I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 69



Athena dan Luna sudah mulai akrab hanya dalam waktu yang singkat. Athena merasa begitu dekat dengannya. Luna memang sangat ramah dan dapat diajak berbicara.


"Ehh iya, Luna. Kau terlihat seperti seseorang yang ku kenal. Tapi, siapa ya?" Tanya Athena.


"Ahh kalau ingat-ingat begini, tapi ga ingat-ingat itu jadi kesel sendiri," lanjutnya.


"Iya, bener tante."


"Ehh luna sudah makan belum? Bagaimana kalau kita makan dulu? Nanti kita mampir rumah tante. Luna belum dapat penginapan kan disini?" Tanya Athena.


"Belum, nenek cantik. Kita baru saja tiba disini. Kata mama, kita harus berpenampilan yang bagus sebelum ketemu papa," sahut Anna.


"Ketemu papa? Oh iya aku sampai lupa bertanya. Memangnya, kemana suami kamu? Tadi Anna dan Axel bilang mereka tak pernah melihat ayahnya."


"Saya bingung harus menjawab mulai dari mana," jawab Luna.


"Baiklah. Bagaimana kalau kita cari tempat makan dulu? Kalian pasti lapar."


Mereka pun sepakat untuk mencari makan bersama. Luna dan kedua anaknya tidak pemilih dalam makanan. Mereka mau apa saja selama itu dalam kondisi yang baik dan layak.


Beberapa menit pun telah mereka tempuh dengan berjalan hingga tibalah mereka di sebuah restoran mewah yang nampak begitu ramai. Athena mengeluarkan kartu VIP miliknya dan duduk di ruang VIP yang dikhususkan bagi mereka yang menjadi pelanggan istimewa restoran mereka.


"Wahh, nenek bukan hanya cantik, tapi juga kaya. Kita bahkan bisa makan di tempat yang kursinya empuk begini." Decak kagum dapat terdengar di mulut kecil milik Anna, sedangkan Axel hanya terkagum dalam diam. Pria kecil itu memiliki sifat dan karakter persis seperti ayahnya.


"Kedua anak ini berbeda ya. Satunya pendiam dan nampak dingin satunya lagi cerewet dan ceria," ucap Athena jujur.


"Oh ya. Tadi kamu belum sempat menjawab pertanyaanku. Kemanakah suamimu? Mengapa kedua bocah ini tidak pernah mengetahui ayahnya?"


"Seperti dugaan anda, mereka sebenarnya adalah sebuah kesalahan satu malam saya dengan seorang pria. Pria itu begitu tampan dan wajahnya mirip dengan Axel," jawabnya.


"Lalu, kemana pria itu?" Tanya Athena.


"Dia pergi dan hanya meninggalkan secarik kertas yang memberitahukan bila dia kembali ke negaranya dan akan kembali lagi menemui kami setelah urusannya selesai. Namun, dia tidak kembali hingga detik ini. Makanya saya memutuskan untuk menemuinya sekalian memberitahukan mengenai kedua anak ini," jawab Luna.


"Wow. Jadi single mom pasti berat ya. Jika aku dulu, aku bahkan tidak peduli dengan anakku sendiri hanya karena sebuah fitnah yang kejam."


Athena mulai menceritakan masa lalunya yang begitu kelam. Pesanan mereka pun datang tak lama kemudian, namun wanita paruh baya itu masih asyik melanjutkan ceritanya. Luna menerka-nerka, gambaran pria yang diceritakan oleh Athena memang mirip dengan Alex yang dikenalnya. Namun, sebelum memastikan, dia memutuskan untuk tidak bertindak gegabah atau akan menimbulkan fitnah.


"Sepertinya, anakku itu sedang berada di rumah. Jam segini harusnya sudah pulang dari kantor sih. Nanti aku akan mengenalkan kalian," ucap Athena.


Sayangnya gadis ini sudah memiliki seseorang dalam hidupnya. Jika tidak, aku bisa menjodohkannya dengan Alex hehe,~ Batin Athena.


...*...*...


Athena, Luna dan kedua buah hatinya telah merampungkan makan mereka. Kini, mereka pergi keluar dari restoran mewah tersebut dengan beberapa bungkus kresek untuk Luna dan anak-anaknya dan juga beberapa orang yang ada di kediamannya.


