
Setelah Alex mengganti pakaiannya, dia keluar kembali dari ruangannya dan mencari keberadaan Louis saat ini.
Tok tok tok...
Alex mengetuk tanpa bersuara.
"Masuk," ucap Louis dari dalam ruangannya.
Alex membuka pintunya dan mulai bersuara. "Paman, apakah aku mengganggumu?" Tanya Alex.
Louis yang awalnya tengah bersantai dengan kaki yang ia letakkan diatas meja, langsung menjaga sikapnya. Dia langsung berdiri tegak saat melihat Alex datang.
"Tuan muda. Silahkan duduk," ucapnya sungkan.
Bukan tanpa alasan Louis memperlakukan Alex begitu. Selain dia adalah bos disana, dia juga sangat begitu elegant dan dapat membuatnya kagum serta sungkan. Ia meramalkan Alex adalah seorang idola para umat manusia di masa depan.
"Hum. Baiklah paman. Aku tidak akan berbasa-basi lagi." Alex membenarkan kursinya dan menatap Louis dengan serius. "Apakah paman bisa meretas?" Tanya Alex serius.
"Apa? Meretas?" Tanya Louis.
Alex hanya mengangguk.
"Maaf, tuan muda. Paman tidak bisa. Aron lebih baik jika dalam masalah tersebut. Memangnya mengapa?" Tanya Louis yang semakin penasaran dengan yang Alex pikirkan.
"Nanti paman akan tahu. Omong-omong, bagaimana tentang pengelidikan paman Steve?"
"Ini tuan." Louis menyodorkan berkas yang telah dia, Aron dan Jack temukan. Dengan keahlian mereka, relasi dan kemampuan meretas milik Aron.
"Menurut yang saya baca, Tuan Steve akan mendapatkan penghargaan dan pengangkatan sebagai komandan tertinggi negara menggantikan Russel," ucap Louis.
Alex mengangguk kepadanya."Baiklah. Makasih. Saya akan ke paman Aron terlebih dahulu. Selamat beristirahat paman."
Alex pergi meninggalkan ruangan Louis disana. Namun, Louis masih saja ingin tahu tentang rencana Alex kedepannya. Apa yang sedang dia sembunyikan? Apakah itu tentang persoalan kematian Russel?
Kini Alex berdiri di depan pintu Aron. Saat dia akan mengetuk pintunya, Alex mendengar Aron seperti sedang mendiskusikan sesuatu dengan seseorang.
"Apakah sudah ditemukan titik terang pembunuh tuan Russel?" Tanya Aron kepada pria dalam teleponnya.
"Maaf bos. Pembunuh tertutup rapat. Kami berhasil menangkapnya dan saya tidak menyangka dia adalah pasukan berani mati," ucap pria tersebut dari ujung telepon sana.
Pasukan berani mati? Apa itu? Tapi mendengar namanya, sepertinya mereka sangat mengerikan. Bagaimana bisa Paman Steve mengenal mereka?~Batin Alex.
"Dia meminum racun yang ia letakkan sendiri di atas lidahnya," lanjutnya.
"Humph. Baiklah. Teruslah mencari bukti apapun yang bisa kita dapatkan. Berhati-hatilah. Pasukan itu benar-benar menakutkan," ucap Aron mewanti-wanti temannya.
"Siap bos!"
Alex menundukkan kepalanya.
Kalian... Bagaimana kalian bisa sebaik itu kepada kami? Bahkan Paman Steve yang keluarga kami pun ingin menghancurkan kami. Terimakasih paman Aron, Paman Louis, Paman Jack. Aku tidak akan membiarkan kesusahan. Aku akan membuat mereka merasakan akibat dari perbuatan mereka.
Tekad Alex begitu bulat. Dia menghela nafas sebelum masuk ke ruangan khusus milik Aron. Sedangkan Louis, pria itu mengikuti kemanapun Alex melangkah.
Tch tch tch. Paman Louis. Paman Louis. Aku bisa merasakan keberadaanmu disana. Ahh sudahlah, jika dia tahu pun itu bukan persoalan. Tapi, sejak kapan aku bisa begitu peka dengan kehadiran seseorang?~Batin Alex heran.
Alex menggelengkan kepalanya dan kemudian mengetuk pintu Aron pelan.
Tok tok tok...
Aron memijat pelan keningnya. Dia tak tahu lagi harus bagaimana.
"Siapa?" Ucapnya dari dalam.
"Tuan Alex?" Ekspresi Aron berubah seketika. Entah apa yang membuatnya begitu antusias, namun dia nampak khawatir sebelumnya saat Alex pergi.
