I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 52



"Waktu itu, Seseorang menjemputku dengan sebuah mobil mewah. Kemudian..."


Flashback on...


Alex melenggang keluar dari bandara. Terdapat sebuah mobil sedan mewah bewarna hitam terparkir di depannya.


"Permisi tuan Aron, Tuan Nero dan Tuan muda Alex. Silahkan masuk ke dalam," ucap pria dengan baju sopir elite yang telah dikirimkan oleh Jack dan Louis. Seharusnya, itu adalah salah satu seragam sopir ketentaraan.


Alex tidak menaruh rasa curiga sedikit pun, namun berbeda dengan Aron. Aron merasakan sesuatu tak beres berada diantara mereka.


"Tuan muda, Nero, sepertinya aku merasakan sesuatu tidak beres. Aku merasakan aura jahat pada pria itu. Seharusnya, sopir kemiliteran walau mereka pernah membunuh, namun tidak sekental ini. Negara kita juga jarang terjadi perang atau saling membunuh. Jadi, kupastikan dia bukan orang dari kalangan militer," ucap Aron.


"Lalu, siapakah dia?" Tanya Alex.


"Entahlah. Mari kita lihat apa yang ingin dia mainkan."


Beberapa saat kemudian...


Alex dan yang lainnya telah terkapar akibat gas yang disemburkan melalui AC mobil yang masih menyala. Mereka dibawa ke sebuah tempat yang begitu jauh dari tempat tujuan mereka.


Setibanya disana...


Alex perlahan mulai sadar setelah efeknya perlahan memudar. Alex membuka matanya pelan-pelan. Samar ia nampak Steve di depannya dengan membawa sebuah pecut yang lumayan panjang, atau mungkin tali untuk mengikat mereka.


"Yo, keponakan paman ternyata sudah siuman," ucap Steve dengan gayanya yang arogan.


"Paman..."


"Hehe, sebuah keberuntungan bisa bertemu denganmu kembali, Alexku sayang." Steve mengucapkan sebuah majas sindiran yang kalimat dan artinya berlawanan.


"Kenapa paman? Paman terkejut setelah tahu kabarku masih hidup dan merencanakan penculikan ini? Pertama Jessica dan Verrel, sekarang aku. Apa paman takut jika one by one denganku?" Tanya Alex yang tidak kalah arogannya dengan Steve.


Alex mengisyaratkan kepada Aron untuk mencoba sesuatu yang menurutnya akan seru.


Untuk sementara waktu, aku tidak bisa membunuhnya. Biar Paman Aron saja yang menyelesaikannya,~Batin Alex.


Aron mulai merapal setiap rincian ucapan untuk mengendalikan aura Steve. Dia memejamkan mata seraya duduk bersilat, membayangkan dirinya telah bebas. Hingga tak butuh waktu lama, Aron pun telah menguasai diri Steve sepenuhnya. Tidak, hanya auranya saja. Namun, hal itu sudah cukup untuk memberinya pelajaran.


Ehh? Kenapa denganku? Mengapa seperti susah sekali di gerakkan?~Batin Steve.


"Kenapa paman? Apakah kau merasakan tubuhmu tiba-tiba tidak bisa digerakkan? Percayalah, sebentar lagi kamu akan memukuli dirimu sendiri," Ucap Alex.


Bughhh...


Satu pukulan mendarat mulus di pipi Alex sebelah kiri. Steve berhasil lolos dari penguncian aura pertama yang dilakukan oleh Aron.


Apakah paman Aron susah berkonsentrasi? Aku harus mengecohkan perhatian paman Steve,~Batin Alex.


Sudut bibirnya mengalirkan cairan bewarna merah segar. Alex memalingkan wajahnya untuk sesaat. Dia berusaha memutar otaknya untuk berhasil menyita perhatian Steve


"Jika kau berbicara tidak sopan lagi, aku khawatir wajah tampanmu ini..." Steve menakup wajah Alex, "Aku khawatir wajahmu ini akan rusak dan kau tidak akan pernah mendapatkan seorang wanita pun untuk dinikahi."


"Apa aku peduli? Tidak!" Tegas Alex.


"Kamu!" Saat Steve bersiap untuk mengeluarkan pecutnya, tiba-tiba tubuhnya sakit hingga tak dapat ia tahan.


Arghhh! Ada apa dengan tubuhku ini? Sakit sekali!~Batin Steve.


