I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 63



Alex kembali membuka lagi daftar-daftar nama yang tertera dalam buku catatan relasi dari tuan pemilik sistem sebelumnya. Dia melihat ada beberapa nama yang menarik minatnya dan salah satunya adalah nama gangster yang kala itu dia temui di gedung kosong.


"Humm, menarik," gumam Alex.


Alex mulai mencatat semua informasi yang ada. Dia merencanakan tepat pukul 12, dia akan mulai bertindak. Semakin cepat semakin baik. Dia pun tak lupa menelepon ketua dari setiap geng yang telah dicatatnya dan membuat janji temu dalam waktu dekat.


"Halo, saya adalah A..." Alex memberhentikan ucapannya sesaat.


Aku lupa bila aku tidak boleh memberitahukan identitas asliku,~Batin Alex.


Tapi aku harus memakai nama apa?~Lanjutnya dalam hati.


"Saya Blue Shadow, pimpinan geng Api biru yang baru. Apakah kita bisa bertemu?" Tanya Alex to the point.


Pria yang berada di penghujung telepon sana, pria yang memakai topi bundar bewarna hitam serta jas yang terlihat rapi. Dia menutup majalahnya saat Alex berbicara dari mana asalnya.


"Api biru?" Tanyanya singkat.


"Yap."


"Sudah lama sekali group ini hilang ditelan bumi. Aku tidak menyangka ternyata masih ada dan tersimpan di suatu tempat. Hahahaha." Tawa jahat pria itu dapat membuat siapa saja merinding ketakutan, termasuk juga Louis, Aron dan Nero. Namun Alex nampak santai dan bahkan tidak menimpalinya.


"Kamu adalah orang baru. Apa kamu tidak takut aku akan mengambil geng milikmu, lalu membunuhmu?" Tanya pria itu yang terdengar seolah sedang menguji ketahanan dalam hati Alex.


"Bagaimana jika tuan pemilik sebelumnya mati di tanganku? Apa kau akan melakukan kesalahan yang sama?" Lanjut pria itu.


"Sudah selesai bertanyanya?" Tanya Alex begitu arogan, tak kalah dari pria yang sedang diajaknya berbincang.


Pria ini... Dari nada bicaranya, dia masih begitu muda. Tapi, dia begitu tegas dan arogan. Dia bahkan terlihat tidak gentar setelah mendengar gaya bicaraku. Sepertinya, dia memang layak menjadi penerus selanjunya. Pria misterius itu memang benar-benar pandai memilih mangsa,~Batin pria bertopi itu.


"Hum."


"Aku tidak peduli dengan urusanmu dengan ketua geng api biru sebelumnya. Aku disini hanya ingin membuat janji temu denganmu untuk membahas sebuah bisnis. Bisakah?" Tanya Alex.


"Apa yang bisa kamu lakukan untukku agar aku menyetujuimu? Aku tidak akan membuat janji yang membuang-buang waktuku. Kau harus dapat membuatku terpukau untuk mengundangku," jawab Pria itu.


Alex terdiam sejenak memutar otak.


"Simple saja. Jika anda ingin tahu bagaimana saya dan seberapa hebat saya, maka temui saya. Bagaimana anda tahu saya pantas atau tidak menjalin kerja sama dengan anda atau bahkan hanya sekadar menemui anda," tukasnya.


Pria bertopi itu dibuat tercengang oleh jawaban Alex.


Baru kali ini ada seseorang yang bahkan berani menyuruhku untuk menemuinya, tapi aku menyukainya. Dia berbeda. Dia begitu menarik,~Batin pria bertopi itu.


"Baiklah. Aku penasaran dengan siapa aku berbicara. Bisa-bisanya dia menyuruhku untuk datang hanya sekadar untuk melihat kehebatannya. Temui aku di Casino Royale tepat pada pukul 22.00. Terlambat satu detik, aku akan membatalkannya," ucap pria bertopi itu.


"Sepakat!" Ucap Alex yang akhirnya menutup telepon tersebut. Kini dia dapat bernafas lega. Setidaknya, ada satu klien yang bersedia untuk bertemu dengannya. Tak ada yang tahu seberapa takutnya dia, namun Alex berusaha tetap tenang.


...*...*...


