
Disisi lain...
Seperti biasa, Louis masih berada di kamp pelatihan. Bedanya, saat ini dia berada di akademi militer untuk mengajarkan kepada para junior yang baru saja masuk ke dunia militer tersebut. Louis dan Jack memang selalu diberi tugas untuk memberikan pengarahan kepada mereka yang baru saja bergabung.
"Apa kalian sudah siap?!" Louis berseru saat melihat beberapa pria dengan rambut cepak itu telah membidik sasaran mereka.
"Yes,sir!" Seru mereka serempak.
"Baiklah. Tiga... Dua... Satu.. Tembak!" Titahnya.
Stttt.... Dorrr...
Suara peluru bersamaan meletus setelah ditembakkan. Beberapa dari mereka sudah ahli dalam menembak, namun beberapa dari mereka pula masih tidak mengenai sasaran.
"Baik. Sekali lagi. Untuk yang bisa lolos dan tepat sasaran, kalian akan belajar menembak ke level selanjutnya. Saya menargetkan semua prajurit harus bisa naik ke level tiga pelatihan menembak dalam sebulan. Apa kalian mengerti?!" Seru Louis.
"Siap, mengerti!" Jawab mereka.
Saat dia akan menurunkan perintahnya untuk menembak, tiba-tiba sebuah telepon masuk ke ponselnya.
"Halo tuan muda. Ehh salah, Halo komandan. Ada apa?" Tanya Louis.
"Paman, sekarang paman ada dimana? Sibuk tidak?" Tanya Alex.
"Aku ada di kamp akademi militer. Untuk masalah sibuk sih lumayan, karena aku harus mengajar para junior disini. Ada apa?"
"Hum. Baiklah. Aku akan menelepon paman Aron. Tapi, bisakah paman mengirimkan beberapa pasukan elite yang paman pegang untuk membantuku?" Tanya Alex.
"Bukankah anda sekarang menjabat menjadi komandan? Pasukan anda pasti lebih banyak dari saya."
"Mereka semua iri padaku. Tak ada yang mau mendengarnya. Aku muak. Nanti aku akan menyelesaikannya. Namun, ada situasi mendesak dan aku tidak ada waktu untuk beradu mulut dengan mereka," ucap Alex.
"Mendesak? Ada apa?"
"Intinya, sebuah desa kecil di barat kantor pusat diserang oleh bandit. Katanya, masalah ini sudah terjadi selama puluhan tahun. Aku yakin paman mengerti itu," ucap Alex.
"Ya, aku mengerti dan sudah tidak terkejut. Lalu?"
"Tentu saja aku akan kesana dan menyelamatkan mereka," jawab Alex tanpa ragu.
"Apa?! Tuan.. ehh komandan tunggu saya. Saya akan segera kesana." Louis bergegas mengenakan baju tentara miliknya. Dia menyerahkan semua pasukannya pada Jack disana.
"Jack, aku serahkan mereka padamu. Komandan Alex akan menyerang desa barat kantor pusat!" Seru Alex.
"Baiklah. Berhati-hatilah..." Jack terdiam sejenak. Otaknya membuat ucapan Louis untuk sesaat.
"Apa?! Barat kantor pusat?" Pekik Jack yang terkejut setelah berhasil paham apa yang Louis katakan. Tentu saja, Jack yang sudah lumayan lama di dunia militer mengerti dengan jelas masalah di desa tersebut. Akhirnya, dia menyuruh para prajurit dalam binaannya untukĀ berdoa demi mereka.
...*...*...
"Osy! Osy!"Panggil Alex dalam hati dan hanya bisa terdengar oleh Osy.
"Ada apa ketua?" Tanya Osy menyahuti panggilan Alex.
"Apakah tidak ada sebuah alat yang dapat membuatku berpindah tempat dengan cepat dan tak terlihat? Sama seperti dalam film," Tanya Alex.
"Ha? Itu dalam film, ketua. Mana ada di dunia ini?" Tanya Osy.
"Tch, lalu apa fungsinya aku memiliki sistem jika aku sendiri dapat menyelesaikan semuanya? Kenapa aku harus mempertahankannya?" Alex melepas jam tangannya dan hampir saja membuangnya ke tanah dan berniat untuk menghancurkannya.
"Eits. Jangan, jangan. Iya, ketua iya. Saya akan berusaha carikan alat atau apapun yang ketua inginkan. Tapi, ketua harus tunggu sejenak," ucap Osy yang akhirnya menyerah akan Alex.
