan kepada Athena.
What the... Ini ibunya Alex? Dia cantik sekali. Jika dia mengatakan bila dia adalah kakaknya Alex, aku yakin semua orang pasti akan percaya. Kira-kira, ibunya Alex ini usianya berapa ya?~Batin Nia.
Nia terhanyut dalam lamunannya hingga ucapan Athena berhasil membawanya kembali dari jelajahnya dalam khayalannya.
"Maaf ya sudah menunggu lama. Silahkan duduk," ucap Athena.
"Baiklah, Tante."
"Apa tujuanmu datang kemari? Katanya, kamu temannya Alex ya."
Uhhh. Selain cantik, dia juga lembut. Ehh kenapa aku sampai lupa tujuanku kemari?~Batin Nathania.
"Halo?" Panggil Athena saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari Nia.
"Ahh. Maaf, maaf. Tante begitu cantik, membuatku terpana," ucap Nathania jujur.
"Saya Nathania, teman sekelas dari Alex dan sahabatnya Jessica. Tante, apakah tante memiliki cara untuk menghubungi Alex? Saya sudah berkali-kali mencoba menghubunginya,namun tidak kunjung mendapatkan respon," Tanya Nia.
"Ada. Ada. Memangnya ada apa?"
"Jessica dan temannya yang laki itu, temannya Alex juga sepertinya, mereka diculik!" Pekik Nathania yang berhasil membuat Athena pun terperangah. Nathania hanya tahu Alex dan Jessica selalu dengan Verrel, namun tidak pernah tahu nama maupun dari jurusan mana dia.
"Apa?!" Pekik Athena.
"Aku tidak terlalu mengenal orang tua pria itu. Orang tua Jessica sedang dinas keluar negeri katanya," jawab Nia.
"Ohh baiklah. Sebentar, saya teleponkan Alex.
...*...*...
Saat ini, Alex berusaha untuk berlatih kekuatannya. Bukan hanya dirinya, namun juga Aron.
"Bagaimana, Paman?" Tanya Alex.
"Wow. Ini benar-benar luar biasa. Ini bukan hanya sekedar untuk menambah kekuatan,namun juga menambah daya tempur," ucap Aron takjub.
"Baiklah, Paman. Nanti kita lanjut lagi. Kita..."
Tingg!
Sebuah notifikasi dari sistem berbunyi membuat Alex menghentikan latihannya.
"Paman, aku ingin ke kamar dulu. Paman boleh lanjutkan atau istirahat. Aku akan memberikan buku pedoman yang aku dapatkan dari perpustakaan Ayah," Pamit Alex.
Alex kembali pada kamarnya untuk melihat apalagi yang diinginkan oleh sistem yang sudah merubah kepribadiannya selama ini. Alex memencet tombol di samping jam tangan yang sedikit usang di tangannya itu. Tiba-tiba, dia telah berpindah dimensi.
"Welcome back ketua," ucap Osy saat melihat Alex tiba.
"Ada apa lagi?" Tanya Alex dengan wajah jengahnya.
"Misi ketua untuk membantu wanita itu telah berhasil. Kini waktunya tuan untuk melakukan bisnis," ucap Osy.
Ketua utama mengatakan bila bocah ini memiliki kemampuan bahkan di bidang bisnis. Ketua utama mengatakan pula bila aku harus membujuk pria ini untuk menghasilkan uang untuknya,~Batin Osy.
"Maksud dari melakukan bisnis?" Tanya Alex yang membuyarkan lamunan Osy.
"Ya." Osy memproyeksikan hologramnya di depan sana. Sebuah layar hologram canggih yang hanya perlu menggerakkan tangan untuk menggeser dan menggerakkan fungsi lainnya, sensor yang memang dirancang khusus agar dapat membaca setiap gerakan yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah dipindai olehnya.
Alex tidak heran karena dalam kantor Russel dulu juga ada alat yang sama canggihnya dengan sekarang. Alex bahkan berpikir seseorang yang membangunnya adalah seseorang dari pihak kemiliteran atau setidaknya pandai program. Kini, fokus Alex pada sederet tulisan yang tertera disana. Alex mencoba untuk mengerti.
"Apa ini?" Tanya Alex sambil menunjuk ke arah serangkaian tulisan.
"Ini adalah laporan kemampuan ketua. Daya tempur dan ketahanan tubuh ketua sudah hampir 100%, sudah dapat dikatakan stabil. Kekuatan menyerang dan kemampuan bertahan juga perlahan naik, namun kemampuan berbisnis dan bertahan hidup anda masih tergolong lemah. Anda belum dapat menghasilkan uang sendiri dan menghidupi diri anda dan semua kebutuhan dalam geng," ucap Osy menjelaskan.
"Hum, sepertinya aku mengerti. Lalu, bisNis apa yang menurutmu paling baik?" Tanya Alex.
"Apakah Alex lupa jika anda..."
Belum sempat Osy merampungkan ucapannya, sebuah telepon masuk dari ponsel utama milik Alex. "Osy, sepertinya aku harus pergi dulu. Nanti kita bicarakan setelah aku mengangkat telepon. Takutnya penting."
"Baik ketua," ucap Osy.
Osy mengirimkan jiwa Alex kembali pada raganya dan tak berselang lama, Alex pun tersadar. Sang ibunda tercinta tengah meneleponnya. Alex bergegas mengangkat telepon tersebut.
"Halo,ma. Ada apa?" Tanya Alex to the point.
"Halo, Alex. Ada berita buruk. Ada hal genting!" Seru Athena dengan nada paniknya.
"Ma, coba tarik nafas dan buang. Bicaralah dengan tenang," ucap Alex.
Athena berusaha menenangkan dirinya dengan mengikuti instruksi dari Alex.
"Jessica dan Verrel, Lex. Mereka..."