
Uhuk uhuk...
Walau sudah mengenakan sebuah masker yang cukup tebal, namun asap tersebut masih berhasil menembus pertahanan maskernya. Namun, tak butuh waktu lama bagi dirinya menemukan anak laki-laki itu bersama dengan ibunya disana.
"Paman, selamatkan kami. Aku takut," ucap bocah laki-laki itu dengan tangan dan kaki gemetaran.
Alex mengeluarkan alat sejenis alat pemanah dengan tali panjang di belakangnya. Alex menembakkannya ke tanah dan ujung panah alat tersebut berhasil menancap pada tanah dengan kencang. Alex membantu mengikatkan sang anak kepada ibundanya dengan kencang. "Kalian berhati-hatilah. Jangan takut,karena alat ini cukup kuat. Aku akan memeganginya, jangan terlalu banyak bergerak." Berbagai ultimatum pun diucapkan oleh Alex dengan harapan keselamatan kedua bocah tersebut.
Alex melihat ke arah bawah dan memastikan mereka mendarat dengan selamat. Ibu dan anak itu berhasil mendarat dengan sempurna dengan dua orang polisi yang berjaga diatas.
Dorrr....
Sebuah ledakan terdengar lagi begitu jelas, bahkan lebih keras dibandingkan sebelumnya. Asap tebal menutupi seluruh lantai di gedung tersebut, pun juga kaca di tepi atas. Mereka semua begitu mengkhawatirkan Alex, terutama Louis dan kedua orang yang diselamatkannya tadi. "Bu, apakah paman tadi akan selamat? Jika tidak, Ruly akan merasa sangat bersalah kepada paman." Pria kecil itu memeluk mamanya erat dengan suara gemetar.
Tak berselang lama dengan ucapan pria kecil itu, Seseorang nampak sedang melompat dari ketinggian kurang lebih empat puluh lima meter itu.
"Komandan!" Teriak Louis yang sontak mengundang perhatian massa banyak. Louis tak memedulikan hal lain lagi kecuali berlari mendekat untuk menangkap pria yang menurutnya terlalu nekad itu.
Brakkk...
"Ehh, kemana tuan muda?" Gumam Louis sembari merentangkan tangannya.
"Paman, apa yang paman lakukan? Aku ada disini," ucap Alex yang bingung melihat ekspresi dan tingkah laku Louis.
"Tuan muda, huhuhu." Air mata sudah tak dapat dibendung lagi olehnya. Dia menangis sesenggukan, menyisakan ingus yang begitu menjijikkan yang melekat pada jaket Alex.
"Paman, bersihkan ingusmu yang sudah kembang kempis di tepi hidungmu itu. Menjijikkan!" Alex menjulurkan lidah ke arah samping dengan bola mata yang memutar.
Alex berjalan berlalu meninggalkan Louis yang masih membersihkan dirinya untuk menjaga citranya itu. Semua orang terperangah melihat Alex yang melompat dan baik-baik saja. Jika bisa pingsan, mungkin mereka akan pingsan seketika. Alex menatap mereka bingung juga mereka menatap Alex penuh keraguan. Apakah pria dihadapannya ini adalah seorang manusia?
"Terimakasih, tuan. Saya tidak tahu bagaimana nasib saya jika tidak ada anda," ucap ibu dari Ruly yang memecahkan keheningan.
"Itu sudah menjadi tugas saya selaku komandan negara ini," ucap Alex begitu lembut.
"Hidup komandan!" Seru Ruly yang mengundang sorakan dari warga lainnya. Alex tersenyum manis kepada mereka semua, bahkan ke beberapa gadis cantik yang ada di depannya.
"Aduhh. Meleyot aku!" Seru seorang gadis berbaju biru kepada rekan disebelahnya.
"Komandan, apakah anda memiliki pacar? Atau apakah bisa memberitahukan dimanakah tempat tinggal, nomor telepon..." Semua orang bertanya begitu antusias. Alex menikmatinya sekaligus bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengaku atas statusnya sebagai seorang ayah,bukan?
"Aku adalah Alexander Bryan Lachowicz, pria yang selama ini kalian anggap sebagai sampah dan pembawa sial." Jawaban Alex membuat sebagian besar orang tercengang, namun sebagian lagiĀ terlihat begitu santai seperti sudah mengetahui kenyataan. Mungkin mereka membaca berita atau memiliki saudara di daerah desa barat kantor pusat.
