
Markas Utama Keluarga Lachowicz...
Aron dan yang lainnya masih melakukan aktivitas mereka. Aron dan lainnya secara bergilir memeriksakan darah mereka dengan harapan salah satu dari mereka dapat diselamatkan.
"Sebaiknya kalian menghubungi keluarga tuan muda. Darah tuan muda sedikit spesial," ucap dokter tersebut.
Aron mengangguk dan memisahkan diri dari mereka. Dia begitu cepat dalam bergerak.
"Halo, nyonya besar," sapanya saat teleponnya diangkat oleh Athena.
"Halo Aron, ada apa?" Tanya Athena.
"Bagaimana dengan Alex? Apakah dia baik-baik saja?" Lanjutnya bertanya.
Athena sedari tadi berdiri menatap lurus kedepan. Pandangannya begitu kosong. Dia tak sanggup membayangkan jika sesuatu terjadi lagi pada Alex.
"Uhmm. Ini yang ingin saya katakan." Aron menarik nafas dalam-dalam. "Tuan muda kritis dan memerlukan darah. Kata dokter, sebaiknya keluarga tuan muda stand by disini."
"Apa? Kritis? Baiklah. Tunggu aku disana," ucap Athena.
Athena langsung berlari untuk membereskan barang-barangnya dan bersiap pergi ke tempat dimana Alex berada.
"Ayah! Ayah!" Teriaknya memekikkan telinga.
"Stop stop. Athena, ada apa?" Tanya kakek.
"Alex, ayah. Alex!" Athena terlihat panik saat ini.
"Alex kenapa?" Tanya Kakek.
"Alex kritis!"
"Lalu?" Kakek masih sama seperti sebelumnya. Dia begitu acuh tak acuh kepada apapun yang terjadi pada Alex. Walau dia sudah mengetahui fakta, namun dia masih percaya dengan ramalan tersebut. Terlebih lagi, masih belum terdapat bukti valid mengenai Steve yang membayar Jim Chan saat itu.
"Tch. Sudahlah jika ayah tidak peduli. Aku akan pergi sendiri." Athena tak memedulikan pria tua di hadapannya itu dan langsung pergi meninggalkannya.
"Hei, Athena. Apakah itu sopan?" Tanyanya yang mengikuti menantunya itu dari belakang.
Beberapa saat kemudian...
Athena memarkirkan mobilnya di depan markas utama. Athena turun dari mobil dan berjalan(setengah berlari) menuju ruangan Alex seperti yang dikatakan Aron di pesan yang dikirimnya.
"Dimana Alex?" Tanya Athena. Wajah wanita itu sudah basah akan keringat.
"Tuan muda..."
Belum sempat Aron menjawabnya, dokter telah keluar ruangan.
"Maaf. Semua darah dari kalian tidak ada yang cocok. Apakah masih ada yang ingin mendonorkan darah?" Tanya Dokter.
"Saya dok!" Athena langsung menjadi yang paling depan.
"Baiklah. Silahkan ikuti saya."
...*...*...
Darah Athena dinyatakan cocok dengan Alex. Tranfusi darah pun dilaksanakan dengan segera mengingat kondisi Alex yang semakin memburuk.
"Baiklah, tranfusi telah berjalan dengan lancar. Silahkan menunggu beberapa saat kemudian dan kita lihat perkembangan..."
Brakkkk... Dorr....
Suara kericuhan terjadi di luar markas berhasil membuat seluruh orang yang berada disana berhamburan keluar.
"ALEX, KELUAR KAU!" Seru Steve yang baru keluar dari penjara.
Kali ini, Steve membawa seluruh pasukan elitenya menuju markas.
"Steve, kau... kau sudah keluar dari penjara? Bagaimana bisa?" Tanya Athena yang ikut terkejut dengan kehadiran Steve tiba-tiba.
Steve maju beberapa langkah untuk mendekati Athena. Pria itu menakup wajah cantik milik Athena dan mendongakkannya secara paksa.
"Hai kakak iparku yang tersayang. Lama kita tak berjumpa," sapanya.
Steve menggigit pelan telinga Athena disana.
"A-apa yang kau lakukan? Jangan kurang ajar!" Pekik Athena.
Steve berjalan mengelilingi tubuh seksi milik Athena. "Wihh wihh wihhh. Jangan galak dong, sayang." Steve berhenti tepat di belakang Athena, kemudian dia memeluk Athena dari belakang. "Sayang, kau semakin cantik saja."
"Cukup, Steve! Cukup!" Bentak Athena.
"Aku sudah bertobat. Aku tidak akan pernah lagi memiliki hubungan dengan pria licik sepertimu. Pergi dari sini!" Usir Athena.
"Mimpi!" Seru mereka bersamaan.
"Langkahi dulu mayatku!" Seru Aron memasang badan.
"Heh. Baiklah jika itu mau kalian." Steve melayangkan perintah hanya dengan kedua jarinya. Semua pasukannya menyerang. Begitu banyak hingga membuat semua orang kuwalahan.
