
Mereka semua terperangah melihatnya sebelum suara tepuk tangan meriah nyaring terdengar.
Plok plok plok...
Mereka begitu takjub dengan teknik memanah Alex. Itulah yang ingin Alex lakukan. Dia ingin menuntut setiap anak buahnya agar dapat menjadi seperti dirinya.
Beberapa bola berhamburan keluar, bukan hanya itu terdapat juga balon dan burung-burung hidup disana, diantara banyaknya balon yang mengudara. Atap markas dibuka sepenuhnya. Mereka menatapnya penuh kebingungan.
"Tunggu apalagi, segera pecahkan semuanya. Satu orang sepuluh balon. Tidak boleh meleset. Majulah satu persatu!" Titah Alex.
Semua bermula dari pemimpin mereka, yaitu Nero dan pria dalam sistem.
Alex menontonnya dengan saksama. Beberapa anak buahnya bahkan nampak gerogi saat di tatap olehnya. Tatapan yang begitu dingin yang mungkin orang lain sudah mulai lari terbirit-birit, menangis atau mengompol di tempat.
Beberapa anak buahnya bahkan tak masuk targetnya. Mereka menggunakan lebih dari sepuluh anak panah untuk memecahkan balon mereka dan begitu lambat untuk membidiknya. Perlu waktu sekitar lima menit untuk satu orang, beberapa bahkan lebih. Alex benar-benar geram. Semua tidak sesuai ekspektasinya. Bahkan, burung-burung yang ia lepaskan pun tertembak mati atau mungkin kena panah. Semuanya kacau.
"Hentikan!" Pekik Alex sudah mulai muak melihatnya.
Semua orang menarik senjata api mereka, menghentikan aksi mereka. Dengan sigap, mereka berbaris rapi seperti semula dan senjata api yang mereka bawa maupun panah, mereka letakkan tepat di kaki mereka. Sikap sempurna menghadap Alex dengan wajah cemas ketakutan, namun siap menerima hukuman nampak jelas di hadapan mereka.
"Apa yang ketua sebelumnya ajarkan pada kalian,huh?!" Pekik Alex kesal.
Semua orang terdiam, tak ada yang berani menjawab.
Dorrr...
Alex memancing mereka dengan menembakkan satu peluru dari pistol yang ada di tangannya. "Apa kalian bisu? Jika tidak, apakah kalian mau aku buat sampai tidak bisa berbicara lagi?!"
Alex nampak begitu kejam kali ini. Mereka yang sudah lama tidak dimarahi ataupun dihukum, kini melupakan rasa itu. Beberapa diantara mereka bahkan kakinya bergetar keras. Nero yang mengerti persis kondisi rekan-rekannya pun akhirnya memberanikan diri untuk menjawab.
"Huffttt." Nero menarik nafas dan membuangkannya dengan berat sebelum menjawab. "Izin menjawab ketua."
Alex mengubah fokusnya pada arah suara itu berada. "Hum?"
"Kami sudah diajarkan segalanya,ketua. Namun, ketua sebelumnya mendadak menghilang di suatu tempat, kami akhirnya sudah lama tidak berlatih. Meskipun kemampuan kami tidak menurun..." Belum sempat Nero merampungkan ucapannya, dia telah dikejutkan oleh Alex yang amarahnya kian meledak.
"Kemampuan kalian tidak menurun?!"
"Bodoh! Kemampuan selayaknya manusia sampah begini kalian katakan tidak menurun? Berarti selama ini kalian hanyalah seonggok sampah tidak berguna?" Tanya Alex yang benar-benar sudah keterlaluan.
Entah darimana dia dapat menjadi seseorang yang begitu kasar sekarang. Namun kenyataannya, tak ada seorang pun yang berani melawannya maupun membantahnya, padahal itulah yang dia inginkan. Dia ingin anak buahnya begitu berani untuk mengungkapkan pendapat, namun tak ada satupun dari mereka yang bahkan mengerti apa maksudnya. Selayaknya wanita yang selalu ingin dimengerti orang lain, tanpa memberitahukan apa maksudnya.
"Sudahlah. Kalian lihat saja apa yang setelah ini aku lakukan. Kalian pakailah balon yang telah di pasang tali tersebut di atas kepala kalian. Beberapa orang sudah saya kasih dengan headset, penutup telinga lainnya yang telah saya sediakan. Ambillah yang sesuai nama," ucap Alex.
