I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 7



Mereka semua telah tiba di kediaman mereka. Suasana berubah menjadi canggung. Ini adalah pertama kalinya Alex menginjakkan kaki di aula utama seumur hidupnya.


"Athena memutuskan untuk membiarkanmu disini. Jadi, aku tidak dapat melarangnya. Tapi ingat, jika kamu tidak bisa membuktikan keterampilanmu, aku akan mengusirmu lagi dan tinggal di paviliun bobrokmu itu," ucap Kakek.


Alex hanya mengangguk padanya. Vieka masih terus saja menggandeng tangannya. Hal itu benar-benar membuat Alex begitu muak hingga saat ini.


"Viek, bolehkah kau mengantarku ke kamar baruku? Aku capek," ucap Alex bermanjaan.


Kau harus sabar Alex. Sebentar lagi, jika ada kesempatan, dia pasti akan bertindak,~Batin Alex.


"Lex, Viek, kita bantu ya," ucap Verrel dan Jessica menawarkan diri.


Saat mereka akan menyentuh tangan Alex dan mengangkat barangnya, Alex segera berkata, "Ga perlu. Aku tidak membutuhkan kalian. Aku tadi melihat kalian memarahi Vieka ku. Aku benci kalian!" Seru Alex yang terlihat masih sangat membenci mereka, namun juga mengirimkan sinyal kepada mereka.


Mereka berdua saling bertatapan, tak mengerti maksud kedipan dari mata sahabatnya.


"Apa maksudnya? Jelas- jelas kita hanya berniat baik," protes Verrel.


"Kamu jangan marah begitu. Aku yakin ada sesuatu yang direncanakan oleh pria itu. Mungkin Alex bisa membenciku, menjauhiku, tapi tidak dengan kamu. Kita pulang dulu dan memikirkan semuanya. Mungkin kita bisa mencari kesempatan untuk bertanya padanya," Ucap Jessica meredakan emosi Verrel.


Jessica merangkul Verrel dan mengajaknya pergi dari sana. "Ayo."


"Tante, kek, semuanya, kami pulang dulu ya. Salam untuk Alex," ucap Jessica sopan.


"Anak yang sopan. Maafkan Alex yang sudah kasar kepada kalian," jawab Athena.


"Tidak apa-apa, tante. Dia baru keluar dari rumah sakit. Mungkin semua badannya terasa sakit dan moodnya buruk," timpal Jessica.


Jessica berlalu pergi bersama dengan Verrel disana. Verrel masih tak habis pikir dengan Jessica. Mengapa Jessica begitu percaya akan Alex tidak berubah kepada mereka?


*...*


"Sayang, bisakah kamu membuatkan teh untukku?" Tanya Alex.


Tch. Kupikir dia sudah berubah melihat ekspresinya kemarin berubah. Ternyata, dia sama saja. Sama sama merepotkan!~Vieka berseru pada hatinya. Dia keluar dengan kesal, namun tetap tersenyum pada pria itu.


Saat di dapur...


"Non, kenapa non kemari? Non ini siapa?" Tanya bibi.


"Apa sih bi? Ga usah banyak tanya. Yang perlu bibi tau, aku adalah pacar anak pembawa sial itu!" Seru Vieka dengan nada tinggi dan tidak sopan.


Anak ini... dia cantik tapi sungguh tidak sopan. Apakah benar pacar tuan muda? Aku yakin jika iya, tuan Russel tidak akan mengizinkannya,~Batin bibi.


"Udah sana! Ngapain bibi masih disini." Vieka mengusir bibi untuk keluar.


Wanita cantik itu membuatkan 2 teh untuk dirinya dan Alex. Dia membedakannya dari warna teh. Warna teh milik Alex terlihat sedikit lebih pekat dibandingkan miliknya.


"Teh ini wangi sekali. Memang pantas keluarga terkaya sekota ini. Bahkan tehnya pun adalah teh berkualitas tinggi," gumam Vieka.


Vieka mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah bubuk bewarna putih ia tuangkan ke dalam teh milik Alex dan mengaduknya dengan segera.


"Aku tidak dapat membunuhmu dengan mendorongmu dari tepi jurang, namun saat ini, apakah kamu bisa mengelaknya lagi?" Gumam Vieka yang masih dapat terdengar oleh bibi, pembantu kediaman Lachowicz.


Vieka begitu ceroboh hingga tidak menyadari keberadaan bibi yang masih disana. Wanita yang bahkan sudah lebih tua daripada Athena itu, merekam semua gumaman Vieka disana dan berencana akan menyampaikannya pada Alex nanti.


"Wanita ini... Dia begitu cantik, tapi tak kusangka akhlaknya tidak secantik tampangnya. Aku harus mengingatkan tuan Alex agar tidak meminum teh tersebut."


Bibi berlari kecil dan merapikan dapur seadanya.


Sedangkan itu, di kamar Alex...


Alex berbaring di ranjangnya, menanti sang kekasih membawakan secangkir teh untuknya.


