I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 62



Sebuah racun telah berhasil Alex ciptakan. Mungkin ini akan menjadi perusahaan pertama yang memproduksi racun di negara P. Sebuah racun tanpa label itu siap untuk di pasarkan.


"Ketua, jika boleh tau, bagaimana anda akan menjualnya?" Tanya Osy.


"Mudah saja. Bukankah disini pasti ada data-data relasi?" Tanya Alex.


"Benar juga." Osy membuka berangkasnya. Dia melempar semua perkakas dalam laci pribadinya keluar.


"Osy! Osy! Kalau mengeluarkan sesuatu lihat-lihat lah. Bagaimana jika itu melukai saya?"


"Maaf, ketua. Ini adalah beberapa daftar relasi kita. Tapi, mayoritas berada di luar negeri, ketua."


"Itu mudah. Aku bisa minta izin atau apapun," jawab Alex.


Aku harus bisa mendapatkan kepercayaan mereka. Lumayan jika aku bisa membangun perusahaanku sendiri, bukan?~Batin Alex.


...*...*...


Beberapa hari kemudian...


"Huh, kebetulan sekali dapat libur. Bisa deh manfaatin ini ke negara M," gumam Alex.


Kali ini mereka semua mengetahui tentang liburan Alex ke negara M, namun Alex tidak memberitahukan spesifikasi untuk apa dia ke negara yang termasuk dalam daftar dengan jumlah mafia dan gangster terbanyak di dunia.


"Lex, kamu yakin akan pergi ke sana? Mama takut," ucap Athena.


"Mama jangan khawatir. Alex dapat cuti sekarang juga karena prestasi Alex, bukan? Lagipula ada paman Louis dan paman Aron yang akan mendampingi Alex," jawab Alex.


"Mama lupa bertanya. Dia siapa?" Tanya Athena sambil menunjuk ke arah Nero.


"Dia adalah Nero. Dia berasal dari Amerika latin dan dia adalah tangan kanan Alex. Kemampuannya juga tidak kalah dari paman Louis. Ya kan paman?"


"Benar nyonya. Nero ini sangat cekatan, bahkan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia. Nero ini dilatih langsung di bawah komando tuan muda, jadi anda tidak perlu khawatir dia akan berkhianat," timpal Louis.


"Baiklah jika kalian berkata demikian. Tapi, apa alasan kalian pergi ke sana?" Tanya Athena.


Alex melupakan untuk berpikir alasan yang logis untuk menjawab pertanyaan dari Athena.


Apa yang harus aku katakan? ~Batin Alex.


"Ini sudah menjadi kebiasaan kami setiap tahun, nyonya. Bersama dengan tuan Russel dulu, tuan Russel akan selalu melakukan pemenuhan dan pembelian persenjataan keluarga di negara M," ucap Aron yang menimpali pertanyaan Athena.


"Ohh. Pantas saja Russel dulu sering pergi. Baiklah kalau begitu. Jaga diri kalian baik-baik disana. Jika ada masalah, langsung telepon kami," ucap Athena.


"Tentu saja. Omong-omong, ini adalah token untuk memerintah para pasukan elite keluarga Lachowicz yang sudah dipersiapkan oleh tuan Russel kapan saja saat terjadi perang." Aron menyerahkan sebuah pelat kayu yang selalu dia bawa kemana-mana kepada Athena. Athena menerimanya dengan hati-hati. Sebelum Aron dan yang lainnya pergi, dia pun berpesan, " Nona, ingat jangan sampai diserahkan kepada siapapun. Jangan sampai siapapun tahu mengenai token ini. Akibatnya akan sangat mengerikan, tidak dapat dibayangkan."


"Baik, tuan Aron. Anda tidak perlu khawatir. Peninggalan Russel akan selalu ku jaga bahkan dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tidak akan menyerahkannya kepada siapapun. Kalian berhati-hatilah," ucap Athena sambil melambaikan tangan ke mereka berempat.


...*...*...


Beberapa jam kemudian...


Alex tertidur pulas dalam pesawat. Namun, pesawatnya telah tiba di bandara negara M.


"Tuan, tuan muda. Sudah sampai," ucap Aron membangunkan Alex.


Alex membuka matanya perlahan. Dia mengumpulkan nyawanya setelah sekian purnama dia tak dapat tidur dengan nyenyak.


"Ahh. Baiklah. Aku sudah lama tidak merasakan tidur dengan nyenyak," ucapnya.


