I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 24



"Tuan muda, siapa wanita itu? Apa yang dimaksud tuan muda ingin menolong seseorang adalah dia?" Tanya Aron berbisik lirih.


Alex mengacuhkan pertanyaan Aron. Dia bingung harus menjawab apa, karena dia sendiri pun tidak mengerti siapa wanita itu dan rahasia apa yang mereka maksud.


Klakkk...


Suara pelatuk pistol ditarik membuat mereka semua bergidik ngeri, setengah memejamkan mata dan berdoa untuk wanita itu.


"Cihh, peluru habis begini dipakai," gumam pria itu kesal.


Pria itu membuang pistol tanpa peluru itu sembarangan. Dia sembarangan mencari pistol lainnya di dalam sakunya. Begitu banyak pistol berbagai jenis disana. Dia mengambil salah satu dan menodongkannya lagi pada wanita itu.


"Aku beri satu kesempatan," ucap pria itu.


Namun, wanita itu malah diam menatapnya dengan tatapan benci.


"Baiklah jika itu maumu."


Pria itu bersiap menarik pelatuk tersebut dengan sebelah tangannya. Sedangkan Alex tentu saja tak tinggal diam. Dia tidak akan mengorbankan nyawanya sia-sia hanya demi misi rendahan tersebut. Dia mengeluarkan panahnya yang entah darimana asalnya dan membidiknya tepat di tangan kanan pria yang memegang pistol tersebut. Dengan menatap penuh arogan, pria itu menarik pelatuknya, bermaksud untuk menembak. Sebelum berhasil, Alex telah meluncurkan anak panahnya.


Plakkk...


"ARGHHHH!" Pekik pria itu kesakitan.


Anak panah tersebut berhasil menancap di lengan bagian atas, diantara bahu dan


Plsikunya. Darah mulai mengalir dari sana. Fokus pria itu kini berubah. Alex tak takut, entah dimana rasa takutnya sekarang. Dia yang dulu, penakut lemah macam sampah, kini berubah menjadi seseorang yang bahkan tak takut mati.


"Sial! Black, tembak dia!" Titah pria itu kepada anak buah setianya.


Dia melupakan wanita yang dia incar dan berfokus pada Alex saat ini. Wanita itu menggunakan kesempatan tersebut untuk kabur seraya mulutnya berkomat-kamit berterimakasih pada siapapun yang menolongnya kali ini.


"Siapapun kalian, aku mengucapkan terimakasih. Aku doakan kalian selamat dan suatu saat, kita bisa bertemu kembali." Wanita itu berlari secepat yang ia bisa.


...*...*...


Black, asisten ataupun anak buah dari pria tersebut membidik ke arah datangnya anak panah yang menyangkut di lengan atas bosnya. Alex menempelkan dirinya pada dinding dan menyuruh Aron dan Nero untuk berhati-hati.


"Jika kalian menyerahkan diri kalian, aku pastikan untuk memulangkan jasad kalian secara utuh. Jika tidak, jangan harapkan kalian dapat mati dengan tenang!" Ancam Black.


Nero dan Aron nampak begitu tenang. Hal tersebut membuat Alex dapat bernafas lega. Setidaknya, dia tidak perlu memedulikan mereka berdua untuk saat ini.


Pria itu semakin mendekat ke arah mereka hingga nampak Alex yang berada tepat di depannya.


Dorrr...


Black melepaskan pelurunya begitu saja. Beruntung, Alex dapat menghindarinya dengan sempurna. "Kau begitu cerdas. Sayang sekali kau adalah penjahat." Alex melompat keluar akhirnya. Dia tidak lagi bersembunyi di balik dinding. Dia menentang Black secara terang-terangan.


"Apa urusanmu? Siapa kamu?" Tanya Black.


Langkah Alex mendominasi, membuat pria itu harus mundur beberapa langkah. "Aku? Siapa aku? Kamu sama sekali tidak berhak untuk tau."


Alex begitu tegas. Dia begitu kharismatik kali ini. Jika saja Jessica melihatnya, pasti dirinya akan begitu terpukau oleh tindakan Alex.


Klak.


