I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 35



"Baiklah, tuan muda. Lalu, apa rencana anda setelah ini?" Tanya Aron.


Bagaimana aku menceritakan kepada Paman Aron tentang sistem itu,ya? Paman Aron pasti dapat dipercaya,tapi aku tidak begitu yakin jika dia akan memercayai ucapanku,~Batin Alex.


"Uhm, paman." Alex memanggil Aron dengan ragu.


"Ya,tuan muda? Ada apa?" Tanya Aron.


"Paman percaya tidak dengan adanya sistem khusus gitu? Seperti di komik, film atau novel itu?" Tanya Alex.


"Apa maksud tuan? Sistem apa? Sistem itu banyak," tanya Aron balik.


"Sistem. Ya sistem yang bisa memberikan kita pasukan tiba-tiba gitu. Kalau di novel biasanya disebut sistem mafia. Jadi, seseorang bisa pindah ke suatu ruang yang disebut dimensi dan banyak orang di dalamnya, selain itu juga ada beberapa hal seperti di sebuah lab komputer. Banyak hologram juga," ucap Alex menjabarkan apa yang dimaksudnya.


Aron terperangah mendengar ucapan Alex. Dia terlihat kebingungan, bahkan tak mengerti maksud bocah di depannya itu. Aron maju beberapa sentimeter mendekati Alex dan memegang dahi Alex, memastikan jika pria itu baik-baik saja.


"Paman! Apa yang paman lakukan?!" Alex menepis tangan Aron dari dahinya.


"Saya kira anda sakit. Ucapan anda benar-benar seperti orang sedang mengigau," timpal Aron.


"Aku tidak sakit. Tapi, aku sudah menduga paman tidak akan memercayainya."


Tapi, Nero dan beberapa pasukan lainnya juga masih misterius asal usulnya. Tuan muda darimana memangnya mengenal mereka? Mengapa aku tidak pernah mendengar bila dia bahkan memiliki begitu banyak relasi, terlebih lagi Nero dan lainnya terlihat seperti pelaku kriminal atau mafia. Begitu sangar dan menakutkan,~Batin Aron.


Apa jangan-jangan memang ada hal seperti itu? Aku harus mencari tahu sendiri,~Lanjutnya dalam hati.


...*...*...


Alex berpamitan pada Aron untuk mencari udara segar, padahal sebenarnya dia ingin melaksanakan misi keduanya. Dia juga sudah memeriksa beberapa identitas yang terkait dengan wanita bernama Lisa yang ia temui kemarin siang.


"Tuan muda yakin tidak perlu saya temani?" Tanya Aron.


"Paman jaga tempat ini saja. Bantu beberapa orang lainnya masak, mengumpulkan bahan-bahan dan juga menjaga keamanan. Ini akan menjadi markas kita selama kita tinggal disini," jawab Alex.


"Tapi ketua..."


"Tidak ada tapi. Lagipula, ada Nero yang pergi bersamaku kali ini. Kau sudah tahu kemampuan Nero kan?" Alex memotong ucapan Aron.


Aron mendekati Alex sejenak dan berbisik lirih, "apakah anda benar-benar memercayai Nero? Saya pastikan, Dia sudah membunuh banyak orang."


Alex terkekeh kecil melihat ekspresi ragu dan khawatir serta takut milik Aron. "Paman tenang saja. Nero adalah orang yang bisa dipercaya 100%. Dia tidak akan melukaiku. Setidaknya, tidak untuk saat ini."


"Baiklah Paman Aron dan yang lainnya, aku dan Nero pamit pergi dulu," ucap Alex sambil melambaikan tangan.


"Baik, ketua! Hati-hati di jalan," ucap mereka bersamaan.


Alex tersenyum manis kepada mereka sebelum akhirnya berpaling dan menjauh pergi dari markas barunya. Aron menilik semuanya seakan mereka semua mengerti kemanakah Alex pergi. Ya, semua orang kecuali dirinya.


Aron memutuskan untuk diam-diam mengutus seseorang mengikutinya. Seseorang dengan ilmu perang yang tinggi hingga bisa menyamarkan kekuatan mereka,karena Aron tahu persis bila Alex juga memiliki kepekaan terhadap seseorang yang berniat jahat maupun membuntuti dirinya. Aron tak lupa memasang alat penyadap suara juga GPS untuk mengetahui kemanakah Alex melangkah.