"Tara! Sayang, aku sudah membuatkannya untukmu," ucap Vieka. "Ehh maaf ya. Teh ini beraroma sangat enak. Aku jadi membuatnya satu untukku," lanjutnya.


"Gapap kok sayang."


Suara bisikan terdengar dari telinga Alex. Suara yang tak lain dan tak bukan yang berasal dari sistem miliknya itu berasal.


"Ketua! Ketua! Jangan minum teh itu!" Pekik pria yang ia temui di dalam ruangan dalam sistem.


Jangan minum? Apakah dia menaruh racun? Secepat itu dia ingin aku pergi? Omong-omong, bukankah jika kau berteriak, dia akan mendengarnya? Ehh pria itu dengar tidak ya suara batinku?~Batin Alex.


"Humph. Baiklah," gumam Alex.


"Kamu ngomong apa, sayang? Mau aku pijiti?" Tanya Vieka.


Aku harus mencari cara untuk menukar teh miliknya,~Batin Alex.


"Aku merindukanmu. Maafkan aku sudah membuatmu menangis dan khawatir. Boleh aku peluk?" Tanya Alex meminta izin.


Vieka mengangguk kepadanya. Alex langsung memeluknya dan mengarahkan tangannya pada nampan teh di depan mereka. Dengan sigap, Alex memutar nampannya. Cangkirnya pun kini terbalik. Setelah itu, dia baru melepaskan pelukannya dan mulai meminum tehnya.


"Sayang, yuk diminum tehnya. Keburu dingin nanti," ajak Alex.


"Humm. Baiklah." Vieka menyeringai saat melihat Alex meneguk teh buatannya. Leher putih Alex seakan mengekspose teh tersebut mengalir sempurna di dalamnya. Vieka pun melakukan hal yang sama tanpa ragu.


Selamat tinggal Alex sayang. Itu adalah obat dosis....


Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya dalam hati, wanita itu sudah merasakan pusing yang luar biasa hebatnya.


Ahh... Sa-sakit sekali. Mengapa kepalaku pusing? A-aku, aku tidak salah minum kan?


Vieka memegangi kepalanya yang terasa seakan hampir pecah. Dia melirik samar ke gelas yang baru saja diminumnya.


Sial! Aku salah minum. Bagaimana bisa? Atau jangan-jangan...~batin Vieka.


Vieka meliriknya sekilas. Alex yang merasakannya, kemudian meletakkan cangkirnya di meja yang berada disana.


"Ya. Seperti dugaanmu, akulah yang menukarnya. Siapa lagi?" Ucap Alex yang membuat Vieka tercengang.


Kini, Vieka memegang lehernya yang mulai terasa panas, nafasnya pun mulai membara, terasa begitu sesak.


"Kau pikir aku masih sama seperti Alex yang kau kenal? Alex bodoh yang bahkan mau menjadi budak cintamu?" Alex mendekat kearahnya, menakup dagunya dengan kasar. "Tidak!"


Vieka terkejut dibuatnya. Di sisa-sisa nafas terakhirnya, dia pun berkata, " Aku benci kamu, Alex! Aku akan membalasnya dikehidupan selanjutnya!" Pekik Vieka.


Bibi berusaha lari secepat mungkin, namun dirinya telah terlambat.


"Baiklah, aku menunggumu. Selamat tinggal Vieka ku tersayang," ucap Alex.


"Tuan! Tuan tak apa?" Tanya bibi panik.


"Iya. Saya tak apa. Ada apa,bi? Mengapa bibi panik?" Tanya Alex.


"Saya..." bibi menghetikan ucapannya saat melihat Vieka yang sudah terbaring lemah disana, dengan busa yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.


"Apa itu perbuatan anda?" Tanya bibi yang tiba-tiba mengubah ekspresinya.


Bibi mundur selangkah demi selangkah.


"Tidak!" Jawab Alex tegas.


"Dia yang ingin meracuniku. Aku yang menukar minumannya dengan milikku. Alhasil, dia terkena batunya," ucap Alex.


Bibi mengangguk. "Tuan muda, saya memiliki sebuah video."


Bibi memperlihatkan video saat Vieka bergumam sendirian disana. Alex melihatnya dengan cermat dan sekarang ia mengerti mengapa bibi tiba-tiba begitu panik sambil berteriak.


"Kirimkan ke saya," ucap Alex.


Bibi mengirimkan video tersebut untuk dibuatnya sebagai barang bukti.


"Terimakasih bi. Saya akan berbicara dengan kakek untuk mengurusi pemakamannya."


Alex pergi berlalu begitu saja.


"Tuan muda... Setelah kejadian kala itu, dia berbeda sekali, seperti dua orang yang berbeda, " gumam bibi.


..."Haha. Terimakasih telah membiarkanku merasakan rasa mencintai seseorang dan terimakasih telah memberikanku rasa kecewa, karena memang tak ada kekecewaan yang mendalam tanpa ada rasa cinta yang mendalam."...


...~Alex Lachowicz...