I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 30



Secercah harapan telah nampak di pelupuk mata mereka seiring dengan semakin terangnya ujung jalan yang mereka lewati. Mata mereka berbinar menandakan mereka tengah senang hati. Sorak soray suara bahagia mereka semakin hangat terasa saat mereka menemukan jalan untuk keluar.


"Ketua, lihatlah disana!" Seru Nero yang nampak semangat selayaknya anak kecil mendapatkan permen.


"Ya, kita harus cepat. Kita cari kendaraan yang lewat dan menebeng. Tapi, kendaraan disini susah," ucap Alex.


"Tuan muda tenang saja, Aron dan Nero pasti akan mencarinya sekuat tenaga. Aron telah pulih banyak," timpal Aron yang sama semangatnya dengan Nero.


"Baiklah, sudah diputuskan. Karena sudah tidak ada lagi anggota yang pingsan, maka kita percepat gerakan. Tahan rasa sakit dan segeralah keluar!" Titah Alex.


"Baik ketua!"


...*...*...


Jack dan Louis masih pada tempat biasanya. Dia melatih militer seluruh keturunan keluarga Lachowicz dari berbagai daerah disana, namun ditengah-tengah kegarangannya kepada anak didiknya, dia pun terpikirkan tentang kabar Alex dan Aron yang bahkan hingga detik ini pun tidak kunjung menghubungi mereka.


"Jack, bagaimana keadaan tuan muda ya? Kenapa aku khawatir?" Tanya Louis kepada sahabatnya.


Jack menggeleng. "Aku juga tidak tahu. Ponsel tuan muda dan Tuan Aron nonaktif sejak mereka berangkat. Bahkan, mereka telah tiba atau belum saja, aku tak tahu."


Setelah perbincangan terjadi diantara mereka, hening pun menyapa. Mereka hanya dapat menghela nafas agar tidak sesak. Mereka tidak ingin kejadian yang sama harus terjadi ke kedua orang yang sangat penting itu. Bagaimana pun mereka memiliki hutang budi pada Russel di masa sebelumnya.


Tak lama dari renungan mreka, sebuah telepon masuk ke ponsel salah seorang dari mereka. Lamunan mereka pun perlahan sirna. Ternyata, ponsel milik Louis lah yang berdering. Tertera nama "Tuan Muda Alex" di ponselnya. Hatinya pun bergemuruh gembira bak ditelepon sang kekasih.


"Tuan muda,Jack. Akhirnya ada kabar!" Pekik Louis senang.


Louis mengangkat teleponnya, "Halo tuan muda."


"Halo, Paman. Maaf membiarkanmu khawatir. Paman Aron berkata kamu pasti sangat khawatir. Jadi, aku memutuskan untuk menghubungiku. Maaf, aku tidak sempat membeli nomor baru disini," ucap Alex.


"Lalu, ini... mengapa nomornya masih bisa digunakan?" Tanya Louis heran.


"Entahlah. Aku juga tak tahu. Aku akan menggantinya nanti," timpal Alex.


"Oh ya paman, selain aku ingin menghubungimu untuk memberi kabar, aku juga ingin meminta bantuan kalian."


"Saya akan membantu semaksimal saya," Ucap Louis.


"Apa yang ingin saya lakukan?" Tanyanya.


"Bantu aku selidiki..." Alex menyebutkan apa yang dia inginkan, juga menjelaskan tugas apa yang akan dilakukan oleh kedua pria itu.


"Tapi paman, mungkin ini akan sedikit berbahaya jika ketahuan. Paman hanya perlu mendapatkan datanya saja. Nanti berikan padaku via e-mail," lanjut Alex.


"Baik, saya mengerti."


"Kalau begitu, Alex tutup dulu ya, paman. Sampai jumpa."


Tit...


Alex menutup teleponnya dengan Louis. Kini Louis dan Jack dapat bernafas lega saat mendengar suara Alex, walau terjadi sedikit perubahan disana.


"Apa tuan muda sakit ya? Sepertinya, dia lagi menahan sakit," gumam Louis yang masih sanggup didengar oleh Jack.


"Jangan dipikirkan. Tuan muda mungkin kecapekan saja. Sekarang, kita fokus untuk memenuhi permintaan tuan muda saja," ucap Jack memberi usul.


"Ya..."


...*...*...


