
Lima belas menit kemudian...
Alex telah cukup beristirahat. Kini dia mengambil sebilah pisau dari sakunya. Saat dia akan menyayat tangannya, tiba-tiba Aron datang tanpa mengetuk pintunya dengan membawa sepiring biskuit dan susu coklat hangat kesukaannya.
"Tuan muda! Apa yang anda lakukan?!" Pekik Aron membuat Alex terkejut.
Plakkk...
Pisau tersebut tergeletak di tanah. Dengan secepat kilat, Aron pun mengambilnya dari sana.
"Apa yang anda lakukan? Saya tahu jika anda frustasi tentang masalah tuan Russel, tapi tidak begini caranya! Pikirkan saya, Jack, Louis. Pikirkan juga tuan Verrel dan nona Jessica yang masih menanti anda. Bagaimana dengan nyonya Athena pula?" Ucap Aron panjang lebar menasehati Aron.
Duhh! Mengapa paman Aron tiba-tiba datang sih? Aku hampir lupa bila Paman Aron tidak dapat melihat sistemku dan untuk saat ini, hanya dengan membuat diriku pingsan saja baru dapat kembali ke sistem. Tch, akan sangat susah bila harus kembali ke sistem jika begini,~Batin Alex.
"Apa sih,Paman? Siapa juga yang mau bunuh diri?" Ucap Alex mengelak.
"Ini apa?" Tanya Aron sambil menunjukkan pisau ditangannya.
"Uhmmm... Aku tadi cuman mau membersihkan. Paman tahu sendiri pisau itu penuh dengan darah, bukan? Aku sangat risih dan itu bau jika dibiarkan," jawab Alex.
Semoga Paman percaya. Tapi, akan sangat sulit pula kedepannya,~Batin Alex.
"Btw, paman ngapain kesini?" Tanya Alex mengubah topik pembicaraan.
"Oh iya sampai lupa. Ini tuan muda, saya sediakan biskuit merk kesukaan anda dan susu coklat," ucapnya.
"Ehh, disini pun ada?" Tanya Alex heran.
Aron mengangguk. "Ya, ditoko sebelah. Saya tadi saat membeli perlengkapan mandi tanpa sengaja melihatnya. Saya sekalian beli. Ngomong-ngomong, pasta gigi dan sabun tuan muda juga sudah saya belikan yang baru. Jika tidak ada hal lain lagi, saya pamit dulu."
"Humm." Alex meneguk susu yang ada di mulutnya, "Terimakasih, paman."
Aron tersenyum kepadanya dan melangkah keluar ruangan. Tak lupa ia pun menutup pintu Alex.
"Huhh..." Alex pun dapat bernafas lega. Namun, pria itu tiba-tiba membuka pintunya kembali seraya berkata, "Jangan melakukan hal-hal tidak penting,tuan."
"Paman tenang saja. Aku tidak akan macam-macam." Alex melambaikan tangan kepadanya.
Saat pintunya benar-benar tertutup, Alex memastikan Aron benar-benar telah berlalu dari sana. Dia melihat bayang-bayang Aron yang semakin menjauhi kamarnya. Dia memutuskan untuk mengunci pintunya agar tak ada seorang pun yang mengganggunya.
"Saatnya beraksi." Alex mengeluarkan pisau lain yang selalu dia bawa. Tentu saja, dia memiliki persediaan pisau yang cukup banyak pada dirinya untuk berjaga-jaga. Dia mulai menarik nafas dalam-dalam, sambil menutup matanya, dia pun mulai menyayat tangannya sendiri.
...*...*...
Alex telah berpindah dimensi. Dia telah sepenuhnya pingsan setelah darah berkucuran pada tangannya. Pria dalam sistem yang bahkan hingga saat ini dia pun tak tahu namanya tiba-tiba muncul dan mengejutkan dirinya.
"BAAA!" sorak pria itu yang membuat Alex terpelonjak hingga melompat.
"Kamu!"
"Tch, ketawa saja terus." Alex memutar matanya malas.
"Ok ok. Maafkan saya. Ketua, jangan terlalu sering menyayat tangan anda sendiri. Saya takut anda benar-benar meninggal setelah kehabisan banyak darah," ucap pria itu.
"Dasar bedebah! Lalu, beritahu padaku bagaimana caraku untuk kemari tanpa membuat diriku pingsan,huh? Kau pikir aku dukun?!" Umpat Alex emosi.
