I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 15



Alex menggertakkan giginya. Dia muak melihat pria yang sedang berpidato mengungkapkan kesedihannya atas kepergian Russel kali ini.


Alex tak mau kalah cepat. Dia langsung melancarkan aksinya ditengah-tengah tangis palsu dari Steve.


Video telah diputar saat pengangkatan Russel kala itu. Semua orang melihatnya dengan serius, bahkan Athena dan lainnya. Louis dan Jack yang sedari tadi tidak memedulikan Steve yang berada disana pun turut berhenti saat mendengarkan ucapan dari Steve dalam video tersebut.


"Sudah delapan belas tahun berlalu. Aku telah berhasil membuat keluarga Lachowicz pecah, membuat Russel hampir dibenci oleh Ayah. Namun, dia masih saja mendapatkan jabatan yang tinggi. Dunia benar-benar tidak adil."


"Jack, berhenti sebentar. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dalam video itu." Louis menahan Jack untuk tetap berada disana.


Jack pun menuruti ucapannya dan melihatnya dengan saksama.


"Bodoh! Semua rakyat di negara ini cukup bodoh. Hahaha. Lihatlah, Russel. Anak kesayanganmu telah dibenci oleh dunia. Maafkan aku yang begitu kejam menggunakannya sebagai senjata."


Steve seketika terdiam dan menoleh ke layar yang ada di belakangnya.


"Apa maksudnya? Apakah ini berkaitan dengan ramalan tuan muda?" Tanya Jack kepada Louis.


"Diamlah! Kita dengarkan dulu apa isinya."


"Zydan, kamu bujuk keluarga Campbell."


"Kakakku tersayang. Mungkin bulan ini adalah bulan terakhir bagimu."


Video pertama pun telah selesai diputarkan. Semua orang menatap ke arahnya. Tidak terkecuali dengan Athena.


"Apa maksudnya video ini? Apakah kematian Russel ada hubungannya dengan Steve?" Athena menutupi mulutnya. Kemudian, ia menyeka air matanya.


"Jika benar, dia memang sungguh keterlaluan!" Pekik Athena.


Belum sampai disitu saja, Alex pun menayangkan video selanjutnya. Video dimana Vieka, memasangkan alat penyadap suara kecil di balik punggung Alex. Jangan ditanya bagaimana Alex melakukannya. Dia tanpa sengaja menemukan hal janggal di cctv kelasnya saat dirinya mengecek kembali rekaman cctv kala itu. Alex mengeditnya dengan sedemikian rupa. Terdengar pula disana tentang perbincangan antara Alex dan Russel tentang pelatihan mereka di gunung Erta Ale.


Aku benci melihat video ini. Aku begitu bodoh! Kamu bodoh Alex, Kamu bodoh!~Umpatnya mengutuk dirinya sendiri.


"Hahaha. Kerja anakmu ternyata bagus juga. Dia bahkan berhasil menempelkan kamera kecil di punggungnya. Dia benar-benar jenius yang cekatan. Sebentar lagi, aku akan berhasil menguasai keluarga Lachowicz dan menduduki jabatan sebagai panglima tertinggi negara."


James nampak panik saat dirinya pun terekspose disana. Dia diam-diam mengendap untuk lari dari lapangan. Sayangnya, aksinya telah diketahui oleh Aron yang berdiri tepat disampingnya.


"Tuan Campbell, anda mau kemana?" Tanya Aron dengan tatapan mematikan.


Aura pria ini... memang patut dicurigai. Dia memiliki aura jahat, licik juga mudah terserang penyakit hati, seperti iri dengki, sama halnya dengan tuan Steve,~Batin Aron.


"Aku... aku mau ke toilet," ucapnya berbohong. Dia tersenyum pias kepada Aron, seraya menatapnya dengan ketakutan.


"Jika aku memberimu pilihan, kencing disini maka hidupmu akan selamat atau aku mengizinkanmu ke kamar mandi, tapi kau akan mati mengenaskan di dalamnya. Jangan lupakan siapa aku." Aron memang paling pandai mengancam seseorang.


"Ampun tuan Aron. Saya tidak akan kemana-mana." James telah berlutut di hadapan Aron saat ini.


