
Alex dan Louis berhasil menumpas mereka semua dengan sekejap. Walau berhasil menumpas, namun mereka semua masih menyisakan nafas walaupun masih terasa berat. Para bandit itu bahkan berteriak untuk dibunuh dibandingkan mereka harus hidup tersiksa seperti itu.
"Bunuh kami! Cepat bunuh kami!" Pekik mereka bersamaan
"Berisik!" Alex melemparkan beberapa jarum untuk membungkam mereka. Kini suasananya kembali tenang. Para bandit itu sama sekali tak dapat berucap. Lidah mereka kelu.
"Komandan, anda sungguh hebat. Bahkan setelah melukai mereka, anda sama sekali tidak terlihat kecapekan," puji Louis.
"Sama halnya dengan paman Louis. Paman malah berusia jauh diatasku tapi paman masih terlihat segar dan bugar. Paman tadi juga sangat gesit," timpal Alex.
"Benarkah? Jadi, komandan melihat semuanya?" Tanya Louis.
Alex mengangguk.
"Wahh, hebat. Anda berfokus pada para musuh, juga fokus dengan melihat gerakanku. Ini sungguh luar biasa. Mungkin jika saya tidak bertemu komandan, pencapaian saya akan tertahan di level yang sama."
"Paman terlalu memuji. Omong-omong, apa yang harus kita lakukan pada mereka? Mereka terlalu banyak. Penjara pun tak cukup," ucap Alex.
"Ahh. Saya punya ide."
...*...*...
Aron, Nero, Resca dan beberapa orang lainnya telah tiba disana. Mereka nampak kebingungan saat melihat para bandit itu dibawa pergi oleh beberapa prajurit lainnya. Mereka sesegera mungkin mencari keberadaan Alex disana. Sesuatu tengah dikerubungi oleh banyak orang, terutama anak kecil yang membuat Aron semakin penasaran.
"Nero, ada apa disana? Coba kita lihat. Siapa tahu ada tuan muda disana," ucap Aron sambil menunjuk ke arah kerumunan tersebut.
Nero mengangguk dan mengikuti langkah Aron.
"Paman super hero, paman keren deh. Boleh kan Bella foto sama Paman?" Tanya seorang gadis kecil yang berdiri tepat di depan Alex.
"Ricky juga mau,Paman," timpal bocah lainnya.
Alex yang awalnya berdiri, kini setengah berlutut dan mensejajarkan dirinya dengan anak-anak kecil di desa tersebut.
"Boleh. Boleh sekali. Tapi, jangan panggil paman dong. Panggil kakak. Aku masih muda lho. Umurku masih belum genap 21 tahun," timpal Alex.
"Benarkah? Kakakku sudah berumur 22, tapi masih kuliah," sahut Ricky.
"Kakakku baru lulus paman. Sekarang lagi melamar pekerjaan."
Alex menikmati keseruan diantara mereka yang saling bersahutan untuk berbincang dengannya. Entah mengapa, melihat senyum orang-orang yang ditolongnya, melihat senyum bahagia dari mereka seakan terlepas dari mulut ikan paus, membuat Alex begitu gembira dan dapat bernafas lega. Namun, dia melihat seorang bocah laki-laki yang murung dan merenung meratapi jasad ibundanya.
"Anak-anak, kalian tunggu disini. Kakak akan kesana," ucap Alex yang memutuskan untuk mendekati bocah tersebut.
Alex menepuk pundaknya dan berjongkok disampingnya. Dia menoleh dengan wajah yang sangat kasihan. Hati Alex terasa sakit, lidahnya pun terasa kelu. Dia tahu apa yang dirasakan oleh bocah itu. Dia tahu rasanya kehilangan seseorang yang sangat dia sayangi.
"Maafkan aku sudah terlambat dan tidak mampu menyelamatkan ibumu," ucap Alex lirih sambil menundukkan kepalanya disamping bocah tersebut.
"Tidak Paman. Anda tidak salah. Ini semua memang salah bandit itu dan ini semua juga sudah takdir. Kata ibunda, jangan pernah menyalahkan diri sendiri apalagi orang lain atas suatu takdir yang sudah digariskan oleh yang maha kuasa," ucap bocah itu begitu bijak.
Alex menitihkan matanya tanpa ia sadar. Dia terenyuh akan ucapan pria kecil itu. Pria yang umurnya jauh dibawahnya, namun pemikirannya jauh lebih bijak dan dewasa darinya.
