
Di kampus Negara P...
Hari demi hari Verrel dan Jessica lalui bersama tanpa Alex. Jessica yang biasanya begitu ceria, kini berubah menjadi seseorang yang uring-uringan. Tak jarang Verrel terkena semprotan amarahnya.
Hari ini Jessica merenung sendirian dengan sebuah buku di tangannya. Dia menuliskan sebuah puisi mengenai kerinduannya pada Alex yang cukup indah.
"Salam-salam kukirimkan dari sudut kota,
Untukmu, pria berwajah dingin namun menghangatkan
Aku titip salam untuk seseorang yang sedang bersamamu saat ini,
Agar mengingatkanmu makan teratur
Dan jangan terlalu larut dalam dendam
Aku merindukanmu,
Seperti senja di penghujung hari
Jaga dirimu baik-baik."
Jessica menghela nafasnya. Dia kembali membuka foto Alex disana. Dia khawatir, khawatir cintanya tak terbalaskan.
"Lex, gimana kabarmu disana sih? Apa kamu begitu enggan untuk menghubungiku atau Verrel? Kau berubah," gumamnya.
Jessica mulai melanjutkan gambaran wajah Alex di sebuah kertas putih yang selalu dia bawa kemana-mana. Jessica memang terkenal akan hobi menggambarnya yang begitu hebat. Diusianya yang masih cukup muda, Jessica mampu menghasilkan uang sendiri dari hasil menggambar. Tak tanggung-tanggung, Jessica dapat menghasilkan uang yang bahkan dapat menghidupi dirinya sendiri di kota besar.
Jessica memang pindah ke negara P akibat orang tuanya yang merantau di negara tersebut, namun saat orang tuanya akan kembali ke negara asalnya, Jessica malah memilih untuk berkuliah disana dan menetap sendirian disana. Tentu saja, begitu banyak pertentangan yang dihadapinya,namun Alex dan Verrel berhasil meyakinkan ibunda Jessica agar membiarkan anak semata wayangnya itu tetap tinggal bersama mereka.
Dorrr...
Seperti biasa, Verrel datang untuk mengacaukan suasana hati Jessica disana.
"Rel, ga lucu sumpah," protes Jessica.
"Ok ok, maaf. Ayolah jangan begini terus. Alex pasti baik-baik saja," ucap Verrel menenangkan Jessica.
"Btw, kamu sedang apa? Melukis wajah Alex lagi Apakah kamu sangat merindukannya?" Tanya Verrel.
Verrel melihat Jessica sedang melukis wajah Alex pada buku gambarnya. Lukisan yang begitu indah dengan hanya goresan hitam pensil di tangannya. Dia memberhentikan aktivitasnya sejenak saat gambaran itu telah selesai dengan sempurna
"Lagipula, kenapa sih Alex harus menghindari kita? Dia bahkan sengaja tidak mengaktifkan sosmednya hingga detik ini. Apa salah kita?"
"Kita tidak ada salah begitupun dia. Aku yakin dia pasti akan menghubungi kita saat senggang. Kita sebagai teman wajib mendukungnya, apapun itu keputusannya," jawab Verrel.
Tapi, aku ingin lebih dari seorang sahabat bagi Alex. Namun, Alex sama sekali tidak menggubrisnya. Entah dia berpura-pura polos atau tidak, siapa yang tahu?~Batin Jessica.
Verrel mengeluarkan gitar kesayangannya. Kali ini tentu saja demi menghibur sang pujaan hatinya yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Tara!!" Seru Verrel yang membuat Jessica seketika melupakan bebannya.
"Wow. Ternyata, kau membawa gitar. Kenapa ga dikeluarkan sedari tadi?" Tanya Jessica yang mulai terlihat antusias.
"Aku bahkan tidak pernah tahu jika kau memiliki gitar."
"Ya kamu ga pernah mau main ke rumahku. Kapan-kapan yuk main," ajak Verrel.
"Boleh, boleh."