...*...*...


Alex telah tiba di sebuah cafe yang juga merangkap sebagai sebuah bar yang ia yakini adalah sebuah tempat dimana pria yang sedang ia ikuti sering kemari. Saat berada disana, dia melihat sosok yang terlihat familiar di matanya. Lisa, wanita itu dengan segala penyamarannya nampak masuk ke cafe yang sama dengan dirinya. Alex menamatinya dengan saksama dengan menyeruput kopi yang telah dipesannya.


Saat Lisa telah di dalam, dia melihat sosok yang ia kenali. Memori di kepalanya pun mulai berputar, kejadian hari itu saat tiba-tiba tiga orang pria membantunya untuk lolos dari mautnya. Tiga orang yang membantunya kabur setelah sekian minggu dikurung di dalam sana, ruangan yang begitu sempit dan gelap.


Dia membuka kacamatanya dan menatap kedua orang yang berada disana.


"Hai," sapanya.


"Ayolah bro, jangan terlalu dingin," ucap wanita itu sambil merangkul Alex.


"Tch, singkirkan tanganmu itu!" Tatapan mata Alex membuat wanita itu mengurungkan niatnya untuk menggoda Alex makin jauh.


"Ok, ok. Sorry," ucapnya.


"Omong-omong, apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Lisa.


"Bukan urusanmu," ucap Alex.


"Huh, menyebalkan!" Umpatnya.


Dia pun mulai terdiam dan fokus pada ponselnya. Dia mengutak-utik ponselnya dan mendapati suaminya sedang online. Alex meliriknya sekilas. Wanita itu berencana menghubungi suaminya.


Tuttt.... tutttt... tuuutttt...


Sedangkan itu, disisi lain...


Seorang pria muda berbadan kekar dan tampan sedang asyik mengendarai mobilnya bersama dengan seorang wanita cantik dengan lekuk tubuh bak gitar spanyol yang diduga adalah selingkuhannya.


"Sayang, kau terlihat cantik hari ini. Nanti malam, kita tidur di hotel lagi yuk," ajak pria itu.


"Memangnya, istri mas ga nyariin?" Tanya si pelakor.


"Hahaha. Mana mungkin dia nyariin. Kabarnya dia sekarang aja gimana aku ga tau." Pria itu tertawa lepas.


"Mas... Mas melakukan sesuatu kepada istri mas?" Tanya si pelakor.


"Kamu akan tahu nanti," ucapnya.


Tiba-tiba,  telepon dari pria tampan tersebut berdering. Terlihat nama "my istri" disana. Sontak, wajahnya pun berubah pias. Harapannya untuk menikahi sang kekasih gelapnya pun kini sirna.


Pria tampan itu tidak menjawab teleponnya, namun tidak juga menolak. Dia mengindahkan panggilan tersebut. Dibiarkanlah saja ponselnya tergeletak di dashboard mobil miliknya.


"Siapa itu mas? Kenapa tidak angkat?" Tanya si pelakor.


Si pria hanya menunjukkan ekspresi anehnya dan menyuruh selingkuhannya untuk melihatnya sendiri.


"My istri," gumam wanita itu saat membaca tulisan yang tertera disana.


"Aku tidak tahu keberuntungan apa yang dimiliki wanita itu, namun dia benar-benar beruntung. Sebaiknya, kita pergi makan dulu ke tempat biasanya sekalian kita mabuk sampai puas," ucap suami dari Lisa.


Beberapa saat kemudian...


Kriekkk...


Suara pintu cafe terbuka menyita perhatian Alex, Lisa dan Nero. Terutama Lisa saat mendengar suara yang benar-benar tak asing baginya. Kekehan itu, suara berat nan seksi miliknya, dia sama sekali tidak melupakannya.


Brakkk!!!


Lisa menggebrak mejanya dengan cukup keras. "Sial! Pria tidak berguna itu, dia berani-beraninya selingkuh di belakang aku? Mana mesra banget pula." Lisa benar-benar tidak terima diperlakukan seperti itu oleh suaminya.


"Aku tidak akan membiarkannya!" Serunya penuh emosi.


Saat Lisa akan melangkah menuju sana, tiba-tiba Alex menghadangnya dengan memegang tangan kanannya.


"Lepaskan!" Pekiknya.