Emosi Athena mulai memuncak. Dia mendekat ke arah James dan seketika langsung menamparnya dengan keras. "Kau jahat! Kalian jahat!"


James hanya dapat terdiam, terutama di bawah tekanan Aron disana.


"Ma-maafkan aku,nyonya. A-aku.. aku hanya disuruh," ucap James.


"Aku tidak peduli dengan alasanmu. Aku ingin kau dihukum berat. Kau harus mati, James. Kau harus mati!" Pekik Athena yang telah dikuasai oleh amarah.


"Athena, tahan emosimu!" Seru Kakek.


"Jika kamu membunuhnya, kamulah yang akan dijadikan tersangka. Serahkan semuanya pada tuan Aron saja," ucap Kakek.


Alex tak mau berlama-lama berada dalam persembunyiannya. Dia mengeluarkan senjata yang diam-diam ia letakkan pada ranselnya dan kemudian membidik Steve. Dengan nafas memburu, dia melepaskan peluru tersebut.


Dorrr...


Suara tembakan menggema diseluruh lapangan. Semua orang berlarian di sekitar sana dengan ekspresi ketakutan masing-masing. Sayangnya, tembakan yang seharusnya mengenai jantungnya itu malah meleset hingga hanya mengenai pundaknya.


"Sial! Tidak seharusnya aku terburu-buru. Jika begini, dia akan lebih waspada," umpat Alex.


"Lindungi Tuan Steve!" Pekik bodyguard yang telah disewa pria itu.


Steve memegangi pundaknya yang terus mengeluarkan darah segar. Hal tersebut sudah cukup membuat Steve kehilangan banyak darah. Jika tidak cepat ditangani, maka kemungkinan dia mati cepat atau lambat pun akan terjadi.


Alex muncul dihadapan semua orang disana. "Hai, paman. Bagaimana kejutan dariku? Hebat bukan?" Alex menyeringai kepadanya. Dia menatap pria itu dengan tatapan licik yang menjengkelkan, membuat Steve tak habis pikir tentang hal yang baru saja terjadi.


"Alex?!" Pekik semua orang yang berada disana.


Steve berusaha untuk bangkit saat ini dan menghadapi keponakan bodohnya itu.


"Kau! Apa maksudmu?" Tanya Steve.


"Aku ini pamanmu," lanjutnya.


"Paman? Kau bahkan tidak pantas ku panggil paman. Sekarang semua bukti sudah ada, apalagi yang kau elak? Kau... mendekamlah dipenjara!" Seru Alex.


"Sial! Lepaskan aku!" Steve meronta saat dirinya ditangkap oleh beberapa anggota kemiliteran dan kepolisian disana.


Sedangkan anak buah Steve berusaha untuk menangkap Alex yang masih berdiri disana.


"Ga perlu kaliann menangkapku begitu. Aku tidak akan kabur," ucap Alex.


"Cihh, sombong sekali!"


Mereka mulai memasang kuda-kuda.


Gimana ini? Aku memang jago dalam menembak, tapi bela diri?~Batin Alex.


"Tidak. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus mengelabui mereka dan berusaha untuk kabur," gumam Alex yang tak dapat didengar orang lain.


"Tuan muda!" Pekik Louis saat melihat Alex dikepung oleh beberapa pria berbadan besar disana.


"Paman Louis. Tolong bawa pulang Kakek dan ibu pulang," titah Alex.


"Lalu, bagaimana dengan anda?" Tanya Louis.


"Biar paman Aron dan Paman Jack yang membantu," jawab Alex.


"Baiklah. Kalian berhati-hatilah. Mereka sangat kuat!" Louis berteriak seraya mewanti-wanti mereka.


Tentu saja Alex mengerti dengan jelas kekuatan mereka. Terutama saat dirinya berhasil masuk ke dalam markas Steve kala itu.


"Jangan banyak bacot! Cepat serang!" Titah komandan mereka.


Srakkk... Plakkk... Bughhh...


Suara demi suara pertarungan diantara mereka mulai terdengar. Sesekali Alex dapat menangkis pukulan pria itu, namun tak jarang juga pukulan tersebut berhasil mengenai tubuhnya. Alex berusaha keras untuk menghindar, namun sebuah pukulan berhasil melukai sudut bibirnya.