I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 50



Jessica dan Verrel melangkah seiring dengan langkah kaki orang-orang tersebut.


"Verrel, mungkinkah hari ini adalah hari kita terakhir ketemu? Kita bahkan belum ketemu dengan Alex sudah beberapa bulan ini," ucap Jessica.


"Entahlah."


Mereka berdiri tepat di atas sebuah tempat pancung disana. Jessica dan Verrel diikat dengan kepala yang masih ada di sebuah papan besar layaknya seorang tahanan atau pengkhianat negara yang akan dihukum mati. Jessica yang selama ini jarang sekali menangis, dia tiba-tiba menitihkan air mata sambil berkata, "Maafkan aku Alex, Verrel. Sampai jumpa dikehidupan selanjutnya."


Verrel dan Jessica sama-sama memejamkan mata saat dua orang dihadapannya dengan pedang tajam yang siap memenggal kepala mereka.


"Kupikir, inilah akhir dari semua persahabatan kita. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu,Alex."


Jlebbb...


Sebuah panah tiba-tiba tertancap pada dada kiri salah satu pria yang memegang pedang tajam itu.


"Tidak! Ini bukan akhir dari persahabatan kita!" Pekik Alex saat masih mengudara.


"Sial! Bukankah itu adalah helikopter milik tuan Steve? Bagaimana bisa ada di tangan bocah itu?" Umpat pemimpin mereka.


Alex pun menghujani anak panah ke beberapa diantara mereka termasuk seseorang yang dipercaya untuk memimpin pasukan.


"Ti-tidak mungkin. Aku tidak terima kekalahanku," ucap pria itu sebelum dirinya menutup mata.


"Pria itu benar-benar mengerikan! Informasi dari tuan Steve jauh berbeda dengan kenyataan. Apanya sampah? Bahkan seorang profesional pemanah pun tidak akan mampu memanah dengan jarak yang begitu tinggi. Ditambah ini adalah pelabuhan, angin berhembus dengan kencang."


"Lebih baik kita kabur!" Pekik mereka yang kemudian berlarian berhamburan.


"Tidak akan ku biarkan seorang dari kalian pun lolos dari tanganku!"


Alex menembakkan sebuah anak panah degan tali di belakangnya. Dia menancapkan pada tanah juga dia ikatkan pada helikopter milik Steve. Dia terjun kebawah dengan menggunakan sebuah gantungan baju atau biasa disebut dengan hanger yang ia temukan di dalam helikopter tersebut.


Srakkk...


Satu tebasannya, satu kali ayunan tangannya, dia dapat membunuh tiga pasukan berjubah hitam itu, selayaknya seorang perompak di udara. Jessica dan Verrel tentu saja tercengang dengan kemampuan Alex yang berubah begitu banyak.


"Wow, apakah dia masihlah Alex yang ku kenal?" Tanya Verrel yang takjub akan kehebatan Alex.


"Sepertinya, kita mendapatkan anugerah baru. Aku benar-benar tidak salah memilih teman. Lihatlah, Jes. Alex tidak akan pernah meninggalkan kita," bisik Verrel.


"Ya, kini aku yakin padanya."


Alex berhasil mendarat dengan selamat di tanah pelabuhan tersebut. Dia melawan dua puluh atau mungkin lebih pasukan elite jubah hitam. Dia naik pitam, dia gelap mata dan mulai memburu semuanya. Pelabuhan yang cukup ramai di siang hari itu, kini berubah menjadi lautan darah bagi Alex. Alex tidak sepenuhnya membunuh mereka, beberapa diantaranya Alex hanya membuat mereka terluka.


"Paman Aron, Nero, tolong kalian bersihkan mayat-mayat tidak berguna ini. Untuk yang hidup, kalian ikat mereka. Aku masih belum puas bermain," titah Alex.


"Baik tuan muda, ketua," jawab Aron dan Nero bersamaan.


Alex pergi mendekati kedua sahabatnya yang sedang di tahan itu. Dengan sekuat tenaga, dia melepaskan rantai yang memborgol tangan Jessica dan Verrel. Sedangkan, pria itu juga mengeluarkan kepala mereka dari papan besar itu.


Saat Alex berhasil membukanya, tiba-tiba Jessica tumbang di peluknya. Alex memegangnya dengan kencang.


"Jes, lu gapapa kan?" Tanya Alex.


