
Disisi lain...
Wanita yang diselamatkan oleh Alex tadi masih berlari disana. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ad orang-orang geng harimau putih yang berhasil mengejarnya. Dengan nafas terengah-engah, dia telah mencapai lantai kedua gedung tersebut. Dia berhenti sejenak untuk memgambil nafas sebelum pada akhirnya dia berlari kembali menuju rumahnya.
Beberapa saat kemudian...
Seorang pria berbadan kekar bergerak menuju dirinya. Dengan langkah yang tenang dan pasti, pria itu melihat wanita itu sedang terduduk, mengatur nafas disana. Sayangnya, saat pria itu mendekat, tanpa sengaja wanita itu menoleh ke arahnya.
Sial! Bagaimana dia bisa mengikutiku secepat ini?~Batin wanita itu.
Wanita itu tidak memedulikan nafasnya yang sudah kembang kempis. Dia berlari dengan sisa-sisa tenaganya.
Pria berbadan kekar itu berlari menyeimbangi langkahnya.
"Lisa, kau harus kuat. Jangan sampai kau tertangkap lagi oleh orang-orang itu. Jangan sia-siakan perjuangan orang-orang!" Sambil berlari, dia menyemangati dirinya sendiri.
"Ahhhh!!!" Jerit wanita itu saat kakinya tersandung kakinya sendiri. Lututnya terlihat memar, bahkan mengeluarkan darah yang membuatnya kesakitan.
Pria itu semakin mendekat. Dia memperlambat lajunya sambil menyeringai ke arahnya. Lisa, wanita yang dikejarnya, pun berusaha untuk bangkit dan berjalan dengan kaki terseok-seok.
"Auh... Ahh... Ughh," Rintihnya kesakitan.
"Please, seseorang tolong aku!" Pekiknya.
...*...*...
"Paman, segeralah pergi dari sana!" Pekik Alex dari kejauhan.
Alex berlari ke arah Aron dan Nero yang nampak kebingungan dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alex.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Aron yang masih tidak menyadari bahaya di belakang mereka.
Hitungan detik hanya tinggal sepuluh detik lagi. Alex semakin tergopog-gopoh menggapai mereka berdua.
Tiga... Dua... Satu....
Alex berhasil berada di belakang mereka, mendorong mereka menjauh dari tempat bom berada.
Blerrr...
"MENUNDUK!" Seru Alex sambil melindungi dirinya dengan punggungnya yang tegap. Dia menutupi kepalanya dengan tangan. Bom itu berhasil menghancurkan satu ruangan di sekitarnya. Kaca pun berhamburan. Untung saja itu tidak berpengaruh pada struktur bangunan. Jika tidak, Alex, Aron dan Nero mungkin akan terkubur hidup-hidup di tengah-tengah puing bangunan
"Ketua, Tuan!" Pekik mereka bersamaan saat melihat Alex lah yang menderita kondisi paling parah diantara mereka.
Banyak kaca yang berserakan di sekitarnya, bahkan sempat menimpanya. Punggung Alex dipenuhi oleh luka yang diakibatkan pecahan kaca tersebut.
"Paman Aron, Nero, kalian tidak apa-apa kan?" Tanya Alex yang masih sempat memedulikan nyawa orang lain.
"Kami tak apa, Tuan muda. Anda pikirkan saja diri anda sendiri. Nero, mari kita bawa Tuan muda ke suatu tempat. Kita cari gedung yang masih menyimpan kotak P3K di ruangannya," ucap Aron.
"Hummm, baiklah."
"Gak. Gak perlu. Kita bisa mengobatinya nanti. Sekarang begitu sepi disini. Aku takut wanita itu akan menghadapi kesulitan disana."
"Humm baiklah. Saya bantu memapah anda?" Tanya Aron.
Alex hanya menggeleng. "Saya masih sanggup jalan sendiri."
...*...*...
Alex telah tiba disana. Benar yang dia perkirakan. Wanita itu sedang dikejar oleh seorang pria disana. Pria itu bahkan menodongkan pistolnya. Alex melihatnya begitu iba. Dia mengesot setelah kakinya benar-benar kaku dan tidak dapat digerakkan.
