I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 21



Bukannya melepaskan pria di tangannya, Alex malah melebarkan pedangnya ke samping.


"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Wakil komandan mereka dengan suara gemetar ketakutan.


Srakkk... crooottt...


Darah segar memancar dari leher yang tersayat oleh pedang tajam milik Alex. Aron yang sedari tadi menunggu aba-aba hanya dapat memegangi senapannya dengan tangan gemetar. Wajah Alex bersimbah darah, bajunya pun ikut basah bewarna merah lekat, berbau anyir darah. Namun, Alex terlihat begitu menikmatinya.


"Ups, maaf. Aku tidak hati-hati memegang pedang." Alex berakting untuk semakin menginjak mereka. "Nih, wakil komandan kalian." Alex melemparkan jasad di tangannya selayaknya dia melempar kantong sampah.


Beberapa anak buah yang tak tersisa banyak hanya dapat berdiri ketakutan, bahkan ada yang kencing di celana. Salah seorang pria mengawali segalanya. Dia berlutut dan memohon ampunan pada si Api pembakar singa. Julukan yang sebentar lagi akan disematkan untuk Alex akibat kekejamannya.


"No, no. Aku sudah memberi kalian kesempatan. Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua." Alex berjalan mengelilingi mereka yang bersujud. Tersisa seorang pria yang diam-diam kabur dari sana. Alex tengah lengah, begitupun dengan Aron. Tanpa Alex sadari, pria itu telah berada di atas sana sambil menyekap Aron yang masih memegang senapannya.


"Hahahaha. Jika kau berani membunuh rekan-rekanku atau memaksa mereka, aku akan membunuhnya," ucap pria yang menyekap Aron.


Sial! Bagaimana mungkin aku bisa begitu ceroboh? Bagaimana ini?~Batin Alex.


"Tuan muda, jangan pedulikan aku. Jika tidak membunuh mereka, kita akan selalu dihinggapi rasa khawatir. Aku ada cara untuk melepaskan diriku!" Teriak Aron dari belakang.


"Cobalah kalau bisa," bisik pria itu kepada Aron.


Pria itu menggores leher Aron hingga darah pada lehernya pun mulai mengalir.


"Kamu! Berani ya kamu!" Pekik Alex.


"Baiklah, aku akan menuruti permainanmu," ucap Alex.


Alex mulai bersiul untuk memanggil anak buahnya, Nero. Pria yang kini menjadi tangan kanan Alex dalam masalah geng yang dia miliki saat ini. Nero telah berada di belakang pria yang tengah menyekap Alex itu.


"Hahaha. Apa kau takut kehilangan pria ini hingga menjadi gila? Siapa yang kamu panggil? Ini di luar negeri terlebih lagi, sekarang kita berada di gang sempit. Jangan mimpi kamu!" Seru pria itu.


Alex hanya menanggapinya dengan senyum liciknya. Dengan satu lambaian tangan di lehernya, memerintahkan untuk menyabet leher pria itu, Alex berhasil membunuhnya dengan sempurna.


"Aku bukanlah kalian yang hanya bisa bercakap besar. Mengalahkanku? Bahkan, menyentuh seujung kuku ku pun kalian tak sanggup," ucap Alex arogan.


"Paman Aron, Nero, bunuh mereka!" Titah Alex.


"Baik, tuan muda."


"Kau akan menyesal! Tuan yang membayar kami akan membunuhmu cepat atau lambat!" Pekik pria itu.


"Tch, sudah mau mati banyak bac*t pula." Alex menutupi telinganya dengan tangannya. Dia begitu acuh, persis seperti Russel saat memimpin kala itu.


"Jika mereka memiliki keberanian, sampaikan pesanku. Aku menunggu mereka kapan saja." Alex menoleh ke arahnya dengan tatapan super dingin. Dia mengetahui dengan jelas bila seseorang pasti memasangkan kamera di setiap badan para pembunuh bayaran tersebut.


Alex pergi dari sana setelah puas berucap. Dia hanya menikmatinya dari kejauhan dengan tangannya yang ia silangkan di belakang. Cukup sudah tangan dan tubuhnya kotor hari ini. Samar ia mendengar suara dari salah satu anggota pembunuh bayaran itu bersuara.


"Aku akan membalasmu di kehidupanku selanjutnya..."


huft, hampir saja aku lupa bila aku masih memiliki Nero dan rekan-rekannya.~Batin Alex


...*...*...


Disisi lain...


Verrel dan Jessica berangkat bersama seperti biasanya. Hanya saja, hari ini dia tidak melihat sahabat kesayangannya yang satu itu.


"Tumbenan sampai sekarang Alex ga keliatan batang hidungnya," gumam Jessica yang masih dapat di dengar jelas oleh Verrel.


