
Disisi lain...
Hari ini adalah hari yang bagus bagi seorang wanita untuk berbelanja. Selain cuaca yang sedikit mendung, namun temperatur suhunya pas, tidak terlalu dinin maupun panas, juga merupakan hari spektakuler yang tentu saja diskon bertebaran dimana-mana. Tentu saja Athena sama sekali tidak pernah menginginkan untuk kelewatan momen apapun itu. Terlebih lagi, jiwa sosialita dalam dirinya yang masih begitu melekat dengan jelas
"Ulala. Jeng. Congrats ya, anaknya bisa sesukses itu. Rahasianya apa dong nyonya," ucap salah seorang teman Athena.
Athena hanya tersenyum menatap mereka.
Humph, dulu kalian begitu menjelek-jelekkan putraku sampai mengatakannya seorang sampah dan aib keluarga. Sekarang malah memujinya? Tch, tapi aku juga tak ada bedanya dengan mereka. Maafkan, mamamu ini sayang,~Batin Athena.
Saat Athena dan teman-temannya bersenda gurau, seorang pria kecil yang juga sedang berlarian dan bermain kejar-kejaran dengan gadis mungil di belakangnya tiba-tiba menabraknya.
"Kakak, jangan kabur!" Pekik gadis yang cantik dan imut di belakangnya.
Brakkk...
Pria kecil itu terduduk sambil memegangi keningnya. Athena pun menoleh ke arahnya dan berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan pria kecil itu.
"Nak, kamu gapapa kan?" Tanya Athena.
"Maaf,nek. Saya tidak sengaja." Pria kecil itu langsung berdiri seketika dan membungkukkan badannya bermaksud untuk meminta maaf.
"Kamu anak yang pintar." Athena mengelus lembut rambut pria kecil itu, " Sini biar aku lihat keningmu."
Athena menyibakkan poni yang mengganggu wajah pria kecil di hadapannya.
Bocah ini... mengapa dia mirip sekali dengan Alex? Walau aku hanya melihatnya sebentar-sebentar saja, namun aku masih ingat dengan jelas rupanya waktu kecil. Bahkan, bocah itu juga tidak berubah signifikan wajahnya. Tapi, apakah ada orang yang begitu mirip di dunia ini kecuali memiliki hubungan darah?~Batin Athena.
Ahh ga mungkin lah Alex melakukan hal itu,~Lanjutnya dalam hati.
"Sayang, siapa namamu?" Tanya Athena.
"Kak!" Gadis kecil yang diyakini adalah adik kembarnya itu menarik tangannya dan menyuruhnya untuk mundur. Gadis kecil yang pandai dan imut itu menggeleng, mengisyaratkan untuk tidak memberitahukan nama mereka ke sembarang orang.
"Kalian tenang saja. Aku tidak memiliki niat jahat kepada kalian. Tapi, kening kakakmu terluka. Jika tidak segera diobati, maka bisa bertambah parah." Athena menyentuh hidung mungil milik gadis kecil itu.
"Baiklah, kenalkan." Athena menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan kedua bocah kembar di hadapannya, "Namaku Athena. Kalau kalian?"
Kedua bocah itu masih nampak ragu. Mereka berdua saling menatap sebelum pada akhirnya mereka memutuskan untuk memberitahukan nama mereka, "Namaku Aluna, biasa dipanggil Ana. Namanya Axel. Mama selalu memanggil kami dengan sebutan baby A, begitupun orang-orang lainnya."
"Lalu, dimanakah orang tua kalian? Apakah mereka tidak khawatir dan mencari kalian?" Tanya Athena.
"Mama disana." Anna menunjuk keberadaan sang ibunda yang sibuk memilah-milah pakaian, "Kalau papa... Anna dan Axel tidak pernah bertemu." Kedua bocah itu menggeleng bersamaan.
"Duhh kedua bocah ini imut sekali," ucap rekan-rekan Athena bersamaan.
"Ehh, kalau dilihat-lihat, sepertinya anak yang cowok itu mirip sama anak nyonya Athena deh," sambung mereka saat menyadari hal yang sama dengan Athena.
Luna yang sedari tadi memilah-milah baju untuknya dan kedua anaknya, kini tersadar bila kedua bocah yang sedari tadi menggulati kakinya kini telah tiada disana.
"Anna? Axel?" Panggil Luna mulai panik.
