I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 64



Alex dan Aron telah tiba tepat di ruang VVIP yang telah ditunjuk oleh pria bertopi hitam tersebut. Saat tiba disana, Alex buru-buru membuka pintu dan terlihat disana pria itu telah tiba bahkan sebelum waktu yang telah ditentukan.


"Permisi, tuan. Maaf jika saya membuat anda menunggu lama," ucap Alex sungkan.


"Masuklah," ucap pria itu.


Pria yang awalnya duduk dan menikmati minuman di hadapannya, kini berdiri dan menghadap Alex. Dia melihat pria itu dari atas hingga ke bawah. Semua nampak tidak seperti apa yang dia ekspektasikan.


"Wow. Ternyata kau masih cukup muda. Ku pikir kau akan seusia dengan anak pertamaku. Sekitar tiga puluh tahunan," ucap Pria itu dengan tatapan kagum.


"Sayalah blue shadow," ucap Alex sambil menjabat tangan pria itu.


"Saya Michael Horsham. Biasa dipanggil Kapelusznik di negara P." Pria itu menyabet tangan Alex dan menjabatnya.


"Apakah anda orang negara P?" Tanya Alex.


"Tentu saja, tuan Alexander Bryan Lachowicz," bisik pria itu di telinga Alex.


Alex menjauhi pria itu spontan. Ekspresi terkejutnya benar-benar tak dapat ia tutupi. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi identitasnya, namun akhirnya ada orang yang tahu identitas aslinya.


"Ba-bagaimana anda tahu?" Tanya Alex mulai merinding mendengarnya.


Tenang Alex. Dia hanya memancingmu. Kamu harus lebih tenang,~Batin Alex.


Michael berusaha menahan tawanya melihat ekspresi yang menurutnya begitu tak biasa.


Pria ini benar-benar lucu. Bahkan ekspresi terkejutnya saja sangat ketara, tapi sok-sokan seakan dia tak takut,~Batin Michael.


"Baiklah. Aku tidak akan menggodamu lagi. Aku tentu saja mengetahuinya. Sebagai seorang ketua mafia dan geng pembunuh bayaran, apa pantas jika aku tidak menyelidiki latar belakang seseorang yang akan ku temui?" Ucap Michael.


"Hum. Baiklah. Anda membuat saya terkejut."


Tuan muda, tuan muda. Anda masih terlalu muda untuk itu. Pasti pria itu tadi menahan tawa setelah melihat ekspresi anda yang begitu polos,~Batin Aron.


"Baiklah, kita langsung pada intinya," ucap Alex.


"Tunggu!" Seru Michael menyela ucapan Alex. Dia merentangkan tangannya dan menghentikan Alex untuk membuka lembaran laporan juga laptop di tangannya.


"Ada apa lagi tuan?" Alex benar-benar sudah kesal melayani pria itu. Para klien sebelumnya bahkan hanya butuh Alex menunjukkan dokumennya dan mereka langsung menyetujui untuk menjadi pembeli utama racun yang telah diproduksi oleh Alex. Bagaimana tidak, Alex bahkan bisa menjualnya lebih murah hampir dua kali lipat dibandingkan harga pasaran disana. Hal tersebut tentu saja tidak membuat Alex mengalami kerugian karena pihaknya adalah pihak utama alias produsennya.


"Jangan mudah kesal. Saya beritahu ya, kamu akan menghadapi begitu banyak orang ke depannya. Apalagi, perusahaanmu ini masih baru. Jika kau mudah kesal, kau tidak akan cepat sukses," ucapnya menasehati Alex.


Apa yang dia katakan ada benarnya. Baiklah, aku harus bersabar kali ini. Walau nanti, aku harus tetap begitu. Aku adalah pemimpin, bukan lagi anak buah. Salah benarnya timku, rugi ataupun untung, itu semua adalah pengaturan dariku. Aku tidak bisa menyalahkan orang lain,~Batin Alex.


Alex menghela nafas berat. Dia lalu membalikkan badannya dan menoleh ke arah pria itu, "Paman Michael benar. Saya tidak seharusnya mudah emosi. Lalu, apa yang harus saya lakukan agar anda mau menjadi konsumen VIP saya?"


"Mudah saja. Aku mengatakan ingin melihat kemampuanmu. Aku membenci membaca PowerPoint, laporan dan sejenisnya dan presentasi adalah hal paling membosankan bagiku. Aku memiliki caraku sendiri untuk menilai. Apakah kamu dapat menerimanya?" Tanya Michael.


