
Hari ini Alex berangkat menuju negara G. Menurut informasi dari Aron, Steve saat ini tengah berada di negara G setelah kejadian hari itu.
"Paman, jangan beritahukan hal ini kepada mama dan yang lainnya," ucap Alex sebelum memasuki pesawat yang akan membawanya.
"Tuan muda, tuan Aron, jaga diri kalian."
*...*
Beberapa saat kemudian...
Alex dan Aron turun dari pesawat. Mereka berdua terlihat santai dan tenang, namun tanpa mereka sadari, beberapa orang telah membuntuti mereka dari belakang.
"Itu mereka. Awasi terus mereka dan cari kesempatan untuk menangkap mereka. Ingat, jangan sampai mati," titah seorang pria bertopeng.
"Baik bos."
"Huftt. Ternyata begini ya negara G. Benar-benar segar," ucap Alex mensyukuri nikmat yang diberikan tuhan padanya.
Namun, belum beberapa saat ia menikmatinya, dia telah merasakan beberapa orang sedang mengawasinya.
Tch. Baru saja turun dari pesawat sudah ada saja yang mengincar. Memang benar, paman pasti memiliki bekingan yang besar,~Batin Alex.
Baiklah jika begitu, aku ingin melihat seberapa kuat kalian. Tiga... Dua... Satu... ~Lanjutnya dalam hati.
"PAMAN, AYO LARI!" Seru Alex mendadak.
Aron yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pun hanya mampu mengikuti setiap langkah milik Alex.
"Mereka lari. Apakah mereka menyadari keberadaan kita?" Tanya salah seorang pembunuh bayaran.
"Tidak mungkin! Tuan jubah hitam mengatakan bila lawan kita kali ini begitu bodoh dan menurut informasi yang beredar juga begitu," timpal salah seorang temannya.
"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang kita harus mengikuti mereka. Jangan sampai kehilangan jejak. Jika tidak, tuan jubah hitam akan membunuh kita. Mana sempat kita menikmati cuan dari mereka," Balas seorang pemimpin diantara mereka.
Beberapa orang bertopeng itu mengikuti setiap langkah Alex dan Aron dengan cepat.
*...*
"Tuan, sebenarnya ada apa? Mengapa kita berlari?" Tanya Aron
Aron nampak mulai kuwalahan mengikuti langkah Alex.
"Nanti paman akan tahu sendiri."
"Hiattt..."
Alex melompati dinding tinggi di depannya. Dia sengaja mencari gang sepi untuk menghadapi mereka. Akan sangat merepotkan jika seseorang melihat ataupun melaporkannya. Bagaimana pun juga, dia adalah warga negara asing disana.
"Hosh hosh hosh. Tuan, bagaimana anda bisa begitu lincah? Seingatku..."
"Seingat paman, aku hanyalah bocah ingusan yang bahkan tak mampu berlari mengalahkan kedua kakak beradik itu,bukan?"
Tak tak tak tak...
Mereka menyusul Alex dan Aron dengan cepat. Mereka berdua tengah bersembunyi di balik dinding yang tinggi disana. Mereka semua nampak kebingungan mencari keberadaan Alex dan Aron.
"Kemana bocah itu dan kacungnya?" Gumam salah seorang dari mereka.
Ternyata, tuan muda sudah menyadari keberadaan mereka. Tapi, untuk apa dia malah menggiring orang-orang ini kemari? Bukankah sama saja dengan bunuh diri?~Batin Aron.
Pria itu melirik kearah Alex yang fokus menatap mereka seakan tengah merencanakan sesuatu dari sana.
"Paman, senapan!" Alex menengadahkan tangannya di depan Aron. Aron langsung memberikan senapan yang ia bawa dalam kesehariannya. Jangan tanyakan bagaimana senjata-senjata tersebut bisa lolos masuk dan keluar bandara. Pasalnya, Aron telah membungkam para pegawai bandara dengan uang.
"Untuk apa?" Tanya Aron.
"Jangan bilang anda mau menembak mereka dari atas sini," lanjutnya.
"Itu memang benar." Alex memfokuskan pandangannya ke salah seorang dari mereka yang dia anggap paling kuat. Alex membidiknya dengan hati-hati. Dia tidak ingin kesalahan saat penembakan Steve kala itu terulang lagi. Saat dirasa telah tepat sasaran, Alex mulai menarik pelatuknya dengan kekuatan yang telah ditentukan. Tidak terlalu cepat, namun dapat dipastikan bisa membunuh pria yang dibidiknya.