Aron berlari kegirangan. Saat dirinya membuka pintu, dia melihat Alex berada disana. Aura yang terpancar dalam diri Alex perlahan mulai berbeda. Aura kejam dan panas telah menguasai dirinya. Aron tahu dengan jelas bila Alex telah melakukan sesuatu yang menurutnya adalah tindakan kejahatan.
"Tuan muda gapapa kan? Tuan muda tidak terluka kan? Apa seseorang menyerang anda? Atau anda pergi ke tempat berbahaya?" Aron menghujani Alex dengan seribu satu pertanyaan.
Hum? Bagaimana paman Aron bisa tahu?~Batin Alex.
"Aku baik-baik saja,paman. Mengapa paman menanyakan hal demikian?" Tanya Alex.
Aron celingukan melihat kondisi sekitar. Ke kanan dan ke kiri. Setelah itu, Aron menarik tangan Alex ke dalam dan menutupnya rapat-rapat.
"Paman, ada apa sebenarnya? Mengapa anda menutup ruangan ini begitu rapat?" Tanya Alex yang kebingungan melihat segala tingkah laku konyol Aron.
"Tuan. Sekarang katakan kepadaku. Apa yang telah anda lakukan?" Tanya Aron.
"Huh? Aku tidak melakukan apapun," jawab Alex berbohong.
"Mungkin tuan bisa membohongi Jack dan Louis atau mungkin yang lainnya. Tapi tidak dengan saya," ucap Aron tegas.
Aron berjalan membelakangi Alex. "Apakah tuan muda mengerti mengapa tuan Russel memilih saya?"
Alex menangkap pertanyaan Aron dengan sempurna. Dia mulai menerka-nerka, mengerutkan dahinya. "Bukankah karena kemampuan paman Aron yang jago meretas dan pandai bergulat?"
Tentu saja semua orang akan mengatakan hal yang sama.
"Bukan!" Jawabnya tegas sambil membalikkan badannya.
Alex terpelonjak kaget. Dia mencengkeram meja di belakangnya, sedikit naik kesana. "Lalu?" Tanya Alex sambil menelan ludahnya.
Bukan dia takut, namun Alex tidak ingin ada perpecahan diantara mereka.
"Apakah tuan muda pernah mengerti kemampuanku?" Tanya Aron.
Aron berjalan semakin mendekat ke arah Alex. Alex semakin merasakan aura kuat yang menekannya, bahkan auranya pun kalah darinya. "Katakan padaku, paman. Mengapa kau harus menakutiku?" Alex memberanikan diri dan bertanya dengan berterus terang.
"Hufttt. Kau benar." Aron akhirnya meredakan aura menakutkan dari dirinya.
"Aku memiliki kemampuan untuk mengendalikan aura sesuai kemauanku. Siapapun akan takut jika aku mau, tak terkecuali tuan Russel. Namun, Tuan Russel pernah menyelamatkanku. Hal itulah yang membuatku ingin sekali membalas budi," jawab Aron.
"Lalu, apakah karena itu Ayah merekrut anda?" Tanya Alex.
"One of the reasons. Tapi, hal yang membuat tuan Russel tertarik adalah kemampuanku dalam mengenali aura seseorang. Aku mengenali auramu. Kau dulu begitu bersih dan suci. Aura biru seperti air dan putih seperti salju selalu menyertaimu."
Alex mencerna setiap perkataan yang terlontarkan dari mulut Aron.
"Tapi, auramu yang sekarang, sejak hari dimana tuan pulang dari kampus setelah tuan kritis waktu itu, aura tuan berubah," lanjut Aron.
"Jika begitu, mengapa paman tidak membantu Ayah saat mereka meramalkan takdir burukku?" Tanya Alex melayangkan protes dengan sorot mata amarahnya. Alex mencengkeram erat Aron disana.
"Maaf tuan. Tapi, saya jamin tidak akan ada yang percaya. Bagaimana pun, saya bukanlah peramal dan lagi hanya saya dan tuan Russel saja yang tahu rahasia ini. Jika sampai bocor keluar, nyawa saya dan tuan Russel pun akan terancam," jawab Aron.
Alex mengendurkan cengkeramannya. "Ma-maafkan aku, paman. Aku terburu emosi hingga melupakan kau pasti memiliki alasan untuk melakukannya."
"Saya akui saya kagum dengan tuan muda. Sebelumnya, tidak ada orang yang dapat merubah auranya sendiri, merubah takdirnya. Hanya tuan. Tuan memiliki kemampuan dan saya yakin anda pasti bisa."
Alex tersenyum kepadanya.
"Tapi, tuan. Apakah tuan tidak ingin menceritakan sesuatu kepada saya tentang perbedaan aura itu?" Tanya Aron.
"Huftt. Aku tahu ini salah dan jahat. Sangat kejam. Ayah pun akan sangat marah jika mengetahui aku melakukannya," ucap Alex membuka obrolan.