
Di Negara G...
Alex, Nero dan Aron sedang berada di sebuah kedai pinggir jalan di negara tersebut. Kedai kecil itu memang yang terlihat paling ramai disini.
"Aku sepertinya pernah makan disini..." Aron menilik ke arah sekitar, mengingat-ingat kapan ia kesini. Suasana dan model bangunan ini, dia ingat dengan jelas dia pernah kemari.
"Tuan muda, cobalah sup ayam restoran ini yang dipadukan dengan bebek panggang. Lalu, minumnya es santan. Aku jamin tuan muda pasti akan menyukainya." Aron memberikan jempol kepada Alex.
"Es santan? Aku baru mendengarnya. Bagaimana rasanya?" Tanya Alex.
"Benar, tuan Aron. Saya juga baru mendengar selama saya hidup dan menjadi prajurit geng yang dipimpin ketua Alex saat ini," timpal Nero.
"Rasanya itu perpaduan antara manis dan asin. Coba dulu saja, nanti pasti kalian ketagihan."
Alex baru melihat sisi Aron yang begitu semangat dan antusias. Dia mengangguk ke arahnya tanpa meresponnya begitu banyak. Aron pun memanggil seorang pelayan untuk melayani mereka. "Pelayan!"
"Iya tuan, tuan-tuan ini mau pesan apa?" Tanya pelayan tersebut. Dia menyiapkan senjata tempurnya, sebuah buku kecil dan pena di tangannya. Sedangkan buku menu bewarna hitam, ia serahkan kepada sang pelanggan.
"Sup ayam dan bebek panggang..." Aron menghentikan ucapannya. Pria itu melirik ke arah pria di hadapannya. "Tuan muda, Tuan Nero, kalian pesan apa?" Tanya Aron berbisik lirih.
"Kami mengikutimu saja. Pesan itu tiga," jawab Alex yang disahuti anggukan oleh Nero.
"Baiklah. Tiga nona. Minumnya es santan dengan sirup coco pandan juga tiga," ucap Aron memesan.
"Sebentar,nona. Saya tambah secangkir kopi. Jika bisa, tolong antarkan sekarang," ucap Alex.
"Baik para tuan. Silahkan menunggu." Pelayan itu akhirnya pergi dengan membawa secarik kertas pesanan mereka.
Beberapa saat kemudian...
Pelayan tersebut kembali dengan membawa kopi panas pesanan Alex. "Ini tuan, silahkan diminum," ucapnya.
"Baiklah, terimakasih."
"Baiklah, sekarang waktunya serius. Tuan Nero, sebenarnya anda siapa dan apa maksud anda dengan Tuan muda adalah pemimpin baru geng kalian? Geng apa?" Tanya Aron yang nampak mulai serius.
Paman Aron memang pandai dalam mengubah ekspresi,~Batin Alex sambil menyeruput kopi hitam pesanannya.
"Anda tidak perlu tahu. Jika saatnya tiba, ketua akan memberitahukannya sendiri. Kami tidak ada hak untuk memberitahukannya, kecuali atas izin ketua," jawab Nero tegas menolak.
Alex menyeruput kopinya sekali lagi sebelum meletakkannya di meja. "Jika aku memberitahu paman, apakah paman akan bercerita ke mama dan yang lainnya?" Tanya Alex.
"Rahasia kali ini harus dijaga. Takutnya ada orang yang sengaja mengincar dan mencari kelemahanku," lanjutnya.
"Anda mengenal saya dari lama. Tapi, jika tuan muda tidak ingin memberitahukannya kepada saya, baiklah saya akan terima keputusan anda."
"Terimakasih."
Tak berselang lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan minuman yang "katanya" adalah bonus dari setiap pelanggan yang pertama kali kesana.
"Permisi, tuan-tuan. Karena kami tidak pernah melihat kalian disini, maka kami beranggapan bila kalian baru pertama kali kemari. Seperti yang tertera pada banner kami..." pelayan itu menunjuk ke arah banner di depan kasir, "...maka kami memutuskan untuk memberikan sejumlah minuman terbaru kami. Jika anda mau pesan lagi, silahkan memesan nomor dua belas. Terimakasih."
Pelayan itu pergi meninggalkan meja milik mereka dengan tatapan yang aneh dan mengerikan. Wanita itu menyeringai sambil melirik samar ke arah mereka seakan memastikan bila Alex dan yang lainnya meminumnya.
Kalian sudah membunuh sebagian dari rekanku tim B. Kalian harus menanggung akibatnya. Karena kalian, aku jadi gagal balik ke negaraku,~Batin Pelayan itu.