"Apakah benar yang dia katakan? Ga mungkin kan? Tapi, waktu itu juga ada video tentang perekrutan Panglima Steve, adik dari mantan panglima Russel. Tapi, video itu sudah menghilang tanpa jejak," bisik seseorang yang berada di tengah-tengah kerumunan.
"Seperinya video tuan Steve dengan seorang pria waktu itu bukan hoax. Tapi, siapapun dia, dia juga tidak mungkin mengaku-ngaku sebagai seorang sampah jika bukan dia sendiri adalah orangnya," timpal seseorang disebelahnya.
"Benar kata mama. Apanya sampah. Tidak, paman adalah pahlawan bagiku, bagi mama dan bagi semua orang. Lihatlah itu!" Ruly menunjuk ke arah Nero dan sebagian pasukan yang sedari tadi hilang dengan membawa barang bukti bom yang terpasang di seluruh sisi mall.
"Ini adalah pokok dan induk bom, bisa dikatakan sebagai pemicu dan yang lainnya hanyalah bom biasa yang akan meledak setelah pemicunya diaktifkan," Ucap seorang ketua polisi yang juga ikut mengidentifikasi jenis bom dan hal lainnya.
Semua orang akhirnya bersorak kembali setelah mengetahui fakta. Mereka mengira jika Alex hanya berucap omong kosong walau mereka tetap melaksanakan tugas. Tentu saja, mereka melaksanakannya dengan ragu dan terpaksa daripada mereka harus kehilangan pekerjaan untuk selamanya.
...*...*...
Setelah lama mengevakuasi, para polisi dan para prajurit lainnya sudah akan bergegas pergi. Mereka tentu saja tak lupa berpamitan dan berterimakasih kepada Alex, tentu saja para pengunjung mall di sana juga melakukan hal yang sama.
"Terimakasih, komandan Alex. Jika bukan karenamu, mungkin kami semua akan dalam bahaya," ucap seorang pria yang sepertinya memiliki jabatan tinggi mewakili semua orang.
Alex mengangguk dan tersenyum kepada mereka.
"Komandan, karena tugas kami telah selesai disini, kami pamit dulu untuk membawa mereka."
"Tunggu! Siapa bilang tugas kalian sudah selesai?" Alex tentu saja mencegah kepergian mereka.
"Maksud komandan?"
"Jika tidak salah, sekitar tiga mingguan lalu, ada pembunuhan terhadap seorang bayi yang baru lahir." Alex menjawab begitu tegas. Dia mengidentifikasinya hanya dengan Demon Eyes miliknya.
"Apa? Bagaimana komandan mengetahuinya?" Tanya ketua polisi.
"Aku samar mencium aroma busuk di garasi mall saat aku mencari bom tadi. Jika kalian penasaran, maka ikutlah aku," ucap Alex.
Cahaya keemasan itu muncul lagi dari matanya, namun dia memakai kacamata hitam yang ia gunakan tadi untuk menyamar.
"Nero, galilah tanah itu!" Titah Alex sambil menunjuk ke arah tanah yang ia yakini terdapat bayi itu disana.
"Baik, ke.. tuan muda." Nero hampir saja keceplosan, namun dia masih mengingat ultimatum dari Alex sebelum menuju kemari.
Flashback on...
Entah kapan Alex dan Nero hanya berdua bersama. Alex sendiri pun tak ingat kapan pastinya. Namun, hal tersebut telah lama Alex bicarakan. Hanya saja, Alex berpikir untuk memercayai Jack, Louis serta yang lainnya.
"Nero, Resca dan yang lainnya, kalian ingatlah untuk jangan memanggilku ketua saat ada pihak kemiliteran lainnya selain Paman Louis dan Paman Jack. Juga dengan pihak kepolisian. Apa kalian mengerti?" Tanya Alex menegaskan mereka.
"Siap! Mengerti ketua!"
Flashback off...
Huh, untung waktu itu aku sudah mengatakannya pada Nero. Walau dia tadi terdengar hampir keceplosan, setidaknya rahasia ku masih tetap aman,~Batin Alex.