
Hari ini adalah hari dimana Alex harus menemani keluarga kecilnya untuk berjalan-jalan mengelilingi kota pusat negara P. Mereka terlihat begitu bahagia. Sayangnya, demi reputasinya, Alex terpaksa memakai kacamata hitam serta masker untuk menutupi wajahnya. Tak hanya itu, Alex pun kini memakai hoodie bewarna paduan antara merah dan hitam untuk menyamarkan postur tubuhnya.
"Ayah, mengapa Ayah memakai pakaian seperti itu?" Tanya Anna.
Alex berlutut, mensejajarkan tingginya dengan anak perempuannya. Namun, belum sempat Alex menjawab, Luna membantunya untuk menjawab.
"Kan mama pernah cerita ke Anna sama Axel. Ayah adalah orang yang hebat. Orang hebat itu terkenal dan semua orang ingin merebutnya. Memangnya Anna mau Ayah direbut orang lain dari Anna terus berpisah lagi dengan Anna?" Tanya Luna sedikit menakut-nakuti anaknya.
Anna hanya menunduk dan terdiam. Tak lama kemudian, gadis kecil yang cantik nan imut itu pun menggelengkan kepalanya. "Anna sudah cukup hidup tiga tahun tanpa Ayah. Anna ga mau lagi Ayah pergi."
Hal tersebut tentu saja berhasil membuat Alex dan Luna saling bertatapan. Terutama Alex, pria itu merasa sangat bersalah kepada mereka.
"Ayah tidak akan pergi lagi dari kalian,ok? Tapi, Anna sama Axel harus janji. Twins A ayah harus sekolah yang pinter. Harus menjadi seseorang yang hebat. Kalau twins A ayah tidak dapat membuat Ayah bangga, ya terpaksa deh ayah harus ikut sama orang," ucap Alex menggoda kedua anaknya.
Alex berdiri dan mensedekapkan tangannya di perutnya. Axel yang tadinya bergeming dengan pernyataan Alex, kini dia terliht begituu tegang dan khawatir hal itu akan terjadi. Ekspresinya berubah seketika. Pria kecil jiplakan Alex itu berlari ke arah Alex dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Ayah, jangan pergi. Axel, Anna, akan jadi orang hebat kayak ayah," ucap mereka berdua secara bersamaan.
"Ayah hanya bercanda. Kalau begitu, mari kita masuk. Untuk Axel, jangan terlalu dingin dan cuek dong. Masa Axel ga mau peluk Ayah," ucap Alex protes kepada Axel.
"Kata mama, aku adalah fotocopy dari Ayah," timpalnya.
Alex melirik ke arah Luna sekilas seakan mengisyaratkan sebuah kalimat, "Apa saja yang kau beritahu tentangku kepada kedua bocah kecil ini, wanita kampr3t?"
Luna hanya terkekeh melihat ekspresi Alex yang menurutnya begitu aneh.
...*...*...
Alex, Luna, dan twins A telah tiba di sebuah mall terbesar di kota. Mereka bergandengan tangan dan memasuki mall. Seorang security mencegahnya dan menyuruh Alex untuk membuka masker dan penutup dirinya. Pria itu dicurigai sebagai seorang ******* yang begitu misterius.
"Permisi,bapak. Di mall ini dilarang berpakaian begitu tertutup. Jadi, silahkan buka masker, jaket dan penutup lainnya," ucap Satpam itu begitu sopan kepada Alex.
Alex mengeluarkan kartu namanya. Tentu aja dengan lencana komandan militer kantor pusat miliknya. Pria itu membelalakkan matanya dan kemudian dia mempersilahkan Alex dengan hormat.
"Silahkan masuk, komandan. Maafkan saya yang telah lalai terhadap anda," ucapnya.
"Hum. Tak apa. Kau hanya menjalankan tugas. Tapi, jangan sampai ada yang mengetahui keberadaanku disini, ok?" Bisikku.
"Siap,komandan!" Seru pria itu, namun dengan suara yang lumayan lirih.
Alex dan yang lainnya masuk dengan jalan perlahan. Mereka mulai terlihat begitu senang. Alex menemani mereka berjalan kemanapun yang mereka inginkan. Dia membelikan beberapa set pakaian untuk kedua buah hatinya, mainan edisi terbaru dan tak lupa beberapa cemilan khusus mereka.