"Tch, ini semua karena Alex si pembawa sial itu! Kenapa mereka masih saja membelanya sih?" Pekik salah seorang anggota keluarga Lachowicz.
Jonas dan adiknya nampak keluar dari sebuah ruangan tersebut.
"Jonas?" Gumam Jessica.
"Pria itu yang selalu mengganggu Alex, bukan? Dia dulu pernah sekelas sama kamu dan Alex waktu kalian kecil?" Bisik Jessica.
Verrel mengangguk. "Ya, karena kedua anak itu, Alex menjadi semakin dibenci oleh semua anak."
"Mereka memang tukang pembuat onar," ucap Jessica sembari menatap dua kakak beradik yang menyebalkan menurutnya.
"Hai keponakan paman. Kalau kalian mau memberitahukan kepada paman dimana Alex, paman janji paman akan membelikan kalian mobil sport edisi terbatas, " ucap Steve mengiming-imingi mereka berdua.
"Jonas, Jim, jangan pedulikan ucapannya! Jika kalian menurutinya, aku akan mengeluarkan kalian dari silsilah keluarga!" Ancam Athena.
"Memangnya anda siapa? Sejak Paman Russel meninggal, belum ada lagi yang menjadi penerus kepala keluarga kita. Jadi, siapapun tidak berhak mengaturnya," timpal mereka.
Athena menggenggam tangannya erat. Dia begitu emosi. "Kalian!" Athena hampir saja melayangkan pukulannya kepada kedua kakak beradik tersebut. Namun, aksinya dicegah oleh Steve secepat mungkin.
"Masih ada aku disini, kau tidak boleh menyakiti siapapun yang aku ajak bicara, " ucap Steve begitu arogan.
Athena memelototkan matanya ke arahnya. Steve memegangnya begitu erat hingga rasa sakit pun terasa. "Lepas!" Athena berusaha untuk melepaskan cengekeraman tangan Steve darinya.
"Ayah, Aron, semuanya, tolong!" Pekik Athena.
Athena masih berusaha meronta, sedangkan steve mengubah posisinya. Sebliah pisau ia todongkan tepat di leher Athena.
"Jika salah satu dari kalian mendekat, aku akan membunuhnya!" Ancam Steve
Nafas Athena memburu seiring dengan semakin dekatnya pisau itu pada lehernya. "Steve, lepaskan aku!" Tentu saja wanita cantik itu tidak tinggal diam.
"Cobalah meronta. Kita lihat seberapa dalam pisau ini mampu menyayatmu," bisik Steve.
"Baiklah, cukup sampai disini. Kita bawa kakak iparku tersayang ini pergi." Steve dan anak buahnya pun pergi dari tempat itu dengan membawa Athena bersamanya.
"Tunggu!" Suara seorang pria terdengar dari belakang mereka. Alex telah sadarkan diri dengan telanjang dada.
"Siapa yang memberimu keberanian untuk membawa ibundaku?" Alex berteriak cukup kencang.
Sebilah pedang di tangan kanannya dan sebuah pistol di tangan kirinya.
Steve membalikkan badannya saat mendengar suara orang yang dia nantikan.
"Hey, keponakanku. Akhirnya kau datang juga."
"Lepaskan ibunda!" Pekik Alex.
"Mau aku melepaskannya?"
Steve lagi dan lagi menyuruh anak buahnya untuk turun tangan hanya dengan dua telunjuk di tangannya. Alex nampak santai. Dia menyeringai saat mereka sudah mulai menyerang.
"Suit suit..."
Hanya butuh siulan tangan saja bagi Alex untuk memanggil pasukannya kini. Mereka semua datang dengan cepat, Alex sudah memperkirakan semua.
Mereka semua keluar secara bersamaan. Hanya ada segelintir orang, pastinya tidak kalah jumlah dari mereka.
Ba-bagaimana mungkin bocah sampah itu memiliki pasukan sebanyak ini?~Batin Steve terkejut.
Tapi, tak apa. Mereka pasti tidak akan lebih kuat dari anak buahku,~Lanjutnya dalam hati.
Belum lama dia menyombongkan diri, hampir semua pasukannya dilumpuhkan oleh pasukan baru milik Alex.
"Hai paman," sapa Alex yang telah berdiri disamping Steve.
"Bagaimana? Hebat, bukan?" Tanyanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terimakasih untuk kalian semua yang masih setia mengikuti perjuangan Alex. Aku mengapresiasi apapun yang telah kalian berikan untuk karyaku yang satu ini. Aku berharap kalian masih betah dan nyaman membacanya. Mohon maaf jika aku masih belum bisa menuruti semua kemauan kalian,tapi aku berusaha untuk menampung semua saran kalian. Semua akan ada balasannya kelak, namun kumohon ikutilah alur yang telah direncanakan ini.🙏🙏
^^^Salam Hangat,^^^
^^^Aphinara ^^^