
Tak ada yang tahu bila dalam hatinya masihlah terbelenggu masalah Vieka kala itu. Tidak ada yang tahu seberapa lemah hatinya dan seberapa banyak pertanyaan dan rasa kecewa yang dia miliki. Luna hanya terdiam. Dia dapat merasakan bila pria itu benar-benar telah disakiti seseorang yang menurut perkataannya mirip dengan Luna.
Sorotan mata kekecewaan dan amarah dia salurkan ke Luna tanpa alasan yang jelas. Luna tidak berani bersuara. Dia hanya berharap seseorang tidak sengaja lewat dan menolongnya. Berulang kali dia menelan ludahnya sendiri.
"Tuan, apa yang anda katakan? Aku Lunora, bukan..." Luna ingin menegaskan pernyataan dari Alex yang menurutnya salah besar. Namun, pria itu malah membungkamnya dengan kecupan maut darinya. Ciuman pertamanya direnggut oleh seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Luna membelalakkan mata dan berusaha mendorong tubuh Alex menjauh darinya.
"Tuan! Sadarlah! Aku bukan Vieka. Aku Lunora!" Pekik Luna menyadarkan Alex seketika.
Astaga, apa yang aku lakukan? Alex sadar, Vieka sudah tiada. Dia tidak pantas mendapatkan tangisanmu, air matamu,~Batin Alex.
"Ma-maafkan saya, nona. Saya pikir anda adalah mantan pacar saya," ucap Alex.
Luna menghela nafas, "Humm. Baiklah. Jika boleh tahu, siapa nama tuan?"
"Aku Alex. Aku berasal dari negara P. Kamu benar-benar mirip dengan mantan pacar saya," ucap Alex.
"Apakah saya boleh melihat fotonya?" Tanya Luna.
Alex mengangguk dan mengambil ponselnya yang anti air itu. Dia menunjukkan foto Vieka sendirian saat bermain hujan-hujanan. Persis dengan keadaan Alex dan Luna saat ini.
"Dia begitu cantik dan memang mirip denganku. Tapi tuan, saya benar-benar bukan dia," ucap Luna sekali lagi menegaskan.
"Saya tahu. Dia sudah meninggal akibat ulahnya sendiri. Saat itu, dia ingin meracuniku dan dia salah memberikan cangkirnya. Alhasil, dia meninggal di tempat," timpal Alex.
Ohh, jadi itu alasannya dia begitu menggila saat pertama kali melihatku tadi? Pria yang malang,~Batin Luna.
"Jika begitu, aku izin pulang dulu ya," ucap Alex.
"Tunggu sebentar,tuan!" Seru Luna.
"Hummm?"
"Ini kartu nama saya." Luna memberikan sebuah kartu yang berisikan identitasnya.
"Nona, apakah itu baik memberikan identitas anda kepada seseorang?" Tanya Alex. Alex membaca kartu nama Luna dengan saksama.
"Dan lagi, jangan panggil aku Tuan lagi. Panggil saja aku Alex. Kakak lebih tua dibandingkan aku," ucap Alex mengubah panggilannya.
"Ahh. Benarkah?"
"Ya. Aku baru saja berusia 20 tahun. Aku melihat kakak tiga tahun lebih tua dariku," jawab Alex.
Apa? Pria ini baru berusia 20 tahun? Dia memang terlihat begitu muda. Tapi, pengalaman hidupnya sungguh banyak. Betapa menderitanya dia dulu,~Batin Luna.
"Baiklah, aku akan pergi. Sampai jumpa," ucap Alex sambil melambaikan tangan.
Kaki Alex masih lemah, sama seperti tadi. Dia menopangkan dirinya pada tangannya dan bersandar lagi pada dinding besar itu. Saat dia akan terjatuh, Luna dengan sigap menyangga badannya dengan tubuh mungil, tapi tinggi miliknya.
"Tuan... Eh, Alex, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Luna.
"A-aku ga tau kenapa. Aku tadi diajak ke bar oleh seseorang. Katanya, dia ingin berterimakasih. Ternyata..."
"Baiklah, baiklah. Kau tidak usah menjawabnya dulu. Aku akan mengantarmu pulang ke rumah," ucap Luna.
"Apa tak apa? Apa tidak merepotkanmu? Kamu bahkan basah kuyup karenaku."
"Ga usah sungkan. Anggap saja sebagai aku ingin menambah relasi dan teman. Aku yakin jika aku butuh bantuan suatu hari nanti, kamu tidak akan tinggal diam. Ayo, kita pulang. Tunjukkan jalannya," ucap Luna.
