I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 34



Alex telah menunjukkan hampir setiap bakat yang ia miliki. Kini waktunya dia menunjukkan bakat memanahnya. Kini, Alex mencoba hal baru. Sesuatu cara memanah untuk objek yang selalu bergerak. Dia memasang beberapa pesawat kertas yang telah dirancang pula kecepatannya. Semua orang berkumpul pada posisi yang sama dengan beberapa orang yang telah ditunjuk untuk melemparkan miniatur pesawat itu ke arah sembarangan.


Setelah pesawat tersebut diluncurkan, Alex memanah semuanya dengan cermat, tak ada satupun yang terlewatkan maupun anak panah yang terbuang sia-sia. Setelah selesai, Alex mengalungkan kembali busur panah tersebut pada dirinya.


"Apakah kalian semua sudah mengerti?" Tanya Alex.


"Siap, sudah ketua!" Seru mereka bersamaan.


"Good. Lalu, apalagi? Cepat coba sekarang!"


Semua orang berbondong-bondong mengambil busur panah, anak panah dan juga pistol kesukaan mereka agar tidak keduluan oleh orang lain. Ragging bull 545 adalah salah satu jenis senjata api yang paling diminati oleh mereka. Selain daya tembaknya yang begitu dahsyat, juga kecepatan yang dimilikinya begitu besar. Pistol tersebut mampu melesatkan peluru hingga 580 km/jam.


Setelah selesai memilih senjata api, mereka kembali pada barisan mereka masing-masing dan menanti nama mereka di panggil. Semua orang telah menyelesaikan misi mereka dengan sempurna. Alex nampak begitu senang kali ini, dia telah puas dengan latihan yang dia lakukan kali ini.


"Good! Setiap orang ambillah satu cup kopi yang telah saya sediakan. Disana juga ada burger maupun makanan lainnya. Kalian jangan berebut, satu orang pilih satu sesuai kesukaan mereka. Kali ini, saya membebaskan kalian memakan junkfood juga meminum bir. Semua sudah tersedia disana," ucap Alex.


Mereka semua saling menatap satu sama lain. Suara sorak sorai gembira dari mereka terdengar jelas, membuat Alex tambah semangat menjalani harinya.


"Terimakasih ketua!" Seru mereka bersama.


"Sekarang kalian semua tahu dengan jelas bila tak ada yang tidak dapat kita lakukan. Aku dulu adalah seorang sampah, seseorang yang bahkan tidak dapat melakukan apapun, payah, tidak berguna, tak ada seorangpun yang sudi untuk mendekat denganku, bahkan ibundaku pun enggan bertemu denganku. Ramalan takdirku begitu buruk,namun apa yang terjadi sekarang? Aku berdiri disini, memimpin ratusan pasukan yang aku miliki. Tidak, aku ada rencana untuk menambah beberapa orang lainnya," ucap Alex dengan serius.


"Tapi, bukan itu intinya. Maksudku adalah aku ingin menyampaikan kepada kalian untuk jangan pernah menyerah. Jangan mengklaim bahwa diri kalian tidak bisa sebelum mencoba, bahkan sesudah. Ingatlah, tak ada seorang pun di dunia ini yang terlahir untuk menjadi seorang sampah, seseorang yang tidak berguna. Jikalaupun ada, bukan nasib mereka yang buruk, hanya saja mereka malas untuk berjuang."


Semua orang tercerahkan. Mereka merasa terpampar atas ucapan dan jawaban mereka kepada Alex sebelumnya. Mereka malu dengan usia mereka yang bahkan lebih tua, terpaut begitu jauh dari ketua mereka. Beberapa diantaranya hanya menunduk dan tak mampu menoleh ke arahnya. Mereka terdiam hingga Alex pun bersuara, "Tunggu apalagi? Mari kita berpesta!" Alex berseru di depan mereka. Mereka pun melupakan masalah mereka dengan sejenak, begitu pula dengan Alex. Mereka hanyalah manusia biasa yang butuh hiburan.


...*...*...


Latihan kali ini pun telah usai. Alex menitahkan kepada pria dalam sistem tersebut untuk mengembalikan jiwanya ke raganya yang masih terkapar lemah di pinggir ranjangnya dengan pisau yang tergeletak disampingnya.


"Siapa sebenarnya namamu? Bagaimana aku harus memanggilmu?" Tanya Alex.


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Maaf ketua, namun saya tidak ingat nama saya. Saya ditemukan oleh ketua sebelumnya dalam keadaan terluka, katanya. Saya pun tidak mengingat apapun sebelum kejadian itu."


