I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 18



Steve menatapnya tak percaya.


Apakah dia masih Alex yang sama? Sial! Bagaimana mungkin dia bahkan memiliki anak buah yang jauh lebih hebat daripada milikku?~Batin Steve.


"Semuanya, MUNDUR!" Teriak Steve memberi perintah.


"Baik bos!"


Mereka serentak mundur sesuai titah dari pria itu. Tentu saja, Alex tidak tinggal diam sampai disitu saja. Alex berlari kencang ke arah sekitar drum yang berada di sekitaran markasnya. Dia melompatinya dan melakukan akrobat tepat di atas Steve, melewatinya dengan begitu mengagumkan.


Srakkk...


Dia mendarat dengan sempurna di depan Steve.


"Mau kemana kalian?" Tanya Alex.


Sial! Aku tidak pernah menyangka jika ilmu bela dirinya bahkan begitu tinggi. Tapi, sejak kapan?~Batin Steve.


Hahaha. Menurut kalian, apakah aku harus menyia-nyiakan latihanku selama sebulan ini? Haruskah aku menyia-nyiakan latihan yang sudah ku jalani dari kecil? Aku bukanlah Alex yang dulu,~Batin Alex.


Senyum tipis samar dari bibir Alex membuat setiap orang yang melihatnya merinding ketakutan. Alex telah maju beberapa langkah tanpa Steve sadari.


"Mau apa kamu? Masih ada Ayah, apa kamu tidak takut?" Tanya Steve.


Steve meneguk air liurnya yang sudah berkumpul disana.


"Ada kakek pun itu tidak akan mengubah keadaan. Kau telah membunuh Ayah. Aku tidak akan mengampunimu!" Seru Alex.


Alex mulai menyerang Steve dengan segenap kekuatannya yang tersisa. Sakit dipunggung pun mulai terasa, namun itu tidak separah dengan sakit di hatinya. Ayahnya tak pernah mungkin bisa kembali.


Srakkk...


Alex berhasil menyayat lengan milik Steve hingga darah mengalir deras membasahi bajunya. Semua merah. "Paman, kau sangat hebat. Jika orang lain, pasti sudah mati tersayat pada bagian leher. Tapi, anda malah dapat menghindarinya."


Athena dan Arnold hanya dapat melihat dari kejauhan dengan ekspresi tak percaya mereka. Mereka tercengang hingga tak dapat berkata-kata.


Nafas Steve mulai memburu. Tubuhnya pun mulai melemah seiring banyaknya darah yang keluar.


"Paman, apakah pesan terakhirmu kali ini?" Tanya Alex.


"Aku tidak akan memaafkanmu!" Serunya.


"It's ok. Aku tidak membutuhkan maaf darimu."


Alex mulai berlari kencang menuju Steve yang telah terhuyung-huyung. "Pergilah ke neraka!" Alex melompat setinggi mungkin dengan sebilah pedang di tangannya yang ia angkat dengan amarah. Namun, saat dia akan membunuh Steve, seseorang tiba-tiba menyerangnya.


Bughhh...


Seorang pria berjubah menendang perut Alex dengan keras dari belakang Steve.


Brakkkk....


Alex menabrak sekumpulan drum kosong yang berada disana.


"Uhukkk... uhukk..." Darah segar Alex muntahkan disana.


"Alex!" Teriak Jessica dan Athena bersamaan.


Jessica dengan sigap membantu Alex untuk berdiri. "Lex, lu gapapa kan?" Jessica terlihat begitu khawatir.


"Gapapa, gapapa." Alex berusaha berdiri lagi dan menghampiri mereka yang berada disana. Sayangnya, dia telat satu langkah. Pria itu membawa Steve pergi darisana dengan meninggalkan sisa-sisa pasukan yang terluka dan tertinggal disana.


"A-ampun tuan muda Alex. Tolong maafkan kami," ucap mereka bersamaan.


"Ketua, bagaimana kita mengurusnya? Haruskah kita memaafkannya?" Tanya seorang bawahan Alex.


"Bunuh saja mereka semua! Aku tidak membutuhkan sampah seperti mereka." Alex pun menurunkan titahnya.


Alex menyaksikan sendiri bagaimana anak buahnya mengeksekusi satu persatu dari mereka. Tak luput pula Jessica,Verrel dan yang lainnya.


