I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 13



Kini giliran Alex yang membelakangi Aron disana.


"Aku telah membunuh orang." Alex akhirnya memberanikan diri untuk mengatakannya.


"A-apa?" Aron terkejut mendengar pernyataan Alex.


"Ya. Aku kesal waktu itu dan aku membunuh mereka. Aku membunuh temanku yang membullyku." Mata Alex mengisyaratkan ketakutan di dalam hatinya. Ketakutan, kegundahan yang entah sejak kapan itu datang.


"Dan lagi, itu bukan satu-satunya yang aku lakukan. Hari ini, aku mengetahui fakta tentang pembunuh Ayah," Lanjut Alex bercerita.


Aron berdiri tegap dari sebelumnya dia bersandar pada meja di ruangannya. Aron berjalan mendekat ke arah Alex.


"Maksud kamu? Kamu tahu siapa dalang dibalik ini semua?" Tanya Aron.


Alex membalikkan badannya dan mengangguk kepadanya. "Ya. Dia adalah..."


Ucapan Alex tertahan sejenak. Dia merasa ini benar-benar seperti mustahil terjadi, tidak layak untuk dikatakan, hal yang begitu memalukan. Namun, Aron menjadi begitu penasaran saat Alex mulai serius membicarakannya.


"Paman akan tahu nanti," ucap Alex.


Aron memasang ekspresi marah saat ini. Dia geram, mengapa Alex tidak memberitahukannya secara langsung.


"Tapi, paman harus bekerja sama denganku. Aku ingin dia tersiksa sebelum mati di tanganku," ucap Alex sambil menggenggam tangannya erat. Aura amarahnya menyala. Merah api, membara pada dirinya, membuat Aron ikut merasakan dirinya akan terbakar kapan saja.


Aron hanya dapat menghela nafas berat, kecewa, namun dia harus tetap menghormati segala keputusan Alex.


"Baiklah. Tuan muda ingin saya melakukan apa?" Tanya Aron.


"Ajari aku cara meretas," jawab Alex singkat.


"Hanya itu saja?" Tanya Aron.


Alex hanya mengangguk kepadanya. "Paman, juga tolong sampaikan kepada Paman Jack dan Paman Louis untuk datang ke acara Paman Steve ya."


"Untuk apa?"


"Ada pertunjukkan menarik yang akan Alex lakukan." Alex mengeluarkan ekspresi liciknya. Dia menarik sudut bibirnya, menyeringai dengan menatap lurus penuh siasat.


...*...*...


Hari ini Alex berangkat kuliah seperti biasanya. Tak ada yang berubah pada dunia, semua masih sama. Hanya saja, papan pengumuman kampus telah ramai dikerubuti orang. Tak terkecuali dengan Jessica dan Verrel disana.


"Lex, tumben telat," Ucap Verrel.


Alex menggelengkan kepala. "Ada apa itu?"


"Coba kamu baca," jawab Jessica.


Dua orang mahasiswa asal jurusan Teknik Sipil menghilang? Kabar itu ternyata begitu cepat tersampaikan,~Batin Alex.


"Bagaimana bisa mereka hilang? Apakah sudah menemukan titik terang?" Tanya Alex kepada kedua sahabatnya.


Verrel dan Jessica mengangkat bahu mereka tanda tak tahu.


"Kata orang tua mereka, mereka sudah tidak pulang sejak Jum'at sore setelah mata kuliah terakhir di jurusan kalian," jawab Verrel.


"Tch tch tch. Kasihan sekali ya. Mereka hilang begitu saja. Semoga cepat ketemu," ucap Alex.


Ya, kalian hanya akan menemukan mayatnya yang telah bersimbah darah,~Batin Alex sambil menyeringai.


Verrel dan Jessica menatap Alex secara serius. Mereka dapat merasakan perubahan yang cukup signifikan dengan sahabatnya itu.


"Ada apa? Mengapa kalian menatapku begitu?" Tanya Alex.


"Ini tidak ada kaitannya dengan lu kan,lex?" Tanya Verrel dengan tatapan menyelidik.


"M-mana mungkin? Ka-kalian tahu dengan jelas siapa aku, bukan?" Ucap Alex sedikit gugup.


"Ya juga sih. Kau bahkan dulu sering sekali ditindas dan tidak mampu melawan. Untung ada kami, ye gak?" Verrel merangkul Jessica dan Alex secara bersamaan.


Huftt. Jika bukan karena kalian sudah banyak sekali berkorban dan membantuku selama ini, mungkin kalian adalah korban selanjutnya,~Batin Alex.


Tidak Alex. Kau tidak boleh terus menerus membunuh orang, apalagi sampai ketagihan,~Lanjutnya dalam hati.


Alex, Jessica dan Verrel kembali seperti dulu lagi. Pergi kemanapun bersama dalam suka maupun duka.


...*...*...


"Ga nyangka ya. Anak baru itu ternyata jahat juga," bisik seorang mahasiswa di depan Alex.


"Benar. Walau dia memang terpaksa menerima Alex, tapi haruskah dia membuatkan minuman beracun untuknya? Dia memang keji!" Umpat seseorang menimpali sahabatnya.


