I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 77



"Osy, nyalakan kemampuan menganalisisku!" Titah Alex.


"Baik, ketua."


Tinggg!!


Selamat, kemampuan menganalisis dan membaca persentase kegagalan anda telah diaktifkan! Demon Eyes akan segera dinonaktifkan untuk sementara!


"Untuk apa?" Tanya Alex bingung.


"Memang begitu, ketua. Anda hanya dapat menggunakan fungsi salah satu saja. Tidak dapat langsung keduanya," ucap Osy.


"Hum. Baiklah baiklah."


"Komandan, apakah ada sesuatu? Mengapa anda melamun dan menatapku seperti itu?" Tanya Damian melihat Alex yang tiba-tiba termenung.


"Tak apa. Saya baik-baik saja. Hanya merasa sedikit lelah. Oh ya, kapan meeting akan dimulai? Tidak diundur,bukan?" Tanya Alex.


"Saya baru mendapat kabar jika meeting diundur satu jam kemudian. Jika anda lelah, anda dapat berbaring di kursi panjang saya dan meminta boy membuatkan minuman untuk anda," jawab Damian begitu lembut.


"Baiklah."


Alex beranjak dari duduknya dan memindahkan posisinya pada sebuah kursi panjang di ruangan perdana menteri.


"Baiklah, disini begitu tenang. Harusnya, dia tidak akan menyadarinya bukan?" Gumam Alex lirih.


Alex memulai aksinya. Dia memejamkan matanya sejenak sebelum melakukkan analisis sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


"Apakah Tuan Damian itu jahat?" Tanya Alex dalam hatinya.


"Maaf, tidak dapat mendeteksi."


"Ha? Kenapa tidak dapat mendeteksi? Apakah alat ini rusak?!" Protes Alex dalam benaknya.


"Sabar,ketua. Dia bukan tidak berfungsi, namun anda yang salah bertanya. Anda kurang spesifik," jawab Osy.


"Oh astaga. Seperti wanita saja. Semua laki-laki yang salah."


"Baiklah, aku akan mencobanya lagi. Sekali lagi. Apakah tuan Damian ada keterkaitan dengan pembunuhan Ayah?"


"Tingg! 50%" sebuah angka keluar di atas Damian. Hal tersebut sontak membuat Alex terkejut. Dia tak menyangka bahwa Damian yang terkenal baik dan berhati malaikat itu ternyata begitu keji pada keluarganya.


Ga nyangka, ternyata canggih juga. Tapi, itu berarti Tuan Damian juga salah satu ari komplotan itu? Tapi, aku masih belum dapat menyimpulkan. Lagipula, itu hanya lima puluh persen saja,~Batin Alex.


Namun, tentu saja Alex tidak cepat menarik kesimpulan. Lima puluh persen bukanlah angka yang banyak. Masih ada kemungkinan dia tidak sengaja terkait akan kematian Russel.


"Lalu, apakah keterlibatan Tuan Damian berhubungan dengan lokasi keberadaan Ayah?"


"Tingg! 100%"


Wow, cukup menarik. Dia benar-benar pandai menyembunyikan ekspresi,~Batin Alex.


"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan,ketua."


"Yang kau katakan benar,Osy. Aku masih memiliki banyak waktu untuk menganalisisnya. Biarkan aku berpikir," ucap Alex.


"Huftt. Apakah tuan Damian bersekongkol dengan Perdana Menteri dan panglima tertinggi yang baru?" Alex melanjutkan analisisnya sekarang.


"Ting!! 0%"


"What the... apa maksudnya ini? Dia terlibat dan ini berhubungan dengan lokasi. Tapi, dia tidak bersekongkol dengan perdana menteri juga panglima tertinggi!" Pekik Alex dalam hati tak habis pikir.


"Tuan Damian," panggil Alex yang sudah sedikit bosan menunggu.


"Ya, komandan. Apa yang anda ingin katakan?" Tanya Damian.


Alex berdiri dan mendekat ke arah Damian disana. "Saya ingin bertanya sesuatu kepada anda. Ini mungkin sedikit serius."


"Tanyakan saja," ucap Damian.


"Apakah anda akan berdiri di pihak yang benar? Atau anda akan berdiri di pihak yang memiliki jabatan?" Tanya Alex.


