
Alex berlari begitu kencang. Tentu saja, dengan air mata yang mengalir begitu deras. Dia terlihat panik serta ketakutan.
"Kakek! Mama!" Teriak Alex memenuhi ruangan.
Dia berhenti pada suatu ruangan, ruangan yang penuh dengan orang di dalamnya. Dia terengah-engah, mengatur nafasnya dan mencoba untuk mengatakan hal yang ingin dia katakan.
"Kakek, mama, tolongin Vieka. Vieka..."
Kata-kata Alex terhenti seakan dia tak sanggup mengucapkannya. Alex bersiap untuk membuat air mata buayanya.
"Ada apa dengan Vieka? Apa dia melakukan sesuatu kepadamu?" Athena langsung bangkit dari duduknya saat melihat ekspresi panik di wajah anaknya.
"Vieka... Dia sudah tidak bernafas," ucap Alex ditengah tangisnya.
"Apa?!" Pekik kakek terkejut.
"Ada apa ini sebenarnya? Coba bawa kami ke dalam sana," ucap Kakek Alex.
Alex hanya mengangguk.
Berpura-pura bodoh memang diperlukan. Aku akan mengambil celah untuk menikammu dari belakang, pamanku tersayang.
Alex menyeringai sambil terus berjalan menunjukkan jalan. Steve yang ingin tahu pun ikut mereka diam-diam.
Sesampainya di kamar baru Alex...
Kakek memeriksa kondisi Vieka. Dia sudah terbujur kaku disana. Badannya pun perlahan mulai dingin.
"Alex, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" Titah Kakek.
"Jadi, tadi kan Alex meminta tolong pada Vieka untuk membuatkan minum. Terus Vieka buat dua. Tapi, setelah minum dia jadi gini," ucap Alex menjelaskan masih sama seperti dirinya yang bodoh waktu itu.
Kakek mengangguk berusaha mencerna.
"Tuan, bolehkah saya berbicara?" Ucap bibi yang tiba-tiba datang entah darimana.
Kakek membalikkan badannya, "Hum? Apa bibi tahu sesuatu?" Tanya Kakek.
"Saya bahkan memiliki rekaman videonya, tuan besar."
Bibi menunjukkan rekaman video tersebut dan membuat kakek murka. Tuan James pun tak kalah murkanya dengan kakek. Dia mengobrak abrik semuanya untuk melihat jasad sang anak yang meninggal di kediaman Lachowicz.
"Apa ini yang dilakukan keluarga besar seperti keluarga anda kepada tamu? Anda tahu, saya bisa memviralkan kejadian kali ini!" Seru tuan James.
"Saya tidak terima. Pokoknya saya akan menuntut kalian semua! Terutama kamu..." Tuan James menunjuk ke arah Alex, "Kamu adalah pembawa masalah bagi anakku!"
Alex menahan emosinya sendiri. Dia harus terlihat sama seperti dirinya yang dulu. Tidak untuk saat ini.
"Jangan kamu menunjuk cucuku," tegas Kakek.
Kakek maju beberapa langkah dan menatapnya tajam. Tinggi mereka tak sejajar, kakek terlihat lebih tegap dan besar. Terlihat sorot mata ketakutan dari matanya, namun dia masih kekeh pada pendiriannya.
"Silahkan! Silahkan kamu melapor, silahkam viralkan juga. Aku akan menunjukkan video ini..." Kakek menunjukkan video di tangannya kepadanya "Aku ingin melihat, siapa yang akan menang!"
"Steve, antarkan tuan James yang terhormat ini. Jangan lupa utus seseorang untuk mengurus jasad nona muda Campbell."
Kakek membalikkan badan, merasa enggan untuk menilik wajahnya.
Alex menyeringai saat dirinya akhirnya dapat membuat persekutuan diantara mereka terpecahkan. Selangkah sudah ia lakukan.
Waktunya mencari bukti kejahatanmu kala itu, pamanku tersayang,~Batin Alex.
...*...*...
Keesokan harinya...
Alex berangkat sekolah dengan mobil milik ayahnya. Semua orang tercengang saat melihat beberapa perubahan yang terjadi pada Alex, namun Alex menjelaskan jika dirinya memang sudah bisa menyetir sebelum Russel meninggal.
"Ma, kek, Alex berangkat dulu." Alex melambaikan tangan kepada mereka, kemudian dia menutup kacanya dan mengemudikannya dengan cepat.
Sedangkan itu, disisi lain...
Steve memutar kursinya. "Tidak terima?" Steve berdiri dan menghadap kepadanya. Dia mendekatkan wajahnya pada James, "Memangnya, apa yang akan kamu lakukan?"
Steve meletakkan kedua tangannya pada sakunya dan mundur beberapa langkah dari James. James mengepalkan tangannya, dia sungguh geram sekaligus menyesal telah menuruti ucapan Steve.
Steve membalikkan badannya dan berjalan beberapa langkah dari pria yang sedang menahan emosinya itu.
"Kau sudah menandatanganinya dan kekuasaan penuh ada di tanganku." Steve menggenggam tangannya mengudara.
