I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 67



"Pak tua, lihatlah aksiku!" Seru Alex dari kejauhan.


Michael mengangkat tangannya memberi isyarat. Ivan yang melihatnya pun langsung melepaskan sepuluh ekor elang dan sepuluh buah balon secara bersamaan. Namun, tanpa di duga, seseorang melemparkan beberapa bola disana dan mengganggu jarak pandang Alex yang sudah siap untuk menembak.


"Kau benar-benar licik, Pak tua! Tapi tak apa, aku bisa mengatasinya," Ucapnya.


"Sejak kapan kau memanggilku pak tua? Apakah tidak takut aku mem-blacklist mu?" Tanya Michael.


"Haha. Jika kau melihat kemampuanku, aku yakin kau tidak akan pernah melewatkan kesempatan ini. Bukalah mata tuamu baik-baik!" Alex pun berseru.


Dorrr....


Satu peluru telah Alex tembakkan disana, disusul dengan peluru lainnya yang begitu cepat. Tak butuh waktu lama, hanya butuh waktu sepuluh detik untuk menyelesaikan semuanya tanpa ada satu peluru pun meleset. Michael yang awalnya menikmati sebotoh wine miliknya pun tercengang bukan main. Dia memelototkan matanya hingga seperti hampir tercopot dari tubuhnya. Tanpa sadar, Michael berdiri dan mendekat ke arah Alex seraya memberika applous untuk pria itu.


"Wow! Wow! Wow! Spektakuler!" Seru Michael dengan mata berbinar layaknya menemukan sebuah harta karun.


"Kau benar-benar keren,Alex. Kau... Andai saja kau anakku. Tapi, sepertinya menjodohkanmu dengan anak gadisku adalah hal yang menguntungkan hahaha." Gelagar tawa Michael memenuhi lapangan yang membentang luas tersebut.


"Baiklah. Kau memang benar-benar layak mendapatkan apresiasi dariku. Aku menerima tawaranmu," ucap Michael.


"Terimakasih."


...*...*...


Alex kembali ke kamarnya di sebuah hotel mewah dekat sana. Alex kini dapat bernafas lega setelah dia mampu mendapatkan setidaknya sepuluh orang pertama yang akan menjadi konsumen utamanya. Tak tanggung-tanggung, walau mereka hanya sepuluh,namun Alex memilih geng yang besar dan paling berpengaruh disana.


"Hahaha. Apa yang sudah ku katakan? Kita pasti berhasil," ucap Alex.


"Tuan muda, apakah anda yakin mereka tidak akan menyakiti orang tidak bersalah? Apakah anda yakin anda bisa berkembang? Ingatlah, ini adalah bisnis ilegal dan yang pasti reputasi anda akan hancur jika sampai ketahuan," ucap Louis mewanti-wanti.


"Paman tenang saja. Aku akan mengatasinya," ucap Alex tenang.


Beberapa tahun kemudian...


Kini Alex telah menjadi seseorang yang sukses. Bukan hanya dalam kemiliteran, namun juga terkait dengan bisnis. Alex merintis bisnis propertinya beberapa bulan setelah bisnis ilegalnya berjalan dengan lancar. Kini, dia bahkan dapat membeli rumahnya sendiri dan membangunnya, bahkan lebih bagus dibandingkan dengan kediaman lamanya.


Alex bukanlah tipe pria yang akan melupakan temannya setelah kesuksesan yang dia alami. Alex bahkan memberi pekerjaan yang layak untuk kedua rekannya setelah lulus kuliah. Tentu saja sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.


"Puhh, lu keren,Lex," ucap Verrel.


"Oh ya, lu nanti ada jadwal meeting. Bisa kan ya?" Tanya Verrel.


"Hum, sepertinya bisa. Di kantor pusat militer lagi ga ada job. Aku bosan disana."


Untungnya, tidak ada larangan bagi anggota militer negara P untuk membangun bisnisnya. Alex dapat bernafas lega setelah semua keinginannya terpenuhi. Tidak, dia masih belum membalaskan dendam ayahnya. Dia bahkan kehilangan jejak keberadaan Steve saat ini.


...*...*...


Sepulang bekerja, Alex mengajak Verrel dan Jessica untuk mampir ke rumahnya. Seperti biasa, Jessica dan Verrel berlalu lalang di kediamannya tanpa ada rasa takut maupun canggung.


"Lex, gue ke kamar mandi dulu ya," pamit Verrel.


"Hum. Jangan nyasar lagi!" Seru Alex.


"Tau aja gue pelupa hehe," timpal Verrel.


Kini tinggallah mereka berdua, Alex dengan Jessica yang hanya terdiam seribu bahasa. Jessica nampak gelisah layaknya ingin mengucapkan sesuatu. Alex menyadari seseorang disebelahnya itu kaki dan tangannya tak dapat terdiam.


