I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 11



Tak... Tak... Tak...


Suara itu makin dekat terdengar. Alex buru-buru bersembunyi di balik meja.


Kriekkk...


Seorang pria terlihat berdiri di ambang pintu.


"Tch, mengapa laptopnya bisa menyala? Kebiasaan tuan Steve ini, lupa mematikan laptop. Bagaimana coba kalau ada penyusup?" Gumamnya.


Pria itu berjalan mendekati laptop yang terlihat masih menyala. Alex merasa dirinya terancam. Dia berusaha tetap tenang dan bersembunyi lebih dalam.


Tak tak tak...


Suara tersebut semakin mendekat ke arahnya, bahkan pria itu telah berada di depan laptop tersebut.


Tamatlah sudah riwayatku...~Batin Alex.


Saat pria itu akan menarik kursi singgasana Steve biasanya berada, suara telepon berdering dari sakunya.


Kringgg... kringgg...


"Tch, siapa sih yang menelepon?" Gumam pria itu kesal.


Pria itu kembali mendorong kursi tersebut kembali pada tempatnya.


"Halo..."


Alex menghela nafas lega. Dia memerhatikan serta mendengarkan apa saja yang mereka katakan.


"Apa? Ditemukan penyusup? Mayat Tom dan Jerry ditemukan di jurang? Baiklah, saya akan kesana untuk membantu pencarian," ucap pria itu yang nampak panik.


Pria itu langsung pergi begitu saja tanpa memedulikan laptop yang masih dalam kondisi menyala. Saat pintu itu tertutup, Alex sesegera mungkin bangkit dari persembunyiannya dan langsung menancapkan flashdisk bewarna hitam merah kesayangannya.


"Aku harus cepat. Copy semua saja dulu, nanti dipilah," gumam Alex.


Alex menyalin semua file yang terdapat disana dalam flashdisknya. Setelah berhasil menyalin semua data, Alex tak lupa menghapus semua jejak tentangnya disana agar dia tidak ketahuan. Setelah Alex membereskan semuanya, dengan langkah yang tenang dan pasti, Alex keluar dari ruangan, menengok kanan kiri dan berjalan menuju aula pelatihan yang dikatakan oleh komandan yang ia temui tadi.


Namun, semua pelatihan telah selesai. Setidaknya, Alex terlihat baru saja dari sana. "Untung sempat." Alex akhirnya dapat bernafas lega setelah berhasil keluar dari maut yang mengancamnya.


"Semuanya, berkumpul!" Pekik komandan disana.


Alex pun mau tidak mau ikut dalam barisan tersebut.


"Ada kabar terbaru dari Komandan Leon untuk kita membantu mencari penyusup yang datang. Seorang teman kita menemukan peluru disana dan komandan mengatakan bila beliau melihat kedua jasad teman kita lainnya yang sedang berjaga. Kami akan memberikan apresiasi penuh untuk kalian yang berpartisipasi kali ini. Jadi, kami mengharapkan penyusup segera ditemukan sebelum bos datang kemari," ucap wakil komandan.


Apakah paman Steve begitu kejam hingga semua anggotanya bahkan takut untuk memberitahukan hal sebesar ini?~Batin Alex.


"Baiklah, mulai dari sekarang, hingga nanti jam 4 sore, kalian harus menemukan keberadaan penyusup itu. Tidak menutup kemungkinan penyusup itu berada diantara kita. Jadi, kalian tetaplah waspada," lanjut pria itu.


Alex menegang seketika. Matanya melotot hingga hampir keluar, terkejut akan perkataan wakil komandan. Tentu saja, itu adalah hal wajar jika dirinya dihantui rasa ketakutan selama dia masih berada disana. Dia terlihat paling tidak tenang diantara semuanya. Keringatnya pun mulai berjatuhan ke tanah, namun dia berusaha tetap tenang.


"Len...Mark." seorang pria mengeja nama pengenal pada dada kiri Alex. "ada apa denganmu?" Tanya seorang prajurit disamping Alex.