"Kau! Kau sungguh pria brengjek!" Teriak James sambil melayangkan pukulan ke arah Steve. Namun, bawahannya Steve dengan sigap menahannya dan memelintir tangannya. Pria tinggi besar yang bernama Zydan itu menjatuhkannya di meja, menekan kepalanya tanpa ampun.
"Hahaha. Bahkan mengalahkan bawahanku saja kau tak bisa dan masih mau menuntutku?" Steve menyeringai mengerikan. "Kau begitu naif!"
James nampak hanya terdiam disana.
"Untungnya kau masih berguna untukku dan ya aku akan tetap menjadikanmu sebagai wakil sesuai janjiku kala itu. Tapi, ingat... Kau hanyalah kacungku. Pergi kamu dari sini!" Steve mengusir James secara tidak hormat.
James menuruti ucapannya. Dia masih sangat mengharapkan jabatan itu menjadi miliknya. Jadi, dia hanya bisa bersabar. Lagipula, hidup tanpa keluarga memang lebih baik sepertinya.
...*...*...
Berita tentang Arvieka yang meninggal kemarin pun dengan cepat menyebar. Mereka tidak mengungkapkan bagaimana dia meninggal atau dimanakah dia meninggal. Semua itu ditekan oleh keluarga Lachowicz walau Alex sudah tidak peduli lagi pada keluarganya. Alex masuk ke ruang kelasnya dengan santai. Tampangnya begitu berbeda dari hari kemarin.
"Cihh, lihat tuh cowok. Kasihan ya dia. Ehh harusnya kasihan sama Vieka sih. Dia meninggal pasti karena terkena dampak sialnya tuhh cowok," ucap salah seorang mahasiswi yang duduk tak jauh darinya.
"Benar sekali. Aku harus jauh-jauh darinya!" Seseorang menimpali ucapannya dengan begitu lantang.
Brakkk...
Jessica menyergah ditengah ucapan mereka. Seperti biasa, memang Jessica lah yang selalu membantu Alex untuk segala bullyan yang dilayangkan padanya.
"Apa yang kalian katakan? Coba katakan sekali lagi!" Seru Jessica.
Mereka semua saling bertatapan.
"Memangnya kenapa? Bukankah itu fakta? Ayahnya meninggal tak jauh sebelum pacarnya meninggal. Apa aku salah?" Tanya wanita itu.
Alex masih tetap tidak menggubrisnya, namun dalam hatinya kini sudah sangat panas. Entah darimana datangnya sifat agresifnya ini, namun dia tak dapat menghindari fakta bila dia memang telah berubah.
Beberapa saat kemudian...
Alex menunggu disebuah gang kecil, menunggu beberapa pria dan gadis yang mengejeknya tadi di kampus. Dia telah menulusuri jalanan mana yang biasanya mereka lewati dan kebetulan sangat sepi.
Dengan kecepatan penuh, Alex mengejar pria itu dan memberhentikannya di bawah kolong jembatan.
"Mau apa lu?" Tanya pria itu.
Alex bersandar pada dinding bawah jembatan. Dia masih terlihat santai merespon pria itu.
"Lu budeg ya? Mau apa lu?!" Pekik pria itu yang sudah mulai kehilangan kesabarannya.
Alex masih tetap saja bungkam. Pria itu telah kehabisan kesabarannya dan mulai menyerang Alex terlebih dahulu. Dia mengambil pisau dari sakunya, pisau yang entah sejak kapan dia membawanya. Alex menusukkan pisau tersebut tepat pada perut pria itu.
"Ughh.. Kau..."
Alex mencabut pisau itu dari perutnya. "Aku tidak pernah mencari masalah kepadamu sebelumnya dan kau terus menerus menggangguku. Kau bertanya aku mau apa? Tentu saja aku ingin..." Alex mendekati pria itu dengan tatapan mengintimidasi. Langkahnya cenderung stabil, namun dapat membuat bulu kuduk merinding. Tak disangka, pria itu malah berlutut dihadapannya, memohon ampunan.
"A-ampuni aku. Aku akan menjadi kacungmu. Aku bersedia menjadi budakmu," pinta pria itu memelas.
Alex hanya menyeringai,
"Heh.Kamu bahkan tidak mampu melawanku dalam satu serangan. Aku tidak membutuhkan pria lemah sepertimu. Sekarang, pergilah ke neraka!" Ucap Alex.
Srakkkk...
Dia memutuskan untuk menyayat leher pria itu dengan pisau kecil di tangannya. Pria itu tergeletak dengan leher bersimbah darah. Darahnya ikut terciprat mengenai diri Alex. Wajah Alex kini penuh dengan darahnya, sama halnya dengan tangan dan bajunya. Alex menggila untuk sesaat. Dia melihat pisaunya yang telah bersimbah darah. Aura ketua mafia telah melekat pada dirinya.
"Ternyata, membunuh orang itu memang sesenang ini." Alex memutar pisaunya dan tak lupa menjilatinya dengan lidah panjangnya. Tatapan sadis, membunuh dan kejam itu, senyumnya, siapapun mengira dia bukanlah Alex yang mereka kenal.