I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 42



Kabar tentang penangkapan sejumlah anak buah geng jubah hitam pun dengan cepat tersalurkan hingga ke telinga Steve, bahkan ke telinga pria berjubah hitam spesial yang diduga pimpinan mereka.


Brakkk...


Steve mendobrak meja kesal, dia tidak menyangka bila rencananya akan gagal sia-sia. Alex yang sekarang jauh berbeda dengan dirinya yang dulu. Alex yang sedari awal pun sudah memperkirakan hal tersebut, akhirnya memutuskan untuk merekam sejumlah video untuk memprovokasi mereka keluar.


Aku tidak akan kehilangan setiap momen yang mereka ciptakan sendiri untukku. Aku akan memancing mereka keluar,~Batin Alex.


Alex mulai menyuruh Aron merekam aksinya dari belakang, tentu saja Aron menolak untuk melihatnya secara langsung. Pria itu berdiri tegak disana sesuai dengan yang telah diaturkan oleh Alex. Aron memasangkan penutup matanya juga penutup pada telinganya.


Alex berjalan maju lurus bak seorang aktor film yang sedang syuting. Dia begitu tegas dalam mengambil langkah, mengangkat cambuknya setinggi yang ia bisa, lalu menyabetkannya pada tubuh polos mereka. Alex tentu saja memasangkan sebuah topeng pada mereka. Mereka lunglai lemas tak berdaya. Alex benar-benar tidak memberikan mereka makan selama seharian.


Beberapa besi dipasang disana dengan dilengkapi oleh rantai di setiap sudutnya. Total semua pasukan yang ditangkap oleh Alex, tidak ada satupun yang lolos. Pria itu memulai aksinya.


Ctarrr.... cetarrr... cetar....


Suara itu begitu menggema disana. Bahkan Aron yang sudah menutup telinganya pun masih dapat merasakan kerasnya pecutan disana dengan getaran di kakinya yang begitu kuat. Rasa merinding dan takut menghinggapi Aron, namun dia berusaha untuk tetap tenang dan memberikan hasil terbaik di video kali ini walau dengan mata tertutup.


"Hahaha. Lemah! Dasar lemah! Apa ini kekuatan geng kalian?" Tanya Alex.


Tawanya begitu menggelegar. Beberapa pria disana tak mampu mengangkat kepala mereka. Tubuh mereka sudah penuh dengan luka. Kini, Alex dengan sebuah belati sebelumnya mendekati mereka. Alex menggoreskan sedikit luka di wajah tampan mereka.


Srakkkk...


"Shhh..."


Mereka merintih, namun itu adalah nyanyian malam bagi Alex. Pria itu bak anak kecil yang sedang mendapatkan mainan baru.


"Belati tajam. Ups, bukan maaf. Aku memang sengaja membeli belati yang tumpul,namun bisa melukai kalian. Kalian tau alasannya?" Tanya Alex.


Mereka terdiam, sesekali meneguk air liur yang sudah mengumpul di mulutnya.


Apakah sempat jika aku meminta ampun padanya?~Batin salah satu dari mereka.


Aku tidak peduli jika ketua akan membunuhku, namun pria ini lebih kejam dan mengerikan daripada ketua. Aku benar-benar sudah tidak kuat,~lanjutnya dalam hati.


Sebelum Alex mengenakan pisaunya kepada pria yang mengomando mereka tadi, X-Black, sebelum Alex melanjutkan kata-katanya dan mengungkapkan alasan mengapa dia membeli belati tumpul tersebut, pria itu sudah bersuara untuk memohon pengampunannya.


"Tunggu!" Pekik pria itu.


Semua rekannya menoleh kepadanya.


Apa si X-Black begitu bodoh? Ada hak apa dia menyuruh pria kejam ini untuk berhenti. Apa karena dia yang paling menderita diantara kita? Tch, jika bukan karena ketua memintanya untuk memimpin kami, kami juga ogah menurutinya,~Batin Y-Black, teman dari si X-Black.


Alex menoleh kearahnya. Dia menahan senjatanya dan melihat trik apalagi yang akan pria itu lakukan.


"Hum?"


"Tuan, mohon ampuni saya. Saya janji saya akan memberitahukan semua yang anda inginkan selama saya mengetahuinya," ucap X-Black yang membuat seluruh orang disana terkejut atas pernyataannya.