"Ayah, aku ingin cutton candy. Aku juga ingin es krim," ucap Anna sambil menunjuk ke arah stan yang ada di depannya.
Alex melirik ke arah Luna untuk memberikan pendapatnya. Jujur saja dia tak tahu kebiasaan dua bocil di sampingnya itu.
"Baiklah. Tapi, ayah tidak akan sering-sering belikan kalian itu ya?"
"Asyik!" Seru Anna begitu bahagia, sedangkan Axel masih terlihat seperti biasanya. Begitu dingin dan berjalan tanpa ekspresi. Dia menyadari akan hal itu,namun dia juga tidak lupa bila saat dia kecil, bahkan dia tidak sempat menjadi seseorang yang dingin. Alex bahkan tak pernah memiliki kesempatan untuk berbicara kepada orang lain kecuali Russel dan Verrel saat itu.
Luna membantu memesankan untuk mereka berdua, sedangkan Alex duduk diam di sebuah meja yang terlihat kosong dan tidak ada orang. Saat dia mengutak-utik ponselnya, dia merasakan seseorang berlagak aneh disekitaran mall. Entah apa tujuannya, namun Alex dapat merasakan niat pria itu tidak baik. Diam-diam pria yang menggunakan pakaian tertutup itu mulai menelepon Nero untuk datang.
"Golden Terrace Mall," ucap Alex mengirimkan kode keberadaannya kepada Nero. Dia melirik ke arah sekitar, semuanya masih terlihat begitu santai. Sepertinya, memang mereka tidak mengerti bahaya yang sedang mengancam nyawa mereka.
Tidak salah lagi. Aku mengerti sekarang mengapa satpam disini melakukan penjagaan yang begitu ketat. Sepertinya, ini bukan pertama kalinya ada kejadian disini,~Batin Alex.
Tanpa sadar, Luna dan kedua bocah kecil yang begitu imut itu telah berdiri di sampingnya. Panggilan Anna berhasil membuatnya kembali dalam hanyutan perasaan yang membuatnya merasa terancam.
"Ayah, ada apa?" Tanya Anna.
"Anna, Axel, dan ibu, kalian harus segera kembali. Aku sudah mengutus seseorang untuk menjaga kalian," ucap Alex.
"Ada apa,lex? Sesuatu terjadi?" Tanya Luna yang sedari kemarin tidak banyak berbincang.
Alex mengangguk, "Aku merasakan seseorang tengah memasang bom di area mall ini. Tapi, aku tidak bisa membiarkan kalian dalam bahaya sebelum aku membuka identitasku."
"Hum, aku mengerti. Aku akan menuruti ucapanmu dan menjaga mereka," timpal Luna yang mengerti persis posisi Alex.
"Terimakasih."
...*...*...
Luna dan kedua anaknya telah dijemput pulang oleh Resca.
"Alex, jaga dirimu baik-baik," ucap Luna.
"Hummm. Tenanglah, aku akan baik-baik saja," ucap Alex sembari tersenyum kepada gadis cantik yang belum beranjak dari sana.
Cup...
Sebuah kecupan lembut dari Luna mendarat di pipi kanan Alex, "I love you."
Luna pergi dari sana dengan senyum hangatnya. Tak lupa pula Anna melambaikan tangannya kepada sang Ayah seraya berkata, "Ayah, cepatlah pulang. Aku menunggumu!"
"Baiklah. Baik-baik di rumah kakek buyut ya. Jangan nakal!" Alex balik melambaikan tangannya kepada pria tersebut. Disana, telah berkumpul Nero, Louis, Jack dan beberapa pasukan militer lainnya. Alex memang sengaja memanggil mereka agar mereka dapat menjadi saksi, melakukan tugas mereka untuk melindungi warga negara. Sedangkan Aron, Alex menitahkannya untuk berjaga di rumah. Takut seseorang datang disaat dirinya lengah.
"Intinya, suruh pihak mall untuk menutup mall ini untuk sementara waktu. Suruh pengunjung sesegera mungkin keluar. Jika tidak mengindahkan yang aku ucapkan, langsung saja jatuhi hukuman," ucap Alex begitu tegas memerintah.
"Baik, komandan!" Seru mereka bersamaan.