Verrel mulai memetik gitar dengan instrument nada lagu yang diminta oleh Jessica. Mereka bersenandung bersama, menikmati kenikmatan suara merdu Jessica dengan petikan suara Verrel yang berirama. Mereka bergerak ke kanan dan ke kiri dengan berirama. Gelak tawa pun keluar setelah mereka bernyanyi. Hingga dia mengingat sebuah lagu yang sangat ingin dia nyanyikan, lagu yang baru-baru ini dia dengarkan. "Someone you loved", lagu dari Lewis Capaldis.
"I'm going under and this time I fear there's no one to save me
This all or nothing really got a way of driving me crazy
I need somebody to heal
Somebody to know
Somebody to hold
It's easy to say
But it's never the same
I guess I kinda liked the way you numbed all the pain
Now the day bleeds
Into nightfall
And you're not here
To get me through it all
I let my guard down
And then you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved..."
Belum sempat mereka bernyanyi hingga tuntas, dua orang pria berjubah hitam datang untuk menangkap mereka. Jessica dan Verrel meronta sekuat tenaga. Jessica bahkan sempat menggigit tangannya. Sempat terlepas dan Jessica sekuat tenaga berteriak minta tolong, "Tolong!" Sayangnya, kedua pria berjubah hitam itu pergi terlalu cepat.
Flashback on...
Steve yang selalu mengamati Alex dalam diam pun melihat Live di sosial media miliknya.
Brakkk...
"Sial! Pria ini benar-benar telah menghina geng jubah hitam. Tidak, lebih tepatnya dia ingin menghinaku. Ini tidak bisa dibiarkan!" Seru Steve.
Steve tidak memedulikan anak buahnya yang tertangkap, karena menurutnya orang yang berhasil tertangkap oleh musuh adalah orang yang sama sekali tidak berguna untuknya. Yang dia perhatikan adalah rasa gengsi yang tinggi untuk melawan Alex. Dia bisa-bisanya kalah telak berulang kali dari keponakannya yang dulunya pernah dia hina sebagai sampah itu.
"Bagaimana aku bisa kalah dari seorang sampah? Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak bisa terus kalah dari pria sampah itu," gumamnya.
Hingga sebuah telepon masuk dari ponselnya. Kini dia tak perlu menggunaka Handy talkie, karena menurutnya itu sama sekali tidak berguna.
"Steve, bagaimana pekerjaanmu itu? Dasar tidak becus!" Umpat seorang lelaki di penghujung telepon.
"Ma-maaf ketua. Saya tidak mengira jika pria itu begitu kuat. Dia sudah berbeda dengan dulu," jawab Steve.
"Menjawab saja terus. Lihatlah sekarang. Karena ulahmu, geng jubah hitam akan masuk dalam daftar pencarian orang!" Pekik pria itu yang dapat memekakkan telinga.
"Sa-saya janji, saya akan memperbaiki semuuanya. Saya akan sesegera mungkin mendapatkan yang anda inginkan dan juga membersihkan nama geng jubah hitam dalam daftar pencarian orang."
"Apa kamu pikir saya percaya? Kau bahkan belum mampu membersihkan namamu dari daftar pencarian orang di negara P. Apalagi di negara ini?" Tanya Pria itu.
"Sudahlah, yang terpenting aku menginginkan jam tangan itu dengan segera. Aku harus segera menumpaskan musuh bebuyutanku dengan menyerangnya dengan barangnya sendiri." Pria itu mengepalkan tangannya penuh dendam.
"Baik ketua." Steve pun menutup teleponnya dan sesegera mungkin menyuruh bawahannya untuk bertindak. Steve telah diberikan sebagian kecil kekuasaan di geng jubah hitam. Pria itu dapat menitahkan sesuatu sesuai dengan keinginannya.
"Zydan, sampaikan titah suci dariku. Suruh beberapa orang menangkap kedua sahabat Alex. Jessica dan Verrel!" Titah Steve pun diturunkan.
"Baik, tuan."
Flashback off...
...****************...
Hai guys. Berikut ini adalah gambar wajah Alex yang sempat digambar oleh Jessica:
Alex memang pria yang tampan, jadi walau gambarnya hanya hitam putih, wajahnya tetap memancarkan kharismanya ya gess ya🤭🤭🤭