
Lisa mulai tertarik dengan Alex sejak kala itu saat Alex menyelamatkannya. Bisa dikatakan, dia jatuh hati pada pandangan pertama. Kesan pertama saat dia berjumpa Alex adalah Alex merupakan seseorang yang sangat berwibawa di usianya yang masih sangat belia. Lisa sudah tidak peduli dengan usianya yang terpaut lumayan jauh dengan Alex,pasalnya hingga detik ini, tidak ada seorang pria pun yang berusaha membantunya. Berbeda dengan Alex yang bahkan tidak ia kenal.
Sebelum melakukan aksi nekadnya pada hari ini, Lisa telah melacak identitas Alex. Begitu mudah bagi wanita yang bekerja di sebuah kantor besar dengan kedudukan yang lumayan tinggi, serta status keluarga yang terkenal, sederajat dengan kaum kerajaan dan bangsawan untuk mendapatkan segala informasi yang mereka inginkan. Terlebih lagi, Alex masih belum memikirkan untuk menyembunyikan identitasnya saat ini.
Tentu saja, hal tersebut membuat Alex terkejut bukan kepalang. Hal yang begitu krusial bagi seorang ketua mafia untuk memaparkan identitas mereka. Setelah malam ini, Alex tersadar jika dirinya harus sesegera mungkin melakukannya, apalagi setelah pria itu berurusan dengan salah satu gangster terkenal kejam di dunia.
Kini Lisa semakin menggila,sedangkan Alex hanya terdiam menahan amarah. Dia selalu memalingkan wajah saat Lisa berusaha untuk mengecup bibirnya yang begitu merah, sangat menggoda, itulah kira-kira pikirnya.
"Alex, jangan begitu sayang. Kita nikmati malam yang panjang ini bersama," ucap Lisa semakin menggoda Alex. Alex berusaha tetap sadar walau tubuhnya kini penuh dengan luka memar akibat pukulan hingga cubitan dirinya sendiri. Perlahan, Lisa mulai menanggalkan bajunya sedikit demi sedikit. Dia bermaksud untuk memancing Alex untuk semakin agresif. Namun, sayang seribu sayang, Alex bahkan tidak terpancing sedikitpun.
Pria itu nampaknya sudah tak mampu menahan emosinya. Alex terdiam sejenak sebelum akhirnya dia memberontak dengan keras.
"Hentikan!" Pekiknya membuat Lisa terkejut bukan kepalang. Dia menyangka bila Alex sama halnya dengan semua pria baj*ngan di luaran sana. Namun, dugaannya salah. Alex bahkan nampak seperti g*y yang tidak menginginkan seorang wanita pun dalam hidupnya.
Alex mendorong wanita di atas tubuhnya yang minim sekali pakaian itu dengan sisa tenaga yang ia punya.
"Apa yang anda lakukan? Lalu, bagaimana anda mengetahui nama saya?" Seru Alex sambil menjauhkan dirinya dari Lisa.
"Aku... Aku ahhh... Aku..." Lisa bingung harus menjawab apa.
"Anda tidak perlu menjawab." Alex menyabet jaket miliknya yang sebelumnya ia lampirkan di sebuah sofa.
"Anda sudah bersuami dan status anda masih menjadi istrinya. Jadi, jaga diri anda. Saya permisi dulu," ucap Alex.
"Tunggu!" Seru Lisa yang berhasil membuat langkah Alex terhenti. Alex memutarkan kedua bola matanya malas, lalu sedikit menoleh ke arahnya.
"Hum?"
"Apakah kamu bersedia menjadi saksi di persidangan perceraian saya?" Tanya Lisa.
Alex menghela nafas kasar. "Anda masih belum layak untuk meminta saya menjadi saksi. Namun, anda tidak perlu khawatir. Saya bisa meminta Nero untuk menemani anda hingga persidangan berhasil."
Brakkk...
Alex menutup pintu dengan sangat kencang. Lisa bergeming pada tempatnya, air matanya menetes lagi untuk kesekian kalinya. Dia hanya dapat memeluk dirinya dan berharap seseorang dapat menerimanya.