...*...*...
Saat Alex akan bertindak, dirinya melihat beberapa orang mulai berdatangan kepadanya.
"Komandan, kami memutuskan untuk membantu anda," ucap mereka.
Cihh, dasar. Kebanyakan drama. Tapi, tak apa. Aku akan mengambil anak itu saat pria muda nan tampan yang mereka panggil komandan itu lengah,~Batin si penjahat yang bersembunyi dibalik semakin.
Alex menghadap ke beberapa orang yang baru saja tiba. Dia sengaja mengabaikan gadis kecil yang sedari tadi diincar oleh si bandit.
"Apa yang membuat kalian tersadarkan setelah aku berlalu cukup lama?" Tanya Alex.
Aku yakin pria itu ingin menculik gadis cantik ini. Aku akan membiarkannya masuk ke perangkapku,~Batin Alex.
Rencananya berhasil. Si bandit keluar dari sarangnya. Dia menangkap gadis kecil itu,namun dengan sigap pula Alex melemparkan boomerang yang ada ditangannya ke pria itu.
Swoshhh...
Boomerang miliknya berhasil melukai bandit tersebut hingga pria itu meninggal di tempat. Dia melihat gadis kecil itu sepertinya sedang ketakutan, namun berusaha untuk tetap kuat demi menyelamatkan keluarganya.
"Dek. Kamu namanya siapa?" Tanya Alex.
"Aku... Aku Sarah,Paman," jawab Sarah.
"Baiklah, mari kita pergi kesana. Tunjuk jalan dan kita akan segera menyelamatkan semua orang."
...*...*...
Alex dan yang lainnya pergi menuju ke pasar desa kota barat negara P yang ditunjukkan oleh gadis tersebut. Nampak disana pasar itu telah luluh lantah berhamburan dan berantakan. Sayuran, makanan, peralatan dan dagangan lainnya sudah tergeletak di tanah dengan beberapa orang terluka. Bahkan ada yang telah meninggal dunia. Seorang anak laki-laki masih menangis menjerit dengan kencang dan meminta untuk melihat jasad sang ibunda. Dia meronta saat akan dibawa pergi.
Apakah aku terlambat? Dia.. pria kecil itu sudah kehilangan orang tuanya? Aku... Aku tidak becus menjadi seorang komandan,~Batin Alex.
"Tidak, ini bukan saatnya aku menyalahkan diri sendiri. Saatnya bagiku untuk memberantas para bandit ini," gumam Alex.
"Berhenti!" Teriak Alex.
Semua orang menghentikan aktivitas mereka termasuk para bandit. Alex melangkah maju ke depan, mendekati mayat wanita yang baru saja meninggal entah apa penyebabnya. Dia tertunduk dan melakukan ritual seraya merapalkan doa agar dosanya terampunkan. Setelahnya, Alex berdiri dan para bandit itu sudah berjajar rapi di depannya dengan tatapan sinis dan kejam.
"Hahaha. Bocah ingusan. Apakah dunia militer negara kita ini sudah mulai melemah?" Tanya bandit itu.
Alex tidak menggubrisnya. Dia bergerak dengan cepat dan secepat kilat, pria itu sudah berhasil menangkap pria yang baru saja memanggilnya bocah ingusan.
"Katakan sekali lagi, apa yang kamu katakan?" Bisik Alex dengan menodongkan pistol di kepalanya.
"Beraninya kamu menangkap ketua kami!" Seru para anak buahnya. Mereka semua menodongkan pistolnya ke arah Alex dan sebagian ke arah bocah lelaki di tangan mereka.
"Kita lihat siapa yang lebih cepat," ucap mereka.
"Paman, jangan pedulikan aku. Selamatkan semua orang. Aku mohon lindungi keluargaku, lindungi kakak kedua yang sedang sakit!" Seru bocah kecil itu.
"Dikehidupan selanjutnya, jika aku memiliki kesempatan bertemu Paman, aku akan berterimakasih pada PaMan. Aku akan menjadi pengikut setiamu," lanjutnya.
"Komandan, lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya para bawahan Alex yang terlihat kebingungan dan ketakutan.
Tanpa sepengetahuan Alex, seseorang dari mereka pun juga disekap oleh mereka.
"Hahaha. Salah satu anggotamu juga ada di tanganku sekarang," ucap bandit itu dengan sombongnya.