I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 59



"Hahaha. Salah satu anggotamu juga ada di tanganku sekarang," ucap bandit itu dengan sombongnya.


Alex nampak masih santai, namun tetap bungkam. Dia percaya dengan perhitungannya sendiri.


Alex menatap mereka seakan sedang membuat perhitungan. Satu tangan lainnya diam-diam mengambil pistol di saku kirinya. Tak ada yang mengerti apa yang dia pikirkan,namun itu adalah hal terbaik bagi seorang pimpinan.


Dia berlagak seperti akan menarik pelatuknya. Saat mereka mulai mengalihkan fokus mereka, saat mereka lengah. Alex menembakkan peluru dari kedua pistol ditangannya ke arah mereka berdua. Tentu saja, dia tidak menembak di area vital mereka karena itu akan mendatangkan hukuman tersendiri baginya.


"Arghhhh!" Pekik mereka berdua bersamaan. Mereka akhirnya melepaskan kedua orang dalam tangannya dengan segera dan mulai jatuh tersungkur karena kesakitan.


Krakkk...


Alex memukul leher pria itu dan menendang kakinya hingga patah dengan mulut si ketua bandit yang disumpal dengan kain.


"Kenichi, pegangi dia! Jangan sampai dia terlepas," titah Alex.


Semua orang terperangah melihat aksi Alex. Seseorang yang sempat mereka remehkan, seseorang yang mereka tuduh menjadi komandan dalam satu malam, karena orang dalam, kini membuktikan jati dirinya.


"Berani-beraninya kamu mengancamku secara lantang di hadapan umum. Apa sudah bosan hidup?" Tanya Alex.


"Baiklah, aku akan mengabulkanmu," ucap Alex.


"Kalian. Bawalah mereka. Sisanya ikut aku memberantas mereka."


Alex mulai memberantas mereka satu persatu. Mulai dari menyayat mereka, menebas, hingga menembak mereka. Namun, anggota mereka yang terlalu banyak membuat Alex pun hampir kuwalahan. Beberapa prajurit bawahannya pun terlihat mulai kelelahan dan terluka ringan.


"Komandan, sepertinya kita akan kalah kali ini. Jumlah mereka seperti sama saja. Tidak ada perubahan," ucap salah satu dari mereka.


"Jika kalian tidak ingin terus maju dan membantu, maka menyingkirlah. Jangan menghalangi semangat juang rekan kalian yang masih tinggi!" Seru Alex.


Mereka terdiam dan mulai berpikir sejenak. Sedangkan Alex masih terus maju dan tak gentar.


"Baiklah, kalau begitu. Kita yang masih sehat, kita bantu komandan Alex. Yang sudah lemas dan terluka, silahkan ikut Irene untuk mengobati luka dan mengembalikan stamina," ucap salah satu dari mereka.


Sejujurnya, aku lebih suka maju sendiri dan tidak menghabiskan tenaga. Kalian disini sama saja aku harus menyembunyikan kemampuanku sendiri. Jika tidak, kalian akan tercengang dan berpikir yang tidak-tidak,~ Batin Alex.


Beberapa saat kemudian...


Anggota bandit di kota desa barat kantor pusat itu nampaknya memang sangat banyak. Hingga lebih dari tiga puluh menit lamanya, namun masih tak kunjung usai. Tak salah jika beberapa anggota kemiliteran dulu, tidak peduli seberapa hebat komandan tersebut, juga tak mampu membasmi mereka. Bahkan beberapa meregang nyawa mereka dan akhirnya menjadikan kasus bandit di desa sebelah barat kantor pusat itu sebagai kasus abadi. Kasus yang seakan-akan tak pernah usai. Alex mulai terengah-engah. Dia nampak mulai kehabisan tenaganya.


Hosh hosh hosh. Jika dibiarkan begini. Aku akan mati kecapekan. Tapi, bagaimana caraku mengatasi mereka dengan hadirnya mereka disini? Lagipula, sebenarnya apa yang dilakukan paman Louis. Kenapa dia lama sekali?~Batin Alex.


Tak lama kemudian, Louis pun berhasil tiba dengan sebuh mobil yang cukup besar dengan banyak pasukan elite di dalamnya.