Aron dan Nero telah berhasil mendapatkan kendaraan berupa mobil pengangkut barang yang sama persis ia cegah untuk wanita itu kemarin. Semua orang menaiki mobil tersebut perlahan, agak sempit memang, tapi yang terpenting adalah mereka bisa keluar dari sana dengan selamat.


"Aku tidak pernah menyangka, ternyata tempat ini begitu terpencil. Padahal, kita tadinya kan makan di cafe di pusat kota," celetuk Alex tiba-tiba.


"Benar juga. Aron baru tersadar akan hal tersebut seperti seseorang memang sengaja mengelabui pandangan kita," timpal Alex.


"Saya rasa juga begitu. Tapi, memangnya ada ya orang yang bisa mengelabui pikiran orang lain di zaman begini? Maksudku seperti racun pemecah pikiran atau formasi pengirim orang seperti dalam komik."


"Nero suka baca komik?" Tanya Alex.


"Ya, kurang lebih begitulah, ketua."


"Gapapa gapapa." Alex menepuk pundak Nero beberapa kali.


"Kita semua punya hobi masing-masing dan semua orang tidak patut menghina hobi sesamanya."


Beberapa saat kemudian...


Mereka telah tiba di pusat kota setelah beberapa jam menempuh perjalanan. Satu persatu diantara mereka turun dengan cepat. Alex pun memberikan tips yang sama dengan sebelumnya.


"Terimakasih, pak"


Pengemudi mobil pengangkut barang itu pergi berlalu begitu saja.


"Tuan muda, kemana kita akan pergi sekarang?" Tanya Aron.


"Hummm..." Alex berpikir sejenak. Dia teringat jikalau dia telah mengurus Nero untuk mencarikan sebuah tempat baru yang aman untuk mereka tinggal sementara.


"Nero?" Alex menghadap kearah pria berbadan tinggi besar dengan kulit bewarna sedikit gelap itu.


"Iya,ketua."


"Apakah yang aku perintahkan kepadamu waktu itu, kau sudah mendapatkannya?" Tanya Alex.


"Sudah ketua."


"Baguslah."


...*...*...


Dengan adanya Nero disana, mereka dengan mudah mendapatkan tempat baru maupun mengenal lingkungan yang bahkan asing bagi mereka. Sebuah bangunan yang cukup besar dan dapat menampung beberapa orang disana terpampang nyata. Bangunan yang tidak seberapa mewah, namun cukup layak untuk ditinggali semua orang. Mereka memutuskan untuk memberikan kamar terbaik disana untuk Alex. Alex pun tidak sungkan untuk menerimanya.


"Paman Aron, Nero, semuanya, terimakasih untuk hari ini. Kalian beristirahatlah untuk besok," ucap Alex.


"SIAP LAKSANAKAN!" Seru mereka bersamaan.


"Nero, kamu ikut aku ke kamarku," titah Alex.


"Baik,ketua." Nero memberi hormat dengan sedikit membungkukkan badannya. Lalu, dia mengikuti langkah kaki Alex menuju ruangannya. Dia berharap cemas tentang apa saja yang akan disampaikan oleh Alex. Dia takut telah melakukan kesalahan, mengingat Alex yang sudah berubah dan menjadi orang yang begitu sadis.


Sesampainya di kamar Alex...


Nero melangkah ragu masuk ke dalam kamar Alex.


"Nero, masuklah!" Seru Alex yang sudah kesal melihat tingkah Nero.


"Ma-maaf ketua. Ada yang anda perlukan? Saya tidak membuat kesalahan kam?" Tanya Nero.


Alex meletakkan beberapa pakaian dan barang yang ada di tangannya. "Menurutmu, apakah setiap aku memanggilmu sama saja seperti aku akan memarahimu?" Alex menggelengkan kepalanya.


"Ya mungkin saja ketua tidak puas dengan rumah ini," ucapnya.


"Sudahlah tak perlu dibahas."


"Nero, bilang ke semua anggota untuk masuk kembali dalam sistem. Aku ingin melatih kalian pelatihan militer secara pribadi." Titah dari Alex turun sudah.


"Sekarang?" Tanya Nero.


"Gak, tahun depan!" Jawab Alex kesal.


"Tch, baiklah. Tiga puluh menit kemudian, semua harus sudah berkumpul di dalam. Saya tidak menerima alasan telat apapun!" Tegas Alex.


"Siap ketua!"