"Apa?! X-Black, kau gila ya! Kau..."


"Diam!" Bentak Alex menyela ucapan Y-Black.


"Apakah aku menyuruh kalian berbicara?" Tanya Alex dengan sorotan mata yang begitu sadis.


"Coba katakan," ucap Alex dingin.


"Tapi, apakah anda bisa berjanji untuk melepaskan saya?" Tanya X-Black penuh harapan.


"Baiklah. Saya akan mengaku jika saya disuruh oleh tuan Steve." Pernyataan pertama berhasil keluar dari mulutnya.


"Itu tidak penting. Resca!" Panggil Alex.


Resca yang entah datang darimana pun tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.


"Iya, ketua." Pria itu setengah berlutut dengan menyatukan tangannya, sedikit menunduk, memberi hormat kepada Alex dengan sungkan.


"Resca, potong salah satu anggota tubuh pria ini!" Titah Alex.


"Berani-beraninya dia memberiku informasi yang sudah aku ketahui," gumam Alex.


"Tuan jangan! Bagaimana saya tahu jika anda sudah mengetahui faktanya..."


Srakkk...


Sebilah pedang tajam diayunkan oleh Resca tepat pada kaki sebelah kiri X-Black.


"ARGHHH!" Jerit X-Black memenuhi ruangan. Aron nampak bergidik ngeri dengan sedikit menyipitkan matanya. Dia dapat merasakan bagaimana sakitnya yang dilakukan Alex kepada pria-pria itu hingga menyebabkan dirinya yang sudah mengenakan penutup telinga dapat mendengarnya dengan jelas.


"Aku tidak tahu apa yang diajarkan oleh geng jubah hitam kepada kalian. Mengapa kalian begitu pandai bersilat lidah bukan bertarung?" Tanya Alex.


Mereka terdiam dengan pikiran dan sudut pandang mereka masing-masing.


"Cepat katakan saja apa yang ingin kau katakan!" Alex menggunakan cara mengintimidasi miliknya.


Pria itu bahkan hingga terkencing di celana. Dia benar-benar mengerti apa itu takut sekarang.


"Ka-kami.. Kami memiliki sekitar enam markas di kota ini dan... dan Tuan Steve berada di markas sebelah barat," ucap X-Black berterus terang.


Pria ini... Dia demi dirinya sendiri agar bisa lolos, pria ini bahkan rela mengorbankan timnya sendiri dan memberitahukan keberadaan rekan-rekannya ke musuh. Sungguh pria yang kejam dan pengkhianat kelas kakap. Aku tidak akan menampung pria semacamnya. Suatu saat nanti, dia akan menjadi boomerang, jika aku melepaskannya,~Batin Alex.


"Good." Alex mencabut salah satu jarum yang ia tancapkan pada tubuh pria itu yang menyebabkan tubuhnya kaku dan penuh dengan rasa sakit yang luar biasa.


Pria itu dapat bernafas lega akhirnya, setelah nyawanya di ujung tanduk.


"Lalu?"


"Apa yang ingin anda ketahui?" Tanyanya balik.


Benar juga, bagaimana pun dia adalah manusia biasa. Bagaimana mungkin dia mengerti isi hatiku. Tch tch, semakin kesini aku malah mirip dengan seorang wanita. Maunya dimengerti, tapi tidak ingin mengerti,~Batin Alex.


"Waktu itu, Paman Steve terluka parah akibat serangan dasyat olehku. Apakah tuan kalian yang menyelamatkannya? Lalu, apa alasan ketua kalian menangkapnya?" Tanya Alex.


"Itu... Saya tidak terlalu tahu," jawab X-Black ragu.


Alex membalikkan badannya. Dia meninju perut milik X-Black dengan tenaga yang lumayan besar hingga pria itu memuntahkan darah dari mulutnya.


"Kau pikir saya tidak tahu kau sedang berbohong?!"


"A-ampun. Sa-saya tidak akan melakukannya lagi." Tubuh pria itu bahkan mulai gemetaran.


"Katakan!" Bentak Alex.


"Iya! Iya! Ketua kamilah yang menyelamatkannya. Alasan utamanya adalah ketua kami ingin mengambil jam tangan di tangan anda melalui tangan Tuan Steve, karena hanya tuan Steve yang mengerti persis kelemahan anda," jawab pria itu dengan penuh tekanan.