"Setelah itu, kalian berdirilah sesuai dengan nama kalian. Aku tidak menghafal nama kalian seluruhnya, namun seharusnya kalian ingat nama samaran kalian sendiri,bukan?" Lanjutnya.
...*...*...
"Sial! Bagaimana bisa bocah sampah itu kabur dari sana?!" Umpat Steve kepada salah satu anak buahnya.
Tak ada seorang pun yang menyangka bila James masih ikut bersama dengannya.
"Kau benar, Tuan Steve. Dia telah berubah. Aku dulunya bahkan percaya dengan ucapannya yang katanya Vieka, anakku satu-satunya, itu terbunuh karena kecerobohannya. Sekarang aku baru mengerti jika Alex lah pelakunya. Sialan! Aku harus membalaskan dendam untuk Vieka!" James menggebrak mejanya dengan keras hingga terjatuh.
"Lalu tuan, apa yang anda rencanakan?" Tanyanya.
Steve melirik kearahnya. "Tch, selama mengikutiku bertahun-tahun, kau masih begitu bodoh? Sia-sia aku sudah merekrutmu."
James bergeming pada tempatnya. Tentu saja, ada perasaan marah serta sakit hati yang mendalam.
Awas saja kau,Steve. Jika suatu saat nanti kau lengah, aku akan membunuhmu. Tidak, aku akan membuatmu menjadi budakku dan merasakan penderitaanku saat ini. Ya, kita lihat saja tanggal mainnya,~Batin James.
"Sudahlah, kau pergi saja dulu. Aku akan memikirkan caranya. Lagipula, kita juga masih belum mengetahui keberadaan Alex dan kondisinya yang sebenarnya," ucap Steve.
"Baik,tuan."
Steve merancang strateginya pada sebuah buku diarynya. Bukan hal yang lumrah, namun juga bukan hal yang memalukan bila seseorang memiliki catatan riwayat atas apapun perilakunya. Buku bewarna kuning kecil yang selalu ia bawa itu, kini telah penuh oleh goresan tinta biru, hitam dan merah sebagai saksi atas semua yang telah ia lakukan.
"Aku harus mendapatkan informasi secepatnya. Menurut mata-mata yang aku kirimkan, terakhir kali Alex terluka dan seseorang lagi malah jatuh pingsan akibat luka parah. Seharusnya, dia adalah Aron. Tapi, darimana Alex mendadak mendapatkan banyak pasukan yang kuat?" Gumamnya.
"Steve!" Panggil seseorang melalui handy talkie yang bersarang pada kantong celananya.
"Iya,ketua. Ada apa?" Tanya Steve dengan nada sedikit segan dan ketakutan.
"Apakah ada berita terbaru tentang Alex?" Tanya pria itu.
"Apakah jam tangan itu masih ada padanya?"
Jam tangan lagi? Apa yang spesial dari itu?~Batin Steve.
"Sa-saya hanya mendapat kabar bila pria itu terluka dan beberapa orang lainnya terluka parah hingga jatuh pingsan,tuan. Untuk posisi mereka, saya masih belum dapat mengetahui jelas," jawabnya.
"Tch, sepertinya aku terlalu menganggap tinggi dirimu."
"Baiklah, aku tidak mau tahu. Kamu harus segera mendapatkan jam tangan itu maksimal minggu depan!" Seru pria misterius yang menolong Steve kala itu.
"Ba-baik ketua." Steve nampak masih sangat takut dengan pria itu.
Jika aku menemukan jam yang dia maksudkan, aku akan memakainya untuk diriku sendiri,~Batin Steve.
"Zydan, temukan keberadaan bocah sialan itu segera. Saya tidak peduli bagaimana caramu mendapatkannya. Besok, serahkan data yang saya minta ke ruangan saya," ucap Steve pada asistennya.
"Baik, ketua."
Sehari? Dikiranya cari anak kucing apa sehari doang. Bahkan, anak kucing saja membutuhkan beberapa hari untuk mendapatkannya. Obsesi pria ini begitu gila!~Batin Zydan sambil menggelengkan kepalanya.