"Hahaha. Mau kabur kemana lagi kau?" Tanya pria itu.
Lisa tidak memedulikannya. Dia tetap berjuang mempertahankan hidupnya.
"Huh, dasar wanita bebal!" Umpat pria itu.
Srashhh...
Alex menendang kaki pria itu hingga dia hampir terjatuh. Sesegera mungkin, Alex membopong tubuh mungil milik Lisa.
"Kau masih sanggup berjalan,bukan? Aku akan membantu memapahmu," ucap Alex.
"Kakiku terkilir. Mungkin jika dibenarkan, aku akan bisa berjalan sendiri," jawabnya.
"Sudah tidak ada waktu. Cepatlah naik ke punggungku!" Seru Alex.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi!"
Wanita itu naik ke punggung Alex dengan segera. "Nero, Paman Aron, mari kita pergi."
Mereka pergi bersamaan menuruni anak tangga dengan cepat.
"Woyy! Jangan kabur kalian!" Pekik pria itu yang masih berusaha bangkit.
Kini gilirannya berjalan dengan kaki terseok-seok dan tangan memegangi celananya. Dia mengambil handy talky miliknya untuk menghubungi beberapa orang lainnya.
...*...*...
Tak tak tak tak...
Dengan secepat kilat, Alex dan yang lainnya berhasil menuruni setiap anak tangga tersebut hingga sampai ke lantai dasar. Namun, tentu saja kecepatan orang-orang yang mengincarnya lebih cepat dibandingkan mereka yang harus membawa seorang wanita di punggungnya.
"Sial! Mereka begitu cepat menyusul. Jika begini terus, kita pada akhirnya akan tertangkap. Aku tak menyangka jumlah mereka akan begitu banyak," Ucap Alex.
"Lebih baik anda membawanya terlebih dahulu. Saya dan Nero akan menghadang mereka," ucap Aron memberi saran.
"Tidak, tidak. Aku tidak bisa mengorbankan kalian berdua..." Alex berpikir keras untuk saat ini. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dan faktanya tidak ada kendaraan apapun yang lewat di depan sana. Entah bagaimana wanita itu bisa tiba-tiba berada disana, namun ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.
Tak tak tak...
Langkah mereka semakin mendekat. Alex mulai panik saat ini. Dia sangat tidak leluasa jika ada wanita itu disana. Dia menarik nafas dan menghela dengan berat. Sebuah mobil pick up membawa sayuran tiba-tiba melintas di depan sana. Alex berlari sambil berteriak "PAMAN! PAMAN, TOLONG KAMI!"
Pengemudi mobil pick up tidak dapat mendengarnya, namun bukan Alex jika dia menyerah begitu saja.
"PAMAN!" Teriaknya lebih keras dibandingkan sebelumnya. Pengemudi tersebut menoleh dengan perlahan ke arah gedung tua yang sudah lama ditinggalkan itu dengan wajah yang merinding ketakutan.
Namun, wajahnya berubah saat melihat Alex tengah berlari dengan wanita di punggungnya. "Paman, kumohon tolong kami." Alex berucap lirih.
Dorrr...
Satu tembakan dilayangkan ke arah mereka.
"Tuan muda, Awas!" Pekik Aron saat melihat peluru mereka menuju ke arah Alex. Alex dapat menghindar dengan sempurna.
"Paman, tolong bawa dia ya. Tanyakan saja dia mau kemana. Ini uang untuk ongkosnya " Alex memberikan uang sekitar €100 padanya.
"Tapi tuan, ini terlalu..." Belum sempat pengemudi itu merampungkan kalimatnya, Alex telah memotongnya dengan segera.
"Paman cepatlah pergi! Aku tidak ingin paman dan wanita ini terluka."
"Tuan, saya akan mengingat jasa anda. Terimakasih," ucap gadis itu seraya melampirkan senyum manis pada bibirnya yang merah merekah.
Alex mengubah fokusnya kepada pria-pria di hadapannya.
"Tch, sial! Gara-gara kalian, kami kehilangan target kami!" Seru pria di hadapannya menyalahkan Alex dan yang lainnya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Alex.
"Apa kau tahu jika dia adalah harta kami? Kau begitu bodoh!" Umpat pria itu.