I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 6



Flashback on...


Saat itu, Alex memang baru saja pulang dari tempatnya berlatih kemiliteran di Markas yang telah dibangun oleh Ayahnya. Dengan kaki terseret akibat luka yang masih belum mengering saat dia terjatuh di lapangan siang hingga sore hari ini, samar dia melihat ibundanya dengan pamannya di sebuah kamar utama di kediaman Lachowicz.


Saat itu adalah saat dimana Russel sedang mendapatkan tugas ke luar kota.


Athena terlihat tengah santai di ruang utama kediaman Lachowicz. Dia bersandar sambil menikmati kopi khusus yang baru dibawakan oleh Russel saat kepergiannya kemarin ke Indonesia kala itu. Kopi luwak dengan segala aroma dan cita rasa yang khas ditambah beberapa jenis kopi lainnya, Athena benar-benar merasakan kenikmatan dunia yang sesungguhnya.


"Ahem."


Seseorang berdehem di sampingnya. Athena meletakkan secangkir kecil kopi mahal di tangannya itu dan menoleh ke arah datangnya suara.


"Steve, ada apa kamu kesini?" Tanya Athena.


Athena menengok ke kanan dan ke kiri, takut jika tiba-tiba Russel datang dan memergoki mereka.


"Kamu ... bagaimana jika Russel tahu kamu disini?" Tanya Athena lebih lanjut.


"Hahaha." Suara tawa Steve menggelegar.


Steve duduk di samping Athena. "Kau tenang saja,sayang. Ayah menyuruhnya untuk mengurusi masalah WNA ilegal di teluk barat daya. Itu sangat jauh dan kemungkinan akan pulang besok."


"Sini, duduk di pangkuan aku," ucap Steve sambil menepuk-nepuk tempat yang dimaksudkan.


Athena mengangguk dan berjalan ke arahnya. Wanita cantik itu duduk dipangkuan Steve dengan wajah menghadap kepadanya.


"Kau memang sangat cantik, sayang."


Pujian Steve mampu membuat Athena terlena dan hanyut. Dia merindukan pujian itu dari sosok Russel yang dulunya sangat mencintainya.


"Terus terang saja,Steve. Aku masih sangat mencintai Russel bahkan cintaku sepenuhnya untuknya. Tapi, aku nyaman sama kamu. Huftt. Perasaan ini benar-benar menyebalkan."


Steve menjelajahi leher jenjang milik Athena. Sesekali dia menghisap dan meninggalkan jejaknya disana.


Erangan lembut Athena membuat Steve semakin panas.


"Shh, jangan..."


Athena telah terbuai olehnya.


Steve menyeringai. "Sayang, mari kita pindah."


Athena mengangguk, Steve langsung menggendongnya menuju kamar Athena. Dia membaringkan Athena disana, masih dengan posisi yang sama. Athena enggan melepaskan tangannya yang ia rangkulkan pada leher putih milik Steve.


"Bermain dengan kakak ipar itu memang sungguh mempesona. Aku menyukainya," Ucap Steve.


Steve mulai merogoh badan Athena perlahan.


"Tapi, bukankah wanita cantik di luaran sana masih banyak?"


Kini Athena dengan senang hati membukakan kakinya.


"Haha. Mereka tidak seseksi dirimu, kakak ipar. Lagipula, tidak ada yang menantang," puji Steve.


"Haha terserah kamu saja."


Alex mendengar samar suara yang tak seharusnya di dengarnya.


"Suara apa itu?" Alex kecil pun bertanya-tanya.


Alex ingin menghiraukannya, namun samar dia mendengar suara ibundanya seperti kesakitan di balik kamar kedua orang tuanya. Dia masih ingat jelas bagaimana suara Athena walau wanita itu jarang sekali menampakkan suaranya.


"Lanjutkan steve, lanjutkan," pekik Athena sedikit melirihkan suaranya.


Alex menjatuhkan dirinya dan berlari menjauh dari sana. Pipinya memerah walau dia tak tahu apa yang dilakukan oleh Pamannya dan ibundanya.


