
"Paman Alex! Komandan Alex, please help us!" Teriak gadis itu yang pantang menyerah.
Di dalam kantor utama kemiliteran...
Alex meregangkan otot-ototnya yang telah kaku. Tak lupa dia pun merapikan kembali dokumen yang ada di atas mejanya, menyimpan data yang telah dia cantumkan dan beberapa hal lainnya. Dia pun tak lupa membuat copy-paste dokumen yang telah dia buat, untuk berjaga-jaga seseorang membuat kecurangan.
"Huh, akhirnya aku selesai juga. Sekarang, aku bisa fokus untuk mempelajari ilmu pembuatan racun," gumamnya lirih.
Dia tahu posisinya sekarang. Dia berbicara, bergumam dengan sangat pelan. Takut seseorang merekamnya atau melakukan apapun yang dapat mendepak dirinya. Dia masih teringat kejadian Russel kala itu, juga dia tahu banyak orang yang suka pada dirinya. Bukan karena ramalan kala itu, melainkan karena tatapan sinis mereka setelah mengetahui Alex bahkan diangkat menjadi komandan di kantor pusat.
Saat dia berdiri dari duduknya, samar dia mendengar kegaduhan dengan memanggil-manggil namanya. Sepertinya, dia mendengar suara gadis kecil sedang meminta pertolongan, namun setelahnya dia juga mendengar seseorang mengusirnya dengan keras.
"Benar-benar tidak berperikemanusiaan! Aku tidak bisa tinggal diam," gumam Alex.
Alex keluar dari ruangannya. Dia melihat seorang penjaga yang juga merupakan bawahannya sedang memarahi anak kecil yang memohon padanya. Dia bahkan tertangkap basah tengah bersikap kasar dengan gadis itu.
"Enyahlah! Minta saja perlindungan dengan dewa kalian. Untuk apa kami harus melindungi diri kalian dan membahayakan nyawa kami sendiri?" Pekik pria itu sambil mendorong tubuh mungil gadis di hadapannya. Alex dengan cepat berlari dan menangkap gadis kecil itu agar dirinya tidak terjatuh.
"Terimakasih,Paman," ucap gadis itu begitu imut.
Imut sekali,~Batin Alex.
Pria ini begitu kejam. Bagaimana bisa dia berbuat kasar terhadap anak kecil yang imut ini?~Lanjutnya dalam hati.
Alex seketika teringat dengan masa kecilnya yang selalu diperlakukan buruk oleh semua orang disekitarnya. Dia mengingat saat dia harus berbaris bersama rekan-rekannya, namun dia didorong oleh mereka dengan begitu kasarnya. Lebih parahnya lagi, tak ada seorang pun yang menolongnya hingga Verrel pun tiba dan membantunya melawan mereka semua.
Bukan hanya dengan sesama anak kecil, saat Alex hanya ingin bersalaman dengan gurunya seperti murid lainnya, gurunya dengan teganya mendorong Alex hingga tersungkur.
"Enyahlah! Aku tidak sudi mengotorkan tanganku untuk murid pembawa sial sepertimu. Yang ada aku akan sial tujuh turunan jika bersalaman denganmu. Jikalau kamu bukan anak dari tuan Russel, mungkin sekolah ini juga enggan menerimamu," ucap guru Alex yang masih terekam jelas di otaknya.
Atau saat dia membantu seorang anak yang baru saja terjatuh, atau buang air di celana. Atau mungkin saat mereka sedang sakit ataupun pingsan. Saat tak ada seorang anak pun yang mau mendekatinya, karena bau dan hal lainnya. Bukan malah mendapatkan apresiasi dari orang tua siswa yang dia tolong, melainkan dia hanya mendapatkan hinaan dan didorong hingga dia harus menderita luka dan memar.
"Ko-komandan. Komandan Alex? Apa yang anda lakukan disini?" Tanya penjaga itu dengan nada gugup dan ketakutan.
Alex telah dibawa kembali dari lamunannya.
