
Keesokan harinya...
Alex terjaga dari tidurnya yang cukup pulas. Dia membuka matanya sambil menghirup wangi segar aroma pagi dengan mata yang masih setengah terpejam, namun suatu hal yang membuatnya langsung membelalakkan mata. Dia merasakan seseorang tidur disampingnya.
"Ka-kamu?" Pekik Alex terkejut.
Luna terbangun akibat suara Alex yang memekakkan telinganya. Dia masih tidak memakai sehelai pakaian pun pada tubuhnya, sama halnya dengan Alex. Luna sesegera mungkin memunguti pakaiannya yang berserakan di bawah dan tidak memedulikan Alex disana. Sedangkan Alex hanya terpaku melihat kepergiannya, setelah itu Alex memijat pelan keningnya yang begitu pusing.
Bisa-bisanya aku tidur dengan wanita lain. Bahkan, aku baru mengenalnya sehari. Aku benar-benar sudah merusak masa depan seseorang. Tapi, apakah aku harus tanggung jawab? Jujur saja, aku masih belum sanggup untuk menjadi seorang suami,~Batin Alex.
Alex berjalan menuju ke lemari pakaiannya dan mengambil jubah mandi atau yang biasa disebut bathtobe dari lemari pakaiannya. Dia duduk termenung di balkon kamarnya seraya menunggu wanita itu keluar dari kamar mandi.
Beberapa saat kemudian...
Aroma wangi yang begitu semerbak keluar seiring dengan keluarnya Luna dengan jubah mandi yang ia ambil dari lemari Alex.
"Kamu mau mandi, bukan?" Tanya Luna.
Alex hanya mengangguk canggung. Dia benar-benar tidak sanggup, jika harus berhadapan dengan wanita itu. Dia malu dan sungkan, dia malu telah merusak masa depan gadis di hadapannya.
Alex mulai melakukan aksinya. Dia keramas begitu lama dan mengusap tubuhnya dengan keras, agar aroma wangi wanita itu tidak menempel pada badannya.
"Kau begitu bodoh lagi,Alex. Kau sendiri yang membenci wanita, kau sendiri yang bersumpah untuk tidak lagi berurusan dengan wanita, namun kau juga yang akhirnya melanggar semuanya." Alex bergumam mengutuk dirinya sendiri dalam kamar mandi.
"Tch, ini semua salah wanita itu yang terlalu terobsesi. Siapa namanya? Ya, Lisa. Dia sudah begitu tua, tapi kelakuan masih seperti anak muda," gumamnya menyalahkan Lisa.
...*...* ...
Alex keluar dari kamar mandinya. Dia melihat Luna yang telah berganti pakaian dengan kemeja putih miliknya, menunjukkan area-area yang menurutnya begitu seksi. Seketika, wajah Alex mulai memerah lagi, hidungnya pun mulai mengeluarkan darah, mimisan.
"Ehh, Alex. Ada apa? Apa kau sakit? Apa kau demam?" Tanya Luna.
"Shhh." Saat Luna bergerak, dia merasakan sakit yang luar biasa pada bagian bawahnya.
"Kamu tak apa?" Tanya Alex.
Plakkk...
Luna menampar Alex begitu saja. "Kau tahu, ini semua gara-gara kamu. Kau sudah merenggut semuanya. Ciuman pertamaku, pelukan pertamaku bahkan malam pertamaku."
"Ma-maaf. Aku bukannya sengaja. Aku sudah menceritakannya kepadamu semalam," timpal Alex.
"Maukah kau ku bantu untuk ke bawah? Paman Aron, Nero dan yang lainnya pasti sudah menyiapkan masakan untuk kita semua."
Luna mengangguk setuju. Alex memapahnya perlahan,karena malam itu adalah malam pertama bagi Luna dan juga Alex. Semalam, pria itu sangat brutal dan buas hingga membuat Luna teriak kencang dan menangis hingga matanya sembab. Namun, pagi ini wanita itu nampak ceria seakan-akan tak ada yang terjadi disana.
Hingga mereka tiba di meja makan tempat dimana Alex menyewanya. Wajah beberapa bawahan Alex nampak begitu suram, suasananya pun menjadi canggung dan tidak nyaman. Kantong mata mereka berubah menghitam selayaknya panda. Sepertinya, kebrutalan Alex tadi malam tidak hanya menyiksa Luna saja,namun juga beberapa prajuritnya pula.