"Oh iya. Saya lupa memberitahukan kepada anda. Saya pikir anda sudah peka hehe. Anda tinggal memencet bagian pinggir kiri ini dan cuss. Anda kan berpindah dimensi." Pria itu menunjukkan kepadanya tutorial untuk menggunakan sistemnya.
"Dasar sialan! Kembalikan darahku!"
"Ampun!" Seru pria itu.
...*...*...
Semua orang telah berkumpul tepat pada waktunya. Tepat pada pukul 14.00 waktu setempat, mereka telah berbaris rapi menanti komando dari Alex. Alex telah mempersiapkan ruang latihan sedemikian rupa, tentu saja dengan bantuan pria dalam sistem.
"Ketua, semuanya telah siap."
Alex bersendekap dan menilik keadaan sekitar. Semua nampak sempurna, bahkan serangkaian jebakan pun begitu. Alex memasang beberapa robot yang memiliki kelemahan yang berbeda-beda, sesuai dengan komposisi kebutuhan mereka. Alex melihat jam pada tangannya, sesekali dia mengecek ponselnya berharap Jack dan Louis setidaknya telah menemukan sesuatu.
Benar saja, sebuah e-mail masuk. E-mail yang berisikan serangkaian kata-kata yang tidak dipahami orang awam itu pun Alex baca dengan saksama. Pria dalam sistem disampingnya itu melirik kearahnya.
"Apa itu,ketua?" Tanyanya.
"Oh. Aku menyuruh rekan dari Ayah untuk mencari beberapa informasi seseorang. Ini semua gara-gara kamu, aku harus menanggung semuanya. Lihatlah, aku bahkan kehilangan sebagian pasukanku!" Protes Alex.
"Ehh?" Pria itu memasang wajah kebingungannya.
"Ya, gara-gara misi ga masuk akal anda, kami harus melawan salah satu gangster terkuat dan mereka membuat ramuan. Demi berjaga-jaga di masa depan, aku bahkan secara khusus memberi tugas kepada kedua rekan Ayah. Sekarang, kami semua harus kelabakan berlatih."
"Ma-maaf. Misi muncul kapan saja. Saya hanyalah bawahan. Saya tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana misi itu muncul," timpal pria itu.
"Tch, aku benci wajah sok kasihanmu itu. Enyahlah kalau tidak mau ikut berlatih!"
Beberapa saat kemudian...
Alex muncul di tengah-tengah orang yang telah bersiap. Dengan pakaian serba militer, dia menatap para pasukannya dengan kejam, Dingin dan tidak berperasaan. Untungnya, dia tak melihat sedikit pun aura gentar yang bergentayangan pada sorot mata bening mereka. Alex benar-benar merasa beruntung kali ini.
"Sekarang adalah latihan menembak dan memanah. Saya sudah memilah tim mana yang sebaiknya akan memperdalam ilmu memanah dan tim mana yang akan memperdalam teknik menembaknya. Ingat, orang bisa saja kebal peluru, mereka memiliki rompi anti peluru, namun rompi tersebut tidak akan tahan dengan anak panah yang runcing." Alex menjelaskannya sambil mondar-mandir di depan pasukannya, tangannya ia letakkan di belakang seolah dirinya adalah dosen yang mengajari mahasiswanya, sedangkan mereka semua dalam mode istirahat di tempat. Gaya dengan tangah di punggung, kaki di buka selebar bahu, berdiri tegak dan tegap, serta pandangan lurus ke depan.
"Apakah kalian mengerti?!" Seru Alex dengan suara gamblang.
"Siap, Mengerti!" Mereka benar-benar mengerti bagaimana seharusnya untuk bertindak.
Bagus. Mereka benar-benar orang-orang terpilih yang terlatih. Aku tidak tahu siapa yang melatih mereka, semoga saja dia tidak memiliki niat buruk terhadapku,~Batin Alex.
Alex mengambil busur yang telah ia kalungkan, tak lupa pula ia mengeluarkan anak panahnya dan mulai membidik ke atas. Sebuah tali yang terpasang mengikat sesuatu terlihat disana. Alex meluncurkan anak panahnya dan mengenai sasaran yang begitu kecil dan hampir tak mampu dipanah oleh seseorang.