I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 19



Disisi lain...


Steve baru saja membuka matanya. Dia telah tersadar setelah pingsan beberapa saat. Tangan dan kakinya diikat bak seorang sandera. Dia pun tak bisa bergerak, dia membelalakkan matanya saat melihat sosok berjubah hitam ada dihadapannya.


"Siapa kalian dan mau apa kalian?" Tanya Steve.


Steve berusaha untuk tenang walau dia mencoba untuk membuka pengikat di tubuhnya.


"Hahaha. Kau tidak perlu tau siapa kami. Kau hanya perlu mengingat kau berutang nyawa pada kami," jawab pria itu.


"Jika kalian tidak tulus, lalu untuk apa kalian menolongku?" Tanya Steve dengan tatapan yang dipenuhi amarah.


"Apa mau kalian?" Tanyanya lebih lanjut.


"Hahaha. Tak salah bila kau berhasil membunuh kakakmu sendiri. Kau ternyata begitu cerdas."


"Aku akan membantumu menghabisi keponakan sampahmu itu, tapi dengan satu syarat," ucap pria itu menawari kerjasama.


"Apa syaratnya?"


"Kau harus menjadi budakku mulai sekarang dan membantuku mengambil pasukan geng Api biru," jawab pria itu.


Geng Api Biru? Apalagi itu? Sepertinya, aku tidak pernah mendengarnya. ~Batin Steve.


"Apa yang aku dapatkan dari bekerjasama denganmu?" Tanya Steve.


"Obat kuat tak terkalahkan produk kami. Kami jamin kau akan mampu sebanding dengan keponakanmu yang mendadak menjadi kuat itu..."


"Satu lagi. Aku akan memberimu obat penawar," lanjutnya.


"Obat penawar?" Gumam Steve.


"Sial! Apakah kalian meracuniku?" Umpat Steve.


"Tentu saja. Kami tidak bodoh. Aku yakin kau pasti menolaknya. Kami tidak akan pernah menciptakan kesempatan untukmu menolak. Obat itu hanya kami yang memiliki penawarnya. Dalam seminggu kedepan, jika kau tidak meminum obat penawarnya, badanmu akan mulai mengurus dan mengering. Kekuatanmu akan hilang perlahan dan dalam kurun waktu setengah bulan, kau akan kehilangan nyawa." Pria itu menakup dagu Steve kasar, membuatnya mendongak keatas.


Sial! Pria ini licik sekali!~Batin Steve.


"Baiklah. Aku menerimanya!" Steve menggertakkan giginya geram. Ingin sekali dia menerkam pria di hadapannya, namun dia yakin itu hanya akan membuatnya selayaknya bunuh diri. Nyawanya berada di tangan pria itu saat ini.


"Ok. Aku akan melepaskan talimu." Pria berjubah itu melepaskan Steve setelah mendapatkan persetujuan darinya.


Steve akhirnya terbebas dari ikatan yang menjeratnya.


"Baiklah, sekarang katakan apa yang harus aku perbuat?" Tanya Steve to the point.


"Jangan terburu-buru, sobat. Sebaiknya, kau beristirahatlah dulu. Besok pagi datanglah kemari lebih awal," ucap pria itu sambil menepuk bahu Steve.


Steve bergeming disana menatap pria berjubah itu pergi menjauhi dirinya.


Brakkk...


"Tch, aku paling benci diancam. Tapi, apakah pria ini benar-benar dapat dipercaya?" Gumamnya.


...*...*...


Keesokan harinya...


Pagi ini, Alex terlihat tengah bersantai sambil menyeruput kopi di balkon kediamannya yang baru. Terlihat sebuah mobil bewarna hitam jadul terparkir di halaman rumahnya. Seorang wanita nampak turun daru mobil tua tersebut. Ada lagi seorang pria yang masih sibuk untuk memarkirkan mobil tua kesayangannya.


"Alex!" Sapa Jessica.


Yap, mereka adalah sahabat setia Alex, Jessica dan Verrel. Mereka memang selalu ke rumah Alex setiap akhir pekan, sama halnya seperti dulu.


"Hai, Jes. Masuklah. Aku tunggu kalian disini," sapa Alex balik dari atas.


Jessica nampak begitu bersemangat jika itu berurusan dengan Alex. Dia berlari menuju anak tangga dan sesegera mungkin menaikinya hingga lantai atas. Dia meninggalkan Verrel yang masih sibuk memarkirkan mobilnya. Jessica dengan spontan memeluk Alex yang masih terduduk disana.


"Hai, sobat. Apa kabar?" Tanya Jessica.


"Bukankah aku selalu baik-baik saja?" Timpal Alex.


