
Alex berbaring di atas daybed luar ruangan yang berbahan dasar rotan sintetis bewarna perpaduan antara hitam dan putih yang sungguh elegant. Dia nampak nyaman berbaring disana dengan pemandangan kolam yang begitu cantik serta taman yang sengaja dibuat oleh Russel untuk Athena dulu. Taman bunga bewarna warni menyejukkan matanya. Dia sedikit membuka penutup atas daybed miliknya dan berjemur dengan kacamata hitam untuk menutupi silaunya sinar matahari.
"Hai,Lex. Boleh aku gabung?" Suara seorang wanita yang berdiri di hadapannya dengan bayangan yang mampu menutupi sinar mentari pagi yang cerah. Wanita itu berhasil membuat Alex membenarkan posisinya juga menaruh kacamatanya di atas kepala.
"Hai,Jes. Ada apa?" Tanya Alex.
"Kau berubah." Kalimat pertama yang diucapkan Jessica setelah sapaan, membuat Alex kebingungan dengan maksud dari sahabatnya itu.
"Berubah?" Tanya Alex.
"Ya."
"Kenapa?"
"Ada suatu hal yang tidak bisa aku katakan padamu saat ini. Btw, bagaimana kondisimu? Sudah membaik?" Ucapan Alex terasa begitu formal dan tidak seperti dia yang biasanya.
"Aku baik," jawab Jessica singkat.
Apakah sudah saatnya aku mengungkapkan? Tidak, tidak seharusnya. Aku harus menyimpannya diam-diam,~Batin Jessica.
"Aku harus jadi orang sukses dulu," gumam Jessica yang tanpa sadar terdengar oleh Alex.
...*...*...
Beberapa saat kemudian...
Untuk merayakan kepulangan Alex serta bebasnya Jessica dan Verrel dari tangan penjahat itu.
"Lex, kamu sudah siap?" Tanya Verrel.
"Sudah, sudah. Tapi, tunggu sebentar," ucap Alex.
Alex teringat dengan bonus yang baru saja dia dapatkan dari misi yang ia selesaikan dari sistem. Dia teringat dengan sebuah ramuan misterius juga cara penyembuhan serta pengolahan racun.
Apa aku bisa mencobanya? Kasihan Jessica jika melihatnya begitu. Keistimewaan wanita terletak pada paras cantiknya. Dia pasti minder,~Batin Alex.
Alex memencet tombol itu kembali untuk masuk ke dalam sistem.
"Welcome,ketua. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanya Osy saat melihat Alex tiba disana.
"Bukankah aku masih memiliki beberapa ramuan ajaib dan buku panduan untuk membuat racun dan menyembuhkan segala penyakit?" Tanya Alex kembali.
"Benar, namun untuk apa ketua?"
"Untuk menyembuhkan luka temanku. Dia sepertinya memiliki masalah pada tulang pipinya. Semua itu karenaku," jawab Alex.
"Jangan menyalahkan diri anda sendiri,ketua. Itu tidak cocok untuk sifat dari seorang pemimpin. Cobalah beberapa cara di buku panduan itu. Semoga saja anda menemukan caranya." Osy memberikan buku yang dia keluarkan entah darimana. Alex membacanya secara singkat dan merasa buku itu patut dicoba.
"Baiklah. Thanks Osy," ucap Alex.
"Btw, tolong kembalikan jiwaku ke ragaku lagi. Mereka pasti menungguku," lanjutnya.
"Baik,ketua."
...*...*...
Alex telah kembali ke raganya. Dia tersadar dengan buku ditangannya. Kemampuan membaca buku dengan cepat miliknya, dia terapkan saat ini. Itu sungguh berguna. Alex mampu membuat beberapa jenis obat untuk kesembuhan Jessica. Setidaknya, luka luarnya untuk sementara.
"Jes,"panggil Alex saat selesai membuat ramuan obat.
"Hum?"
"Kemarilah." Alex melambai kepadanya. Jessica pun menghampiri Alex. Wanita dengan raut wajah cantik sebelum diculik itu, kini menutupi wajahnya dengan masker, tidak dibuka selama beberapa jam. Terutama saat di depan Alex.
"Ada apa?"
"Bukalah maskermu!" Perintah Alex.
"Ha? Untuk apa?" Tanya Jessica.
"Ok lah."
Proses penyembuhan pun dilakukan. Alex mengikuti setiap langkah yang dituliskan pada buku pedoman tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, wajah Jessica perlahan mulai menunjukkan pancaran sinarnya. Jessica bahkan dua kali lebih cantik dibandingkan dengan sebelumnya, walau tulang pipinya belum pulih sepenuhnya.
