I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 53



Setelah mengerti apa yang terjadi, Jessica dan Verrel saling bertatapan.


"Lex, maafkan kami telah salah. Kami pikir kau sudah tidak peduli dengan kami. Aku dan Jessica jadi ga enak hati karena sudah negative thinking sama kamu," ucap Verrel dengan kekehan malu-malunya.


Seruputan terakhir Alex nikmati perlahan sebelum dia menimpali pernyataan dari Verrel. Dia meletakkan cangkirnya tepat pada alas cangkir yang biasa disebut dengan lepek di daerah Jawa timur, Indonesia. "Tidak perlu terlalu sungkan atau tak enak hati. Sifatku memang jauh berbeda daripada dulu, namun aku masihlah Alex, sahabat kalian. Kalian adalah penyemangatku dan alasan utamaku masih dapat berdiri hari ini, menemukan jati diriku yang sesungguhnya."


Kata-kata Alex telah berhasil membuat Jessica dan Verrel tak sanggup berkata-kata.


"Ayolah, jangan terlalu sungkan. Kek ke siapa aja. Skuyy kita pelukan seperti dulu!" Alex melentangkan tangannya mengajak mereka berpelukan sama halnya dengan waktu mereka SMA dulu. Masa dimana kehidupan berjalan selaras, sebagaimana semestinya.


Mereka pun melepaskannya setelah puas berpelukan dan melanjutkan obrolan mereka yang sudah lama tertunda.


"Btw, Lex. Katanya lu kan ada misi di negara G. Apa itu?" Tanya Jessica sambil menyomot kentang goreng di depannya.


"Hanya misi kepentingan militer keluarga. Kau tahu kan aku dari keluarga kemiliteran. Tentu saja, aku harus hadir untuk mengemban misi penting, menggantikan Ayah. Lagipula, keberadaan paman Steve masih tidak diketahui. Kakek juga sudah tua, dia adalah veteran," jawab Alex.


"Aku tidak terlalu paham,namun apakah itu semua sudah rampung?" Tanya Verrel.


"Humm. Belum seratus persen, namun sepertinya sudah tidak ada masalah."


"Omong-omong, kalian apakah mau ikut aku ke markas yang dibangun oleh Ayah? Aku ingin berjumpa dengan Paman Louis dan Paman Jack."


"Boleh, boleh."


...*...*...


Segala urusan dan acara party untuk merayakan kepulangan Alex, kini mereka menuju ke markas utama keluarga Lachowicz seperti yang diminta oleh Alex.


Sesampainya disana, mereka disambut hangat oleh para saudara dari Alex serta Louis dan Jack yang senantiasa menunggu kepulangan mereka.


"Hai sobat," sapa Aron. Aron dan Louis serta Nero dan Jack berpelukan untuk salam ala mereka. Alex hanya bergeming melihat mereka yang nampak begitu senang saat bertemu satu sama lainnya.


"Salam kepada tuan muda." Jack dan Louis sedikit menundukkan kepala mereka saat Alex berjalan masuk ke dalam dengan diam tanpa kata.


"Tuan muda, apakah semua baik-baik saja?" Tanya Louis.


"Ya, seperti yang paman lihat," jawab Alex.


"Omong-omong, mumpung kalian semua berkumpul disini, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan untuk kalian. Jawablah dengan serius dan sesuai dengan apa yang kalian pikirkan dalam otak dan hati. Jangan merasa terpaksa atau dipaksa."


Alex mewanti-wanti mereka agar dikemudian hari tidak ada protes atau ucapan yang buruk mengenai Alex dimasa depan. Alex pun mengurangi resiko agar tak ada seorang pun dianggotanya yang mengkhianatinya mengingat salah seorang anggota dari geng berjubah hitam yang menaungi Steve yang tega memberitahukan keberadaan Steve dan Tuannya.


"Memangnya, apa yang ingin anda tanyakan? Coba tanyakan saja," ucap Louis menimpali pernyataan Alex.