"Aku serius nanya!" Protes Jessica.


"Ya aku juga serius. Btw, kamu jahat ya ninggalin si Verrel," ucap Alex.


"Biarin saja. Dia kan punya kaki. Ga perlu aku gendong,kan?"


"Ya, ya terserahmu saja. Cewek memang selalu benar."


Tak berselang lama kemudian, Verrel telah tiba di lantai atas dengan nafasnya yang terlihat kembang kempis disana.


"Salah sendiri lama. Lagian ya, disini tuh ga ada setan. Ngapain kalau naik sendiri sih?" Timpal Jessica.


"Dasar cewek!" Seru Verrel.


Verrel mengejar Jessica dan Jessic berusaha untuk berlari kencang. Alex masih bergeming pada posisinya, menikmati secangkir kopi ditemani indahnya pemandangan pagi dan sebuah musik lirih favoritnya.


"Alex, tolongin aku ahhh!" Teriak Jessica.


Mereka berdua berlari mengelilingi Alex. "Jangan lex, kalau lu bantuin dia, ga bolo," ucap Verrel selayaknya bocah.


Alex hanya terkekeh mendengar kedua sahabatnya yang sungguh masih kekanakan itu. "Kalian itu cocok. Kenapa ga pacaran aja sih?" Alex tiba-tiba menyeletuk hal yang ada dalam benaknya.


Jessica mendadak berhenti dan diam.


Apakah Alex benar-benar tidak memiliki perasaan apapun terhadapku? Kejam sekali dia berucap begitu?~Batin Jessica.


"Kena kau!" Verrel tiba-tiba telah berada di balik Jessica, namun suasana begitu berubah mendadak.


"Dah ah. Aku ga mood," ucap Jessica.


"Lho lho, kenapa?" Ucap Alex yang bingung melihat sahabatnya tiba-tiba merajuk.


"Bro, sini gue bilangin." Verrel menarik tangan Alex untuk membisikinya sesuatu.


"Hum?"


"Lu tau ga sih bro kalau Jessica itu..."


Belum sempat Verrel menyelesaikan ucapannya, sebuah telepon masuk dalam ponsel milik Alex.


"Halo, Paman. Ada apa?" Tanya Alex.


"Tuan muda, saya mendapat kabar tentang keberadaan Tuan steve," ucap seorang pria di penghujung sana.


"Benarkah? Baiklah, aku akan segera datang kesana."


...*...*...


Disisi lain...


Steve telah berada di markas sesuai dengan alamat yang dikirim oleh pria berjubah hitam tersebut.


"Haha. Kau benar-benar pria yang tepat waktu. Aku telah mengumbar berita secara tidak sengaja tentang keberadaanmu di luar negeri. Disana, ada kelompok pembunuh bayaran yang sudah aku sewa," ucap pria itu.


"Lantas, apa yang harus aku lakukan dan apa hubungannya denganku?" Tanya Steve.


"Bodoh!" Umpat pria itu tepat di wajah Steve.


Steve hanya dapat menahan amarahnya di depannya. Seumur hidupnya, dia bahkan tak pernah mendapatkan penghinaan sebegitunya.


"Aku menyesal telah memujimu kemarin. Jika bukan karena aku melihatmu memiliki sedikit kemampuan, aku tidak akan sudi bekerjasama denganmu," ucap pria itu.


Steve menatapnya penuh tanya.


"Jika aku menyebarkan informasimu secara tidak sengaja, maka Alex akan mencarimu. Aku sudah membayar pembunuh bayaran itu untuk menghabisi Alex..."


"Jangan!" Pekik Steve memotong ucapan pria berjubah hitam.


"TIDAK SOPAN!"


Srakkk...


Pria itu mengayunkan pedangnya dan melukai lengan kanan miliknya.


"Ma-maaf. Saya hanya ingin keponakan saya mati di tangan saya," ucap Steve lirih.


Sial! Lebih baik aku mati dibawah tangan Alex waktu itu dari pada harus menjadi budaknya. Pria itu begitu mengerikan,~Batin Steve.


"Saya tidak peduli dengan kematiannya. Saya hanya peduli dengan jam tangan miliknya," ucap Pria itu.


"Jam tangan?" Tanya Steve.


"Ya. Kamu harus mendapatkannya," jawabnya.


"Untuk apa? Apa spesialnya dari jam tangan itu?" Tanya Steve.


"Kau tidak perlu mengetahuinya. Kau hanya harus berhasil mengambilnya saat dia lemah di tangan pembunuh bayaran yang telah ku sewa." Pria itu meninggalkan Steve yang masih berdiam kebingungan disana.