"Luna, kalian tidak sibuk kan? Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahku? Aku jamin kalian pasti suka," ajak Athena.


"Tenang saja, aku akan membantumu mencari pria brengjek itu sampai dapat. Aku ingin mengunyeng-unyeng kepalanya, memukulnya sampai puas. Biar tahu rasa aja dia. Seenak-enaknya ninggalin seorang wanita dengan kedua anaknya begitu saja. Cihh!" Cibir Athena.


Lama waktu perjalanan mereka tempuh. Hari ini, Athena memang sengaja tidak memakai sopir, karena tidak nyaman baginya jika harus membuat seseorang menunggu.


Sedangkan itu, disisi lain...


Alex, Verrel dan Jessica sudah mulai seperti biasa lagi. Mereka bersenda gurau bersama, kembali ke kamar Alex yang letaknya di ujung kediaman. Kamar yang begitu luas tempat Russel waktu muda berada.


"Oh iya, apa kalian tadi pas perjalanan kesini melihat mamaku?" Tanya Alex.


"Tidak. Mengapa?" Tanya Verrel.


"Gapapa sih. Tapi, ga biasa aja gitu. Ya sudah mari kita lanjutkan permainan kita."


Mereka bertiga asyik bermain bersama hingga bosan menerpa.


"Lex, bosan nih. Yuk kita keluar dan cari udara segar," ajak Jessica.


"Boleh juga."


Mereka bertiga pun akhirnya keluar.


Sedangkan Athena baru saja tiba di rumahnya. Dia memarkirkan mobilnya pada garasi dengan kondisi seperti semua. Luna dan kedua anaknya turun bersama.


"Yuk, kita masuk," ajak Athena.


Gelagar tawa Verrel dan Jessica memenuhi koridor rumah Alex, sedangkan Alex hanya tersenyum menanggapi mereka, tidak berlebihan. Dan hal tak terduga terjadi disana.


Tak...


Tatapan mata Alex dan Luna terpaku disana. Betapa terkejutnya dia, seseorang yang dia janjikan akan dia berikan tanggung jawabnya kini ada di depannya. Mereka terdiam dalam waktu yang lama, tak ada kata apapun yang mampu keluar dari bibir mereka. Kelu, seperti seseorang sedang mengunci lidahnya. Alex menelan air liurnya terlebih lagi setelah dia mengubah arah pandangannya kepada dua bocah yang ada di hadapannya.


Bocah lelaki itu mirip sekali denganku. Apakah dia...~Batin Alex yang masih menerka-nerka.


Alex menatap kedua bocah itu dengan Luna secara bergantian. Dia pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka suaranya.


"Lu-luna. Kamu... Mereka..." Alex benar-benar tak mampu berkata-kata. Air matanya menetes begitu saja, terharu pastinya. Dia tak menyangka kejadian malam itu bahkan menghasilkan dua malaikat kecil yang sangat cantik dan tampan.


"Sungguh, aku tak percaya ini." Verrel, Jessica dan Athena terdiam seribu bahasa. Mereka bingung dengan apa yang terjadi di antara mereka.


Alex yang biasanya begitu arogan, kini dia mau berlutut dihadapan dua bocah kecil yang begitu imut itu. Pria yang kini dikenal sangat hebat itu, merentangkan kedua tangannya untuk memberikan pelukan hangat bagi kedua buah hatinya.


"Come to papa, baby. Aku adalah ayahmu," ucap Alex yang mampu membuat Verrel, Jessica dan Athena terkejut bukan kepalang.


"Ayah!" Pekik Anna dan Axel secara bersamaan. Tangis mereka pecah seketika. Akhirnya, penantian yang begitu lama terbayar sudah. Selama ini, mereka hanya dapat menelan mentah-mentah ucapan dari semua orang yang mengatakan bahwa mereka tidak punya Ayah. Namun nyatanya, Ayah mereka telah ada di depan mereka. Luna pun menyutupi hidungnya. Sesekali dia mengusap air matanya bahagia saat melihat dua buah hatinya dapat tersenyum begitu ceria.


"Eits, tunggu dulu!" Seru Athena yang memecahkan keharuan diantara mereka berempat. Athena menarik kerah baju milik Alex yang belum sempat dilepasnya.