I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 76



"Lex! Alex! Lu dengerin ucapan gue gak sih daritadi?" Seru Verrel yang sanggup membawa Alex kembali dari gumamannya yang menurut Verrel tidak jelas itu.


"Ahh maaf. Aku lagi fokus berpikir tadi," sahut Alex.


Tapi, jika aku memakai alat itu, yang ada malah Verrel curiga. Jelas-jelas aku tadi sudah mengatakannya. Selain itu, Verrel juga tidak akan bisa maju dan selalu stuck dibawah kepemimpinanku. Aku tidak bisa terus disini. Aku harus sesekali megontrol bisnis racunku. Belum lagi, aku masih ingin mencari Steve dan beberapa misi negara maupun geng lainnya. Ya, ini mungkin saatnya untuk membuatnya bisa menguasai tugasku pula. Aku bisa merekrut karyawan lain untuk mengisi jabatan yang kosong,~Batin Alex.


"Masih pada keputusan awalku. Aku ingin kau menggantikanku. Aku tidak selalu bisa berada di kantor. Aku juga sibuk disini dan akan sangat kuwalahan jika harus memegang bisnis dan jabatan komandan sekaligus. Kamu sudah pernah mengikutiku rapat dan bahkan selalu ikut denganku. Jadi, kupikir seharusnya kau paham dengan itu," ucap Alex mencoba meyakinkan sahabatnya.


"Tapi lex, bagaimana jika mereka akan mengecap perusahaan kita tidak kompeten?" Tanya Verrel.


"Itu hanya pikiranmu saja. Selama kamu bisa mempresentasikan semuanya dengan baik, sikap dan pembawaan diri yang memukau mereka. Berusaha menjadi orang yang optimis dan berkarakter, akuu yakin kamu pasti bisa. Aku yakin padaku,Verrel." Alex menyemangati Verrel dengan sekuuat tenaga yang dia bisa. Verrel nampak terdiam, terharu akan ucapannya juga meragukan dirinya. Dia berpikir Alex terlalu berekspektasi tinggi terhadap dirinya.


Tidak, aku tidak boleh menyerah. Alex dan Jessica begitu percaya padaku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya. Lagipula, aku sudah bersama dengannya sejak lama. Aku benar-benar tidak boleh mengecewakan Alex,~Batin Verrel.


"Baiklah, aku setuju. Doakan aku ya sobat," ucap Verrel sebelum menutup teleponnya.


"Hum, pasti."


*...*


Alex turun dari mobilnya setelah teleponnya dengan Verrel ia matikan. Dia merapikan seragamnya yang sedikit kusut akibat duduk di mobil terlalu lama. Tak lupa dia mengontrol waktu dengan menilik jam tangan yang ada di tangannya.


"Ok, masih ada tiga puluh menit sebelum rapat. Aku bisa keliling dan menyerahkan dokumennya terlebih dahulu untuk di diskusikan," gumam Alex.


Alex masuk melalui pintu utama dengan percaya diri. Dia tampan dan tinggi, dia cerdas dan berjasa. Apalagi yang dia minderkan pada dirinya? Dia adalah salah satu makhluk tuhan yang sempurna.


Dengan wajah datarnya, Alex berjalan menyusuri koridor kantor yang begitu besar. Sebuah ruangan yang sedikit terbuka mengundang perhatian Alex, terutama saat nama seseorang yang dicintainya disebutkan disana.


Alex mengintip untuk sesaat. Ada seorang menteri yang ia sendiri tidak terlalu kenal disana juga ada panglima tertinggi yang sedang duduk di sebelahnya dan tengah mengobrol dengan asyiknya. Kursi nampak penuh dengan orang-orang penting lainnya, seperti perwakilan rakyat negara P juga perancang undang-undang. Selain mereka semua, Alex juga melihat perdana menteri yang sudah tiba. Hanya menteri yang akan ia temui saja yang tidak nampak batang hidungnya.


"Perdana menteri sudah tiba? Mengapa aku tidak tahu?" Gumam Alex.


"Hahaha, kau benar-benar hebat, Sam!" Puji seorang menteri dalam ruangan.


"Ini semua juga berkatmu, berkat perdana menteri, aku bisa berada di posisi yang selama ini aku inginkan," timpal Sam, sang panglima tertinggi yang baru, pengganti Russel.


Berkat perdana menteri dan pak menteri perhubungan? Apa maksudnya?~Batin Alex.


