
"Apa maksudnya ini? Jelaskan pada mama, apa yang sebenarnya terjadi? Sejak kapan kamu melakukan hal terlarang dibelakangku huh?" Athena menjewer telinga Alex ala-ala emak-emak +62.
"Aduh, aduh. Sakit mom," keluh Alex.
"Begini. Waktu itu, saat aku tiba-tiba menghilang..." Alex mulai menceritakan seluruh kejadian yang terjadi malam itu kepada Athena. Dia pun sengaja menyebutkan tentang pencariannya terhadap Steve juga bagaimana Steve memburunya disana berkali-kali. Athena nampak terkejut, ekspresi itu nampak begitu nyata dan seolah-olah tidak dibuat-buat. Alex menghela nafas tanpa diketahui oleh mereka.
Sepertinya, mama memang tidak terlibat apapun tentang Ayah. Tapi, seharusnya mama selalu tahu posisi Ayah. Namun, waktu itu memang merupakan kesalahanku yang mengekspose posisi Ayah dan tidak berhati-hati dalam memercayai orang lain. Aku bahkan lebih memilih untuk percaya Vieka dibandingkan dengan kedua sahabatku sendiri. Tch, sungguh bodoh,~Batin Alex.
"Setelah itu?" Tanya Athena yang terlihat masih sangat antusias dengan cerita anaknya tersebut. Sedangkan Luna hanya tertunduk diam bersama dengan kedua anak mereka.
"Lalu, aku bertemu dengan seorang wanita. Lagi dan lagi aku dibodohi oleh wanita. Dia meletakkan sesuatu dalam minumanku." Alex pun mulai menceritakan bila Lisa sengaja membuat dirinya sendiri mabuk dan mengantarkannya ke kamar apartment miliknya.
"Sebenarnya, aku merasakan sesuatu yang tidak beres. Namun, aku masih sadar. Aku ga habis pikir dengan wanita itu. Dia bahkan belum resmi bercerai,namun sudah melakukan hal memalukan tersebut," ucap Alex.
Alex terguyur oleh hujan dan dalam perjalanannya, dia bertemu dengan Luna.
"Wait, kemana Nero dan Aron? Bukankah kamu selalu bersama dengan mereka?" Tanya Athena menyela cerita Alex.
Tidak mungkin bukan, jika aku mengatakan bila aku memberikan tugas kepada paman Aron untuk memata-matai mama?~Batin Alex.
"Paman Aron saat itu entah pergi kemana. Mungkin Paman sedang melaksanakan tugas negara."
Maafkan aku paman. Aku harus mengorbankanmu,~Lanjut Alex dalam hati.
"Kalau Nero... Saat itu memang Nero bersama denganku, tapi aku menyuruhnya pulang terlebih dahulu. Jika dikatakan menyesal, tentu saja menyesal, " ucap Alex.
"Lalu? Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Luna?"
"Simplenya, obat yang diberikan wanita itu bereaksi dan pikiranku pun mulai melayang-layang. Aku melihatnya. Dia begitu mirip dengan Vieka. Jujur saja, aku masih sakit dengan kejadian kala itu," jawab Alex.
Alex mulai bercerita kembali saat Luna mengantarnya pulang. Tanpa sadar, dia melakukannya. Jessica tanpa sadar menitihkan air mata. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar. Pupus sudah harapannya untuk memiliki Alex sepenuhnya.
"Jes, lu gapapa kan?" Tanya Verrel lirih agar tidak mengganggu Alex bercerita.
Jessica tiba-tiba pergi dari sana dengan air mata yang telah membasahi pipinya. Verrel yang mengetahuinya pun langsung pergi mengejar mereka. Alex sudah mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya itu, namun dia berpura-pura tidak tahu dan membiarkan mereka berduaan saja.
"Lex, mereka..."
"Biarlah. Aku tidak ingin terus menggantungkan harapan padanya. Aku berharap mereka berdua dapat bersatu. Aku tidak mungkin terus melibatkan mereka," ucap Alex.
Beberapa saat kemudian...
Alex dan yang lainnya berada di ruang makan saat ini. Tentu saja, dengan seluruh anggota keluarganya.
"Lalu, kapan rencanamu menikahinya?" Tanya kakek serius.
"Jujur saja aku masih bingung. Namun, status kedua anak ini tidak boleh terus tidak jelas adanya. Mungkin secepatnya," ucap Alex.