"Jika aku membuka usaha, apakah kalian akan tetap setia disampingku dan bekerja untukku seperti saat ini? Ataukah kalian memilih untuk pergi dan tidak berurusan lagi denganku?" Tanya Alex membuat mereka terdiam sejenak. Bingung menjawab adalah suatu kepastian, namun kebingungan utama mereka adalah apa maksud dari ucapan Alex.


"Tunggu, tuan muda. Saya masih mencoba mencerna ucapan anda," timpal Louis.


"Aku akan berusaha tetap setia kepada tuan muda, namun tergantung apa dulu tujuan anda," jawab Jack.


"Bagaimana jika aku melakukan sesuatu yang ilegal? Maksudku, bisnis ilegal yang jelas saja merugikan negara. Paman Louis dan Paman Jack adalah orang kemiliteran, sedangkan Paman Aron sudah ikut Ayah begitu lama. Jiwa nasionalisme kalian pasti cukup tinggi. Untuk Nero, aku sudah tahu jawaban pastinya. Tapi bagaimana denganmu juga Verrel, Jes?" Tanya Alex kepada mereka satu persatu.


Mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama, saling menatap ke rekan-rekan seperjuangan mereka.


"Saya bersedia untuk mengikuti tuan muda asalkan itu tidak mengorbankan orang yang tidak bersalah," ucap Aron dengan lantangnya.


Kini tinggal mereka berempat yang masih nampak ragu dan takut.


"Uhmmm. Sepertinya, aku ikut paman Aron. Aku akan mengikutimu apapun keputusanmu. Aku akan mendukungmu selama itu tidak melibatkan banyak orang tidak bersalah," ucap Jessica yang masih nampak sedikit ragu. Verrel mengangguk setuju, "Kita adalah bestie. Harusnya kan kita bersama." Verrel merangkul Alex dan Jessica bersamaan. Kini, Alex menanti jawaban dari Jack dan Louis. Merupakan keputusan yang sungguh berat bagi mereka untuk memilih.


"Humm. Saya izin bertanya lagi," ucap Louis.


"Hum?"


"Mengapa anda memilih untuk berbisnis secara ilegal dibandingkan dengan yang legal? Sesuai jurusan anda ,harusnya anda bisa membuat bisnis bidang properti."


Inilah pertanyaan yang aku takutkan. Aku benar-benar bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan aku mengatakan ini adalah misi dari sistem? Lagipula, bagaimana aku mendapatkan untung yang banyak dengan menjalankan bisnis yang legal saja?~Batin Alex.


Ok, sepertinya aku punya ide.


"Aku tidak akan melibatkan orang tidak bersalah, ok? Aku juga tidak akan mengkhianati negara. Aku tidak akan membukanya disini. Lagipula, mengapa kalian tidak bertanya dulu usaha apa yang ingin ku buka," jawab Alex yang berusaha untuk tetap santai dan tenang.


"Benar juga. Lalu, apa yang ingin anda buka?"


"Pabrik produksi racun dan bahan kimia berbahaya lainnya," ucap Alex.


"Ha?!" Pekik mereka berlima bersamaan. Nero sudah menebak rencana Alex sedari awal.


Tch, memang Nero yang paling mengerti apa yang ada dalam pikiranku,~Batin Alex.


"Tunggu, tunggu. Tuan muda adalah seorang engineer dan seharusnya tuan muda berurusan dengan segala sesuatu yang menyangkut bidang konstruksi. Saya pikir anda akan menjadi seorang mafia tanah, sama halnya yang lagi viral itu," timpal Louis.


"Aku sudah mengatakan bila aku tidak akan melibatkan orang yang tidak bersalah. Bisa saja aku begitu, kekayaan keluargaku juga cukup untuk membeli sebagian tanah dan memanipulasinya. Namun, bagaimana caraku untuk tahu mereka baik atau jahat?" jawab Alex.


"Benar juga. Lantas, apa alasan anda memilihnya? Lalu, darimana tuan muda mempelajari ilmu racun itu? Bukankah itu lebih berbahaya dibandingkan jadi mafia tanah? Bahkan, beberapa racun bisa membunuh beberapa orang disekitarnya yang menghirupnya langsung tanpa pengaman apapun."