"Sudah, sudah kawan. Tidak baik kita membicarakan mereka yang telah tenang disana. Lebih baik kita berdoa bersama. Lagipula, Alex sudah ikhlas dan memaafkannya. Ya kan Lex?" Tanya Jessica sambil melirik ke arah Alex.


Alex tersenyum kepada mereka seraya mengangguk pelan.


"Jika bukan karena ramalan itu dan Ayah tidak mengizinkanku untuk dekat dengannya, mungkin aku sudah menjadi salah satu idolanya. Dia tampan sekali," ucap seorang wanita yang diam-diam menjadi penggemar baru Alex.


"Guys, tidak ada di dunia ini anak atau orang pembawa sial itu. Buang jauh-jauh pikiran tersebut. Aku dan Jessica sudah bersahabat dengannya sejak lama tapi lihat, kami masih sehat kan?" Verrel memamerkan tubuhnya yang kekar.


"Benar juga. Baiklah Alex, mulai sekarang aku resmi menjadi penggemarmu!" Pekik mereka bersama-sama.


Alex tersenyum hangat pada mereka. Tentu saja, dia tidak akan menyakiti orang lain yang mendukungnya.


Hingga waktu pulang kuliah telah tiba. Saat Alex akan pergi dari ruang kelas, Jessica mendadak memberhentikan langkahnya.


"Lex, aku mau berbicara sesuatu kepadamu," ucap Jessica memberanikan diri.


Alex memberhentikan langkahnya dan menatap kearah Jessica. "Humm? Ada apa, Jes?"


Jessica perlahan mulai melepaskan genggamannya.


"A-aku..." Jessica ragu untuk mengungkapkannya. Sedangkan Alex, dengan sabar menantikan apa yang ingin wanita itu katakan.


"Aku... Aku suka sama kamu,Lex," ucap Jessica dengan gamblangnya.


Alex telah menyadarinya sejak lama. Terlebih lagi ekspresi Jessica kala itu saat dirinya menembak Vieka. Namun, saat mengingat segala hal tersebut, ingin rasanya Alex mengutuk dirinya sendiri. Betapa bodohnya dia telah mempercayai siluman ular itu dibandingkan dengan kedua sahabatnya sendiri.


Alex menundukkan kepalanya sejenak. Lalu, dengan tatapan mantap, Alex meraih tangan Jessica. Dia menakup dagu runcing milik wanita dihadapannya itu dan mempertemukan bola mata mereka.


"Jujur saja, perasaanku tentang cinta, kepada siapapun itu, sudah mati. Aku tidak pernah mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya. Hanya Ayah yang mampu memberiku, selebihnya aku anggap hanya sebatas kata memanfaatkan saja." Jawab Alex.


"A-aku... Aku masih belum sanggup memberikan jawabanku sekarang. Terlebih lagi, aku tidak ingin persahabatan kita renggang hanya karena cinta. Jadi, kumohon mengertilah," lanjutnya.


Jessica memang sudah memantapkan hatinya untuk menerima apapun keputusan Alex. Namun, rasa sakit yang bersarang di hatinya itu tetap saja ada.


"Ya. Baiklah. Aku mengerti. Kau benar. Kita... Kita adalah teman. Lebih baik berteman saja dulu," ucap Jessica mengungkapkan kekecewaannya secara tersirat.


"Sudahlah, jangan bersedih. Aku akan mentraktirmu malam ini bersama dengan Verrel. Aku akan menebus kesalahanku pada kalian," ucap Alex menyemangati Jessica.


Alex merangkul Jessica dan menuju ke gedung tempat Verrel berada.


Beberapa saat kemudian....


"Huhhhhh!!!" Teriak Jessica di tepi jurang tempat dimana Alex kala itu terjatuh.


"Aku masih mengingat dengan jelas wanita itu..." Alex menahan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan, mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya.


"Wanita itu? Siapa? Ada apa?" Tanya mereka kompak.


"Aku akan memberitahukan suatu rahasia besar ke kalian pada masanya. Tapi, sekarang adalah saatnya kita menikmati malam bersama. Aku sudah meminta paman Aron untuk membelikan anggur terbaik serta bahan-bahan terbaik disini. Ada ikan, daging, semuanya. Kalian makanlah yang puas," ucap Alex.


"Hahaha. Ini baru sahabatku!" Seru Verrel.


Verrel langsung menyerbu makanan dihadapannya tanpa berbasa basi.


"Verrel! Itu mentah!" Pekik Jessica.


"Ya, kan kalau ikannya bisa kita makan begini. Jadi sushi atau sashimi,bukan?"


"Serah lu dah."


"Oh ya guys, aku minta maaf sama kalian," ucap Alex membuyarkan keseruan diantara mereka berdua.


"Untuk?" Verrel masih pada aktivitasnya, memasukkan makanan pada mulutnya.


"Aku lebih mempercayai Vieka dibandingkan dengan kalian. Beberapa hal membuatku tersadar kalau kalian adalah sahabat terbaikku. Kalian adalah harta terbaikku selain mama dan Ayahku," ucap Alex.


"Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting kita kan masih bestie," ucap Jessica.


Mereka bertiga saling berpelukan satu sama lain, menikmati makanan di bawah sinar rembulan yang bersinar begitu cerah dan ceria hingga mereka tertidur pulas disana.