Damian terdiam sejenak. Dia mencoba mencerna maksud dari Alex, sayangnya dia tidak dapat menemukan intinya. "Apa maksud komandan?"


"Ini permisalan. Saya tahu anda tidak terlalu dekat dengan Ayah saya. Namun begini..." Alex mencoba untuk merangkai kata agar bisa terdengar masuk akal dan tidak berbelit-belit. Tapi, tentu saja dia tidak ingin mengekspose yang sebenarnya terjadi.


"Ada seorang pria dengan jabatan yang bisa dikatakan tinggi. Dia dibunuh oleh seseorang, karena iri dengan dirinya saat ini. Setelah ditelusuri, bukti mengejutkan didapat. Ternyata, ada persekongkolan diantara pejabat-pejabat lainnya, bahkan perdana menteri itu sendiri. Apakah Tuan Damian akan mengusut tuntas kasus tersebut dan jika itu benar adanya, apakah tuan akan membela keluarga dari pria yang dibunuh itu dan menegakkan keadilan bagi mereka atau malah tuan akan membela pejabat-pejabat lainnya?" Tanya Alex panjang lebar.


"Ok." Damian menutup berkas di tangannya dan mematikan laptop di depannya.


"Sepertinya saya mengerti maksudmu. Ini pasti berhubungan dengan kematian ayahmu,bukan?"


Alex terperangah mendengar ucapan Damian yang dapat membaca maksudnya.


Tiba-tiba, Osy datang dan mengacaukannya. Pria itu bahkan membuat Alex kesal, "hahaha. Hahahaha. Ketua, ketua. Bagaimana Damian tidak mengerti kalau kau saja membuat perumpaan seperti itu? Semua oang yang kau tanyai pasti akan langsung menebak."


"Shuttt... Diam bisa tidak!" Bentak Alex kesal.


"Satu lagi. Bisa tidak kalau tidak mengagetkanku?" Tanya Alex.


"Maaf, maaf." sedikit kekehan Osy keluarkan. Dia nampak sama sekali tidak takut dengan Alex.


"Lagian, ketua begitu lucu saat berbicara. Bahkan bocah kecil pun tau lah apa yang dimaksud ketua."


"Sekali lagi kamu berbicara, aku akan memenggal kepalamu."


"Humm."


"Intinya begini. Aku akan membantumu menguak fakta dan membantumu melengserkan perdana menteri. Jujur saja, perdana menteri yang sekarang benar-benar membuatku muak. Kasus ayahmu bukanlah yang pertama kalinya." Kesaksian Damian membuatnya terkejut.


"Jika bukan pertama kalinya, mengapa anda tidak melawan atau mempidanakannya?" Tanya Alex.


"Anda pikir itu mudah? Ingat, dia adalah perdana menteri. Saya tidak memiliki kuasa apapun juga tidak memiliki bukti yang kuat. Jika salah menuduh dan saya tidak dapat mengeluarkan bukti, yang ada saya yang akan dieksekusi," jawab Damian.


Alex mengangguk.


Baiklah, aku mengerti. Selanjutnya, aku hanya butuh dukungannya untuk menggulingkan. Aku juga butuh bantuan dari banyak massa. Aku sepertinya tahu apa yang harus ku lakukan,~Batin Alex.


"Baiklah. Maaf telah memiliki prasangka buruk terhadap anda. Tapi, apakah anda sudi untuk bekerja sama dengan saya?" Alex mulai melakukan suatu penawaran.


"Semua imbalan yang anda inginkan akan saya berikan. Saya hanya tidak ingin pelaku pembunuhan Ayah saya bebas begitu saja."


"Tak perlu imbalan. Jika anda bisa menggulingkannya, itu sudah membuat saya bersyukur."


"Baiklah, sepakat!"


"Kau benar-benar yakin tidak mau minum sesuatu dulu? Sepertinya ini akan sedikit lebih lama. Bagaimana jika kita ke cafe terdekat?" Tanya Damian mengajak Alex untuk meminum kopi bersama.


"Sepertinya boleh. Aku akan ikut," jawab Alex.


Alex dan Damian memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe yang cukup ramai di dekat kantor mereka sembari membahas kerja sama yang baru saja disepakati oleh mereka.