Semua urusannya telah usai. Kini tinggal sebuah klien yang menurutnya agak sedikit susah. Diketahui dalam daftar, klien bertopi yang Alex hubungi siang hari ini adalah seorang penguasa dunia bawah terbesar di negaranya. Hal itu adalah sebuah keberkahan bagi Alex bila dapat bekerja sama dengannya. Pria bertopi hitam itu dikenal dengan wataknya yang sadis dan menyeramkan. Entah sudah berapa banyak orang yang mati di tangannya, sudah berapa gunung mayat telah ia ciptakan. Dia adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat profesional.


Setibanya disana...


Sebuah karpet merah tergelar disana. Alex memasukinya dengan gaya elegant. Ini bukan pertama kalinya dia merasakan perhatian tersebut. Hanya saja, dulu dia dipandang rendah dan tidak bermartabat akibat ramalan palsu perbuatan Steve padanya.


Alex melangkahkan kakinya perlahan. Pria dengan tinggi badan 190 cm itu mengenakan setelan jas bewarna hitam dengan kaca mata yang menghiasi wajahnya. Wajah tampan Alex nampak semakin tampan dan berkharisma.


"Jujur saja, aku paling membenci tempat ini. Apalagi selepas kejadian malam itu," bisik Alex kepada pria di sampingnya.


Alex memutuskan untuk mengajak Aron kali ini karena dia paling hafal dengan tempat-tempat perjamuan besar selama ini. Aron memang sering diajak oleh Russel semasa hidupnya.


"Kenapa tuan muda? Dan kejadian malam itu? Kejadian yang mana?" Tanya Aron linglung.


"Kejadian saat aku bertemu dengan Lisa. Wanita yang bertemu dengan kita pagi ini di bandara. Aku dan Nero pergi ke bar. Aku waktu itu memberi tugas pada paman untuk menyelidiki masalah ibunda. Apakah sudah menemukan titik terang?" Tanya Alex.


"Saya tidak menemukan petunjuk apapun tentang keterlibatan nyonya Athena dengan tuan Steve. Namun, jika perselingkuhan yang pernah tuan muda bicarakan memang benar adanya," ucap Aron.


"Hum. Bolehkah Paman mengirimkan bukti tersebut? Aku akan mencoba menyelusuri dengan caraku sendiri," Timpal Alex.


...*...*...


Alex dan Aron telah tiba di sebuah ruangan dari casino tersebut, sebuah ruangan dengan aroma alkohol yang begitu pekat membuat Alex mual menciumnya. Terlebih lagi, begitu banyak wanita dengan minim busana yang berlalu lalang disana. Alex terpaksa membuka kaca matanya dan memakai topeng hanya demi menuju ruangan VVIP, tempat dimana dia dan klien terakhir dan paling pentingnya telah membuat janji temu.


Suasana hati Alex semakin membujuk saat seorang wanita cantik nan kaya raya menghampirinya untuk menyapanya dan mengajaknya minum bersama.


"Hai,tuan. Kau sangat tampan. Maukah kau menemaniku minum?" Seorang wanita cantik dengan pakaian dan barang mewah yang melekat pada tubuhnya itu mendekati Alex yang bahkan tidak menggubrisnya.


"Kau masih muda dan sangat tampan. Kau terlihat seperti baru pertama kali kemari. Apakah kau kesini untuk mencari mangsa? Sini sama kakak saja. Kakak mampu membayarmu mahal," ucap wanita itu tak tahu malu.


"Tch." Alex berdecit kesal. Dia menekuk wajahnya dan hampir saja membuat keributan disana.


"Tuan muda, tenanglah," bisik Aron yang berhasil membuat Alex tersadar dan mengendalikan emosinya.


"Paman," panggil Alex mengirimkan sebuah kode kepada Aron. Aron yang mengerti maksud Alex pun segera bertindak.


"Maaf, nona. Tuan kami sedang tidak ingin diganggu," ucap Aron sambil menghalangi wanita itu.


"Cihh, sombong!" Pekik wanita itu yang akhirnya menyerah untuk mendapatkan Alex.


"Paman, cepatlah! Aku benar-benar tidak tahan disini!" Seru Alex. Aron yang mendengarkan ucapan Alex tersebut, memutuskan untuk berlari cepat dan menyeimbangi langkah Alex yang juga mengubah ritme berjalannya.