Alex acuh sejenak. Dia hampir melupakan bila sekarang dia adalah Lenmark, seorang prajurit baru dalam geng tersebut.


"Aku... Aku hanya merasa sedikit kurang enak badan. Ya, aku merindukan istriku," ucapnya berbohong.


"A-apakah separah itu?" Tanya Alex.


Pria itu menatapnya dengan tatapan menyelidik dengan ekspresi yang setengah terkejut. "Apa?"


"Uhm... Maksudku... Maksudku apakah bos begitu kejam. Maaf, aku adalah pendatang baru hehe." Alex tersenyum canggung padanya.


"Ohh.. Humm, tidak salah aku tidak pernah melihatmu," ucapnya.


"Baiklah kalau begitu. Jika kamu menemukan penyusup itu dan mendapatkan bagian, jangan lupa beri aku ya. Aku akan memberitahumu," lanjutnya.


Alex mengangguk setuju.


"Bos steve itu..." Pria itu bercerita panjang lebar tentang Steve hingga Alex mengerti apa yang harus ia lakukan kedepannya.


...*...*...


Pencarian telah resmi dimulai. Beruntung pencarian kali ini dilaksanakan secara terpisah, Alex memiliki kesempatan untuk kabur kali ini.


Alex memanjat tebing dan menemukan sebuah tebing yang sedikit menjorok ke dalam. Pria itu memilih untuk masuk dan menanggalkan seragam milik bawahan Steve disana dan kembali menuju. Helikopter miliknya. Boleh saja Alex menggunakan helikopter milik mereka, namun tentu saja Alex tidak bodoh hingga meninggalkan Agusta A129 miliknya begitu saja di sebuah lereng gunung yang begitu curam.


"Hosh hosh hosh. Aku tidak.menyangka ini akan menjadi semakin dingin," gumamnya.


Dia memaksakan dirinya untuk menuju helikopternya dan pergi menjauh dari sana. Setelah berhasil, Alex sesegera mungkin terbang jauh tinggi agar keberadaannya tidak segera diketahui oleh mereka.


...*...*...


Beberapa saat kemudian...


Alex telah tiba dengan selamat di lapangan terbang milik keluarganya.


"Tuan muda!" Panggil Louis yang berlari menuju Alex yang baru saja mendarat.


Alex membuka pintu helikopter tersebut dan turun untuk menemui mereka yang telah menunggunya.


"Paman Louis? Paman Jack? Paman Aron? Apakah kalian menungguku sepanjang waktu?" Tanya Alex.


"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang tuan muda baik-baik saja kan?" Louis mengelilingi tubuh Alex dan mengecek kondisinya.


"Aku tidak apa-apa, paman. Aku baik-baik saja," jawab Alex.


"Huftt. Syukurlah. Omong-omong, tuan kemana?" Tanya Louis.


Alex hanya tersenyum kepadanya. "Rahasia. Oh ya paman, apakah paman ada mendengar berita tentang paman Steve?" Tanya Alex.


"Tidak. Ada apa memangnya?" Tanya Louis kembali.


"Uhm. Tolong paman carikan berita tentangnya ya." Alex pergi dengan membawa peralatan yang ia kenakan saat terbang. Aron, Louis dan Jack saling menatap satu sama lain.


"Tuan muda bisa mengendarai helikopter diusianya? Wow. Hebat!" Puji Louis.


"Benar. Dia telah membuktikan bahwa dia bukanlah sampah pembawa sial seperti yang dikatakan keluarganya," timpal Aron.


"Sudahlah. Kita cari tahu berita tentang tuan Steve secepatnya sesuai dengan titah tuan muda. Kita akan tahu apa yang sebenarnya anak itu rencanakan."


Mereka bertiga sepakat untuk mendukung dan membantu Alex apapun yang pria itu lakukan. Mereka yakin Alex tidak akan pernah membuat mereka ataupun keluarganya menanggung kerugian.