Alex menyiapkan senapannya dan mulai membidikkannya pada pria di hadapannya. Pria itu meneguk air liurnya beberapa kali.


"Kau akan menyesal jika berbuat sesuatu kepadaku!" Lagi-lagi pria itu hanya dapat mengancamnya.


"Aku tidak takut. Suruh pemimpin mu itu muncul jika berani!" Alex menantangnya.


"Baiklah jika itu maumu."


Pria itu menodongkan kembali senjatanya kepada Alex.


Heh, kalian akan mati setelah ini. Kita lihat, siapa yang akan menang. Setidaknya, dua orang kesayanganmu itu akan mati hari ini.


Pria yang terkena panah Alex pun menyeringai saat melihat Alex begitu lengah kepada kedua pria yang datang bersama dirinya. Pria itu memasangkan bom disekitar mereka. Black menarik Alex untuk menjauh dari mereka. Bom telah diaktifkan. Hanya butuh waktu tiga puluh detik untuk diledakkan.


Tiittt... tiittt... tiiittt...


Samar dapat terdengar oleh Alex ada bom disekitarnya. Dia menyadari satu hal bila dia telah dijebak oleh mereka.


Suara itu... Aku pernah melihatnya di film.  Apakah... Sial! Mereka menjebakku,~Batin Alex.


Alex berusaha nampak tenang di depan mereka. Berusaha mencari tahu dimanakah sumber suara itu berada.


Apakah bos sudah memasang bomnya? Mengapa ekspresi bocah ingusan ini mendadak berubah?~batin Black.


"Aku tidak memiliki waktu lagi. Aku takut jika aku, paman Aron dan Nero lah yang akan tamat kali ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun terluka," Gumam Alex.


Dorrr....


Alex menembakkan pelurunya tanpa aba-aba. Sayangnya, Black terlalu cerdas untuk menghindar. Bagaimana pun dia adalah seseorang yang telah biasa menangani kasus tersebut.


"Hahaha. Tembakanmu meleset." Dia mengejek Alex.


"Baiklah. Jika kamu begitu hebat menghindari peluru dariku, maka aku pastikan kamu tidak dapat melewatinya."


Alex mengeluarkan senjata andalannya. Dua pisau tekuk kecil bewarna silver dia keluarkan dari jaket yang dipakainya. Dia memutar-mutar pisau tersebut bak sang pembunuh profesional di film-film barat lainnya. Kini, dia memakai cara yang berbeda. Alex berlari kencang menerobos setiap pertahanan Black. Tentu saja, Black tak mau kalah.  Dia terus menembakkan peluru kearah pria berusia belum genap dua puluh tahun itu. Berulang kali Alex mengudara. Dia bahkan melakukan gerakan memutar di udara seiring dengan datangnya peluru yang menuju ke arahnya.


Kini dia berada sangat dekat dengan Black. Dia mengambil ancang-ancang untuk kembali melompat.


Tiga... Dua... Satu....


Dia melompat setinggi yang dia bisa, melewati Black yang sudah termasuk tinggi untuk ukuran manusia. Alex melakukan gerakan memutar yang sempurna di atas kepala Black dan mempersiapkan pisau kecil ditangannya. Dia mulai membuka, bersiap untuk menusuk. Saat kaki Alex berada di bawah, dia memutar badannya dengan cepat. Dia menendang  Black hingga tersungkur. Tentu saja, hal ini benar-benar di luar nalar dan kemampuan manusia biasa.


Setelah Black terjatuh, Alex sesegera mungkin menancapkan pisaunya tanpa ampun ke dirinya. Beberapa kali, tarik dan tancapkan lagi begitu dalam hingga Black kehilangan banyak darah.


Alex membalikkan badan Black. Pria berkulit putih itu nampak masih sadar. Dia memang pantas disebut dengan pasukan berani mati dari sebuah geng mafia yang terkenal.


"Uhuk uhuk. Lihat saja, geng harimau putih tidak akan pernah memaafkan..." Alex menusukkan pisau untuk terakhir kalinya dan Black pun Akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Geng harimau putih ya? Baiklah. Aku yakin jika pria itu masih ada di sekitar sini," gumam Alex.