"Aku lelah! Aku lelah mencintai, namun tidak dicintai. Aku lelah. Aku ingin mati saja! Arghhhh!" Teriak Lisa dalam kamarnya. Namun, kamar kedap suara itu tidak dapat di dengar dari luar. Alex sebenarnya khawatir dengan jiwa Lisa yang sedang tidak baik-baik saja. Dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
"Tidak Alex, kau harus kembali sekarang. Jangan menjadi orang ketiga, jangan pedulikan wanita. Wanita hanya akan menjadi penghancur hidupmu saja. Mereka adalah pembunuh, pembunuh dalam diam. Pembunuh jiwa, pembunuh akal dan pikiran pria," gumam Alex.
Dia menanamkan dirinya untuk membenci wanita sejak kematian Russel yang masih sedikit janggal menurutnya dan juga kejadian saat dirinya hampir saja meregang nyawa,karena Vieka hari itu. Jujur saja, dia masih belum seratus persen percaya dengan ibundanya yang mengatakan wanita itu tidak terlibat dalam pembunuhan Russel kala itu,namun dia tidak memiliki bukti saat ini. Dia harus benar-benar berpikir keras untuk membuat Athena mengaku sendiri di hadapannya.
Alex berjalan terhuyung-huyung di tengah hujan yang menerpanya. Sudah sejak tiga puluh menit yang lalu, namun efeknya tidak kunjung hilang.
"Ughh, ini benar-benar menyebalkan. Bahkan dalam keadaan hujan sekalipun, semuanya tidak mereda. Benar-benar panas. Aku tidak tahan." Alex menyandarkan tangannya pada sebuah dinding besar dan bertumpu disana. Kakinya mulai gemetar. Dia bersandar pada dinding yang ada di gang buntu tersebut.
Seorang wanita nampak tengah berlari dari sebuah gedung ke gedung lainnya hingga tiba tepat di sebelah Alex yang masih bersandar dengan guyuran hujan yang tidak ada hentinya.
"Tuan, apakah anda akan terus hujan-hujanan disana? Apakah anda tidak takut sakit?" Tanya wanita itu sedikit berteriak agar terdengar oleh Alex.
"Apakah masih ada yang peduli padaku? Mereka semua bahkan menjauhiku. Aku dikhianati oleh wanita yang pernah aku cintai hingga membuatku memusuhi sahabatku. Aku ditinggal pergi Ayahku untuk selamanya. Kakekku tidak pernah menyayangiku, hidup dan matiku pun saja beliau tidak peduli. Pamanku adalah pelaku pembunuhan Ayahku sendiri, sedangkan ibuku..." Alex berhenti sejenak membuat wanita yang masih berdiri di toko yang tutup itu bertanya-tanya. Wanita itu menoleh ke arah pria yang sama sekali tidak ia kenal.
"Mengapa dengan ibu anda?" Tanyanya.
Alex menoleh ke arah wanita tersebut. Dia merasa suara darinya begitu familiar.
"Kamu..." Alex memukuli kepalanya berkali-kali, namun yang ia lihat tetaplah sama. Arvieka yang pernah mengisi relung hatinya berada tepat di hadapannya.
"Kamu vieka kan?" Tanyanya.
Alex mulai berhalusinasi sekarang, bukan. Wanita itu memang benar-benar mirip dengan Vieka-nya. Sayangnya, Alex tidak mengingat jika Arvieka miliknya telah meninggal akibat ulahnya sendiri.
"Vieka? Siapa vieka?" Tanya wanita itu.
"Aku Lunora, panggil saja aku Luna," lanjutnya.
Alex menarik wanita itu keluar dari emperan toko tersebut.
"Ahhh. Basah!" Seru wanita itu. Luna berusaha untuk melepaskan tangannya dari Alex disana, namun tenaga pria itu sangatlah kuat. Tangannya mulai memerah seakan dia akan berdarah jika tergores sedikit lagi.
"Sa-sakit tuan," ucapnya meringis kesakitan.
Alex memojokkannya ke sebuah dinding besar disana, membuat belenggu untuk Luna yang kokoh dan kuat. Luna kebingungan serta ketakutan. Dia sedikit menyesal setelah menyapa pria dihadapannya.
"Kenapa kamu mengkhianatiku? Kenapa kamu mau membunuhku? Kenapa Vieka, kenapa?" Tanya Alex begitu menggebu.
Membunuh? Apa maksudnya? Siapa sebenarnya yang dia maksudkan? Apakah ada seseorang
yang mirip denganku di belahan dunia lain dan pria muda yang tampan ini salah mengira bila wanita itu bukan aku?~Batin Luna.