"Kau tanya kenapa? Kau pikir aku akan tuli saat mendengar seseorang berteriak namaku?" Tanya Alex.
Penjaga itu terdiam. Dia tak berani menjawab apapun dari Alex.
"Apa ini yang diajarkan oleh akademi militer negara ini kepada para prajurit seperti kalian?" Tanya Alex.
Pria itu sepertinya sedang memendam amarah. Dia pun akhirnya meluapkan emosinya di hadapan Alex dan hal itu tentu saja menyita perhatian sebagian pihak di kantor pusat.
"Kenapa memangnya? Apa karena pangkatmu lebih tinggi dariku, kau bisa berbuat semaumu? Apa karena kau lebih segalanya kau bisa menendas kaum yang lebih lemah?" Tanya pria itu mendebat Alex.
Alex menyilangkan kedua tangannya di dadanya, terlihat begitu arogan.
"Teruskan opinimu. Aku ingin mendengarnya," ucap Alex.
"Hei semuanya!" Seru pria itu yang membuat semua orang berkumpul disana.
"Lihatlah komandan baru kalian yang sombong ini. Dia bahkan menghina akademi militer kita! Dia ga pantas jadi komandan!" Serunya memprovokasi semuanya.
Hehe. Aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengusirnya. Aku muak menjadi penjaga disini. Dia yang orang baru bisa-bisanya langsung menjadi seorang komandan dan aku babunya hanya karena dia adalah anak dari mantan panglima tertinggi negara yang bahkan hingga saat ini masih belum ada yang sanggup menggantinya,~Batin pria itu.
Beberapa dari mereka yang memang iri dan benci dengan Alex pun membela pria itu, ikut menghina dan mencaci maki Alex, membuat massa semakin banyak di pihak mereka yang bersalah. Sedangkan, beberapa orang lainnya hanya terdiam dan menganalisa atau bahkan hanya ikut-ikutan memrotes Alex, beberapa terkena hasutan dari opini satu pihak.
Gadis yang sedari tadi nampak diam ketakutan, kini dia berdiri di tengah-tengah mereka untuk menjadi saksi. Dia tak gentar. Dia tidak takut bila harus dibunuh bersama orang yang telah menyelamatkannya tadi.
"Paman, tante, semuanya cukup!" Pekik gadis kecil itu sedikit berteriak. Teriakannya itu berhasil membuat mereka terdiam.
"Paman, kumohon tolong mereka. Tolong keluargaku, tolong semua orang," pinta gadis kecil itu.
Tidak, dia tidak melakukan pembelaan terhadap Alex dengan cara menentang semua orang. Dia membela Alex dengan caranya sendiri, dengan dia merengek dan menangis meminta pertolongan agar mereka semua tahu apa yang dimaksudkan Alex ada benarnya. Agar mereka semua tahu apa yang dilakukan si penjaga itu telah salah, pria itu sudah menelantarkan seorang rakyat yang seharusnya mereka layani.
"Apakah urusan disini bisa dikesampingkan? Ada banyak puluhan, ratusan bahkan ribuan nyawa orang bergantung pada kita. Apa kalian akan diam saja?" Tanya Alex.
"Tapi, sudah banyak tentara yang gugur,komandan," timpal seseorang.
"Tch. Hanya buang waktu saja berbicara dan menyuruh para pengecut seperti kalian!" Seru Alex.
"Dek, tunjukkan jalan menuju tempatmu berada," ucap Alex.
"Benarkah paman? Benarkah paman akan menolongku?" Tanya gadis kecil itu sumringah.
Alex menimpalinya dengan anggukan. Sedangkan gadis kecil itu menarik tangan Alex dan menuntunnya ke sebuah tempat. Namun, saat Alex baru saja keluar dari kantornya, dia melihat seseorang seperti memata-matai kantor atau mungkin dia mengincar gadis kecil yang cantik itu.
"Dek, apa kamu bisa menunggu disini sejenak? Aku akan memanggil temanku," Tanya Alex.
"Iya,paman."