Ok, Alex. Jangan berpikiran negatif. Bisa jadi dia bermaksud lain,~Lanjutnya dalam hati.


"Tch tch. Ternyata begitu mudah membuat mereka semua terpecah belah. Aku memperkirakan keluarga Lachowicz yang sudah lama berada di posisi ini akan susah dihadapi. Ternyata, aku salah. Mereka benar-benar mudah sekali terpecah belah. Aku memberitahukan lokasi pasti dimana Russel berada pada Steve saat itu dan pusss. Dialah yang tertuduh saat ini hahaha." Gelagar tawa mereka memenuhi ruangan. Tanpa mereka sadari, seseorang dibalik pintu sedang mengintai mereka.


Sial! Makanya Paman Steve mengerti persis lokasi ayah bahkan tempatnya dia berpijak. Ayah saat itu hanya mengatakan di kaki gunung Erta Ale saja. Tidak membicarakan koordinat spesifiknya berada dimana. Benar-benar kurang ajar mereka! Untung aku sudah merekam semua percakapan mereka,~Batin Alex.


"Memangnya, apa alasan perdana menteri membantu anda?" Tanya menteri perhubungan.


"Mudah saja. Sepuluh persen saham perusahaan Elerza. Itu sudah bernilai triliunan. Bahkan, gaji perdana menteri dalam sebulan tidak dapat menyentuhnya."


"Kau benar-benar pintar. Lalu, apakah kamu tidak ingin memberiku juga? Aku berjasa paling besar lho."


"Tenang, sobatku tercinta. Aku akan memberikan 5% sahamku untukku," ucap Sam sembari menepuk pria disebelahnya.


Perusahaa Elerza ya? Baiklah. Kalian sudah menyebabkan masalah besar pada diri anda. Lihat saja bagaimana aku menginjak kalian di hadapan publik!~Batin Alex.


*...*


Alex memutuskan untuk beranjak dari sana. Dia menyimpan ponselnya dan berlagak layaknya dia yang normal. Dingin dan tanpa ekspresi. Semua sudah mengetahui hal tersebut.


Tok tok...


Alex masuk tanpa bersuara, hanya suara ketukan pintu yang ia buat dengan jarinya.


Menteri itu terlihat kelelahan. Dia tidak terlihat seperti orang yang jahat. Menurut kabar, dia bahkan mendapatkan gelar menteri dengan bayaran terdikit negara P. Alex pun merasa iba padanya.


"Ohh, komandan Alex. Silahkan duduk," ucapnya begitu sopan mempersilahkan Alex untuk duduk.


"Maaf sudah membuat anda menunggu lama," ucap Alex.


Alex menyerahkan berkas tersebut. Dia pun bungkam tanpa kata, menatap lurus ke depan. Matanya tidak jelalatan dan keliling kemana-mana.


"Baiklah. Saya sudah melihat semuanya dan tidak ada yang perlu saya revisi lagi," ucapnya seraya menyedekapkan tangannya di atas meja.


"Huum."


Apakah aku coba menanyakannya? Aku akan melihat ekspresinya,~Batin Alex.


"Pak Damian, saya izin bertanya," ucap Alex membuka obrolan diantara mereka.


"Iya, silahkan saja."


"Saya tadi mendengar ada suara pak perdana menteri. Apakah benar dia sudah tiba?" Tanya Alex.


"Benar. Hari ini ada rapat lain selain dengan kemiliteran kantor pusat. Memangnya kenapa ya?" Tanya Damian.


"Tidak. Hanya heran saja. Dan Omong-omong, apakah Tuan Damian mengetahui tentang kematian Ayahku?" Tanya Alex mulai masuk ke intinya.


"Apakah kau anak dari Tuan Russel?"


Alex hanya mengangguk menjawabnya.


"Aku hanya mendengar dari orang-orang jika tuan Russel saat itu mati ditembak. Bukankah saat itu, kau yang menguak fakta bahwa Tuan Steve yang melakukannya?" Tanya Damian berbalik kepada Alex.


"Benar. Tapi, aku yakin Paman tidak akan tahu lokasi Ayah jika tidak diberitahu oleh seseorang."


Alex mulai menamati ekspresi Damian. Namun, hingga detik ini dia tidak menemukan keanehan apapun dari ekspresinya. Dia sedang tidak berbohong. Namun, Alex tidak akan begitu mudah lagi memercayai seseorang. Alex bersendekap dan bergumam dalam hatinya.


"Osy, nyalakan kemampuan menganalisisku!" Titah Alex.


"Baik, ketua."