I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 37



"Nona, tuan, silahkan pesan," ucap bartender tersebut seraya memberikan sejumlah daftar menu kepada mereka.


"Margarita satu." Lisa memesan tanpa ragu seakan dia sudah terbiasa untuk datang kemari.


"Saya Long Island Iced Tea. Bagaimana dengan ketua?" Tanya Nero.


"Aku..." Alex terdiam beberapa saat. Dia benar-benar tidak mengerti dengan semua minuman dalam menu tersebut. Ingin rasanya dia mencari tahu di web, namun dia gengsi dan malu. Ini adalah kali pertama Alex datang ke bar.


"Ketua, kenapa?" Tanya Nero berbisik lirih.


"Aku tidak mengerti semua ini. Bisakah kau memesankan satu untukku?" Tanya Alex.


"Boleh saja. Jika anda suka dengan es teh dan limun, saya sarankan untuk memgambil Arnold Palmer," ucap Nero.


"Itu juga boleh. Selama tidak beralkohol, aku akan mengambilnya," ucap Alex.


"Baiklah, sudah diputuskan. Satu Margarita, satu long Island Iced tea dan Arnold Palmer. Ini uangnya dan sedikit catatan untuk minuman saya," ucap Lisa memberikan uang dengan secarik kertas kecil yang ia selipkan di dalamnya. Kertas yang berisikan tulisan dan juga obat perangsang yang entah untuk apa.


"Baik, nona, tuan, kalian tunggu sejenak."


Bartender itu berlalu pergi untuk melayani pesanan mereka. Pria itu membuka kertas kecil yang diberikan Lisa padanya. Terdapat sebuah bubuk putih di dalam kertas yang bertuliskan, "Campurlah bubuk ini ke dalam minuman Arnold Palmer. Jangan sampai salah. Aku sudah memberikan uang tips untukmu."


Pria itu kebingungan, namun dia juga kegirangan dengan mendapat sejumlah uang secara cuma-cuma. Dia sesegera mungkin melakukan perintahnya dan menghafalnya dengan saksama. Pasalnya, warna dari mereka pun hampir sama.


Beberapa saat kemudian...


Minuman mereka bertiga telah datang tepat di depan mereka. Seorang gadis cantik, sang ikon bar nampak sudah memulai aksinya. Dia melakukan tarian yang dapat memukau semua orang, namun tidak dengan Alex. Dia terlihat begitu santai dan menikmati minumannya sendiri. Efek obat yang diberikan oleh Lisa masihlah belum bekerja.


Lisa sesekali melirik Alex yang fokus pada minuman serta ponselnya. Sudah lama sejak ia tiba disana, dia tidak pernah memainkan ponselnya. Beragam pesan dari sosial media miliknya masuk secara bergantian. Telepon tak terjawab hingga pesan berjumlah lebih dari 999 tertulis disana.


"Mama? Astaga, aku tidak pernah menyangka mama akan menghubungiku sebanyak ini," gumam Alex.


Alex langsung meletakkan minumannya dan menelepon kembali ibundanya. Sedangkan Athena saat ini sedang perjalanan menuju ke markas utama tempat pelatihan Alex sebelumnya untuk menanyakan kabar Alex kepada Louis dan Jack disana.


Athena berhenti sejenak saat mendengar suara ponselnya berdering. Dia sesegera mungkin membukanya dan betapa senang hatinya saat buah hati yang selama ini ia sia-siakan, buah hatinya yang dia kira sudah tidak peduli bahkan akan membencinya pun akhirnya meneleponnya.


"Alex?" Gumamnya.


Athena sesegera mungkin mengangkatnya.


"Halo,sayang," sapa Athena.


"Hai,ma. Maaf Alex baru bisa hubungi mama," ucap Alex.


"Tapi, Alex baik-baik saja,bukan? Mengapa sangat ramai?" Tanya Athena.


"Baiklah, lalu apa yang sebenarnya kamu lakukan disana?" Tanya Athena.


Alex terdiam sejenak. Dia benar-benar tidak mungkin memberitahukan maksud dan tujuannya,karena ia yakin ibundanya pasti akan sangat marah. Terlebih lagi, Athena pernah memiliki hubungan gelap dengan pamannya sebelumnya. Alex benar-benar tidak pernah bisa melupakan kejadian hari itu.


"Aku... Aku hanya mendapat tugas dadakan. Bukankah paman Louis dan paman Jack sudah memberitahukan kepada mama?"


