I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 54



Alex terdiam sejenak. Dia berusaha memutar otaknya untuk menjawab semua pertanyaan yang mereka lontarkan.


"Paman tenang saja. Aku sudah memikirkan caranya. Lagipula, racun juga tidak akan menjadi sebuah racun dengan takaran yang tepat. Beberapa bahkan bisa digunakan dalam ilmu pengobatan. Aku juga berencana mengolah bir dan hal lainnya dengan alkohol yang relatif rendah. Untuk masalah pembeli dan yang lainnya, aku sendiri yang akan turun tangan," jawab Alex yang mampu meyakinkan mereka.


"Baiklah, Aku dan Jack memutuskan untuk selalu membantu tuan muda selama itu tidak membahayakan nyawa orang tidak bersalah,karena prinsip utamaku menjadi seorang tentara adalah menjadi seseorang yang dapat membantu korban dan mereka yang lemah." Louis telah yakin akan keputusannya, sedangkan Jack memang selalu bergantung pada keputusannya.


...*...*...


Beberapa bulan kemudian...


Hari ini adalah hari dimana Alex akan di wisuda. Alex berpakaian sangat rapi dan nampak begitu tampan. Verrel dan Jessica senantiasa menemaninya, mereka memutuskan untuk lulus sesuai dengan ketentuan.


"Wihh, temen gue ganteng juga," puji Verrel.


"Lex, ga nyangka sih gue. Lu bener-bener berubah pesat. Apa karena kebentur waktu jatuh di jurang waktu itu?"


"Bukankah kau sendiri yang mengakui dan mengatakannya pada Jessica, jika sebenarnya aku lebih hebat jauh darimu?" Timpal Alex.


"Ehh, bagaimana kau bisa tahu? Jangan-jangan... Jangan-jangan lu yang sekarang ini setan? Lu sebenarnya sudah mati, bukan?" Verrel menunjukkan ekspresi ketakutan yang menurut Alex begitu lucu.


"Mana ada? Aku disini dan kakiku napak nih." Alex meninggikan baju wisudanya untuk memamerkan kakinya yang masih napak.


"Bener juga. Terus, darimana lu tau?" Tanya Verrel makin penasaran.


"Ada deh. Alex kan sakti wkwk."


Mereka tertawa ceria sebelum Alex dipanggil untuk maju ke depan.


"Oh ya kawan, aku maju ke depan dulu ya," ucap Alex.


Alex berpamitan kepada mereka untuk naik ke atas podium bersama. Betapa terkejutnya semua orang saat melihat papan nama pengumuman peringkat IPK terbaik disana. Sepuluh peringkat terbaik di kampus yang begitu terkenal dan Alex menduduki pada posisi pertama.


Beberapa orang bahkan sempat mengucek-ucek matanya tak percaya. Ya, seseorang yang mereka anggap sampah, mereka anggap sebagai seorang anak yang hina, seorang anak pembawa sial, kini dia mampu berjuang hingga titik dimana dia menjadi sang juara. Dikatakan bangga, tentu saja Alex bangga. Namun, itu semua seolah sudah menjadi makanan sehari-hari baginya.


"Rel, lihatlah!" Seru Jessica sambil menunjuk ke arah papan pengumuman berupa pantulan proyektor


"Wow, dia benar-benar hebat. Kita benar-benar tidak salah memilih teman,Jes. Hahaha. Pandanganku memang tak pernah salah," ucap Verrel bangga pada dirinya sendiri.


"Huh, sekarang terbukti sudah bila pria itu memang bukan pria sembarangan. Aku yang dulunya terlihat selalu lebih unggul darinya, kini ketinggalan sangat jauh. Selain aku tidak mungkin wisuda dengan peringkat terbaik se universitas, aku juga ga mampu menempuh pendidikan S1 hanya dalam waktu enam hingga tujuh semester saja."


Jessica mengangguk dan menatap lurus ke arah sang pujaan hatinya. Hari ini dia semakin yakin bila Alex memang pantas menjadi idolanya, seseorang yang mampu membuatnya jatuh hati. Sedangkan Athena menitihkan air matanya terharu.


"Russel, aku yakin kamu bisa melihat semua ini dari atas sana. Anak yang selalu kamu bangga-banggakan, anak yang pernah aku sia-siakan, dan anak yang pernah membuatku sadar akan pentingnya keluarga, kini telah mendapatkan jati dirinya. Dia sudah berubah," gumam Athena.