"Nak, stop. Jangan melakukannya lagi," ucap Arnold memohon padanya.


Akulah yang salah disini. Aku dulu sudah membuangnya dan membuatnya memiliki karakter yang begitu kejam. Aku merasa bersalah kepada Tuhan. Aku memang tak pantas menjadi seorang ibu,~Batin Athena.


Alex akhirnya turun tangan sendiri. "Biarkan kedua pria ini aku yang melakukannya sendiri. Komandan dan wakil komandan."


Kedua pria yang sudah berlumuran darah di hadapan Alex itupun mendongakkan kepala mereka. "Kamu! Bukankah kamu..."


"Lenmark? Tentu saja bukan. Kalian bodoh! Apakah kalian merekrut anggota baru pakai kaki kalian?" Tanya Alex.


"Lalu, dimana Lenmark? Atau jangan-jangan... kau juga yang membunuh Tom dan Jerry?"


"Pria yang akan mati, tak pantas banyak bertanya!"


Srakkk...


Alex membunuhnya dengan sekali tebasan. Jessica dan yang lainnya hanya dapat memejamkan mata mereka. Darah pun bercipratan di antara mereka. Wajah Alex kini telah bersimbah darah.


"Sekarang giliran kamu," ucap Alex.


"Tuan ku mohon. Am..."


Srakkk...


Alex bahkan tak membiarkan pria itu menghabiskan ucapannya terlebih dahulu.


"Nero, jangan lupa bersihkan mayat mereka. Aku pergi dulu," ucapnya.


"Baik ketua."


Alex berlalu begitu saja tanpa memedulikan mereka yang masih berada disana. Dia masuk ke dalam dan membersihkan badannya.


Steve baj*ngan itu benar-benar kejam. Dia bahkan meninggalkan anak buahnya yang setia begitu saja disini. Tch, memang pemimpin terburuk,~Batin Alex.


Beberapa saat kemudian...


Alex telah usai dari aktivitasnya. Kini dia telah bersih dan rapi, serta wangi. Semua orang telah berkumpul disana dengan pertanyaan yang ada di benak mereka masing-masing. Saat Alex memasuki ruangan Russel yang kini adalah ruangannya, semua orang menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Kenapa kalian menatapku begitu?" Tanya Alex.


"Nak, kami semua memiliki seribu satu pertanyaan yang ditujukan untukmu," ucap Arnold.


"Ohh. Kalau begitu, langsung tanyakan saja," jawab Alex dengan entengnya.


"Darimana kamu belajar seni bela diri? Dan darimana kamu mendapatkan pasukan dengan kekuatan tempur sebegitu dasyatnya?" Tanya Arnold.


"Aku belajar seni bela diri dari kecil. Kalian saja yang tidak pernah peduli denganku. Aku bukanlah sampah!" Seru Alex.


"Benar yang dikatakan Tuan muda," ucap Aron yang tiba-tiba datang entah darimana.


"Tuan muda, saya mendapatkan laporan jika mereka semua sudah usai mengurusi jasad para pasukan elite tuan Steve," ucap Aron memberi laporan.


"Terimakasih, Paman. Aku akan mengunjungimu nanti. Paman istirahatlah dan rawat luka paman yang belum sembuh," timpal Alex.


"Baik. Terimakasih tuan." Aron pergi meninggalkan Alex dan yang lainnya disana.


"Baiklah jika kamu mempelajari bela diri sejak dini. Aku minta maaf karena tidak pernah memedulikanmu."


Alex hanya menatapnya acuh.


"Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang kamu panggil tadi? Darimana mereka?" Tanya Arnold lebih lanjut.


"Karena anda sudah mengakui anda tidak pernah memedulikan saya, seharusnya saya juga tak perlu peduli dengan pertanyaan anda,bukan?"


Alex meninggalkan mereka tanpa menjawab inti dari seluruh pertanyaan yang ada dibenak mereka. Arnold memukul meja yang ada di hadapannya dengan keras.


Brakkk....


"Seumur hidup, bahkan anak-anakku saja tak ada yang berani membantahku. Hanya Russel waktu itu dan itupun demi anak itu. Sekarang, dia bahkan berani bersikap acuh padaku? Apa dia tidak takut jika aku akan mengeluarkannya dari daftar keluarga Lachowicz?" Ucap Arnold.