"Uhmm.. Kalian kenapa?" Tanya Alex polos.
"Kami gapapa, ketua," ucap mereka berbohong.
Astaga. Apakah dia adalah pria mesum yang sangat liar semalam? Aku tak percaya bahkan dia sepolos ini?~batin Luna.
...*...*...
Pada siang hari ini adalah jadwal persidangan perceraian antara Lisa dan suaminya, bram. Semua bukti telah dikumpulkan dan Nero siap untuk berangkat.
"Ketua, apakah anda yakin tidak ikut?" Tanya Nero.
"Tidak. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku akan keluar untuk mencari makan siang hari ini," jawab Alex tegas.
"Baiklah, jaga diri anda baik-baik."
Nero berangkat dengan menggunakan mobil jeep yang disewanya beberapa saat lalu. Kini Alex tinggal bersama Aron, Resca dan beberapa pasukan lainnya. Luna sudah beranjak dari tadi pagi menuju ke kantornya, sedangkan Alex bermaksud untuk pergi keluar sejenak dan kemudian kembali untuk makan.
"Paman, apakah paman longgar? Jika iya, bagaimana jika kita berjalan-jalan. Sekalian menikmati pemandangan di negara ini," ajak Alex.
"Tapi tuan, apakah tidak berbahaya jika kita keluar sekarang? Para musuh kita akan mengintai kita. Terutama kita masih belum mengetahui keberadaan tuan Steve."
"Jangan khawatir. Aku sudah memiliki banyak persiapan. Kita juga sudah mempelajari beberapa kelemahan dan keunggulan dari obat terlarang itu,bukan?"
Aron mengangguk, "baiklah, aku percaya dengan anda."
Mereka berdua bersiap untuk pergi sekarang juga. Alex meminta mereka semua untuk tetap berada di markas baru mereka dan berjaga-jaga jika setiap saat ada orang menerjang.
Baru beberapa jangkah keluar dari pagar bangunan rumah yang tinggi, besar serta mewah itu, beberapa orang terlihat sedang mengintai mereka. Orang-orang berjubah hitam dari geng misterius jubah hitam yang saat ini menjadi tempat naungan bagi Steve yang sedang terpuruk itu. Alex berhenti sejenak dan berpura-pura tidak mengetahui keadaan mereka.
Sudah kuduga. Bahkan beberapa langkah dari rumah saja mereka sudah berada di balik sana. Aku harus memancing mereka ke tempat yang lumayan sepi. Jika sampai ketahuan orang, semuanya akan terekspose. Sia-sia pula aku menyembunyikan identitasku,~Batin Alex.
"Paman, cepatlah! Nanti kita ketinggalan bus," ucap Alex.
Aron hanya dapat merasakan aura jahat maupun baik dari seseorang, jika dia berhadapan langsung dengan mereka, namun dia tidak dapat merasakan keberadaan seseorang. Hal itulah yang menjadi penyebab utama kematian Russel kala itu. Jika dia sedikit saja lebih peka, maka kejadian hari itu tidak akan terjadi. Namun, apa boleh dikata? Semua sudah ada garisan takdir dari sang maha pencipta.
Aron kebingungan dengan ekspresi Alex yang tiba-tiba berubah seperti anak kecil yang begitu bersemangat. Mereka naik bus ke rute sebelumnya, rute saat dirinya bertemu dengan Luna di sebuah gang sempit yang buntu di pusat negara G. Sebuah patok bewarna biru dengan tanda merah di tengahnya menjadi saksi kejadian semalam, saat Alex menyantap wanita itu dengan brutalnya.
"Turun disini saja,pak," ucap Alex.
"Tuan muda, apakah anda yakin turun disini?" Bisik Aron.
Alex mengangguk. "Nanti paman akan tahu sendiri alasannya."
Apakah tuan muda merasakan seseorang atau bahkan beberapa orang membuntuti kami?
Aron melirik ke arah belakang mereka, namun Alex dengan sigap menyuruhnya untuk tidak membalikkan badan. "Paman, jika paman berbalik badan, maka rencanaku untuk menariknya kemari akan gagal."