I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 55



Alex dan yang lainnya berjalan masuk ke dalam dan tidak memedulikan kedua pria itu hingga Jonas menyentuh Jessica dan menggodanya.


"Hai cantik. Ga nyangka ya cowok kek Alex punya temen secantik ini," goda Jonas.


"Singkirkan tanganmu atau aku tidak akan sungkan!" Seru Jessica ketus.


"Tch tch tch, galak kali dia. Ini yang aku suka. Jim, skuyy bawa," ucap Jonas semakin menjadi-jadi.


Saat Alex melihatnya, dia mencegah kedua pria itu agar tujuan mereka tak terpenuhi.


"Mungkin jika kau menghinaku, aku akan diam. Tapi, jika kau merendahkan teman-temanku, aku tidak akan sungkan lagi." Alex maju memojokkan kedua pria itu dengan tatapan mendominasinya. Alex berhasil membuat kedua pria itu mundur secara perlahan,karena ketakutan.


"A-apa sih? Kalau kamu berani, ayo adu mekanik sama aku!" Seru Jonas menantang Alex.


"Aku terima. Namun, jangan salahkan aku jika kamu sampai masuk rumah sakit atau mungkin meregang nyawamu," ancam Alex.


"Memangnya kamu mampu? Aku takut bila kamu lah yang akan begitu."


Alex dan Jonas memulai pertarungan dengan juri Paman Louis dan Paman Jack. Sedangkan Jessica dan Verrel menjadi supporter Alex sama halnya dengan Jim yang menjadi supporter Jonas.


"Kau sungguh tak tahu diri,Alex."


"Tidak usah banyak cakap. Majulah sekarang.


Jonas memang dulu adalah anggota markas yang paling pandai dalam hal bertarung seni bela diri. Setiap tendangannya pasti mengakibatkan sakit yang luar biasa bagi lawan. Namun, itu tidak berlaku bagi Alex. Alex dengan mudah menghentikan tendangan mautnya hanya dengan satu tangan.


"A-apa? Kau bisa menahannya?" Tanya Jonas terkejut.


Alex tak menggubrisnya. Dia mengangkat kali Jonas mengudara dan membuatnya terbalik, terbanting ke tanah begitu parah.


"Arghhh! Tanganku!" Pekik Jonas kesakitan.


Tangan pria itu berhasil menatap ke arena pertandingan yang keras.


"A-ampun," ucapnya lirih saat salah satu dari tangannya mengalami cedera yang serius, bahkan sepertinya patah tulang atau retak.


Alex pergi berlalu begitu saja setelah menyelesaikan tandingan tersebut. Dia masuk ke dalam markasnya, lalu duduk disamping kedua sahabatnya.


"Lex, sepertinya kita harus pulang dulu deh," ucap Verrel.


"Kenapa?"


"Aku kan masih ada kuliah sore ini. Pagi ini aku izin. Verrel sepertinya juga sama," jawab Jessica.


"Ohh begitu. Aku lupa jika kalian masih harus memiliki kelas. Baiklah, hati-hati di jalan."


Verrel dan Jessica pergi dari sana, sedangkan Alex masuk ke ruangan pribadinya tanpa kata. Dia berusaha mencari beberapa dokumen yang diperlukannya untuk mendaftar bidang ke militeran besok.


"Haih, aku punya sistem ini, namun kenapa aku merasa dia sama sekali tidak berguna?" Gumam Alex.


Nero mengetuk pintunya.


"Masuk!"


"Permisi, Ketua. Ada apa memanggil saya?" Tanya Nero.


"Kamu coba selidiki tentang kasus kematian Ayahku beberapa saat lalu. Selidiki pula tentang keterlibatan ibundaku. Walau hanya menemukan bukti yang tidak terlalu penting, kau harus mendapatkan apapun itu," ucap Alex.


"Baik, ketua."


Nero keluar dari ruangan Alex setelah mendapatkan perintah darinya. Sedangkan Alex mulai mencari beberapa buku yang ia perlukan untuk memasuki dunia kemiliteran. Pasalnya, ruangannya saat ini adalah ruangan Russel semasa dia hidup.


Saat Alex membuka lacinya, dia melihat sebuah kartu nama disana. Vercailus Lunora Flenderlizz, nama wanita yang Alex temui saat itu.


Alex menyabet ponselnya yang ia geletakkan di atas mejanya. Alex memasukkan nomor yang terdapat di kartu nama wanita itu dan kemudian dia menghubunginya.


Disisi lain...