Apa yang sedang mereka lakukan? Apa aku harus memberitahu ayah?~Batin Alex.


Athena yang samar melihat bayangan anak kecil yang berlari menjauh dari kamarnya.


Sontak, Athena mendorong Steve untuk menjauh darinya.


"Ada yang mengintip!" Seru Athena.


"Halah, biarkan saja. Paling juga orang iseng," ucap Steve santai.


"Bagaimana kalau Alex? Dia pasti akan mengadu segalanya," ucap Athena.


"Huh. Kau itu ya. Anak pembawa sial itu... Mengapa dia harus hadir sih? Benar-benar merepotkan," gumam Steve menggerutu.


Flashback off...


...****************...


"Benarkah? Coba katakan pada mama. Siapa yang melakukan perbuatan keji itu? Mama akan menghajarnya dan memenjarakannya. Mama akan membuatnya menanggung akibatnya!" Ucap Athena penuh emosi.


Apa aku sudah salah paham kepada mama? Aku memang mengetahui dia memiliki hubungan lebih dari kakak ipar dan adik ipar dengan paman Steve, namun melihat reaksinya, seharusnya mama tidak mengetahuinya sama sekali. Namun, apakah aku masih harus memberitahunya?~Batin Alex bimbang.


" Alex membutuhkan bantuan mama untuk bekerja sama dengan Alex. Alex masih menduganya saja, belum mengetahui pasti. Alex tidak ingin menjadi pria pengecut yang mengambinghitamkan orang lain. Ayah dan paman Aron selalu mengajarkan hal tersebut pada Alex," ucap Alex.


Aku tak pernah menyangka bila Russel mendidiknya dengan baik ditengah-tengah jadwalnya yang padat. Dia bahkan terlihat cerdas. Gaya bicaranya saja sama dengannya. Dingin, namun berbobot. Mungkin aku yang sudah salah menilainya. Alex, mama menaruh harapan penuh kepadamu. Tidak peduli siapapun pelakunya, tidak peduli apa yang akan kau lakukan, mama akan selalu mendukungmu mulai sekarang,~batin Athena sambil tersenyum hangat pada Alex.


"Katakan saja pada mama. Apa yang harus ku lakukan," timpal Athena.


Alex mengangguk sopan kepadanya.


Maafkan aku,ma. Aku tidak bermaksud untuk menutupinya. Namun, tidak menutup kemungkinan anda akan memberitahukan hal ini kepada pelakunya. Itu akan semakin mempersulitku kelak,~Batin Alex.


...****************...


Alex dan Athena kembali berkumpul dengan semua orang yang berada disana. Tatapan sinis kepada satu sama lain, tatapan menyelidik, bahkan tatapan yang membuat suasana menjadi canggung pun mulai terasa. Namun, Alex tidak menggubrisnya. Dia berdiri diantara mereka dan berpura-pura tidak mengetahui hal apapun tentang masalahnya kali ini.


"Semuanya, mari kita pulang," ucap Alex tegas, namun terkesan dingin.


Ada apa dengan pria sampah ini? Apa karena aku mendorongnya ke jurang hingga membuatnya terbentur dan berubah?~Batin Vieka.


"Sayang!" Seru Vieka sambil memeluk tangan Alex.


Wanita ini... Dia sudah mencoba membunuhku waktu itu. Dan karena dia, informasi tentang Ayah bocor ke tangan musuh. Aku ingin melihat seberapa tebal mukanya,~Batin Alex.


Alex membiarkannya melakukan apapun yang dia inginkan. Verrel dan Jessica masih sama-sama heran dengan perubahan Alex yang mendadak. Dia yang biasanya begitu bersemangat bak budak cinta, kini terasa begitu dingin terhadap Vieka.


"Apa yang terjadi? Mereka... bertengkar?" Bisik Jessica.


Verrel mengangkat bahunya. "Entahlah."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai semuanya. Jangan lupa vote, like dan komen ya agar Alex bisa muncul setiap hari. Nantikan kisah Alex selanjutnya. Saat akhirnya dia berhasil menguasai dunia dan membuat mereka bungkam mereka semua.