"Kau benar,Russel. Dia bukanlah bintang pembawa sial, namun dia adalah bintang yang bercahaya yang akan menjadi kebanggaan semua orang."


...*...*...


Berita tentang kelulusan di universitas negara P, tempat dimana Alex berkuliah, begitu cepat sampai ke telinga negara tetangganya. Luna yang saat ini sedang berbaring di depan tv pun sambil mengelus perutnya yang terlihat sudah sedikit membuncit itu menghela nafas lega.


"Sayang, lihatlah itu. Ayahmu sudah lulus, sedangkan ibu malah harus disini menantinya," ucap Luna dengan sesuatu yang ada dalam perutnya.


"Lunora." Ibu Luna datang secara tiba-tiba.


"Kamu tidak bisa terus begini. Terbanglah kesana dan temui pria itu. Dia harus sadar akan tanggung jawabnya," tegas ibu Luna.


"Luna tau ma, tapi..."


"Tidak ada tapi-tapi. Ok lah biarkan dia lahir dulu saja. Lagipula, kau tidak bisa terbang jauh sebelum dia hadir."


"Hummm."


Tak kusangka ternyata dia memang benar pria yang hebat. Merupakan sebuah keberuntungan bila anakku benar-benar dapat pertanggungjawaban dari pria itu,~Batin Ibu Luna.


...*...*...


Negara P...


"Selamat ya,Sayang. Kamu lulus diusia yang begitu muda dan bahkan mendapatkan peringkat pertama se universitas. Kau benar-benar membuat mama bangga," ucap Athena sambil mengecup kening Alex.


Alex tidak melakukan perlawanan apapun pada Athena. Dia menikmati seluruh kasih sayang yang diberikan wanita itu padanya walau memang sedikit terlambat.


"Thank you, ma."


"Omong-omong, Lex. Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Athena.


"Uhm." Alex meletakkan tangannya pada dagunya yang indah, "Alex sepertinya ingin mencoba seperti Ayah. Alex akan mendaftar untuk menjadi seorang panglima tentara."


"Lalu, untuk apa kamu kuliah jurusan ini? Bukankah itu akan sangat menyimpang?" Tanya Athena.


"Memang, namun apa salahnya kalau Alex bisa berbisnis dan menjadi seorang abdi negara?"


"Hum, baiklah. Mama akan selalu mendukung keputusan Alex."


"Terimakasih mama."


Setelah serangkaian acara tersebut selesai, Alex langsung pergi menuju ke ruangannya yang berada di markas utama.


"Selamat tuan muda atas pencapaian anda hari ini. Semoga sukses selalu," ucap Louis dan Jack yang senantiasa menunggu Alex untuk tiba. Sebuah dekorasi unik yang telah mereka persiapkan terpampang di depan Alex. Alex terperangah melihatnya. Seumur hidup, dia bahkan tak pernah mendapatkan apapun dari siapapun.


"Wahh. Keren sekali. Terimakasih Paman Louis dan Paman Jack."


Beberapa anak yang dilatih oleh Louis dan Jack pun ikut serta merayakannya. Jim dan Jonas nampak begitu iri dengan pencapaian yang diperoleh oleh Alex.


"Cihh, hanya wisuda saja. Aku dan Jonas sudah wisuda beberapa bulan lebih awal darinya tidak selebay itu," cibir Jonas.


"Jonas, Jim, apa yang telah aku dan Jack ajarkan kepada kalian?" Seru Louis.


"Paman, atas dasar apa kamu selalu membeda-bedakan kami? Dia bahkan tidak ikut latihan saja tidak dihukum. Kenapa kami iya?" Tanya Jim.


"Jim, Jonas, kalian seharusnya malu dengan umur. Alex bahkan beberapa tahun lebih muda dibandingkan kalian," timpal Louis.


"Sudah, sudah paman. Orang-orang seperti mereka yang tidak dididik orang tuanya, untuk apa kita meladeninya. Kita adalah orang kemiliteran. Tidak ada sejarahnya debat untuk keperluan yang tidak penting," ucap Alex dingin dan arogan.


"Yee. Dasar. Katanya tentara pasukan elite. Ehh sama sampah aja senang?"