Alex akhirnya pasrah. Luna memapah Alex dengan sisa tenaganya yang hampir terkuras habis. Hari ini adalah hari lemburnya di kantor, siapa sangka dia terjebak hujan dan akhirnya bertemu Alex di tempat.
...*...*...
Alex menarik tangan Luna yang semakin menjauh. Luna membalikkan badannya dan terjatuh di badan Alex. Wajah pria itu tepat pada dua buah gunung yang terlihat lebih menonjol akibat hujan yang lebat. Luna telah salah memilih pakaian hari ini.
"Vi... Tidak, Luna. Kak Luna, mengapa kau begitu seksi?" Tanya Alex.
Kini Alex terlihat seperti pria mesum di luaran sana. Dia sudah kehilangan akal, obat tersebut benar-benar manjur dalam membuat orang terbuai dalam mahligai dosa.
"Alex, sadar!"
Plakkk...
Luna menampar Alex yang gairahnya telah terbangkitkan oleh obat sesat itu. Bukannya tersadar, Alex malah semakin agresif. Tangannya kini mulai merabah kemana-mana, menyibakkan rok span milik Luna. Dia mer*mas lembut bagian belakang Luna. Luna meng*rang kesakitan.
"A-alex! Sadarlah!" Pekik Luna.
"Maafkan aku, kak. Aku benar-benar sudah tidak tahan," balas Alex.
Alex mengubah posisinya. Dia membaringkan Luna pada king bed size miliknya.
"Ahhhh!" Teriak Luna.
Nero dan Aron telah berdiri di depan pintu kamar Alex saat mereka mendengarkan suara seorang wanita. Ingin sekali mereka masuk, namun mereka tidak ingin berakhir tragis sama seperti beberapa orang yang mereka temui di bandara kala itu.
"Itu... suara wanita kan? Aku tidak salah dengar kan?" Tanya Aron yang terheran-heran.
Nero menganggukkan kepalanya.
"Selain nona Jessica dan nona Vieka, tuan muda tidak pernah membawa perempuan ke rumahnya, apalagi ini sampai masuk kamar," ucap Aron.
"Bukankah tadi ketua memang sedang dibopong oleh seorang wanita cantik. Jika tidak salah ingat, wajahnya mirip sama non Arvieka," ucap Nero sambil mengingat-ingat wajah kedua wanita tersebut dan membandingkannya.
"Seriusan lu?" Aron membalikkan wajah Nero dengan sekejap, membuat Nero terhuyung tak seimbang.
"Seriu..."
"Ahhh.. Alex, lepaskan aku!" Pekik wanita itu membuat otak Nero dan Aron traveling.
Nero dan Aron saling bertatapan. Wajah mereka memerah dan mereka pun menutupi wajah mereka.
"Ku pikir tuan muda bahkan tidak akan pernah menikah selamanya. Apalagi setelah menolak nona Jessica mentah-mentah kala itu. Ternyata..."
...*...*...
Alex mengecup, menghisap dan meninggalkan jejaknya pada leher putih milik Luna. Dia sangat menyukai aroma tubuh Luna yang seperti susu. Sangat lembut dan tidak menyengat di hidung. Hal itulah yang membuat Alex semakin tak dapat menahan dirinya.
Alex mulai membuka kancing kemeja kerja milik Luna. Luna meronta sekuat tenaga, namun Alex telah mengunci tangannya dan kakinya. Dia pun tak lupa membungkam mulut Luna dengan mulut seksinya saat wanita itu berteriak.
"Kumohon, jangan..." Luna nampak memelas. Namun, hal itu tidak digubris oleh Alex.
"Kak, mohon bantu aku," ucapnya.
"Bantu kamu bukan dengan cara begini, Alex!" Pekiknya.
Alex mengacuhkannya dan mulai menciumi dan menjilati setiap inci tubuh Luna yang kini semakin menegang. Des*hannya membuat Alex semakin tak tahan. Wanita itu akhirnya mengetahui kesalahannya dan sesegera mungkin menahan untuk tidak bersuara.
Namun, permainan yang mendominasi dari pria amatiran layaknya Alex benar-benar membuatnya yang juga baru pertama kali melakukannya tenggelam dalam kenikmatan. Dia menikmatinya, menikmati saat Alex mulai bermain dengan dua gundukan miliknya.
Apakah aku harus kehilangan kesucianku kali ini? Apakah kesucianku akan hilang direnggut oleh seseorang yang bahkan sebelumnya tidak ku kenal. Jika begitu, maka aku hanya bisa pasrah dan berharap dia akan tanggung jawab padaku kelak,~Batin Luna diiringi dengan tetesan air mata yang mengalir deras di pipinya.