"Humm, baiklah. Aku akan memberimu nama Osy," ucap Alex.


"Apakah kamu suka?"


"Ya, tentu saja. Semua pemberian ketua, saya menyukainya!" Seru pria itu bahagia.


"Baiklah, aku harus kembali sekarang sebelum Paman Aron mendapatiku yang masih pingsan," ucap Alex.


Osy melaksanakan perintah Alex, sedangkan Alex menunggu sambil memejamkan matanya. Jiwanya berhasil di transfer dengan begitu cepat. Kini Alex pun telah sadar. Sebelum dia kembali ke tubuhnya pun, dia tak lupa untuk meminta obat penghilang luka pada Osy. Kini dia dapat mengenakannya dan bangkit dari tempatnya saat ini.


"Ketua, jangan lupakan misi kedua," ucap Osy yang hanya dapat didengarkan oleh Alex.


"Misi kedua?" Gumam Alex seraya mengingat-ingat.


"Ya, membantu wanita itu untuk mengatasi suaminya," jawabnya.


"Ha? Aku kira itu hanya gurauan? Itu beneran?!" Pekik Alex terkejut.


"Tuan muda, ada siapa di dalam? Anda berbicara dengan siapa?" Tanya Aron begitu keras dari luar kamar Alex.


"Ohh begitu ya, bolehkah saya masuk?" Tanya Aron.


Alex kelabakan saat darah masih terlihat pada lantai di kamarnya serta pada pisaunya. Dia sesegera mungkin mencari tisu untuk membersihkan keduanya. "Sebentar paman, aku masih memakai baju."


"Ayolah,tuan muda. Kita kan sama-sama lelaki. Ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan dengan tuan muda terkait dengan data informasi yang anda kirimkan kepada saya, "ucap Aron.


Setelah selesai membersihkan semua, Alex pun membukakan pintu untuk Aron disana.


Krekkk...


"Paman, silahkan masuk," ucap Alex.


Aron menilik keadaan sekitar. Suasana mendadak menjadi suram, berbeda dengan yang sebelumnya. Samar tercium aroma anyir darah disana, namun dibalut dengan pewangi ruangan yang menyengat di hidung. Aron pun tak tahan untuk bertanya. "Tuan, apakah anda habis melakukan sesuatu?"


Alex tertegun mendengar pertanyaannya. Dia benar-benar sudah menyembunyikan semuanya dengan sempurna, mustahil jika masih dapat tercium oleh seseorang.


"Apa maksud paman? Aku hanya tertidur," ucap Alex berbohong.


Aku lupa bila Paman Aron memiliki kemampuan dalam merasakan sesuatu. Dia lebih peka dibandingkan dengan orang lainnya,~Batin Alex.


"Tapi, saya merasakan aura suram dan juga aroma darah segar," ucap Aron.


"Ohh, tadi aku memang sempat mimisan paman. Nihh, masih ada bekasnya." Alex menunjukkan bekas darah pada hidungnya. Untung saja dia tadi benar-benar mimisan sebelum dia pergi beralih dimensi.


"Oh astaga, tuan. Apakah tuan baik-baik saja? Perlu ke dokter?" Tanya Aron mulai panik.


"Tidak, tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat saja. Kecapekan," jawab Alex.


"Ohh, kalau begitu syukurlah."


"Oh ya tuan muda, saya sudah mempelajari semuanya. Mereka memiliki suatu kekurangan dan mungkin kekurangan ini ada di bagian yang..." Aron terlihat ragu untuk mengungkapkan. Wajahnya mulai memerah, entah apa yang ingin dia ucapkan.


"Bagian apa?" Tanya Alex dengan polosnya.


"Bagian... itunya," ucap Aron lirih sambil melirik ke arah miliknya.


"Hah?" Pekik Alex terkejut.


"Bagaimana maksudnya?" Tanya Alex.


"Seluruh badan mereka menjadi begitu kuat, bukan?" Alex mengangguk menyetujui ucapannya. "Nahh, hanya bagian anunya saja yang tidak."


"Lantas, bagaimana caranya?" Tanya Alex.


"Menendang hingga mereka pingsan. Lalu, kita bisa mulai mengeksekusinya dari kepala mereka," ucap Aron.


"Setelah mereka pingsan, kekuatan itu tidak akan bekerja seluruhnya. Bagian-bagian tertentu akan melemah. Itu adalah kesempatan emas bagi kita untuk menumpas mereka," lanjutnya.


"Ok, kita coba saja nanti."