Saat ini, Luna sedang menonton televisi kesayangannya setelah puas melihat wajah Alex di layar kacanya. Tiba-tiba, ponselnya berdering begitu kencang.


Kringgg... kringgg...


Sebuah nomor tak dikenal dengan kode nomor negara P terlihat di layar ponselnya. Dia mengingat bila dia tidak mengenal siapapun dari negara P, kecuali Alex. Seseorang yang menurut ibundanya adalah penghancur masa depannya.


"Halo?" Sapa Luna dengan nada sedikit ragu.


"Halo. Aku Alex. Maaf baru sempat meneleponmu," ucap Alex.


"Hum. It's ok. Omong-omong, selamat ya. Aku melihat beritamu hari ini. Kamu hebat, kamu adalah wisudawan termuda di tahunmu ini, namun kamu juga yang dapat peringkat utama."


"Terimakasih. Bagaimana kabarmu? Maaf, aku juga belum sempat untuk kembali kesana. Aku dapat kembali setelah aku berhasil menjadi tentara. Aku sudah berjanji padamu, tapi jika kamu ingin bersama yang lain, aku juga tidak melarangnya," ucap Alex.


Apa sudah waktunya aku memberitahunya? Namun, bagaimana? Ahh sudahlah. Dia juga mengatakan akan mendaftar menjadi seperti Ayahnya. Aku akan mengunjunginya dan memberitahukan fakta ini segera,~Batin Luna.


"Jujur saja, aku sama sekali belum siap untuk membina rumah tangga, tapi Ayah selalu berpesan kepadaku untuk bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan. Mungkin jika tidak ada kesalahan hari itu, aku mungkin juga berpikir untuk tidak menikah."


"Apakah kau ingin menikahiku hanya sebatas karena tanggung jawab dan rasa bersalah?" Tanya Luna.


"Bisa dikatakan begitu, namun juga bisa dikatakan tidak. Intinya, aku tidak akan menyakiti siapapun," jawab Alex begitu jujur.


Pipi Luna telah basah dengan air matanya sendiri. Sakit rasanya hati saat Alex mengatakannya.


Apakah dia bisa gitu sedikit berbohong? Kenapa dia begitu jujur sih? Tapi, sebenarnya memang lebih baik begitu dibandingkan dia harus menjunjung tinggi diriku, menerbangkanku, namun pada akhirnya harus menjatuhkanku. Dia bukan orang munafik, tapi kepolosannya itu bikin orang ga tahan,~Batin Luna.


"Halo, apakah kamu baik-baik saja." Suara Alex berhasil membuyarkan lamunannya.


"Ahh. Aku tidak apa-apa. Oh ya,Alex. Aku harus pergi ke supermarket dulu untuk membeli beberapa perlengkapanku. Kita sambung lain hari. See you, "Pamit Luna.


"Ohhgh, baiklah. Maaf sudah mengganggu. Aku hanya terpikirkan untuk menanyai kabarmu. Jika begitu, aku tutup dulu."


Mereka pun mengakhiri panggilan diantara mereka.


...*...*...


Sudah beberapa jam lamanya Alex tidak kunjung keluar dari ruangannya. Jessica dan Verrel memutuskan untuk kembali kesana, karena mereka sudah memiliki janji dengan Alex untuk makan siang bersama.


"Duhh, Alex ini kemana sih? Lama banget," keluh Jessica.


"Sabar. Kan tadi Paman Aron mengatakan kalau kita harus menunggu sebentar. Kasihlah Paman Aron waktu untuk memanggilnya," timpal Verrel.


Jessica sedari tadi berdiri dan terduduk, kesana dan kemari seperti setrikaan. Verrel yang sudah tak tahan pun memilih untuk menarik tangannya.


"Udah dong. Pusing gue lihatnya!" Seru Verrel.


"Makanya, ayo panggil Alex."


"Tapi..."


"Kau tidak perlu memanggilku. Aku sudah ada disini," ucap Alex.


"Lalu, kemana rencana kalian? Oh ya, aku rasa, kalian harus mengikuti pelatihan militer yang ada disini. Jadi, kalian bisa menjadi seseorang yang tangguh, bagaimana?" Alex menawarkan sebuah ide yang menurutnya begitu cemerlang.


Verrel dan Jessica saling menatap, "Sepertinya itu ide yang bagus. Jadi, saat kami diculik seperti kemarin, kami bisa melindungi diri kami sendiri," jawab Verrel.


"Baiklah. Nanti aku akan menyuruh Paman Louis untuk mengaturkan jadwal latihan kalian."