Beberapa saat sebelumnya...
Seorang wanita cantik dengan mengenakan pakaian serba hitam bak pembunuh bayaran profesional versi wanita datang mengunjungi cafe kecil tersebut. Dia memasuki cafe dengan arogan, bahkan saat seorang pria tak sengaja menyenggolnya, dia malah menendang barangnya hingga tak sadarkan diri. Sungguh, wanita yang keji.
"Saya tidak peduli," ucapnya dingin.
"Katakan, apa yang bisa saya lakukan. Tapi, kumohon berhentilah." Pemilik cafe itu bahkan bersujud di hadapannya. Tentu saja, itu membuat wanita itu semakin tersanjung saja. Dia menikmati setiap pertunjukan yang ada, membiarkan pemilik cafe itu berlutut hingga kakinya mati rasa.
Jika bukan karena kekuatannya, mana sudi aku berlutut kepadanya,~Batin pemilik cafe.
"Baiklah, aku mau menyamar menjadi pelayan cafe. Aku akan membayar kalian setelah misiku berhasil," ucapnya.
...*...*...
Aron dan Nero nampaknya tengah asyik berbincang. Alex yang sedang tidak melakukan apa-apa pun hanya melihat mereka dan mendengarkan apa saja yang dibahas. Dia melirik ke arah segelas es jeruk segar di mejanya. Dia menyabetnya dan hampir saja meminumnya.
"Tuan muda, jangan!" Pekik seorang pria dalam sistem.
Alex menghentikan aktivitasnya dengan ekspresi kebingungan.
"Hum? Kenapa?"
"Ada racun disana. Seseorang dengan sengaja menaruh racun di dalamnya. Ingatkan Nero dan bawahanmu yang bernama Aron itu. Jika tidak, kalian akan tidur berkepanjangan, gila bahkan sampai meregang nyawa," ucap pria tersebut.
"Apa? Separah itu?" Pekik Alex dalam hati.
Alex melirik ke arah Nero dan Aron yang masih seru berbincang. Tanpa sadar, mereka mengambil es jeruk miliknya. Tanpa kata, Alex melempar dua buah jarum ke arah mereka dengan gaya bak dalam komik yang dia baca.
"Shhh. Sakit. Tuan, ketua, mengapa kalian melukai kami? Ada apa?" Tanya mereka berdua bersamaan.
Alex menyabetkan dua buah kartu ke arah mereka dengan sempurna. Satu menangkapnya dengan tangan kiri mereka, satunya lagi menangkap dengan mulut. Mereka pun membacanya dengan saksama, "Minuman itu beracun. Jangan diminum!"
Aron dan Nero menatap satu sama lain. "Terimakasih, tuan." Mereka sedikit membungkukkan badan mereka.
"Tuan muda," panggil Aron.
"Mhh?" Alex mengalihkan fokusnya kepada Aron.
"Bagaimana anda bisa menyadari bila es ini beracun? Nampak sama seperti es jeruk lainnya." Mata Aron menjelajah ke arah es jeruk di meja pengunjung cafe lainnya. Mata Alex pun mengikuti arah kedua bola mata Aron menatap. "Semua terlihat baik-baik saja."
"Seharusnya, mereka hanya mengincar kita bertiga," ucap Alex lirih.
"Lalu ketua, haruskah kita pindah ke cafe lainnya?" Tanya Nero.
"Tidak. Itu sama saja seperti kita menghindarinya," jawab Alex.
"Biarlah. Kita tetap disini dan memeriksa keadaan. Aku yakin jika mereka tidak akan memberikan apapun pada makanan kita," ucap Alex begitu yakin.
Beberapa saat kemudian..
Pelayan yang tadinya melayani mereka pun akhirnya tiba disana.
"Maaf ya tuan, kami menyajikan terlalu lama," ucap pelayan itu.
Wanita itu nampak polos dan tidak mengerti apapun disana. Alex memakannya dengan lahap, setelah dia tidak mendengar suara pria yang mengurus ruang dalam sistemnya.
"Huftt. Kenyang sekali," gumam Alex.
"Tuan muda, setelah ini kita akan kemana? Apa rencana kita selanjutnya? Mencari tuan Steve?" Tanya Aron.
"Tidak. Paman Steve akan muncul seiring dengan habisnya pembunuh bayaran yang ia sewa. Kita santai saja dulu dan temukan seseorang yang memberikan racun di jus jeruk kita kali ini,"jawab Alex.