"Kenapa paman? Tidak jadi memukul?" Tanya Alex setengah meledek.


"Kau kurang ajar! Apa yang kau lakukan padaku?" Pekik Steve menyalahkan Alex.


"Apa? Paman lihat kan jika tanganku ditali? Atau paman perlu aku membawa paman ke dokter spesialis mata?"


"Arghh! Sudahlah. Aku malas berdebat denganmu," ucap Steve.


Steve melenggang keluar ruangan dimana Alex ditahan. Namun, Alex meminta Aron untuk mengarahkan Steve ke depannya.


"Paman Aron, aku ingin melihatnya," ucap Alex meminta kepada Aron.


"Sesuai keinginan tuan muda."


Steve tiba-tiba kembali ke tempatnya semula. Dia mulai mengeluarkan berbagai jurus bela diri sebisanya. Dia nampak sudah kuwalahan dalam mengendalikan dirinya.


Ada apa ini? Mengapa aku bahkan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri?~Batin Steve.


Tidak salah jika Tuan Russel bahkan lengah. Bahkan, aku membutuhkan sedikit usaha untuk menguasai auranya, menguasai raganya,~Batin Aron.


Kini konsentrasi Aron penuh pada pria yang berusaha memerangi dirinya sendiri. Sekuat tenaga, dia berusaha melawan balik kekuatan aneh tersebut hingga pada akhirnya, Aronlah pemenangnya. Pria itu nampak memukuli dirinya sendiri, sama persis seperti apa yang dia pikirkan dalam hati. Dia mengambil cambuknya dan mulai memecuti dirinya sendiri.


Ctarrr... ctarrr... ctarrr....


Aron mulai terbiasa dengan melihat adegan yang menurut orang awam itu begitu mengerikan. Sejak Alex berubah menjadi seseorang yang sama sekali tidak ia kenal, dia menjadi semakin mengerti betapa kejamnya dunia. Tekadnya untuk mengikuti Alex semakin bulat.


Sedangkan Alex berusaha untuk melepaskan dirinya dari belenggu yang dipasang oleh Steve kepadanya. Bukan tali biasa yang pria itu pakai, melainkan tali berbahan besi yang biasa juga disebut dengan rantai pun ikut melilit dirinya. Alex melepaskan pengikat pada tubuh Aron dan Nero,namun tentu saja tanpa menghalangi dan memecahkan konsentrasi Aron saat ini. Steve merasa geram saat melihatnya, namun semakin dia geram, semakin tersiksa pula hidupnya.


"Arghhh! Aku tidak terima!" Pekik Steve.


Kini setiap siksaan yang ia lakukan pada dirinya sendiri semakin meningkat. Bukan hanya sebuah cambuk, melainkan sebuah belati tajam untuk menyayat wajahnya yang tergolong tampan.


"Ti-tidak. Bukan seperti ini seharusnya," gumam Steve yang masih berusaha melawan auranya sendiri.


Kini, Alex mensejajarkan dirinya dengan Steve. Pria tampan itu berdiri tegak disebelah pamannya. Steve terlihat begitu kecil disampingnya.


"Aku sudah memperingatkan kepada Paman untuk tidak bermain api kepadaku. Aku juga sudah mengingatkan pula untuk tidak menyinggungku. Padahal aku sudah berpikir untuk tidak mempermasalahkan hal ini selama paman minta maaf baik-baik, namun paman malah menyia-nyiakannya," ucap Alex.


"Ingatlah satu hal, Paman. Orang yang licik dan berpikiran jahat, selamanya tidak akan pernah menang. Camkan itu!" Seru Alex di telinga Steve.


Alex pergi dari sana meninggalkan Steve yang masih saja melukai dirinya. Aron telah memberikan jangka waktu untuk mengendalikan auranya. Semua formasi yang dipasangnya, semua siksaan itu akan berakhir setelah tiga puluh menit mereka berlalu dari tempat tersebut. Hal itu sudah cukup bagi mereka untuk sampai ke tempat yang seharusnya mereka tuju.


Flashback off...


Alex mengakhiri ceritanya dengan satu seruput kopi hitam kesukaannya. Dia nampak masih begitu tenang, sedangkan Jessica dan Verrel nampak mengekspresikan cerita Alex dengan raut wajah mereka masing-masing. Setelah mengerti apa yang terjadi, Jessica dan Verrel saling bertatapan.