"Maaf komandan, terjadi macet di kawasan timur pusat kota. Lagipula, akademi militer yang saya pegang ini memang sedikit jauh dari kantor," ucap Louis.


"Itu tidak penting. Nanti Paman jelaskan jika semua usai," timpal Alex.


Louis dan pasukannya sesegera mungkin mengevakuasi warga. Louis pun melarang pasukannya untuk membantu. Mereka semua diminta untuk menangani mereka. Kini tinggal lah Alex dengan Louis dengan ratusan musuh di hadapannya.


"Kupikir kalian terlalu sombong. Apa kalian pikir kalian..."


Srakkk...


Alex mulai bergerak tanpa menunggu pria itu menyelesaikan kalimatnya. Dalam satu gerakan, Alex dapat melukai sebagian besar bandit yang menyerang mereka hanya dengan sebilah pedang tajam yang selalu dia bawa kemana-mana. Louis yang sudah terbiasa mengikutinya pun mengambil langkah yang sama dan belajar dari sana. Dia pun berhasil melukai beberapa orang dalam sekali ayunan walau tidak secepat Alex.


"Huftt. Tuan muda memang hebat. Sekali ayunan langsung melukai puluhan orang," ucap Louis memuji tuannya.


"Ini bukan waktunya saling memuji, Paman. Masih ada ratusan orang di depan kita. Jika kita tidak cepat, aku takut ada yang berhasil masuk garis pertahanan kita berdua. Dan lagi, pastikan untuk tidak membunuh mereka," timpal Alex.


"Baik, Tuan Muda."


Mereka melanjutkan aksinya dengan cepat. Alex merasa sangat terbantu oleh Louis. Dia memuji kehebatan Louis dalam hati.


Memang orang-orang pilihan Ayah adalah orang-orang hebat. Paman Louis hanya dengan sekali melihat, beliau sudah mengerti dengan cepat. Gayanya pun cukup stabil. Hampir menyeimbangiku,~Batin Alex.


Sedangkan itu, disisi lain...


Aron masih dalam penyelidikan kasus kematian Russel bersama dengan Nero sesuai dengan titah yang diberikan oleh Alex. Dia ingin mengetahui keterlibatan Athena dengan Steve dan kasus pembunuhan itu.


"Nero, apa sudah menemukan sesuatu?" Tanya Aron sambil memegang alat handy-talkie di tangannya.


"Belum. Apa kamu sudah ada bukti?" Tanya Nero.


"Sejauh ini aku hanya melihat pesan yang..." Aron menghentikan ucapannya sejenak. Dia ragu sekaligus jijik membaca pesan antara Steve dan Athena.


"Yang apa Aron?" Tanya Nero.


"Vulgar," jawab Aron lirih.


"Tch, memang adik ipar terkadang berbahaya," gumam Nero.


"Ha? Apa yang kamu katakan?" Tanya Aron memperjelas apa yang didengarnya.


"Tidak. Tidak ada. Aku akan mencari sesuatu dengan segera. Aku takut nanti nyonya Athena akan datang kapan saja," ucap Nero yang lalu meletakkan handy-talkie tersebut pada sakunya.


Nero hanya melihat beberapa pakaian pria yang sepertinya berbeda dengan postur tubuh Russel. Dia mengingat dengan jelas hanya dengan sebuah foto yang diberikan oleh Alex. Pasalnya, dia dapat menganalisis segalanya menggunakan sistem yang sama dengan Alex.


"Hum. Mungkin ini bisa dijadikan bukti perselingkuhan mereka. Tapi, aku tidak menemukan bukti yang valid. Apa aku harus menilik CCTV? Aku yakin pasti ada cctv tersembunyi di ruangan ini," gumam Nero.


Keluarga Lachowicz adalah keluarga yang terpandang. Bahkan, anggota keluarga pun harus dicurigai. Russel yang sudah mencurigai tentang istrinya Athena dan adik kandungnya bermain gila pun memasang kamera tersembunyi di dalam sana.


"Tapi, dimanakah aku bisa memeriksanya? Aku yakin pasti ruangan cctv tersembunyi itu tidak jadi satu dengan cctv lainnya," gumam Nero.