"Anda bercanda? Saya menerima atau tidaknya, itu tidak mengubah hasil keputusan penilaian anda. Mungkin saja, jika saya tidak terima, saya akan kehilangan sebuah kesempatan besar. Hum, baiklah. Selama itu tidak meminum alkohol, bir atau apapun itu, aku akan menerimanya," Jawab Alex begitu tegas.


"Ok, sepakat."


...*...*...


"Humm. Kau tampak begitu keren dan masih muda. Lantas, mengapa kau membenci mabuk?" Tanya Michael di sepanjang perjalanan menuju ke tempat berjudi.


Sesampainya disana...


"Baiklah, kita bermain poker," ucap Michael.


"Begini saja. Agar tidak ada kecurangan, kita memilih dua orang sebagai pengocok kartu. Bagaimana?" Tanya Michael.


Osy, apakah tidak ada cara agar aku menang taruhan kali ini? Aku benar-benar tidak pernah main poker,~Batin Alex mulai tak tenang.


"Ada sebenarnya tuan, tapi apakah anda yakin mengorbankan waktu dua tahun anda di dunia?" Tanya Osy balik.


"Berapa banyak waktu yang ku dapat untuk misi kali ini?"


"Kemungkinan sekitar lima tahun, tuan. Tapi, jika gagal, anda juga akan mendapatkan potongan waktu lima tahun. Misi hanya berlaku hingga bulan depan. Jika bulan depan anda belum mendapatkan keuntungan apapun, kami terpaksa mengambil kemampuan anda dan waktu anda," ucap Osy memperingatkan.


"Aku sudah tahu itu. Aku memiliki caraku sendiri untuk menang."


"Baiklah. Anda bersiaplah. Saya hanya dapat membuka kepekaan anda. Anda dapat melihat kartu apa saja yang tertera disana. Bagaimana?"


"Cepatlah!" Seru Alex.


...*...*...


Alex dan Michael telah mendapatkan dua orang pengunjung secara acak disana. Mereka berdua bersedia untuk menjadi saksi keduanya tentu saja dengan iming-iming yang lumayan menggiurkan. Kartu tersebut mulai dikocok dan diletakkan di atas meja.


"Baiklah, kita ambil satu satu. Aku yakin kau sudah paham dengan aturannya," ucap Michael.


"Hum."


Alex menjaga ekspresi datarnya seakan dia adalah sang pemain profesional, begitupun dengan Michael yang namanya bahkan sudah terkenal di area judi tersebut.


"Baiklah, aku ingin bertarung besar kecil denganmu," ucap Michael.


"Aku memasang taruhan 100 M," lanjutnya dengan sombong.


Alex menilik kartu miliknya. Dia berusaha tetap tenang dan tidak melakukan gelagat yang aneh dan berbeda.


"Call," ucapnya singkat.


Mereka membuka kartunya dengan saksama dan menyaksikan. Alex mendapatkan sebuah joker yang merupakan jackpot dalam permainan kali ini.


"Baiklah, ronde pertama dimenangkan oleh... Tuan muda Blue Shadow," ucap seorang saksi yang dipanggil oleh Alex dan Michael.


Sudah ku duga. Dia bukanlah pria biasa. Ekspresinya sangat tenang, dia bahkan terlihat tak khawatir untuk kalah. Dia benar-benar percaya diri,~Batin Michael.


Michael tidak marah ataupun tersinggung, tidak juga mengalah. Dia mengakui kemampuan Alex hanya dengan menilai pembawaannya yang begitu tenang.


"Baiklah. Ronde kedua," ucap pria itu.


Pria itu memegang kartunya dan mengocoknya dengan cepat. Nampak sekali dia bukanlah seorang pengunjung biasa. Alex dibuat kagum dengan kemampuannya.


"Giliran aku. Aku memasang taruhan..." Alex berhenti sejenak. Dia melihat ke arah kartu yang berada di tangannya. Dia yakin kali ini akan menang.


"Aku pasang 200 M. Apakah Paman berani?" Tanya Alex.


"Call," Jawab Michael tak kalah tenangnya dengan Alex.


Hingga beberapa saat kemudian, hasilnya pun tetap sama. Alex lah pemenangnya.


Sial! Niatku adalah mengujinya. Jika terus begini, aku akan bangkrut cepat atau lambat!~Batin Michael yang sudah mulai kesal.


"Bagaimana, Paman? Apakah saya layak menjadi partner anda? Apakah saya layak menjadi pemasok di geng yang anda pegang?" Tanya Alex sedikit mengangkat alisnya.


"Tidak semudah itu. Bagaimana jika kita main Texas hold'em?" Tanya Michael.


Apalagi itu? Ahh sudahlah. Aku harus percaya diri aku akan menang,~Batin Alex.