"Sudah, tapi mama tidak lega jika belum kamu sendiri yang berbicara. Jika begitu, baiklah. Berhati-hatilah disana," ucap Athena.


"Hum, siap bos!"


Alex mengakhiri percakapan diantara mereka. Dia kembali meneguk minuman yang telah dipesannya. Saat tegukan terakhir telah mengalir lembut di kerongkongannya, tiba-tiba dia merasakan hal yang tidak biasa pada tubuhnya.


Kenapa ini? Kenapa panas sekali? Apakah memang di bar itu panas karena penuh dengan dosa?~Batin Alex.


Alex beberapa kali nampak mengipasi dirinya dengan tangannya sendiri. Dia juga mulai membuka kancing teratas pada kemejanya, lalu mengipas-kipaskan kemejanya agar angin masuk hingga ke dalam. Nafasnya pun mulai memburu, wajahnya pun memerah. Namun, dia tampak normal. Sama halnya dengan Lisa, dia terlihat sudah mulai mabuk dan berbicara melantur, semua hal dia katakan dan itu sama sekali tidak masuk akal.


"Ahahaha. Bodoh! Aku begitu bodoh! Lihat pria yang ada disana." Lisa mulai menunjuk kearah pria dengan beberapa wanita di hadapannya. "Pasti pria itu telah beristri. Istrinya bodoh, bisa memercayai pria sepertinya. Sama sepertiku."


Dia terus menerus mengumpat pada dirinya sendiri. Hal yang membuatnya semakin brutal adalah saat dia melihat suaminya berada disana dengan wanita selingkuhan yang ia temui tadi di bawah. Samar terdengar pria itu sedang memesan bir dengan kadar alkohol yang cukup tinggi dan tak lupa menyewa sebuah kamar VIP yang telah lengkap dengan fasilitad karaokenya.


"Haha, Lihatlah mas Bram. Dia begitu senang menikmati uangku. Aku harus menghampirinya." Alex menarik tangannya dengan sisa tenaga yang ia punya. Wanita itu terhuyung dan terjatuh dengan dadanya yang tepat di wajah Alex. Alex hampir saja menggila, namun dia menggigit bibirnya agar tersadar. Wanita itu semakin membuatnya kehilangan kesabaran. Lisa malah naik pada pangkuannya. Nero hanya terdiam, temenggengan atau terpaku kata orang-orang. Dia tidak dapat berkata-kata.


"A-apa yang kamu lakukan? Cepat menyingkirlah!" Pekik Alex mencoba menyadarkan wanita yang nekad duduk pada pangkuannya.


Miliknya mulai menegang, namun tetap dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Tidak, dia bahkan tidak pernah melakukannya sebelumnya. Dia berusaha untuk tidak menodai orang lain maupun dirinya.


"Kau begitu tampan. Kau harus menjadi milikku,sayang," ucap Lisa yang semakin mabuk.


Dia mencoba untuk mengecup leher Alex. Alex semakin kelabakan dibuatnya. Namun, dia masih sadar sepenuhnya.


"Cukup! Lisa, kau memiliki suami. Sadarlah!" Seru Alex. Alex membanting Lisa ke sofa yang ada disebelahnya. Dia berdiri tegak dan menggendong Lisa untuk keluar dari bar yang sudah seperti neraka baginya.


"Nero, bayar semua tagihan. Aku akan mengantar Lisa pulang. Kau langsung saja datang menemui Aron. Bilang aku mengantarkan seorang wanita gila ke rumahnya!" Titah Alex.


"Baik, tuan muda."


...*...*...


Alex telah tiba di apartment milik Lisa. Dia sempat membaca biodata Lisa sebelum memutuskan untuk sepenuhnya membantunya. Dia sudah mengetahui semuanya. Alex membaringkan Lisa pada tempat tidurnya dan menyelimutinya dengan benar. Sayangnya, Lisa malah menyibakkannya dan malah menarik-narik bajunya layaknya seorang zalang yang sedang beraksi untuk tuannya. Wajah Alex mulai memerah. Dia sesekali meneguk air liurnya dan berusaha keras memalingkan wajahnya. Dia membalikkan badan dan bermaksud meninggalkan Lisa disana, namun tangan Lisa menggenggam tangannya lagi dan membuatnya terhuyung jatuh dalam pelukan wanita rubah itu.


"Kau akan menjadi milikku. Aku menyukaimu, aku tertarik padamu, Alex ku sayang," ucap Lisa menggoda Alex.


Lisa semakin yakin bila tujuannya untuk memiliki Alex sepenuhnya akan berjalan dengan lancar.