Pria itu berjongkok dan mendudukkan Jessica pada posisi nyamannya. Sebuah cairan bening keluar dari netranya, membasahi kemeja warna biru dengan baluran darah di atasnya. Jessica menangis dalam pelukannya. Verrel melihatnya dengan rasa yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata.


"Hey, kenapa kau menangis? Apa aku ada salah?" Tanya Alex.


"Alex, aku takut. Aku takut aku kenapa-napa. Aku takut aku tidak bisa bertemu denganmu lagi," ucap Jessica melontarkan semua yang bersarang pada hatinya.


Alex menakup rahang bawah milik Jessica lembut dan menghadapkannya kepadanya. Begitu buruk wajahnya saat ini, Jessica menolak untuk menatap Alex.


"Apa yang sudah mereka lakukan padamu? Kumohon, jangan diam dan hanya menangis saja."


Alex menatap Verrel yang terdiam melihat pemandangan yang sangat menyesakkan dadanya.


"Rel, Jessica kenapa? Apa yang dilakukan para pria itu kepadanya? Kepada kalian?" Tanya Alex bingung.


Jessica memeluk Alex. Tubuhnya gemetar hebat. Dia berusaha untuk tetap tegar tadi, namun sekarang sepertinya sudah tidak lagi.


"Terimakasih, Lex. Ku pikir kamu tidak akan menyelamatkan kami. Ku pikir kau akan melupakan kami. Aku pikir..."


"Sttt... sttt. Apa yang kau bicarakan? Mana mungkin aku meninggalkan kalian?" Tanya Alex.


"Lalu, mengapa kamu tadi telat?" Tanya Verrel.


"Nanti aku akan ceritakan detailnya." Jawab Alex.


...*...*...


Alex membawa kedua sahabatnya pulang ke kediaman Lachowicz. Disana nampak Athena yang masih terjaga dari tidurnya. Wanita itu sepertinya merasakan sesuatu tidak baik-baik saja.


"Ma, untuk apa mama disini?" Tanya Alex sambil menggendong Jessica, sedangkan Verrel dipapah oleh Nero dan Aron.


Mata Athena berkaca-kaca. Dia seolah melihat secercah harapan masa depan yang gemilang di hadapannya saat melihat Alex kembali dalam keadaan baik-baik saja.


"Alex. Kau gapapa sayang? Syukurlah. Mama ikut senang!" Seru Athena yang langsung memeluk Alex. Tangis wanita itu pecah saat berada dalam peluk anak lelakinya. Alex kini jauh melampaui dirinya, bahkan melampaui tinggi Russel.


"Shhh..." Alex meringis saat Athena tanpa sengaja memegang lukanya.


"Ada apa? Apakah kau terluka?" Tanya Athena saat samar mendengar rintihan Alex yang singkat itu.


Alex meresponnya dengan sekali anggukan.


"Astaga, di sebelah mana? Sini mama obatkan."


"Nanti saja. Nyawa Jessica dan Verrel lebih penting," ucap Alex.


Alex membawa mereka berdua ke kamar pribadinya dengan memanggil dokter yang sudah disediakan khusus untuk melayani keluarganya.


"Tuan muda, nona Jessica dan Tuan Verrel tidak mengalami cedera yang serius. Hanya perlu perawatan dan rutin mengoleskan resep obat yang saya buat, mereka akan pulih seperti sedia kala," ucap dokter pribadi Alex.


"Namun, tulang pipi nona Jessica sepertinya mengalami sedikit masalah. Nanti saya akan bantu untuk rontgen kemiliteran," lanjutnya.


"Lakukan saja yang terbaik," jawab Alex singkat.


"Baik tuan muda."


...****************...


Hai semuanya. Apa kabar? Ga kerasa ya Alex sudah menemani kalian hingga episode 50. Terimakasih untuk para pembaca setia yang masih mau dan bersedia mengikuti perkembangan Alex. Jangan khawatir, semua hal akan terungkap pada masanya. Alex akan menjadi seseorang yang berbeda jauh darinya. Untuk masalah percintaan, mungkin akan diselipi sedikit saja, namun cerita ini akan lebih berfokus pada perkembangan Alex yang semakin kuat.


Yuk ikuti terus perkembangannya. See you all in the next episode. love you🥰🥰


Salam hangat,


Aphinara