Steve mendapatkan kabar tentang Alex yang telah menjadi sukses kini. Keponakannya tersebut berhasil menjadi seorang pahlawan di negaranya, mendapatkan banyak pujian dan penghargaan, persis seperti Russel saat dirinya masih muda. Banyak wanita yang mengejarnya, namun hanya satu wanita yang dapat memikat hatinya. Sejak saat itu, Steve pun berjanji untuk merebut segala hal darinya. Mulai dari pengharaagn tersebut, jabatan hingga istrinya. Sayangnya, Russel terlalu kuat dan susah untuk didapatkan. Dia sempat mendapatkan Athena bahkan menidurinya, namun cinta Athena masihlah milik Russel
Kini, walau Russel telah tiada, dia masih dihantui oleh bayang-bayang Alex yang menyerupai Russel. Tidak, bahkan Alex lebih beruntung dibandingkan dengan Ayahnya. Selain itu, Alex pun lebih susah disentuh dibandingkan dengan Russel. Pria yang akan berulang tahun itu, entah dapat kekuatan darimana hingga menyebabkan begitu banyak perubahan yang membuat semua orang terkejut bukan kepalang.
"Bos, satu kabar terbaru dengan tuan muda Alex," ucap Zidan, bawahan setia Steve.
"Aku tidak memiliki mood yang baik. Jika tidak penting, lebih baik pergilah!" Seru Steve.
"Tuan muda Alex sudah memiliki anak," ucap Zidan langsung pada intinya.
Steve yang tadinya duduk santai pun langsung menegakkan badannya. Ekspresi terkejutnya tak dapat ia ingkari. Dia membuka kacamata hitam yang menyangkut pada hidungnya yang runcing bak pinokio itu.
"Apa katamu? Dia sudah memiliki anak?" Tanya Steve sekali lagi meyakinkan dirinya tentang apa yang baru saja ia kenal.
"Benar. Orang suruhanku yang masih berada di kediaman Lachowicz baru saja memberikan kabar. Seorang wanita dengan sepasang anak kembar dibawa kembali oleh nyonya Athena. Wanita itu begitu cantik dan mirip dengan mantan kekasih tuan muda yang meninggal hari itu," ucap Zydan memberikan informasi berdasarkan apa yang dia dapatkan.
"Good. Akhirnya, aku memiliki sesuatu untuk mengancamnya. Suruh utusanmu itu untuk mengambil foto sebanyak mungkin. Aku akan membuat reputasinya yang katanya sebagai seorang pahlawan itu hancur begitu saja." Steve menyeringai sambil melihat ke arah dinding yang terpajang foto Alex dengan banyaknya noda darah dan jarum tajam yang tertancap disana. Steve membuka lacinya dan mengambil sebuah benda yang ujungnya runcing, mirip seperti anak panah versi mini.
Jlebbbb...
Steve melemparkannya dan tepat mengenai sasaran, "Kita tunggu saja, Alex. Kau telah mengusirku sekali dan kau telah mempermalukanku dua kali. Sekarang Saatnya kau merasakan apa yang aku rasakan saat itu."
...*...*...
Luna terlihat begitu menghargai Alex, begitupun sebaliknya. Luna mengambilkan makanan pada piring Alex selayaknya mereka telah menjadi sepasang suami istri.
"Lex, kamu mau ini?" Tanya Luna.
Alex hanya tersenyum dan mengangguk kepadanya. Begitu manis. Namun, tidak dengan Jessica yang wajahnya terlihat begitu masam.
"Ahem. Cie yang cemburu," bisik Verrel menggoda Jessica.
Tentu saja, Jessica tak mau kalah. Dia menyabet piring yang ada di tangan Verrel dan mengambilkan makanan untuk pria di sampingnya itu.
Anna menarik-narik baju Alex, "Papa, ada apa dengan paman dan tante itu?" Tanya Anna lirih.
"Mereka itu sedang menjalin hubungan. Anak kecil seperti kalian, Anna dan Axel, tidak perlu tahu,ok? Kalian harus menjadi kuat dan peduli dengan karir dulu," jawab Alex.
"Nahh, sekarang Anna makan dulu biar cepat besar."
"Iya. Anna mau seperti Papa. Mama selalu bercerita kalau papa itu orang yang hebat. Papa adalah pahlawan. Aku juga sering melihat foto papa di utub dan memang keren. Mereka semua memeluk papa dan mengatakan papa superhero," ucap Anna berterus terang.
Alex melirik ke arah wanita yang sedang sibuk melayani seluruh keluarga Alex satu persatu. Dia tak menyangka bila wanita ituu benar-benar hebat. Dia tidak hanya merawat kedua anaknya dengan penuh kasih sayang, bahkan dia tidak menanamkan kebencian pada kedua anak yang menggemaskan tersebut.