"Terimakasih. Aku janji aku akan memperlakukan jasad ibundamu sebaik mungkin. Aku akan mencatatnya dalam daftar pahlawan negara," ucap Alex.
"Terimakasih, Paman."
"Lalu, dimanakah ayahmu? Dimana tempat tinggalmu?" Tanya Alex sambil menengok ke kanan dan ke kiri, namun tak kunjung ia jumpai seorang pria yang berteriak maupun hadir di tengah-tengah mereka.
"Ayah meninggalkan kami. Katanya dia malu memiliki istri seperti ibu dan anak seperti kakak kedua. Kakak pertamaku sudah pergi jauh. Dia sudah menikah, tapi istrinya jahat. Kakak kedua ku sakit parah. Dia hanya bisa terbaring di ranjang setelah kecelakaan dasyat beberapa tahun silam," jawab bocah itu.
"Baiklah. Kamu tenang saja."
"Tuan muda!" Seru Aron yang berlari ke arahnya.
Alex berdiri dan menghadap ke arah sumber suara. Aron telah tiba di depannya dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Tuan muda gapapa kan? Ga ada luka kan?" Tanya Aron.
"Aku tak apa, Paman. Oh kebetulan paman disini. Bisa tolong urus perawatan terbaik untuk kakaknya?" Tanya Alex.
"Tentu, tentu."
"Adek kecil, kamu bawa paman ini ke rumahmu ya. Jangan takut, dia ga gigit kok," ucap Alex.
Bocah kecil itu mengangguk lalu menarik tangan Aron dengan perasaan girang.
"Komandan, tugas telah selesai. Sepertinya, kita harus kembali dan membuat laporan."
"Hummm."
...*...*...
Berita tentang kepahlawanan Alex telah tersebar di seluruh penjuru negeri ini. Alex bahkan mendapatkan kawan baru. Mereka semua kini berpihak padanya dan percaya bila Alex memang layak mendapatkan posisinya. Tentu saja, ada pihak yang tidak bahagia melihatnya berada di atas awan. Alex yang baru saja terjun ke dunia kemiliteran itu, sudah berhasil mencetak prestasinya sendiri.
Kini, Alex merehatkan badannya seraya memejamkan mata. Dia memang nampak sedang beristirahat, namun sebenarnya dia sedang berada di dimensi lain untuk mempelajari ilmu racun agar misinya yang satu itu segera terselesaikan.
"Ketua, apakah anda yakin tidak ingin beristirahat terlebih dahulu?" Tanya Osy.
"Sudah tidak sempat lagi. Aku bahkan belum membuat racun apapun, aku juga belum memproduksi apapun dan sekarang aku hanya punya waktu selama sebulan untuk memulai bisnis," ucap Alex masih berfokus pada tabung reaksi di tangannya.
Beberapa saat kemudian...
Boommm...
Sebuah ledakan kecil terdengar memenuhi dimensi sistem tempat dimana Alex bereksperimen saat ini. Osy yang awalnya sedang duduk santai pun terkejut dan langsung berlari ke arah laboratorium di depannya.
"Ketua, apakah anda tidak apa-apa?" Tanya Osy.
"Huwahhh. Akhirnya aku berhasil!" Seru Alex gembira.
Osy terkejut melihat penampilan Alex saat ini. Tapi setelahnya, dia tertawa terpingkal-pingkal.
"Pfttt... Hahahaha... Hahaha..."
"Ada apa? Apanya yang lucu?" Tanya Alex kebingungan.
Kini rambut Alex yang biasanya begitu rapi, berubah menjadi seperti badut. Rambutnya menjadi warna-warni,seperti pelangi dan berkembang layaknya brokoli.
"Itu, ketua." Osy menunjuk ke arah rambut Alex yang menurutnya begitu lucu.
"Itu apa sih?" Tanya Alex yang sudah mulai kesal.
"Bentar bentar." Osy meninggalkan Alex dalam kebingungan di tempatnya. Dia berlalu untuk mencari kaca.
Osy telah kembali dengan sebuah kaca di tangannya. Dia menyerahkannya kepada Alex untuk pria itu berkaca apa yang terjadi pada dirinya. Alex memberikan tabung reaksi yang dia pegang kepada Osy, lalu dia berkaca.
"Ha?" Ekspresi terkejut Alex membuat suara tawa Osy semakin menggelegar memenuhi ruangan.