"Tuan muda tak perlu membawanya. Biar aku, Nero dan Louis saja."


"Gak, gak perlu. Aku sudah besar dan aku bisa melakukannya sendiri."


Setelah serangkaian proses yang panjang sebelum keluar dari pesawat yang harus mereka lewati, kini Alex dan yang lainnya berdiri tepat di depan pintu keluar bandara. Mereka dapat bernafas lega setelah serangkaian bubuk terlarang itu berhasil lolos dari pemeriksaan petugas. Bagaimana caranya, hanya Alex yang mengerti. Hingga sebuah mobil hitam datang tepat di depan mereka. Alex yang awalnya tidak menggubrisnya, kini terpaksa harus menilik ke arahnya.


"Halo, tuan Alex. Apa kabar?" Sapa wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Lisa.


Alex membuka kaca matanya dan menatap dingin ke arahnya.


"Baik," jawabnya singkat.


"Kebetulan sekali kita bertemu disini. Bagaimana jika aku mengantar kalian? Bagaimana pun aku juga bukan baru disini," ucap Lisa menawarkan bantuan.


"Tidak perlu. Kami masih memiliki kemampuan untuk mencari taksi sendiri," jawab Alex tegas.


Jika boleh berkata jujur, Alex sebenarnya telah muak dengan wanita tidak tahu diri dan tidak tahu malu itu. Dia masih teringat kejadian waktu itu, kejadian yang berakibat fatal baginya. Kejadian saat dimana dia harus bertanggung jawab atas hal yang sama sekali tidak ia inginkan.


Lisa turun dari mobil mewahnya dan menghampiri Alex yang benar-benar sudah menekuk wajahnya itu. Lisa merangkulnya dan berkata, "Ayolah tuan muda Alex. Jangan merajuk." Lisa merengek di sampingnya.


"Apa maumu sebenarnya?" Tanya Alex.


"Mauku? Sederhana sekali. Aku ingin kamu memaafkanku dan kita menjadi teman baik. Bagaimana?" Ucap Lisa menawarkan pilihan.


"Tidak. Kau sudah menghancurkan semuanya. Menghancurkan hidupku bahkan prinsipku. Tidak, aku tidak ingin menerima orang sepertimu!" Seru Alex menolaknya.


"Paman Aron, Nero, Paman Louis. Mari kita pergi," ajak Alex kepada ketiga anak buahnya itu.


"Lex, apakah kau benar-benar tidak bisa memaafkanku? Katakan saja padaku, apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa mendapatkan maaf darimu?!" Seru Lisa bertanya kepada Alex yang berjalan semakin menjauh.


"Menjauhlah dariku atau tidak, tunjukkan padaku jika kamu memang berguna bagiku dan timku, aku akan mempertimbangkannya," jawab Alex sambil berlalu pergi.


Tunggu saja,Alex. Aku akan membuatmu memujiku di depan semua orang. Sampai disaat dimana aku bahkan bisa menguasaImu dan memilikimu sepenuhnya,~Batin Lisa.


Lisa kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat. Sedangkan Alex dan yang lainnya masih kebingungan mencari tempat untuk mereka singgah.


"Tuan muda, dimanakah kita akan menginap malam ini?" Tanya Louis.


"Aku sering ke sini. Hotel XXYZ itu sepertinya sangat nyaman. Terdapat ruang VVIP yang luas dan besar. Terdapat pula paviliun khusus jika anda tidak mau diganggu," ucap Aron merekomendasikan hotel tempat dirinya dan Russel biasanya singgah.


"Hum, boleh juga tuh. Kita sewa satu paviliun saja. Nanti kita patungan," ucap Louis memberikan saran.


"Bagaimana tuan muda?" Tanya Louis.


"Gak. Ga perlu patungan. Kita gunakan saja bonusku memecakan kasus abadi jtu untuk menginap. Bagaimanapun akulah yang mengajak kalian," jawab Alex.


"Tuan muda bahkan belum merasakannya. Kami tidak bisa menerimanya," ucap Aron.


"Benar, ketua. Kami sungkan."


"Begini saja. Biar aku yang menyewa paviliun, kalian yang patungan membeli makan, bagaimana?" Tanya Alex memberikan idenya.


"Humm. Sepertinya bagus juga. Ok deal."


Mereka berembat saling menjabat tangan setuju atas usulan Alex. Setelah mendapatkan taksi, mereka pun langsung menuju hotel yang Aron maksudkan.