
Alex dan yang lainnya mulai bergerak mengikuti langkah kaki Resca yang telah puas berkeliling di sekitar sana. Mereka begitu berhati-hati, sesekali bersembunyi di balik dinding untuk melihat situasi.
"Aman," ucap Resca lirih.
Mereka pun akhirnya berlari kecil saat melihat beberapa tempat disana begitu aman. Namun, hal tersebut tentu saja tidak berlangsung lama. Hampir saja mereka keluar dan tertangkap oleh mereka. Ternyata, mereka telah berkumpul di suatu tempat.
"Gawat! Mereka berada disana. Kita harus kesana untuk keluar," ucap Resca.
"Apa tidak ada jalan keluar lainnya?" Tanya Alex.
"Ada,ketua. Tapi, akan sangat berbahaya karena itu terletak dekat dengan markas mereka," jawabnya.
"Ingatlah kata pepatah, tempat yang paling berbahaya justru adalah tempat yang paling aman. Mereka tidak akan mengira jika kita pergi kesana," timpal Alex.
"Yang anda katakan benar. Kita harus mencobanya."
Resca pun menunjukkan jalan alternatif lainnya. Lebih dekat, namun juga lebih berbahaya. Beruntungnya, markas sedang kosong. Mereka semua sedang sibuk mencari keberadaan mereka. Mereka berhasil lolos hingga tepat berada di depan pintu gerbang.
"Baiklah, untuk saat ini kita aman."
Alex mengutus para bawahannya untuk melangkah keluar terlebih dahulu, terutama mereka yang membawa orang-orang yang kritis di punggung mereka.
Tettt... tettt.... tettt...
Alarm berbunyi kencang saat Nero pertama kali melangkahkan kakinya melewati perbatasan. Sebuah scan tak kasat mata luput dari pantauan kami. Beberapa tim mereka nampak mulai mengerahkan pasukan, terdengar jelas dari langkah kaki mereka yang semakin cepat. Alex dan yang lainnya semakin panik saat ini.
"Cepat! Cepat!" Pekik Alex menyuruh mereka untuk mempercepat langkahnya. Tak luput pula dia membantu beberapa pria yang sudah tak mampu lagi untuk mengangkat beban rekan mereka pada punggung mereka. Alex melakukannya secara bergantian.
Tak tak tak...
Mereka mempercepat langkahnya. Sambil berlari, mereka pun menoleh ke belakang sesekali, memastikan jarak diantara mereka.
Alex dan yang lainnya berlari menuruni tangga menuju ke ruang bawah tanah hanya untuk transit. Itulah satu-satunya jalan yang menghubungkan dengan pintu keluar yang terbuka di area belakang.
"Tuan, kemana ini?" Tanya Resca saat dihadapkan dengan dua lorong kembar di dalam ruang bawah tanah tersebut.
Klotak klotak klotak...
Suara langkah kaki mereka terdengar jelas akibat bahan seng yang digunakan untuk membangunnya. Alex bingung harus memutuskan untuk memilih yang mana. Jikalau salah memilih, dia akan terjebak disana. Hal itu tentu saja akan memakan banyak waktu mereka.
"Percepat langkah kalian! Kita harus menangkap bocah ingusan itu dan para pria baj*ngan itu!" Seru sang komandan mereka.
Alex nampak makin panik disana.
Tenang, Alex. Atur nafas dan pikirkan dengan cermat. Jangan mengorbankan siapapun disini,~Batin Alex dalam hati.
"Tuhan, kumohon beri kami petunjuk." Inilah kali pertama Alex meminta kepada sang pencipta segalanya setelah kejadian yang menimpanya dan Russel waktu itu.
Saat Alex berfikir keras, tanpa sengaja dia melihat sebuah lukisan yang mungkin menjadi petunjuk baginya. Tuhan begitu baik padanya kali ini. Dengan hati tulus Alex, semua orang yakin mereka akan selamat di bawah komandonya.
Alex melihat lukisan tersebut dengan saksama. Dengan cepat, Alex telah dapat mengingat semuanya. Dia berharap semoga yang dia lihat kali ini adalah sebuah peta lorong bawah tanah yang akan mereka lewati.
Tak tak tak...
Suara langkah kaki musuh sudah semakin dekat. Alex pun tersadar dengan segera. Dia berjalan di depan semua pasukannya, termasuk juga Resca yang telah menunjuk jalan hingga di bawah tanah.