Dorrr...
Peluru berhasil ditembakkan. Darah segar memuncrat ke segala arah, namun tentu saja tidak sampai mengenai Alex.
"Paman, berusahalah menembak mereka." Alex memberikan senapan di tangannya kembali kepada Aron. Setelah itu, dia melompat ke bawah dan mendarat dengan sempurna.
"Hai, paman. Apakah aku yang kalian cari?" Alex mengejeknya tanpa takut. Aron hanya menamati Alex dari atas, menunggu setiap aba-aba yang akan bocah itu berikan.
"Hahaha. Kami susah payah mencarimu, kau malah datang dengan sendirinya."
Alex menyeringai. "Lalu?"
"Lalu, kau akan mati hari ini! Ahahahahaha..." suara gelagar tawa mereka membuat Alex benar-benar muak. Dia sudah bosan dengan semua sandiwara pertarungan tersebut.
"Ihhh. Takut." Alex dengan sengaja mengejek mereka. Hal tersebut tentu saja membuat mereka geram. Alex bersiap dengan dua pistol di tangannya.
"Bocah tengil, jangan salahkan kami yang kejam. Semuanya, SERANG!" Pria itu telah menurunkan titahnya.
Tentu saja, Alex telah melakukan persiapan yang cukup matang.
Dorrr... dorrr...
Aksi baku tembak pun terjadi disana. Alex dapat menghindarinya dengan sempurna. Membungkuk, melompat, bahkan berakrobat, memutar dengan sempurna. Dia begitu lincah, sama sekali berbeda dengan dirinya yang dulu.
Dorr...
Alex melepaskan peluru dari kedua pistolnya bersamaan. Satu terkena kaki pria di hadapannya, satunya lagi terkena lengan. Untuk kecepatan menembak tanpa membidik, itu sudah termasuk sangat berbakat di usianya.
"Bagaimana paman? Apakah kalian ingin menyerah? Masih sempat lho," ucap Alex.
Mereka menggertakkan giginya.
"Jangan mimpi ka..."
Dorr...
Alex menembak pria itu tepat pada kepalanya tanpa memberi isyarat, maupun membiarkannya menyelesaikan kalimatnya.
"Jawabannya hanya menyerah atau tidak. Aku tidak menerima jawaban lainnya," ucapnya begitu dingin.
Kekuatan bocah ini, berada di luar informasi yang ada. Bahkan jauh. Dia bahkan hampir menyamai seorang pembunuh berantai. Dia begitu kejam dan gesit,~Batin pria itu.
"Kami akan melawanmu hingga titik darah penghabisan!" Seru mereka bersamaan.
"Baiklah..." Alex memasukkan kedua pistolnya ke dalam saku, lalu menukarnya dengan sebilah pedang dari punggungnya.
"Seranglah aku. Jika kalian bisa melukaiku, maka aku akan mengikuti kemauan kalian. Membunuhku pun silahkan. Aku tidak takut," ucap Alex begitu arogan.
"Dan jika kamu mampu melewati tembakan kami, kami akan melakukan hal yang sama seperti yang kau katakan."
Alex menyeringai. Dia telah merencanakan alur gerakannya. Pria itu mulai bergerak maju dengan kecepatan kilat.
"Hiattt!!"
Srashh... srashhh... srashh...
Suara angin berhembus begitu kencang, seiring pergerakan Alex yang teratur.
"Tembak!" Wakil komandan mereka pun akhirnya mengeluarkan titahnya.
Alex melompat setinggi yang ia bisa, setinggi harapan orang tua kepada anaknya, katanya.
"Hiattt!!!"
Bukan pedang yang ia gunakan kali ini. Namun, kekuatan kakinya. Dia memusatkan segala kekuatannya disana. Satu kakinya maju lebih depan, satunya lagi menyeimbangkan kekuatan, layaknya master kungfu atau seniman bela diri yang profesional.
Brakkk...
Bukan hanya dapat menghindari peluru-peluru tersebut. Alex berhasil melumpuhkan wakil komandan dan beberapa anak buahnya.
"Wakil komandan!" Pekik beberapa orang yang masih dapat berdiri tegak disana.
Alex menyincing wakil komandan mereka bak dirinya mengangkat seekor anak kucing, begitu mudah.
"Lepaskan komandan atau kami akan membunuhmu!" Ancam pria di hadapan Alex.