"Jes, lu gapapa kan?" Tanya Alex.


"Lex, ada sesuatu yang ingin gue obrolin ke lu," ucap Jessica yang akhirnya memberanikan diri.


"Hum? Apa itu?" Tanya Alex.


Jessica menatap wajah tampan milik Alex. Jantungnya berdetak kencang. Sesekali, dia meneguk air liur yang telah berkumpul di dalam mulutnya.


Jessica mulai mengumpulkan niatnya. Ini mungkin akan menjadi yang kedua kalinya atau mungkin ketiga dia menyatakan pernyataannya pada Alex, pria polos dengan sejuta kehebatannya. Jessica menyabet tangan Alex yang pria itu letakkan di samping ranjangnya.


Apa yang dia ingin lakukan dengan tanganku?~Batin Alex.


Alex menatap Jessica dengan ekspresi bingung.


"Lex, kupikir ini adalah saatnya. Dulu, aku pernah mengatakannya, tapi ada Vieka. Kau sama sekali tidak menggubrisku dan malah..."


"Jangan membahasnya lagi!" Seru Alex memotong ucapan Jessica.


"Okay, maaf. Tapi, aku ingin mengatakan kalau aku..." Jessica berhenti sejenak. Wajah Alex yang nampak bingung dan penasaran, seketika berubah menjadi kesal. Jessica hampir saja mengurungkan niatnya, namun Alex yang tersadar pun akhirnya pun meregangkan otot wajahnya yang semulanya telah kaku.


"Bicaralah. Maafkan aku sudah membentakmu tadi. Aku adalah temanmu, jangan sungkan." Alex menepuk pundak Jessica pelan.


"Apakah aku hanya sekadar teman bagimu?"


"Hum. Mungkin kakak. Apalagi?"


"Tapi, aku ingin lebih dari itu," ucap Jessica yang masih berbelit-belit dengan ucapannya.


"To the point saja. Apa maksudmu?" Tanya Alex yang juga sudah mulai nampak kesal.


"Aku suka sama kamu,Lex!" Seru Jessica yang akhirnya dapat mengeluarkan isi hatinya.


Sayangnya, ungkapan tersebut di dengar oleh Verrel. Verrel melihat Jessica menggenggam tangan Alex. Verrel tersenyum kepada mereka saat mereka berdua bebarengan menoleh ke arah Verrel.


"Ehh, aku ganggu ya? Maaf, maaf." Suara Verrel terdengar begitu berat dan menyesakkan. Alex menyadari sesuatu bila rekannya itu sudah lama mengincar wanita yang ada di hadapannya. Sontak, Alex berdiri dan melepaskan tangan Jessica.


"Tunggu," ucap Alex sembarh memegangi tangan Verrel yang hampir berlalu.


"Aku ingin kamu mendengar jawabanku." Alex menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. Sesekali pria berambut pirang itu melirik ke arah dua sahabatnya yang sedang terjebak cinta segitiga diantara mereka.


"Jes, maafkan aku. Tapi lihatlah dia." Alex mengirimkan kode mengarah ke Verrel. Jessica pun mengikuti arah Alex memandang, "Aku bukan lagi Alex yang dulu. Jika kamu bersamaku, akan sangat tidak adil saat kamu bahkan tidak dapat memiliki hatiku. Kau tahu sendiri bukan betapa berbahayanya terus berada di sampingku?"


Jessica menatap Alex lekat dengan air mata yang telah menggenang disana. "Kalian terluka karenaku. Bukan maksudku menjauhi kalian, tapi aku bukan lagi Alex yang kalian kenal. Aku tidak ingin mengorbankan kalian. Namun..."


Alex mengambil tangan Jessica dan Verrel secara bersamaan. Pria tampan itu menggenggamkan tangan kedua sahabatnya, menyatukan mereka, "Kalian cocok. Ingatlah,Jes. Lebih baik kita memilih untuk bersama seseorang yang sangat mencintai kita bukan yang kita cintai. Kita bisa belajar mencintainya bersama, seiring berjalannya waktu, cinta kalian akan tumbuh."


Verrel dan Jessica tercengang dengan tindakan Alex yang tiba-tiba. Mereka berdua pun saling bertatapan. "Baiklah, jika kalian terus bertatap-tatapan, perutku akan lapar dan keroncongan. Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku pergi dulu." Alex berpamitan kepada mereka yang masih terpaku disana. Alex menutup pintunya dengan rapat dan menoleh ke belakang dengan senyumnya yang begitu indah.


Semoga kalian bahagia tanpa hadirku,~Batin Alex sembari berlalu pergi.