"Sekarang buka matamu dan lihatlah ke arah cermin ini." Hal pertama yang disuguhkan saat Jessica membuka matanya adalah wajahnya yang nampak begitu cerah dan cantik, lebih dari sebelumnya.
"Wow, Lex. Ini gue?" Tanya Jessica tidak percaya.
"Lu pikir?"
"Gila! Lu pake metode apaan? Sumpah sih ini gila banget. Gue jadi tambah cantik dong," ucap Jessica kegirangan.
"Huwahhh makasih Alex sayang. Muach." Jessica mengecup pipi sebelah kanan Alex. Alex tersipu dan tersenyum setelahnya.
"Ahem, berduaan aja. Seru banget kayaknya." Verrel masuk ke dalam kamar pribadi Alex dan bergabung dengan mereka. Jessica yang awalnya memunggungi pintu masuk, kini dia menoleh ke arah datangnya suara tersebut.
"Rel, lihat wajah gue!" Pekik Jessica kegirangan sambil menunjukkan wajah barunya.
"Wihhh gila! Jes, lu kok jadi cantik banget. Padahal sebelumnya lu dekil banget kayak pedagang cabe di pasar negara wakanda," ucap Verrel memuji sekaligus sedikit sarkas kepada wanita itu.
"Apa maksud lu hah?"
"Udah-udah. Aku kawinin nanti kalian berdua lama-lama. Biar aja rumah kalian hancur, rata dengan tanah!" Seru Alex gemas dengan kelakuan mereka berdua.
"Tapi, Lex. Lu... Sumpah lu berubah. Kenapa lu ga buka aja klinik kecantikan atau untuk membuat tampan seseorang?" Tanya Verrel memberikan masukan.
Alex berpikir sejenak, "Sepertinya bagus tuh."
"Pantes sih lu ganteng. Btw, Lex. Boleh kan ya lu ubah gue jadi lebih tampan? Gue bosen jomblo mulu," curhat Verrel.
"Anda pikir saya sudah punya pasangan? Ayolah, bahkan tak ada seorang wanita pun yang mendekatiku, Rel."
"Tch, lu jangan terlalu merendah."
"Ok lah ok. Nanti ya setelah kita party. Btw, jadi ga nih berangkat?"
"Jadi dong."
...*...*...
Tiga serangkai itu melenggang menuju ke dalam mall besar di hadapan mereka. Dengan outfit yang serba modern, diimbangi dengan kacamata hitam yang membuat aura maskulin dan keren mereka terasa begitu nyata. Banyak orang melihat ke arah mereka, terutama Alex yang berhasil menjadi pusat perhatian semua wanita. Walau tak jarang juga yang melihat Verrel disampingnya.
"Lex, sepertinya pengobatan lu sungguh manjur. Gue diliatin banyak orang dong," ucap Verrel percaya diri.
"Cihh, banyakan juga yang ngeliatin Alex. Lu mah ga ada apa-apanya."
"Kali-kali gitu kek jangan matahin harapan gue."
"Iya deh iya. Si paling tamvan."
Beberapa wanita nampak sedang mengerubuti Alex dan Verrel. Mereka datang hanya sekadar untuk mengobrol bahkan meminta nomor ponsel. Hal tersebut tentu saja dialami pula oleh Jessica.
"Hai,tampan. Boleh tahu namanya?" Tanya Seorang wanita genit kepada Alex.
Alex tak menggubrisnya. Dia masih tetap jalan lurus dan menatap ke arah tujuannya. Beberapa dari wanita bahkan menarik tangannya dan menempel padanya. Lama kelamaan, Alex merasa semakin jengah. Pria itu mendengus kesal seraya berkata, "Enyahlah jika kalian masih sayang nyawa kalian!"
Sontak, hal tersebut membuat Verrel dan Jessica terperangah melihatnya. Alex berubah menjadi seseorang yang jauh lebih kasar.
"Cihh, dulu semua orang menjauhiku tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang, mereka malah mendekatiku karena ketampananku? Benar-benar orang munafik," cibir Alex.
Alex pergi ke sebuah kedai coffee favorite mereka bertiga. Dia sesegera mungkin menyuruh pelayan kedai kopi tersebut untuk mengosongkan seisi ruangan untuk dirinya dan kedua rekannya.
"Kosongkan semua segera! Plakkk!" Alex meletakkan segebok uang tunai yang entah berapa jumlahnya. Mata para karyawan itu mulai berbinar.
"Baik, tuan muda."