Mereka tak berani menjawab. Menjawab sama saja dengan mengekspose posisi mereka. "Sebisa mungkin, berjalanlah dengan tenang. Jangan sampai membuat kegaduhan."
"Ketua, mungkin lebih baik kita lepas alas kaki kita. Dengan begitu, tidak akan menimbulkan efek suara yang begitu tajam saat kita berlari," usul seorang bawahannya.
"Benar juga. Baiklah semuanya, lepas alas kaki kalian sekarang. Namun, berhati-hatilah. Disini begitu gelap dan kemungkinan pecahan kaca juga ada dimana-mana. Saya tidak menginginkan kalian terluka dan malah menghambat perjalanan kita."
Alex terpaksa harus banyak cakap kali ini. Dia sangat membencinya, namun nyawa segelintir orang disana bergantung pada setiap keputusannya.
...*...*...
Alex dan yang lainnya masih terus berkutik dalam lorong gelap tersebut. Mereka hampir frustasi terjebak dalam ruangan tanpa ujung itu.
"Ketua, mari kita berhenti sejenak. Kasihan mereka sudah lelah sepertinya," ucap Nero saat melihat rekan seperjuangannya yang mulai hampir kehabisan nafas.
Alex mengalihkan pandangannya terhadap mereka. Memang benar, bagaimana pun juga mereka adalah manusia walau Alex pun tidak mengetahui jelas bagaimana mereka bisa bergabung dalam sebuah geng itu.
"Baiklah, lagipula suara langkah kaki mereka sudak tidak terdengar."
Alex dan yang lainnya memilih untuk beristirahat sejenak. Mereka terlihat lesu dan lemas, mereka belum makan sesuap nasipun hingga detik ini.
"Maafkan saya. Karena saya, kalian semua terjebak dalam situasi ini. Aku yakin kalian tahu tentang misi terbaruku dan hukuman yang aku dapat jika menolak. Tapi, tidak seharusnya demi melindungi nyawaku, aku malah mempertaruhkan nyawa kalian," ucap Alex merasa bersalah.
Nero berdiri dan berjalan mendekati Alex.
"Ketua, kami sudah lama berada dalam dunia ini. Kami telah dilatih untuk berani mati. Menurut kami, ketua adalah ketua terbaik untuk kami."
Aron tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda bila dirinya telah sadar.
"Tu-tuan muda? Tuan muda tidak apa-apa?" Hal pertama yang dia ucapkan setelah tersadar adalah menanyakan kondisi tuan mudanya.
"Aku gapapa, paman. Lihatlah, aku masih begitu bergas!" Alex menunjukkan sisinya yang begitu kuat. Sayangnya, kesombongan mereka tidak dapat bertahan lama.
"Komandan, kita mau cari kemana lagi?!" Tanya anak buah dari pria itu yang sudah mulai frustasi.
"Bodoh! Kalian yang tidak dapat menangkapnya dan sekarang malah menyalahkanku? Lihatlah Kodok Zumba bersaudara itu, mereka sama sekali tidak mengeluh," timpal pria berbadan kekar itu.
"Lalu, mengapa kita tidak melapor kepada bos besar saja? Biar mereka menanganinya."
"Kau sudah berada di geng harimau putih ini berapa lama?"
Pria itu terdiam saat mengingat perlakuan bos besar mereka saat mereka gagal menjalankan misi. Mereka memilih untuk tidak kembali sebelum tujuan mereka tercapai. Itu sudah menjadi resiko bagi mereka.
Alex yang memiliki penglihatan dan pendengaran paling tajam diantara mereka pun langsung bangkit dan mulai terlihat panik.
"Nero, Resca dan yang lainnya. Bukan maksudku mengganggu istirahat kalian. Tapi, mereka sudah mulai menuju ke arah sini," ucap Alex.
"Apa?! Secepat itu?!" Pekik mereka bersamaan.
Alex mengangguk. "Bagaimana pun mereka memilih tempat ini untuk menyekap wanita itu. Berarti, seharusnya mereka sudah paham dengan benar daerah sini."
"Yang dikatakan yang mulia memang masuk akal."
"Baiklah semuanya, mari kita berangkat!" Ucap Nero membakar semangat mereka agar semakin membara. Hal itu terbukti dengan semangat mereka yang jauh berbeda daripada sebelumnya.