Jessica menenteng tasnya selayaknya seorang pria. Wanita tomboy itu, melirik ke arah sekitar,namun tak kunjung jua ia menemukan keberadaan sang pujaan hatinya.


"Bener juga. Kemana ya Alex? Mobilnya juga ga ada," timpal Verrel.


"Bisa jadi sih dia dianterin sama paman Aron. Tapi, ga biasanya juga dia telat. Apa dia sudah ada di kelas ya."


"Humm bisa jadi tuh. Kamu cek aja deh. Kapan ada matkul?" Tanya Verrel.


"Baiklah. Aku akan ke kelas dulu. Nanti kamu kabari aku jika Alex di dalam atau tidaknya," ucap Verrel.


Jessica dan Verrel berpisah sampai disitu. Jessica buru-buru menuju ruang kelasnya dan zonk. Tak ada Alex disana. Dia terengah-engah setelah berlari dari lantai satu ke lantai tiga. Dia duduk sejenak dan seorang pria yang diduga pengagum Jessica dalam diam pun memberinya sebotol air putih.


"Minumlah," ucap pria itu memberanikan diri.


Jessica yang awalnya sedang mengipasi dirinya secara manual pun memberhentikan aksinya. Dia mendongak ke atas untuk melihat tangan siapakah itu.


"Zenya? Thank you," ucap Jessica.


Pria bernama Zenya itu tersenyum hangat kepada Jessica, namun Jessica masih saja tidak peka dengan niat baiknya.


"Ada apa sebenarnya? Mengapa kamu berlari?" Tanya Zenya.


"Oh ya sampe lupa." Jessica menutup botol airnya dan membenarkan posisi duduknya. "Lihat Alex ga? Sudah datang belum tuh anak?" Tanya Jessica.


Alex lagi, Alex lagi. Kenapa harus Alex terus yang dipikirannya? Kapan kau mulai menatapku, Jessica!~ Protes Zenya dalam hati.


"Enggak. Lagian ya, ada aku di depan mata kamu, kenapa yang kamu cari yang ga ada sih?" Tanya Zenya mulai kesal.


"Gue serius, Zen. Ahh udahlah, males bahasnya. Btw, thanks ya." Jessica mulai mengabaikan Zenya lagi dan membuka ponselnya untuk menghubungi Verrel.


Namun, belum sempat Jessica mengirim pesan, Verrel telah meneleponnya terlebyih dahulu.


"Halo,Jes," sapa Verrel.


"Gimana? Ada Alex?" Tanya Verrel yang juga ikut panik.


"Gak. Alex belum datang kata Zenya," jawabnya.


"Duhh, dimana sih tuh anak? Semenjak ayahnya meninggal, dia benar-benar jadi pria yang misterius. Sungguh merepotkan. Mana ponselnya ga aktif lagi," gumam Jessica.


"Sabar aja. Coba tanya ke tante Athena atau kakek Arnold. Mungkin mereka tahu sesuatu," timpal Verrel memberi solusi.


"Benar juga."


Satu telepon masuk lagi di ponsel milik Jessica. Tertera disana nama kontak "Tante Athena(Ibunda Alex)" yang meneleponnya.


"Bentar. Nyokapnya Alex telpon gue. Nanti gue kabari," ucap Jessica.


Telepon diantara mereka pun terputus.


"Halo, tante. Ada apa ya?" Tanya Jessica.


"Jessica, apa Alex sama kamu? Anak itu dari semalam, dia sudah tidak terlihat. Terus, saya telepon pun, ponselnya ga aktif," jawab Athena.


"Lho? Saya aja mau telepon tante nanyain kemana Alex."


"Duhh, tugh anak satu kemana sih? Punya anak cuman satu kok kabur kabur melulu. Dulu sering ditinggalin suami, sekarang ditinggalin anak," gumam Athena yang masih dapat terdengar jelas oleh Jessica


"Oh ya lupa belum ditutup. Maaf ya Jes, jadi kesannya tante curhat."


"Gapapa kok tante. Nanti Jessica coba bantu cari Alex. Oh ya, tante sudah telepon paman Aron?"


"Sudah. Sama sama tidak aktifnya," jawab Athena.


"Ok. Nanti sepulang kampus, Jessica coba mampir ke markas deh, te."


"Makasih ya Jes."


Athena memutuskan telepon mereka. Seorang dosen pun datang dan masuk ke kelas. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menelepon Verrel. Akhirnya, Jessica memutuskan untuk mengirimkan pesan melalui sosial medianya.


"Rel, kata tante Athena, Alex ga pulang semalaman. Ponsel paman Aron pun juga ga aktif. Btw, nanti kita ketemuan di cafe biasa. Aku ada kelas."