Luna mulai melakukan pencarian kedua anaknya. Wajahnya mulai bermandikan keringat. Dia benar-benar khawatir bila kedua anaknya hilang ataupun diculik. Bagaimana pun, identitas kedua bocah itu tidak dapat diremehkan.
"ANNA! AXEL!" Teriak Luna memanggil-manggil anaknya.
"Anna, Axel, kalian habis darimana saja sih? Mama capek nyariin kalian," protes Luna.
"Terus, kenapa dengan kening kalian? Kalian pasti membuat ulah ya?!" Lanjutnya masih dengan emosi yang sama.
Athena berdiri dan menghadapnya, "jangan khawatir. Mereka tidak nakal kok. Tadi bocah laki-laki ini, Axel, dia terjatuh. Aku menolongnya."
Anna dan Axel yang awalnya nampak ketakutan, takut disambar oleh ibunda tercinta mereka, kini hanya dapat berlindung di belakang Athena.
"Ma-maafkan kami, ma," ucap mereka bersamaan.
"Duhh gemesnya. Boleh bawa pulang ga sih?" Tanya salah seorang rekan Athena yang memang dasarnya sangat berisik.
Luna hanya menanggapinya dengan kekehan. Dia akui kedua anaknya ini memang begitu menggemaskan, bibit unggul yang diberikan pria dalam benaknya itu benar-benar dapat membuatnya terhibur.
"Bilang apa sama nenek?" Tanya Luna kepada kedua anaknya.
"Makasih,nenek cantik," ucap mereka bersamaan.
Ohh astaga. Betapa bahagianya. Akan lebih bagus jika mereka adalah cucuku. Ehh, tapi pria sedingin Alex, apa bisa mendapatkan istri? Sepertinya, aku harus cepat-cepat menyuruhnya menikah,~Batin Athena.
"Ehh nona cantik, sepertinya anda tidak berasal dari sini ya?" Tanya teman Athena.
"Iya. Saya Vercailus Lunora Flenderlizz dari negara G. Saya kesini hanya untuk berlibur," ucap Luna.
Wanita itu cantik sekali. Dia sudah berusia tua, mungkin seperti ibu, dan mungkin sama dengan rekan-rekannya yang lainnya, namun wajahnya bahkan terlihat lebih muda dariku. Dia juga begitu lembut dan sepertinya dapat dipercaya. Dia seharusnya tahu daerah sini dan tahu dimana rumah Alex,~Batin Luna.
"Lalu, dimanakah suamimu?" Tanya teman Athena lagi.
"Husss. Itu privasi." Athena melarangnya untuk melanjutkan pertanyaan. Dia tahu temannya itu memang terkadang sungguh keterlaluan, makanya dia jarang sekali meng-iyakan ajakan dari teman gendutnya tersebut.
"Yee. Maaf kali nyonya. Saya juga kan kepo," cibirnya.
"Nyonya Dheandra yang terhormat, mohon jaga sikap anda, terimakasih," ucap Athena.
"Ya sudah ya sudah. Lalu, kapan kita belanjanya ini? Mumpung banyak diskon. Keburu malam lagi," ucap Dhea.
"Kalian duluan saja. Aku masih ingin bersama mereka. Kalian juga langsung pulang. Jangan menungguku," ucap Athena.
"Yakin nih nyonya? Nanti marah lagi."
"Iya, saya yakin." Athena tersenyum seraya melambaikan tangan kepada mereka.
"Mengapa anda tidak ikut bersama dengan mereka?" Tanya Luna penasaran.
"Satu, aku malas dengan mereka. Dua, aku ingin bertanya lebih banyak tentangmu. Hehe, maaf ya kepo. Tapi, wajah putramu ini terlihAt begitu mirip dengan putraku," ucap Athena.
"Ehh tapi ga mungkin juga sih," gumamnya yang masih dapat di dengar begitu jelas.
"Ga mungkin? Kenapa?" Tanya Luna.
"Ya bagaimana mungkin seorang pria yang dinginnya seperti kulkas bisa memiliki seorang anak diluar nikah? Tch tch tch. Paling tuh anak bakalan tidak menikah jika tidak dijodohkan. Benar-benar."
Luna hanya menggelengkan kepalanya mendengar curhatan dari wanita paruh baya berwajah gadis di sebelahnya.